NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / One Night Stand / Menikahi tentara
Popularitas:150
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*

Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:

> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17

Sungkeman

Resepsi dimulai menjelang siang, tetapi Laras hanya mengingatnya dalam potongan warna dan suara.

Kain batik. Bunga melati. Kilatan kamera. Ucapan selamat yang datang tanpa henti. Telapak tangannya bertemu puluhan tangan, sementara Bram berdiri di sampingnya, sesekali menahan siku Laras ketika ujung kain hampir terinjak.

Tamu dari keluarga, satuan, dan kompleks memenuhi halaman serta ruang yang disiapkan. Tidak mewah, tetapi hangat. Orang-orang yang beberapa minggu lalu hanya berbisik tentang asal-usul Laras kini mengantre untuk memberi doa.

Bu Rahayu berkeliling memastikan tamu terlayani. Pak Hardjono menerima salam dari bekas rekan tanpa menjadikan pangkat lama sebagai pusat acara. Mas Bas membantu Bram menghadapi prajurit yang sengaja menggoda. Bulik Endah mengatur keluarga besar, sedangkan Kinan dan Gilang sibuk memastikan setiap momen direkam.

Di tengah keramaian, Laras sempat berdiri sendirian selama beberapa detik.

Ia menatap papan kecil bertuliskan `Bramantya & Larasati`.

Dua nama berdampingan. Namanya tidak hilang, tidak diganti, dan tidak diletakkan lebih kecil.

"Capek?"

Bram sudah kembali di sampingnya.

"Sedikit."

"Kita bisa duduk."

"Tamu masih banyak."

"Tamu datang untuk mendoakan, bukan menguji ketahanan fisik pengantin."

Laras tersenyum. "Kamu terdengar seperti sedang mengatur latihan."

"Kalau latihan, semua yang menghalangi jalanmu sudah saya suruh lari keliling halaman."

"Termasuk fotografer?"

"Terutama fotografer. Sudah enam kali dia menyuruh saya tersenyum lebih lebar."

Laras tertawa. Kamera menangkapnya tepat saat itu. Bram menatap wajah istrinya, bukan lensa.

***

Setelah makan siang, pembawa acara mengumumkan prosesi sungkeman.

Suasana berubah lebih hening.

Dua kursi disiapkan untuk Pak Hardjono dan Bu Rahayu. Bram berdiri di samping Laras, lalu mengulurkan tangan.

"Siap?" bisiknya.

Laras ingin menjawab ya. Tenggorokannya justru mengencang.

Ia teringat kata-kata Bu Rahayu semalam. Kalau menangis, Ibu akan memeluk sampai kamu berhenti.

Laras meletakkan tangannya di tangan Bram.

Mereka berjalan bersama, lalu berlutut di hadapan kedua orang tua. Bram lebih dulu menundukkan kepala di pangkuan ayahnya.

"Bapak," katanya, suara mantap tetapi serak, "mohon restu agar saya mampu menjadi suami yang bertanggung jawab, menghormati Laras, dan menjaga rumah tangga kami. Maafkan kesalahan saya sebagai anak."

Pak Hardjono meletakkan kedua tangan di bahu Bram.

"Saya restui. Menjaga bukan berarti mengurung. Memimpin bukan berarti selalu paling benar. Ingat itu."

"Saya ingat."

Bram beralih kepada Bu Rahayu. Ibunya mengusap kepala putranya, lalu berdoa agar rumah tangga mereka diberi ketenangan dan rezeki yang baik.

Kemudian tiba giliran Laras.

Ia berlutut di depan Pak Hardjono. Tangan lelaki itu berada di atas lutut, besar dan tenang. Laras membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar.

Di belakang, seluruh ruangan menunggu.

Pak Hardjono tidak mendesak. "Pelan saja, Nak."

Sapaan itu memecahkan bendungan.

"Bapak," Laras akhirnya bersuara, "saya tidak tahu bagaimana cara menjadi anak yang baik."

Air mata jatuh ke kain di pangkuannya.

"Saya tidak pernah punya rumah yang menunggu saya pulang. Saya tidak pernah tahu rasanya meminta restu tanpa takut permintaan itu berubah menjadi utang. Saya datang ke sini tanpa dokumen, tanpa keluarga, dan dengan banyak hal yang belum sanggup saya ceritakan."

Ruangan begitu hening sampai isak Kinan terdengar.

Laras menunduk lebih dalam. "Terima kasih karena Bapak memeriksa saya dengan adil. Terima kasih karena tidak memakai nama Bapak untuk menutup masalah saya, tetapi juga tidak membiarkan masalah itu menghukum saya. Saya mohon restu untuk menjadi istri Bram dan bagian dari keluarga ini."

Pak Hardjono menarik napas panjang.

Ia membungkuk, memegang kedua bahu Laras, lalu meminta Laras mengangkat wajah.

Mata pensiunan brigjen itu memerah.

"Dengar saya," katanya. "Kamu tidak datang membawa aib. Kamu datang membawa keberanian setelah bertahan dari perlakuan orang yang seharusnya melindungimu. Mulai hari ini, jangan sebut dirimu perempuan tanpa keluarga."

Laras menangis lebih keras.

"Kamu anak kami," lanjutnya. "Bukan karena menikah dengan Bram saja. Karena kami menerima kamu sebagai Larasati Purnama."

Ia menarik Laras ke dalam pelukan.

Untuk pertama kalinya Laras dipeluk seorang ayah tanpa tubuhnya menegang menunggu pukulan atau tuntutan. Telapak tangan Pak Hardjono menepuk punggungnya dengan kaku, seperti lelaki yang lebih terbiasa memberi perintah daripada menenangkan anak menangis. Justru kekakuan itu membuat semuanya terasa nyata.

"Terima kasih, Bapak," ucap Laras berulang kali.

"Sudah. Jangan menangis sendirian lagi."

Ketika Laras beralih kepada Bu Rahayu, ia tidak sempat menyusun kalimat.

Bu Rahayu lebih dulu membuka kedua tangan.

Laras masuk ke pelukannya seperti seseorang yang akhirnya diizinkan pulang.

"Ibu," katanya di antara tangis. "Maaf, aku tidak tahu harus bilang apa."

"Tidak perlu bilang apa-apa."

"Aku takut mengecewakan Ibu."

"Semua anak pernah mengecewakan orang tua. Semua orang tua juga bisa salah. Kita bicara, kita perbaiki. Kamu tidak akan dibuang hanya karena tidak sempurna."

Kalimat terakhir membuat jari Laras mencengkeram kain di punggung Bu Rahayu.

Dibuang.

Itulah ketakutan yang selalu mengikuti setiap kesalahan kecil. Pak Rusdi mengancam menjual atau meninggalkannya setiap kali Laras tidak menghasilkan uang. Di rumah ini, seorang ibu baru saja mengatakan ketidaksempurnaan tidak akan menghapus tempatnya.

"Sekarang kami orang tuamu," bisik Bu Rahayu. "Kalau suatu hari orang tua kandungmu ditemukan, itu tidak membuat tempatmu di sini hilang. Kasih sayang bukan kursi yang hanya boleh diduduki satu orang."

Tangis Laras pecah sepenuhnya.

Bu Rahayu menepati janji. Ia memeluk Laras sampai napasnya lebih teratur.

Bram berlutut di samping mereka. Tangannya menyentuh punggung Laras, hangat dan mantap. Ia tidak menyuruh istrinya berhenti menangis atau menghapus emosi agar foto terlihat bagus.

Kinan berdiri beberapa langkah dari sana dengan air mata berantakan. Bulik Endah memeluk bahunya. Gilang menurunkan ponsel. Bahkan remaja itu mengerti ada momen yang lebih baik disimpan dengan mata daripada kamera.

***

Setelah sungkeman, ucapan selamat terasa berbeda.

Laras tidak lagi berdiri sebagai perempuan asing yang kebetulan dinikahi putra keluarga Adiprawira. Pak Hardjono memperkenalkannya kepada seorang rekan lama dengan kalimat sederhana, "Ini anak perempuan saya, Laras."

Tidak ada tambahan `menantu`.

Laras menoleh cepat. Pak Hardjono seolah tidak menyadari betapa besar dampak dua kata tersebut.

Rekan lama itu tampak bingung. "Anak perempuan? Bukankah putrimu hanya Kinan?"

Pak Hardjono tidak tersinggung. Ia menepuk bahu Laras sekali.

"Dulu. Sekarang dua. Keluarga bukan daftar personel yang jumlahnya tak boleh berubah."

Lelaki itu tertawa dan segera menyalami Laras. "Kalau begitu selamat datang, Nak. Ayahmu ini keras, tapi ucapannya bisa dipegang."

"Saya sudah merasakannya," jawab Laras.

Pak Hardjono mendengus. "Jangan membicarakan saya seolah saya tidak berdiri di sini."

Percakapan ringan itu mengubah sesuatu di mata para tamu sekitar. Penerimaan keluarga bukan lagi bisikan atau sikap sopan di dalam rumah. Kepala keluarga Adiprawira menyatakannya terbuka di depan rekan, warga, dan bawahan lama.

Seorang ibu kompleks yang pernah bergosip di depan pagar mendekat dengan canggung.

"Bu Laras, maaf kalau selama ini kami terlalu banyak mendengar kabar yang belum jelas."

Laras menatapnya. Ia bisa mempermalukan perempuan itu di tengah resepsi. Ia memilih jawaban yang lebih berguna.

"Mulai sekarang, kalau ada kabar tentang saya, tanyakan langsung. Kalau saya tidak mau menjawab, hormati itu. Tapi jangan isi bagian kosong dengan fitnah."

Perempuan itu mengangguk malu. "Iya, Bu."

Bram yang berdiri tidak jauh mendengar semuanya. Kebanggaan terlihat di matanya, tetapi ia tidak mengambil alih percakapan atau menerima permintaan maaf atas nama Laras.

Bu Rahayu kemudian memanggil mereka untuk foto keluarga besar. Ia sengaja menempatkan Laras di tengah, bukan di ujung barisan. Pak Hardjono berdiri di satu sisi, Bram di sisi lain, seolah dua orang itu menjadi pagar yang tidak mengurung, hanya menjaga tempatnya tetap ada.

Bu Rahayu juga berkali-kali memanggil, "Laras, Nak," saat meminta bantuan foto atau memastikan ia sudah minum.

Tamu kompleks mulai melihat perubahan itu. Beberapa perempuan yang semula menjaga jarak datang menawarkan bantuan. Ada yang memuji kebaya hasil koreksinya, ada yang bertanya tentang desain Sari Boga. Laras menjawab seperlunya tanpa membiarkan hari pernikahan berubah menjadi pertemuan bisnis.

Kinan menariknya ke sudut ketika suasana sedikit longgar.

"Riasan Mbak rusak."

"Karena siapa yang menangis lebih dulu?"

"Aku menangis dengan rapi."

"Maskaramu ada di pipi."

Kinan memeriksa kamera depan ponsel dan mengerang. Mereka tertawa bersama sambil memperbaiki riasan satu sama lain.

"Bapak benar," kata Kinan. "Sekarang aku punya kakak perempuan."

"Kamu sudah punya Bulik Endah."

"Beda. Bulik tidak akan mengajariku melawan alasan lemah Bapak."

"Jangan bawa namaku kalau nanti dimarahi."

"Terlambat."

***

Malam tiba setelah tamu terakhir pulang.

Kaki Laras pegal. Kepalanya berat oleh hiasan. Namun ketika berdiri di lorong menuju kamar Bram, rasa lelah itu bercampur dengan kesadaran baru.

Ini bukan lagi kamar seorang lelaki asing.

Ini kamar suaminya. Mulai malam ini, juga kamarnya.

Bram membuka pintu dan membiarkan Laras masuk lebih dulu. Ruangan telah dirapikan. Tidak ada bunga berlebihan, hanya seprai bersih, lampu hangat, dan segelas air di meja.

Laras berdiri di tengah kamar, mendadak gugup lagi.

Bram masuk setelahnya. Ia menutup pintu perlahan. Bunyi kunci terdengar pelan, tetapi kali ini Laras tidak merasa terperangkap.

Bram tidak langsung mendekat. Ia bersandar pada pintu, menatap Laras dengan mata gelap yang sejak siang menahan banyak hal.

Suaranya serak ketika akhirnya bicara.

"Malam ini... hanya kita."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!