Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**
Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.
Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**
Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**
"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."
Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:
*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19: Cemburu di Depan Semua Orang
Hanya tangan Sebastian yang mengencang pada kunci mobil.
Wajahnya tetap tenang ketika melangkah ke taman.
“Maaf terlambat,” katanya kepada Cornelia.
Cornelia mengangguk ke arah meja makanan. “Makan dulu. Semua hampir selesai.”
Sebastian tidak langsung bergerak. Tatapannya jatuh pada Rudy.
“Ada urusan katering?”
Rudy menurunkan ponsel. “Saya hanya bertanya apakah Mbak Lia bisa memberi kontak dapur. Tim proyek saya kadang butuh pesanan rumahan.”
“Nomor kepala rumah tangga cukup.”
Nada Sebastian sopan, tetapi dingin seperti pintu yang ditutup.
Vanessa menyela sambil tersenyum. “Rudy lebih mudah bicara langsung dengan Lia. Lagi pula, mereka sama-sama belum punya pasangan.”
Beberapa kerabat yang mendengar menoleh. Lia merasakan panas merambat ke telinganya.
Rudy segera berkata, “Saya tidak bermaksud membuat Mbak Lia tidak nyaman.”
“Dia sedang bekerja,” jawab Sebastian.
“Sebas,” tegur Cornelia. “Rudy cuma bertanya baik-baik.”
Bryan bergerak dalam pelukan Lia dan mengeluarkan rengekan kecil. Sebastian seolah menemukan alasan yang telah dicarinya.
“Bryan sudah mengantuk. Saya antar ke kamar.”
Ia mengulurkan tangan.
Lia hendak menyerahkan bayi itu, tetapi Bryan justru mencengkeram pita hitam di pinggangnya dan menempel lebih erat.
“Saya saja yang bawa,” kata Lia.
“Kalau begitu, ikut.”
Sebastian mengambil tas perlengkapan Bryan dari kursi dan berjalan lebih dulu. Tak ada yang bisa menyebutnya membawa Lia pergi karena mereka memang sedang mengantar bayi tidur.
Namun, semua orang bisa melihat betapa cepat ia memutus percakapan dengan Rudy.
Edwin menutupi senyum dengan gelasnya. Popo Mei Hoa memandang cucunya dengan mata berbinar. Cornelia mengernyit, sedangkan Vanessa tampak puas telah menyalakan sesuatu yang sulit disembunyikan.
Seorang tante tua berkomentar, “Sebas sejak kapan pandai mengurus bayi?”
“Dia tidak mengurus bayi,” jawab Edwin ringan. “Dia mengurus orang yang mengurus bayi.”
Tawa kecil pecah di dekat meja. Cornelia menatap Edwin sebagai peringatan, tetapi kalimat itu sudah telanjur terdengar. Sebastian tidak membantah. Ia hanya mempercepat langkah, membuat kecurigaan para kerabat semakin besar.
Vanessa memanfaatkan suasana. “Mungkin bagus juga. Lia masih muda, Rudy juga mapan. Kalau mereka cocok, kita tidak perlu khawatir ada omongan aneh tentang pekerja rumah.”
Popo meletakkan cangkirnya lebih keras dari biasa. “Jodoh bukan obat gosip. Jangan dorong orang seperti memindahkan kursi.”
Rudy mendengar dan tampak makin tidak nyaman. “Saya sungguh hanya meminta kontak katering.”
“Tidak usah merasa bersalah,” kata Cornelia. “Yang membuat suasana aneh bukan kamu.”
Kalimat itu diarahkan entah kepada Vanessa atau Sebastian. Tak seorang pun berani memastikan.
Di lantai atas, Lia menidurkan Bryan di kamar bayi. Sebastian menunggu dekat pintu sambil memegang botol susu, terlalu kaku untuk seseorang yang hanya membantu.
Setelah Bryan terlelap, Lia menarik selimut tipis hingga dada bayi itu. Ia lalu berjalan melewati Sebastian tanpa bicara.
“Kamu mau kembali ke Rudy?” tanyanya.
Lia berhenti. “Saya harus membantu membereskan meja.”
“Saya tanya tentang Rudy.”
“Pak Rudy tamu. Saya tidak bisa meninggalkan tamu begitu saja.”
“Kamu mau memberinya nomor?”
Lia berbalik. “Kenapa Ko Sebas ingin tahu?”
Pertanyaan itu mengenai sasaran.
Sebastian terdiam terlalu lama.
“Dia baru mengenalmu satu malam.”
“Ko Sebas juga dulu baru mengenal saya satu hari saat mulai mengatur saya harus makan apa.”
“Itu berbeda.”
“Berbedanya di mana?”
Sebastian tidak bisa menjawab tanpa membuka perasaan yang belum siap ia katakan. Ia mengalihkan pandangan ke gaun Lia.
“Dan kenapa kamu pakai baju itu?”
“Mbak Vanessa yang menyuruh.”
“Kamu bisa menolak.”
“Kalau saya menolak, katanya saya tidak menghargai tamu. Kalau saya pakai dan terlihat buruk, dia akan puas.” Lia mengangkat dagu. “Kebetulan hasilnya tidak buruk.”
Mata Sebastian menyapu gaun ungu itu sekali lagi. “Tidak buruk” adalah kata yang terlalu lemah. Lia tampak hangat, subur, dan begitu hidup hingga seluruh taman seolah hanya menjadi latar di belakangnya.
“Terlalu mencolok,” katanya.
Wajah Lia berubah. “Jadi Ko Sebas juga merasa tubuh saya memalukan?”
“Bukan itu maksud saya.”
“Lalu apa?”
Suara dari tangga membuat mereka berhenti. Seorang pekerja naik membawa popok bersih. Lia memberi jalan, lalu turun menuju taman tanpa menunggu.
Sebastian mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
Ia menyusul beberapa menit kemudian. Rudy sudah berbicara dengan orang tuanya dekat pintu depan. Lia berada di halaman samping, mengumpulkan gelas kosong seorang diri.
Sebastian mengambil nampan dari tangannya.
“Kita bicara.”
“Saya sedang kerja.”
“Lima menit.”
Ia berjalan ke sudut taman yang terlindung pohon kamboja. Lia mengikutinya dengan enggan.
“Saya tidak menganggap tubuhmu memalukan,” kata Sebastian segera. “Saya mengatakan hal yang salah.”
Lia menatap rerumputan. “Ko Sebas tidak perlu menjelaskan.”
“Saya perlu.”
“Kenapa?”
“Karena saya tidak suka Rudy melihatmu seperti tadi.”
Lia mengangkat wajah perlahan.
Untuk pertama kalinya malam itu, ketenangan Sebastian benar-benar retak.
“Dia sopan,” kata Lia.
“Saya tahu.”
“Dia tidak memaksa.”
“Saya tahu.”
“Lalu masalahnya apa?”
Sebastian menatapnya lurus. “Saya.”
Satu kata itu membuat napas Lia tercekat.
Angin malam menggerakkan pita di pinggangnya. Sebastian mengulurkan tangan, menangkap ujung pita sebelum mengenai gelas di nampan. Jarinya berada dekat lekuk pinggang Lia, tetapi tidak menyentuh tubuhnya.
“Saya tidak suka,” ulangnya lebih pelan. “Dan saya belum punya hak untuk melarang.”
Kejujuran itu jauh lebih mengguncang daripada perintah.
“Kalau tidak punya hak, jangan marah kepada saya,” kata Lia, meski suaranya melembut.
“Saya marah kepada diri sendiri.”
Lia menatapnya, mencoba menemukan permainan atau ejekan. Tidak ada. Yang tampak hanya lelaki yang biasanya mampu memimpin satu ruang rapat, kini kesulitan menyusun satu kalimat di hadapannya.
“Kalau saya benar-benar tertarik kepada Pak Rudy?” tanyanya, lebih untuk menguji daripada mengaku.
Sebastian membeku.
“Apakah kamu tertarik?”
“Saya yang bertanya dulu.”
“Saya akan tetap menghormati keputusanmu.” Ia berhenti, lalu menambahkan dengan jujur, “Tapi saya tidak akan menyukainya. Sama sekali.”
Ada kepuasan kecil yang tidak seharusnya Lia rasakan. Ia buru-buru menyembunyikannya dengan menatap gelas-gelas di nampan.
Mereka berdiri terlalu dekat di bawah bayangan pohon. Aroma manis Lia mulai keluar tipis karena ia telah makan malam. Sebastian menarik napas dan segera melepaskan pita.
“Masuklah. Udara dingin.”
“Ko Sebas belum menjawab apakah saya boleh memberi nomor.”
“Keputusan itu milikmu.” Rahangnya mengeras. “Tapi kalau dia menghubungimu bukan soal katering, saya ingin tahu.”
Lia hampir tersenyum. “Itu masih terdengar seperti perintah.”
“Anggap saja permintaan yang sangat tidak saya sukai.”
Dari beranda, Cornelia berdiri tanpa suara. Ia tidak mendengar seluruh percakapan, tetapi melihat cara Sebastian menatap Lia, serta cara Lia tidak lagi menunduk di hadapannya.
Kecurigaan tumbuh di wajahnya.
Rudy akhirnya menghampiri sebelum pulang. Ia tidak lagi meminta nomor pribadi Lia.
“Saya simpan nomor dapur saja,” katanya. “Maaf kalau tadi membuat situasi canggung.”
“Pak Rudy tidak salah,” jawab Lia.
Rudy menjabat tangan Sebastian dengan sopan. “Sampai jumpa di proyek lain.”
“Sampai jumpa.”
Setelah mobil Rudy meninggalkan halaman, Vanessa berbisik di dekat Cornelia, “Tante lihat sendiri, kan?”
Cornelia tidak menjawab.
Matanya tetap mengikuti Sebastian yang tanpa sadar berdiri di samping Lia, seolah posisi itu adalah tempat paling alami baginya.