"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.
Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.
Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.
Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26: Melani — Korban Kedua
dr. Nadia Anjani menyelesaikan analisis korban kedua sebelum tengah hari.
Tidak ada basa-basi. Tidak ada kalimat penghibur. Ia masuk ke ruang briefing Satreskrim dengan map abu-abu, menaruhnya di meja, lalu menatap Yudha.
"Pelaku sama."
Dimas yang baru duduk langsung tegak. "Dari pola potongan?"
"Dari pola potongan, kedalaman tekanan, sudut sayatan, dan urutan kerja. Orang yang memotong korban kedua menggunakan teknik yang sama dengan korban pertama. Pisau juga sangat mungkin sama atau setidaknya jenis yang identik."
Nadia membuka foto forensik yang sudah disensor bagian paling ekstremnya untuk briefing. Meski begitu, ruangan tetap hening.
"Korban perempuan, usia dua puluhan. Ada bekas ikatan. Ada partikel tepung. Dan ada satu detail tambahan."
Ia menunjuk area bahu pada foto.
"Bekas gigitan."
Kribo yang berada di kursi belakang langsung menunduk. "Aku berharap salah dengar."
"Tidak," kata Nadia. "Kamu dengar dengan benar. Pola gigi belum bisa dicocokkan karena kita belum punya tersangka utama, tapi ini tanda perilaku. Pelaku tidak hanya membunuh. Ia menikmati kontrol fisik terhadap korban."
Raka merasakan udara di ruangan menebal.
Poinnya nol. Tidak ada Penghakiman Diam-Diam. Tidak ada jalan pintas. Monster seperti ini harus ditangkap dengan bukti manusia.
Andi memutar layar. "Tidak ada laporan orang hilang yang cocok secara sempurna. Tapi setelah saya gabungkan data area lokalisasi, laporan informal, dan unggahan media sosial yang berhenti mendadak, ada satu nama."
Foto perempuan lain muncul.
Melani.
Usia 25 tahun. Pekerja seks. Terakhir terlihat sekitar dua minggu lalu. Tidak ada laporan resmi dari keluarga. Teman-temannya mengira ia pergi ikut pelanggan luar kota.
"Tidak ada yang melapor," kata Dimas pelan.
"Ada yang bertanya-tanya," jawab Andi. "Tapi tidak ke polisi."
Raka menatap foto Melani. Senyumnya berbeda dari Siska. Lebih berani, lebih tajam, seolah ia tahu dunia keras dan memilih menertawakannya lebih dulu.
Sekarang hanya potongan tubuh yang bicara untuknya.
Mereka kembali ke area lokalisasi hari itu juga.
Kabar Siska sudah menyebar. Kali ini, pintu-pintu tidak langsung tertutup. Ketakutan membuat orang-orang yang dulu diam mulai mencari wajah polisi yang bisa dipercaya.
Rini muncul lagi, bersama dua perempuan lain. Salah satunya mengenali foto Melani dan langsung menangis.
"Dia hilang dua minggu," katanya. "Kami pikir dia pergi dengan pelanggan tetap. Dia sering bilang mau keluar dari sini kalau dapat uang cukup."
Raka bertanya pelan, "Pelanggan tetapnya seperti apa?"
Perempuan itu menjawab hampir sama dengan Rini.
Pria paruh baya.
Rapi.
Tidak banyak bicara.
Bau rempah.
Lalu detail baru datang.
"Dia suka bawa makanan," kata perempuan itu. "Bakpao. Katanya dari warung sendiri. Kadang dibagi ke anak-anak di belakang karaoke. Orangnya kelihatan baik."
Dimas menatap Raka.
Raka hanya mengulang satu kata.
"Bakpao."
Daftar empat usaha kini terasa berbeda.
Sore itu, mereka mulai kunjungan awal. Bukan penggerebekan. Bukan penangkapan. Hanya pemeriksaan administratif dan observasi lapangan dengan alasan verifikasi supplier plastik.
Toko roti Sari Rasa dikelola pasangan suami istri tua. Dapurnya terbuka, karyawannya banyak, aroma mentega dan gula memenuhi ruangan. Mata Dosa menunjukkan angka rendah pada keduanya. Mereka kooperatif, nota plastik rapi, dan jenis rempah hampir tidak ada.
Pemilik perempuan bahkan marah saat mendengar ada korban dari area lokalisasi. "Anak-anak itu sering beli roti sisa di sini kalau malam. Kalau ada yang menyakiti mereka, tangkap, Pak. Jangan cuma tanya nota."
Raka mencatat reaksinya. Kemarahan seperti itu tidak membuktikan bersih, tapi angka dosa rendah dan dapur terbuka membuat arahnya jelas.
Eliminasi.
Warung mie Mie Jago dikelola perempuan bernama Bu Lastri yang lebih galak daripada Dimas. Ia memarahi mereka karena datang saat jam persiapan kuah, lalu tetap memberikan nota, supplier, dan izin melihat dapur. Bau bawang ada, tetapi tidak ada aura yang cocok.
Eliminasi.
Berkah Catering jauh lebih besar. Terlalu ramai, terlalu terbuka, terlalu banyak karyawan berganti shift. Mereka memang memakai plastik dan tepung, tetapi semua area tercatat kamera internal. Andi langsung meminta salinan log, dan tidak ada nama yang cocok dengan deskripsi pria paruh baya penyendiri.
Di dapur katering, bau rempah kuat, tetapi jenisnya ramai: serai, daun salam, santan, cabai, bawang goreng. Bukan bau tunggal yang menempel seperti deskripsi Rini dan teman Melani. Lagi pula, tidak ada satu orang yang menguasai dapur sendirian. Terlalu banyak saksi, terlalu banyak mata.
Eliminasi sementara.
Lalu mereka tiba di Bakpao Surya.
Warung itu kecil, bersih, dan hangat. Uap putih keluar dari kukusan bambu. Bau rempah, daging, bawang putih, lada, dan adonan manis memenuhi udara. Di papan kayu sederhana tertulis: Bakpao Surya — Hangat Setiap Hari.
Berbeda dari tiga tempat sebelumnya, warung ini terlalu tenang. Tidak ada pegawai lain. Tidak ada pelanggan yang duduk lama. Semua barang berada dalam jangkauan satu orang: kukusan, meja adonan, freezer kecil di depan, pintu kayu ke ruang belakang yang tertutup kain.
Dimas mengetuk meja. "Kerja sendiri?"
"Iya, Pak," jawab suara dari belakang. "Lebih hemat. Lebih terjaga resepnya."
Raka mencatat kalimat itu.
Lebih terjaga.
Pemiliknya keluar dari belakang dengan senyum lebar.
Pria paruh baya. Rambut mulai menipis. Kemeja bersih. Celemek putih. Tangan besar tapi gerakannya lembut.
"Selamat sore, Pak Polisi," katanya. "Saya Bardi. Ada yang bisa saya bantu?"
Dimas menunjukkan surat pemeriksaan administratif. "Kami mengecek supplier plastik industri. Semua usaha di area ini diperiksa."
"Oh, tentu. Saya usaha kecil, Pak. Semua nota ada. Silakan. Mau bakpao? Baru matang."
Raka menatap kukusan.
Perutnya menegang.
Bardi mengambil beberapa bakpao dengan penjepit, meletakkannya di piring kertas, lalu menyodorkan kepada mereka seperti tuan rumah ramah.
"Gratis untuk polisi. Kerja malam pasti lapar."
Dimas mengambil satu setengah hati. Bayu menolak. Raka tahu kalau ia menolak terlalu cepat, Bardi mungkin ingat.
Ia mengambil satu.
Hangat di telapak tangannya.
Terlalu hangat.
Saat Bardi mengulurkan tangan untuk berjabat, Raka menyambutnya.
Mata Dosa meledak.
Bukan angka biasa.
Bukan noda samar.
Aura hitam pekat membungkus tubuh Bardi seperti asap minyak terbakar. Berlapis-lapis. Lengket. Dingin. Sama dengan aura di bantal Siska, di plastik Jalan Pahlawan, di sisa dosa yang menempel pada TKP.
【Bardi — Indeks Dosa: 96/100】
【Kecocokan aura: 100%】
【Target utama teridentifikasi.】
Jantung Raka menghantam tulang rusuknya.
Bardi masih tersenyum.
"Enak dimakan panas-panas, Mas."
Raka menatap bakpao di tangannya.
Ia menggigit.
Adonan lembut. Isi gurih. Rempah kuat.
Ia menelan dengan wajah netral, sementara seluruh tubuhnya ingin menolak.
"Enak," kata Raka.
Senyum Bardi melebar. "Syukurlah. Resep sendiri."
Di mobil setelah kunjungan, pintu baru tertutup ketika Dimas menoleh.
"Kamu pucat."
Raka menatap warung kecil itu dari kaca belakang.
"Yang terakhir," katanya pelan. "Bardi. Itu orangnya."
Dimas tidak langsung membantah.
"Berdasarkan apa?"
"Instingku belum pernah salah, Bang. Tapi kita butuh bukti. Banyak bukti."
Bayu yang duduk di depan menoleh. "Kalau salah, kita baru saja menuduh pedagang bakpao paling ramah di pasar."
"Kalau benar," kata Raka, "kita baru saja makan dari tangan orang yang memotong dua perempuan."
Tidak ada yang bicara setelah itu.
Dimas menatap bakpao setengah yang masih ia pegang sejak dari warung, lalu perlahan membungkusnya kembali dengan tisu.
Di tangannya, rasa rempah bakpao masih tertinggal.
Dan untuk pertama kali sejak kasus ini dimulai, Raka benar-benar takut mengetahui isi dapur seseorang.