NovelToon NovelToon
Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Menikahi tentara / Ibu susu
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.

Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.

Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.

Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.

Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.

Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.

*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26

Lewat Jalur yang Benar

“Aku tahu laki-laki seperti apa suamiku.”

Gagang pintu bergerak lagi.

“Endang, buka.”

Bu Endang menyeka sudut matanya. “Bilang kau tidak tertarik. Jangan memberi dia celah.”

Laras membenahi pakaiannya dan mengangkat Satya ke bahu. “Kalau saya menolak sekarang, apakah Ibu aman?”

“Dia tidak akan memukulku di depan tamu.”

Jawaban itu sama sekali tidak menenangkan.

Bu Endang membuka kunci. Sudibyo berdiri tepat di depan pintu, memenuhi jalan menuju ruang makan.

“Lama sekali.” Tatapannya turun kepada Satya. “Anak ini benar-benar menguasai waktumu.”

“Dia sudah kenyang. Saya juga harus pulang.”

“Kita belum selesai membicarakan pekerjaan.”

“Saya sudah memikirkan tawarannya.” Laras menjaga suaranya rata. “Kalau memang ada lowongan, kirimkan surat lewat perbekalan. Saya akan ikut prosedur.”

Senyum Sudibyo menipis. “Prosedur bisa sangat lama.”

“Saya terbiasa menunggu.”

Laras melangkah, tetapi Sudibyo tidak bergeser. Satya yang berada di bahunya mendadak bersendawa. Sesaat kemudian, susu hangat menyembur dari mulut kecilnya dan mengenai punggung tangan serta lengan seragam Sudibyo.

“Astaga!”

Sudibyo mundur refleks. Bu Endang segera mengambil kain lap, sementara Laras melewati celah yang terbuka.

“Maaf, Pak. Bayi memang tidak mengerti prosedur.”

Ia mengambil tas di dekat pintu dan keluar sebelum laki-laki itu sempat menjawab. Botol minyak bawang dan sambal sengaja ditinggalkan. Laras tidak ingin membawa pulang apa pun dari rumah itu, bahkan barang miliknya sendiri.

Udara malam terasa jauh lebih bersih begitu ia mencapai jalan kompleks.

Di depan rumah dinas, Iwan sedang menurunkan dua kaleng susu formula dan sepasang sepatu bayi dari sepeda motor.

“Ini titipan dari toko dekat Girisari,” katanya. “Ukuran sepatunya kira-kira untuk Nala. Mbah Inah bilang kakinya mulai besar.”

Laras memegang sepatu kecil berwarna cokelat itu. Kegembiraan yang muncul bercampur dengan rasa bersalah. Ia baru saja berhadapan dengan jebakan karena ingin membawa Nala ke kota, sementara putrinya tumbuh jauh dari penglihatannya.

“Besok saya perlu bicara dengan Komandan,” katanya.

Iwan memandang wajahnya. “Ada masalah?”

“Ada orang menawarkan jalan pintas.”

Pagi berikutnya, Laras menunggu sampai Bima selesai menerima laporan jaga. Ia membawa formulir yang sempat dilihatnya, hanya saja ia tidak pernah menyentuhnya. Ia menggambar kembali bentuk dan judulnya di kertas biasa agar bisa menjelaskan.

“Pak Dibyo bilang bisa menjadikan saya honorer, lalu pegawai tetap kalau saya menjaga hubungan dengan orang yang membukakan pintu.”

Bima duduk sangat diam.

“Dia menyentuhmu?”

“Punggung tangan. Sekali.”

Pulpen di tangan Bima berbunyi retak.

Laras melihat plastiknya patah di dekat jempol. “Saya bisa menjaga diri.”

“Kau tidak perlu membuktikannya dengan masuk ke rumahnya.”

“Undangan datang dari istrinya.”

“Tetap saja kau seharusnya bilang padaku.”

Nada Bima meninggi. Laras ikut menegakkan punggung.

“Perempuan tahu tatapan semacam itu lebih cepat daripada laki-laki. Kalau saya meminta izin setiap kali ada orang memandang tidak benar, saya tidak akan pernah keluar kamar.”

Bima terdiam.

“Saya datang bukan untuk dimarahi,” lanjut Laras. “Saya datang supaya Komandan tahu orang itu memakai jabatan untuk memancing saya.”

Rahang Bima bergerak. Amarahnya belum hilang, tetapi arahnya berubah.

“Kau benar,” katanya akhirnya. “Aku minta maaf.”

Laras tidak menyangka permintaan maaf itu datang begitu cepat.

Bima mengambil kertas kosong. “Dia benar soal satu hal. Statusmu tidak cukup kuat. Tapi kita akan memperbaikinya lewat jalur yang benar.”

Hari itu juga Bima membawa hasil syukuran, rekomendasi Kolonel, daftar tugas Laras, dan kebutuhan staf konsumsi ke rapat perbekalan. Parjo memberi pernyataan tertulis bahwa dapur membutuhkan pelatih sekaligus tenaga masak. Bagian kesehatan melampirkan bukti bahwa pekerjaan itu dapat dijalankan tanpa mengabaikan jadwal Satya.

Bima menelepon ajudan Kolonel Sutrisno dan meminta persetujuan untuk pengangkatan resmi sebagai staf konsumsi sipil kontrak batalyon. Bukan pegawai negeri, bukan janji kosong, tetapi jabatan dengan honor, jadwal, serta garis komando yang jelas.

Menjelang sore, salinan persetujuan awal tiba.

Bima meletakkannya di depan Laras. “Mulai Senin, kau bukan sekadar pengasuh yang membantu dapur. Kau staf konsumsi.”

Laras membaca setiap baris. Ada namanya, jumlah honor, jam tugas, hak izin untuk perawatan dua anak, dan evaluasi tiga bulan.

Jumlahnya tidak besar. Setelah membeli susu, obat, dan ongkos ke Girisari, mungkin hanya sedikit yang bisa disimpan. Namun angka itu tercetak di samping namanya sendiri. Tidak lagi dicatat sebagai bantuan untuk janda prajurit, tidak pula diselipkan lewat kemurahan hati seseorang.

Itu upah untuk pekerjaannya.

Jari Laras menyusuri stempel ungu di sudut halaman. “Kalau evaluasi saya buruk, kontrak bisa dihentikan?”

“Bisa.”

“Kalau hasil saya baik?”

“Diperpanjang. Setelah dua kali evaluasi, kau bisa mengajukan penempatan tetap sebagai tenaga sipil satuan.”

“Siapa yang menilai?”

“Parjo untuk kerja harian, perbekalan untuk catatan bahan, bagian kesehatan untuk kebersihan. Aku hanya mengesahkan hasil.”

Laras mengangkat mata. “Pak Dibyo tidak bisa mengubahnya?”

“Tidak sendirian. Semua penilaian punya salinan.” Bima mendorong tiga lembar tembusan ke arahnya. “Satu kau simpan. Satu di perbekalan. Satu di kantor Kolonel.”

Baru saat itu Laras memahami bedanya perlindungan dan jerat. Sudibyo menawarkan satu pintu yang hanya bisa dibuka olehnya, supaya Laras selalu berutang. Bima justru membuat banyak pintu dan membagikan kuncinya kepada beberapa orang, termasuk kepada Laras sendiri.

Dadanya terasa penuh.

“Saya tidak tahu bagaimana membalasnya.”

“Datang tepat waktu. Jangan membuat dapur terbakar.”

“Kalau hanya itu, terlalu murah.”

“Menang di lomba nanti juga boleh.”

Nada Bima datar, tetapi sudut matanya melembut. Laras melipat salinannya dengan hati-hati, lalu menyelipkannya ke dompet kain di samping ikat rambut Nala.

“Komandan mengurus semua ini dalam sehari?”

“Parjo yang mengurus kebutuhan teknis. Perbekalan yang memeriksa. Kolonel yang menyetujui.”

“Dan Komandan?”

“Aku memastikan mereka tidak menaruh kertasmu di bawah tumpukan.”

Laras menahan senyum. “Itu bukan jawaban jabatan?”

Bima teringat pertanyaan Kolonel dan menatapnya lama. “Jangan mulai.”

Satya yang bermain di pangkuan Laras menepuk kertas itu dengan telapak basah. Bima cepat menarik salinan asli, sedangkan Laras tertawa kecil. Ketegangan sejak malam sebelumnya akhirnya retak.

“Siap, Komandan.”

“Mulai sekarang, kalau ada undangan makan dari Sudibyo, bawa rantang. Iwan ikut mengantar dan menunggu di teras.”

“Apakah itu perintah dinas?”

“Itu prosedur baru.”

Kali ini Laras benar-benar tersenyum.

Keesokan paginya, Sudibyo menerima tembusan surat pengangkatan. Ia membaca tanda tangan Kolonel Sutrisno, stempel perbekalan, dan nama Bima sebagai pengusul.

Tawa yang biasa dipakainya tidak muncul.

Di luar kantornya, dua staf sedang berbicara tanpa menyadari pintu terbuka.

“Hebat juga pengasuh itu,” kata salah satu dari mereka.

“Pengasuh apa? Sekarang dia staf konsumsi resmi.”

Sudibyo menutup pintu pelan.

Umpannya bukan hanya gagal. Bima telah mengubahnya menjadi tangga untuk Laras.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!