NovelToon NovelToon
Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:25.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.

Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.

Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.

Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.

Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Lift Grand Orchid berhenti di lantai lima tepat pukul sembilan.

Keira keluar sambil menyeret koper kecil abu-abu. Bahunya masih pegal setelah kompetisi, kepalanya penuh suara kalung Bryan, dan layar ponselnya masih ia cek setiap tiga langkah.

Belum ada pesan baru dari Ko Kevin.

Belum ada kabar bahwa Ko Brandon aman.

Namun begitu pintu koridor terbuka, dunia yang biasanya berisik mendadak mengecil.

Suara lampu kristal di langit-langit hotel meredup menjadi gumaman jauh. Karpet tebal menelan bunyi roda koper. Aroma kayu mahal dan bunga putih membuat napasnya perlahan turun.

Di depan Suite Presiden 501, Edric berdiri diam.

Kemeja hitamnya rapi. Kacamata hitamnya menutup mata seperti biasa. Satu tangan bertumpu pada gagang tongkat, tangan lain berada di sisi tubuhnya. Ia tidak bergerak, seolah sejak tadi menjadi bagian dari pintu itu.

Keira berhenti.

"Ric."

Edric menoleh sedikit ke arah suara roda koper. "Kamu akhirnya datang."

Nada kalimat itu datar. Tapi karena Keira sudah beberapa malam menumpang tidur di sisinya, ia mulai bisa membedakan datar karena marah, datar karena capek, dan datar karena seseorang menunggu terlalu lama tapi malu mengaku.

Yang ini jelas jenis ketiga.

Keira menatapnya dari atas sampai bawah. "Kayak batu nisan aja lo berdiri di situ."

Alis Edric bergerak tipis. "Aku menunggu tamu."

"Tamu mana bawa koper?"

"Tamu yang kurang ajar."

Keira tertawa kecil untuk pertama kalinya malam itu.

Pintu terbuka otomatis setelah Edric menekan panel. Begitu masuk, kesunyian Suite 501 langsung menutup tubuh Keira seperti selimut tebal. Semua suara benda di luar pintu terpotong. Hanya ada langkah Edric yang pelan, roda koper, dan napasnya sendiri.

Keira tidak sadar betapa kaku bahunya sampai Edric berkata, "Masalah keluargamu sudah selesai?"

Jari Keira mengencang di gagang koper.

"Belum," jawabnya. "Tapi ada Ko Kevin."

Edric diam sejenak. "Dia bisa dipercaya?"

"Bisa."

"Kalau begitu, malam ini kamu tidur dulu."

Kalimat itu terdengar seperti perintah CEO. Aneh sekali, hati Keira malah menurut.

Ia membawa koper ke kamar utama. Lemari besar di sisi ruangan sudah dibuka. Lampu kecil di dalam lemari menyala lembut, memantulkan deretan jas hitam, kemeja putih, dasi gelap, dan beberapa pakaian rumah Edric yang semuanya tampak seperti hasil rapat komite orang dingin.

Di sisi paling kanan, ada ruang kosong.

Keira menoleh. "Ini buat gue?"

"Denny menyiapkan."

"Denny tahu gue bawa koper?"

"Aku menyuruhnya menyiapkan sejak siang."

Keira membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Sejak siang.

Jadi sejak ia masih bertarung dengan safir retak dan Seline di aula kompetisi, laki-laki ini sudah menyuruh orang menyiapkan tempat untuk bajunya.

Keira mengeluarkan beberapa piyama dari koper. Warnanya terang. Putih susu, merah muda pucat, biru muda. Ketika digantung berdampingan dengan pakaian Edric yang serba gelap, lemari itu mendadak terlihat seperti dua dunia yang dipaksa tinggal dalam satu kotak.

Aneh.

Tidak buruk.

Terlalu tidak buruk.

Di kamar mandi, sikat gigi merah muda yang ia bawa berdiri di samping sikat gigi hitam milik Edric. Satu kecil dan manis. Satu kaku seperti pemiliknya.

Keira menatap dua sikat gigi itu selama tiga detik.

Pikirannya tiba-tiba terseret pada bayangan bodoh: pasangan suami istri yang sudah menikah lama, satu menaruh gelas di kanan, satu menaruh handuk di kiri, bertengkar cuma karena tutup pasta gigi lupa ditutup.

Ia langsung menepuk dahinya sendiri.

Gila.

Kurang tidur memang merusak otak.

"Kamu memukul diri sendiri?" suara Edric terdengar dari pintu kamar mandi.

Keira hampir menjatuhkan gelas kumur. "Lo bisa dengar juga?"

"Di ruangan ini cuma ada kita."

"Jangan dengar hal aneh."

"Sulit. Kamu sering melakukan hal aneh."

Keira menarik napas, lalu memutuskan mengganti baju sebelum mulut Edric makin tajam. Ia membawa piyama satin merah muda ke sisi lemari, memanfaatkan daun pintu lemari yang terbuka sebagai penghalang.

"Jangan masuk," katanya.

"Aku buta."

"Buta bukan berarti boleh berdiri kayak CCTV."

Edric terdiam.

Keira mulai melepas jaket. Kain satin dingin menyentuh kulit lengannya. Suara benda-benda tetap tidak ada selama ia berada dekat Edric, jadi proses mengganti baju terasa anehnya sunyi. Tidak ada kancing yang mengeluh, tidak ada ritsleting yang bergosip, tidak ada gantungan baju yang menilai bentuk tubuhnya.

Ia baru memasukkan satu lengan ke piyama ketika sesuatu menyentuh kain di pinggangnya.

Jari Edric.

Sentuhan itu ringan, hanya mengenai ujung renda dan satin, tapi keduanya sama-sama membeku.

Edric menarik tangannya secepat tersengat listrik. "Maaf."

Keira menoleh dari balik pintu lemari. Lampu lembut dari dalam lemari jatuh di wajahnya. Edric berdiri satu langkah terlalu dekat, wajahnya tetap tanpa ekspresi, tetapi telinganya memerah.

Keira menatap telinga itu.

Lalu ia tersenyum pelan.

"Waktu lo peluk gue semalaman nggak malu, sekarang pegang baju aja malu?"

Rahang Edric mengeras.

"Kondisinya berbeda."

"Bedanya apa?"

"Semalam kamu tidur."

"Jadi kalau gue sadar, lo malu?"

"Naira."

Nama palsu itu keluar dari mulutnya dengan nada rendah, seperti peringatan yang justru membuat telinga Keira ikut panas.

Keira cepat-cepat mengancingkan piyama. "Oke, oke. CEO Liem Group ternyata polos. Catatan baru."

"Aku tidak polos."

"Telinga lo bilang beda."

Edric berbalik dengan kaku dan berjalan ke ruang tamu. Punggungnya begitu lurus sampai Keira hampir tertawa lagi. Untuk sesaat, kecemasan tentang Bryan, Si Panjang, dan Brandon terdorong ke pinggir.

Ia selesai berganti baju, lalu keluar sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil.

Edric duduk di sofa. Ponselnya bergetar di meja.

"Denny," katanya, lalu mengangkat panggilan. "Bicara."

Suara Denny yang sedikit panik terdengar dari speaker kecil karena ruangan terlalu sunyi. "Pak Edric, jadwal besok pagi sudah saya kirim. Meeting dengan Pak Hartono dipindah ke sebelas. Lalu ada kabar dari pihak Tanuwijaya."

Tangan Keira yang memegang handuk berhenti.

Edric menoleh sedikit, seolah menangkap perubahan napasnya. "Kabar apa?"

"Engkong Tedjo sedang menyiapkan pesta pengakuan keluarga. Katanya untuk cucu perempuan baru keluarga Tanuwijaya. Belum ada nama resmi, tapi undangan awal mulai dibicarakan di lingkaran atas Kota S."

Handuk di tangan Keira terasa mendadak berat.

Cucu perempuan baru.

Dia.

"Kapan?" tanya Edric.

"Belum pasti, Pak. Tapi akun gosip sosialita sudah mulai ramai. Hashtag #PutriTanuwijaya naik cepat sekali. Banyak yang tebak-tebakan. Ada yang bilang anak rahasia, ada yang bilang cucu angkat, ada yang bilang anak dari istri baru Pak Hendry."

Keira menahan napas.

Denny masih bicara, "Lucunya, beberapa orang mulai menyeret nama Seline Santoso karena dia dekat dengan Ko Brandon. Ada juga yang bilang Alvin Santoso sedang mencari koneksi ke Tanuwijaya. Saya pikir Bapak perlu tahu karena Liem Group pasti akan dapat undangan."

Edric tidak langsung menjawab.

Keira menatap layar ponselnya sendiri. Benar saja, Instagram sudah penuh potongan berita.

@KotaSInsider mengunggah foto gerbang Mansion Tanuwijaya dengan caption: Putri baru keluarga Tanuwijaya akan dikenalkan?

Komentar bergerak cepat.

Siapa #PutriTanuwijaya?

Katanya cantik banget.

Kalau benar anak Pak Hendry, berarti saudarinya Wild God dong?

Di bawahnya, akun yang tidak asing muncul.

Seline_S: Semoga siapa pun dia, keluarganya bahagia ya.

AlvinS: Berita orang kaya memang selalu dibesar-besarkan.

Keira menatap dua komentar itu sampai ujung jarinya dingin.

Seline sudah mencium kesempatan.

Alvin juga.

Mereka belum tahu orang yang mereka bicarakan adalah orang yang pernah mereka usir di tengah hujan.

"Naira."

Suara Edric membuat Keira mengangkat kepala.

Panggilan Denny sudah berakhir.

Edric duduk diam di sofa, wajahnya mengarah tepat ke tempat Keira berdiri. Matanya tertutup kacamata hitam, tetapi Keira merasa seolah ia sedang diperiksa tanpa tempat sembunyi.

"Kamu kenapa?" tanyanya pelan. "Kenal keluarga Tanuwijaya?"

Jantung Keira memukul sekali.

Ia hampir menjawab jujur.

Hampir.

Tapi nama yang Edric tahu adalah Naira. Perempuan yang muncul tengah malam, berbohong sebagai orang lain, tidur di sisinya karena tubuh mereka saling menolong. Kalau sekarang ia mengatakan bahwa ia sebenarnya Keira Santoso, putri kandung Mei Lin, calon putri Tanuwijaya yang sedang dibicarakan seluruh Kota S, semua kebohongan kecil itu akan berubah menjadi satu dinding besar.

Keira menurunkan handuk.

"Nggak," katanya. Suaranya keluar lebih ringan dari yang ia rasakan. "Cuma kaget aja, keluarga sebesar itu bikin pesta pengakuan. Pasti heboh."

Edric tidak menjawab.

Keheningan Suite 501 mendadak tidak lagi lembut. Ia menjadi ruang kosong tempat kebohongan Keira terdengar terlalu jelas.

Ponsel Keira bergetar.

Pesan dari Ko Kevin.

Masih dicek. Jangan panik. Pulang dan tidur dulu.

Keira menatap kalimat itu, lalu menghela napas pelan.

Edric berdiri.

"Tidur," katanya.

"Ric..."

"Kalau kamu tidak mau cerita, aku tidak memaksa."

Kalimat itu seharusnya membuat Keira lega. Entah kenapa, dadanya justru terasa lebih sesak.

Edric berjalan melewatinya menuju kamar. Ketika bahunya hampir bersentuhan dengan Keira, ia berhenti.

"Tapi aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu."

Keira tidak bisa membantah.

Di layar ponselnya, #PutriTanuwijaya masih bergerak naik.

Di luar sana, Seline mungkin sedang tersenyum manis sambil menghitung peluang. Alvin mungkin sedang berpikir bagaimana mendekati keluarga Tanuwijaya. Ko Brandon masih belum tahu sahabatnya sendiri ingin menghancurkan tangannya.

Dan di depan Keira, Edric berdiri dekat, terlalu tenang, terlalu sulit dibohongi.

Edric diam sejenak.

Lalu ia berkata, "Pesta pengakuan Tanuwijaya... menarik. Aku mungkin akan datang."

Keira menelan ludah.

1
lin sya
kluarga gk tahu malu, stlh tau kbnarannya ngomong ttg kluarga. pdhl dulu kei anak yg diabaikan dan disakitin. skrg dtg dgn tmpg gk brsalah🤭
Dey77
baru awal baca,
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!