NovelToon NovelToon
Jalan Dewa Kehampaan

Jalan Dewa Kehampaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Timur, kekuatan mutlak adalah hukum tertinggi, dan mereka yang tidak bisa berkultivasi hanyalah debu yang pantas diinjak-injak. Lin Tian, Tuan Muda dari Klan Lin, harus menanggung kehinaan selama bertahun-tahun karena cacat bawaan pada meridiannya. Takdirnya mencapai titik terkelam ketika ia dikhianati, disergap oleh pembunuh bayaran suruhan sepupunya, dan dilemparkan ke dasar Jurang Hukuman yang mematikan.
​Namun, jurang itu bukanlah akhir, melainkan awal yang baru.
​Di ambang kematian, darah dan tekad Lin Tian yang pantang menyerah membangkitkan sebuah artefak kosmis yang bersemayam dalam dirinya—Mutiara Kehampaan. Tubuh fananya dihancurkan dan ditempa ulang, meridiannya disucikan, dan ia mewarisi Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit, sebuah kekuatan tabu yang ditakuti oleh alam semesta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Langit Berdarah Makam Kuno

​Sensasi melewati gerbang spasial terasa seperti ditarik paksa melalui lubang jarum. Pemandangan di depan mata Lin Tian berputar hebat, warna-warna melebur menjadi garis-garis cahaya yang memusingkan.

​Namun, berkat fisik tahap Pondasi Bumi Puncak yang telah ditempa oleh esensi Kobra Api dan tekanan spasial dari Sayap Pengoyak Ruang, Lin Tian tetap membuka matanya dengan tenang hingga kakinya menyentuh tanah padat.

​Bruk.

​Begitu kakinya berpijak, Lin Tian langsung merasakan perubahan drastis. Gravitasi di tempat ini setidaknya tiga kali lebih berat daripada di Benua Timur. Udara terasa purba, kental dengan energi spiritual yang telah terperangkap selama ribuan tahun, namun bercampur dengan bau busuk pembusukan dan darah kering.

​Lin Tian mendongak. Tidak ada matahari maupun bulan di sini. Langit di atasnya diselimuti awan tebal berwarna merah darah yang memancarkan cahaya temaram ke seluruh penjuru. Di kejauhan, pegunungan tandus dan sisa-sisa reruntuhan istana kuno yang setengah terkubur tanah membentang sejauh mata memandang.

​"Jadi ini Alam Rahasia Makam Kuno," gumam Lin Tian.

​Gerbang dimensi memiliki sifat teleportasi acak. Dari seratus murid yang masuk bersamaan, mereka semua telah disebar secara terpisah melintasi wilayah rahasia ini seluas ribuan mil. Ini adalah mekanisme pertahanan alamiah dari alam saku agar para penyusup tidak langsung berkumpul dan menghancurkan fondasinya.

​Lin Tian baru saja akan melangkah maju ketika telinganya yang tajam menangkap suara gemerisik dari balik semak belukar berduri di sebelah kirinya.

​Bukan hanya satu, tapi ada belasan suara gesekan halus.

​Grrr...

​Dari balik bayang-bayang pohon-pohon kuno berdaun hitam, sepasang mata hijau menyala bermunculan satu per satu. Makhluk-makhluk itu melangkah keluar perlahan, memperlihatkan wujud serigala raksasa setinggi dada manusia, dengan bulu sekeras kawat besi dan gigi taring yang memancarkan kilau bisa beracun.

​"Serigala Bayangan Racun," Lin Tian mengenali mereka dari gulungan informasi sekte. "Binatang Iblis Tingkat 2 Menengah. Suka berburu dalam kawanan."

​Ada sekitar lima belas ekor Serigala Bayangan yang kini mengelilinginya. Mereka menganggap pemuda kurus berbaju putih ini sebagai makan malam empuk yang kebetulan jatuh dari langit.

​Pemimpin kawanan, seekor serigala yang lebih besar dengan luka codet di matanya, melolong panjang. Seketika, lima ekor serigala melesat menerjang Lin Tian secara bersamaan dari berbagai arah, rahang mereka siap mengoyak anggota tubuh pemuda itu.

​Kecepatan mereka setara dengan kultivator Pondasi Bumi, namun di mata Lin Tian, gerakan itu tidak ubahnya seperti gerakan anak anjing.

​Lin Tian tidak menghindar. Ia tersenyum tipis, merogoh ke balik punggungnya, dan menggenggam gagang pedang hitam raksasa—Logam Hitam Tanpa Nama.

​"Waktunya peregangan," bisik Lin Tian.

​Ia menarik pedang seberat lima ribu kati itu dengan satu tangan. Otot lengan kanannya menonjol, memompa kekuatan fisik murni yang berpadu dengan Qi dari Lautan Kehampaannya. Tanpa menggunakan teknik apa pun, Lin Tian hanya memutar tubuhnya dan mengayunkan pedang raksasa itu secara horizontal satu putaran penuh.

​WUUUSSSHHHH!

​Ayunannya begitu berat hingga merobek udara, menciptakan suara ledakan sonik yang memekakkan telinga. Angin puyuh dadakan terbentuk murni dari tekanan fisik pedang tersebut.

​BAM! BAM! BAM! BAM! BAM!

​Suara hantaman tumpul bergema berturut-turut. Pedang hitam itu sama sekali tidak tajam, ia tidak memotong daging kelima serigala tersebut, melainkan meremukkannya.

​Dalam sekejap mata, kelima Serigala Bayangan itu terhantam oleh lempengan besi lima ribu kati. Tulang-tulang mereka hancur menjadi serbuk, tubuh mereka meledak menjadi kabut darah, dan sisa daging mereka terhempas sejauh belasan meter hingga menabrak pohon-pohon hitam hingga tumbang.

​Hanya dengan satu ayunan biasa tanpa teknik bela diri, lima monster Tingkat 2 tewas mengenaskan!

​Kawanan serigala yang tersisa membeku di tempat. Insting predator mereka menjeritkan teror mutlak. Pemimpin serigala mundur selangkah, ekornya terselip di antara kedua kaki belakangnya, bersiap untuk melarikan diri.

​"Sudah terlambat untuk lari," Lin Tian menyeringai kejam.

​Tiga Langkah Hantu Kehampaan!

​Sosok Lin Tian memudar, meninggalkan bayangan buram. Ia melesat menembus kawanan serigala bagaikan dewa kematian. Setiap kali bayangannya berhenti, pedang hitamnya akan turun seperti palu algojo kosmis.

​Bum! Krak!

​Kurang dari sepuluh tarikan napas kemudian, suasana kembali hening. Kelima belas Serigala Bayangan itu kini hanyalah tumpukan daging dan tulang yang hancur berserakan di tanah.

​Lin Tian menyandarkan pedang raksasanya di bahu, sama sekali tidak terengah-engah. Ia berjalan santai di antara mayat-mayat itu, menggunakan Tubuh Penelan Kehampaan dari telapak tangannya untuk menyedot lima belas Inti Binatang Iblis dari tumpukan darah tersebut.

​Inti-inti itu masuk ke dalam Dantiannya dan langsung digiling oleh pusaran Qi-nya, memberikan aliran hangat yang menenangkan.

​"Pedang yang bagus. Tidak butuh ketajaman, cukup hancurkan saja apa pun yang menghalangi," Lin Tian mengelus bilah pedang hitamnya dengan kepuasan.

​Prok. Prok. Prok.

​Suara tepuk tangan yang lambat dan sarkastis tiba-tiba terdengar dari arah tebing batu di belakang Lin Tian.

​"Luar biasa, luar biasa. Pantas saja Lu Ming sampai kehilangan giginya. Kekuatan fisikmu benar-benar abnormal untuk seorang kultivator Pondasi Bumi menengah, Lin Tian."

​Lin Tian berbalik perlahan. Di atas tebing batu kecil itu, berdiri dua orang pemuda berseragam Murid Inti Awan Ungu. Keduanya memancarkan fluktuasi Qi tahap Pondasi Bumi Akhir. Di dada kiri seragam mereka tersemat lencana perak berbentuk pedang menyilang—lambang dari faksi Lu Changkong.

​Pemuda yang bertepuk tangan berhidung bengkok seperti elang, menatap Lin Tian dengan seringai haus darah. Di sampingnya, rekannya yang bertubuh lebih kurus sedang memainkan belati beracun di tangannya.

​"Tidak kusangka keberuntungan kita akan sebaik ini, Kakak Senior Ma," kata pemuda berbelati sambil menjilat bibirnya. "Baru sepuluh menit masuk, kita sudah menemukan buruan utama. Kakak Senior Lu Changkong menjanjikan tiga ratus Batu Roh Menengah dan sebuah Pil Penembus Inti bagi siapa saja yang membawa kepala bocah ini kepadanya."

​Pemuda berhidung elang, Ma Wei, tertawa pelan. "Benar. Lin Tian, meskipun kekuatan fisikmu hebat saat melawan binatang buas tanpa otak, kau baru saja menghabiskan tenagamu. Serahkan kepalamu dengan ngoceh, atau kami akan memotong anggota tubuhmu satu per satu sebelum membawanya pada Kakak Senior Lu."

​Lin Tian mendengarkan ocehan kedua orang itu dengan wajah tanpa ekspresi. Ia menatap mereka seperti menatap dua mayat berjalan.

​"Tiga ratus Batu Roh Menengah dan satu Pil Penembus Inti?" Lin Tian bergumam, menggelengkan kepalanya pelan. "Lu Changkong terlalu pelit. Jika ia tahu seberapa mahal harga kepalaku, ia pasti akan mengorbankan seluruh klannya untuk membayarnya."

​Wajah Ma Wei mendingin. "Masih berani bermulut besar! Jangan kira karena kau punya pedang berat kau bisa sombong di hadapan Qi sejati! Seni Angin Pemotong Tulang!"

​Ma Wei melompat turun dari tebing. Tangannya membentuk segel, dan belasan bilah angin berwarna cyan melesat membelah udara, mengincar titik-titik vital Lin Tian. Bilah angin itu begitu tajam hingga membelah batu-batu di sekitarnya seperti tahu.

​Di saat yang bersamaan, rekannya melesat dari sudut buta di sebelah kanan Lin Tian, mencoba menusukkan belati beracun ke rusuknya.

​Lin Tian tidak membuang waktu merapal Seni Pedang Penelan Langit. Menghadapi dua lalat ini, kekuatan murni sudah lebih dari cukup.

​Ia mengangkat Logam Hitam Tanpa Nama di depannya seperti perisai raksasa.

​Tring! Tring! Tring!

​Bilah-bilah angin cyan itu menghantam bilah pedang hitam, namun alih-alih meledak, energi angin tersebut justru terserap lenyap ke dalam logam gelap itu. Senjata pembunuh ini benar-benar menelan Qi yang tidak murni!

​Mata Ma Wei membelalak kaget. "Pedang apa itu?!"

​Sebelum Ma Wei bisa bereaksi, Lin Tian menapakkan kakinya ke tanah, membuat daratan retak, dan meluncur maju layaknya meriam. Pedang lima ribu kati itu diayunkan dari bawah ke atas, langsung menghantam dagu pemuda berbelati yang mencoba menyelinap.

​KRAAAAAK!

​Bunyi mengerikan dari tengkorak yang hancur total terdengar. Tubuh kultivator berbelati itu terpental ke udara setinggi belasan meter, lehernya patah tak berbentuk, tewas seketika sebelum ia bahkan menyadari apa yang menghantamnya.

​Melihat adik seperguruannya mati secepat lalat yang ditepuk, keberanian Ma Wei langsung runtuh. Rasa dingin merayap di tulang punggungnya. Ini bukan pertarungan, ini adalah pembantaian sepihak!

​"M-Monster! Lu Ming tidak bilang kau sekuat ini!" Ma Wei memutar tubuhnya, membuang seluruh gengsinya, dan mencoba melarikan diri ke dalam hutan menggunakan teknik meringankan tubuh.

​"Datang sesuka hati, pergi sesuka hati? Kau pikir Alam Rahasia ini kedai teh?" suara Lin Tian bergema tepat di belakang telinga Ma Wei, bagaikan bisikan dari neraka.

​Tiga Langkah Hantu Kehampaan terlalu cepat bagi kultivator Pondasi Bumi biasa.

​Tangan kiri Lin Tian menjulur keluar, mencengkeram jubah belakang Ma Wei, dan menariknya paksa hingga pemuda itu jatuh telentang ke tanah. Sebelum Ma Wei bisa merapal perisai Qi, Lin Tian menginjak dada pemuda itu, membuat tulang rusuknya berderak patah.

​"Ughh! A-Ampuni aku!" Ma Wei memuntahkan darah, matanya melotot dipenuhi ketakutan absolut. "A-Aku punya informasi! Jangan bunuh aku, aku tahu di mana Kakak Senior Lu Changkong berencana pergi!"

​Mata Lin Tian menyipit tipis. Ia mengendurkan sedikit tekanan kakinya. "Bicara."

​"D-Di sebelah utara dari sini, ada sebuah formasi kuno yang disebut Lembah Kuburan Pedang! Lu Changkong memiliki peta parsial dari sekte. Di dalam sana ada peninggalan Jantung Pedang Surgawi... Jika dia mendapatkannya, dia akan seratus persen menerobos Inti Emas tahap menengah dan kekuatannya tidak akan terbendung!" Ma Wei terbatuk-batuk, mengeluarkan rahasia terbesar faksinya demi menyelamatkan nyawanya.

​Lin Tian menatap lurus ke arah utara. Langit merah di ujung sana tampak sedikit berkilat dengan energi pedang yang samar.

​"Lembah Kuburan Pedang... Jantung Pedang Surgawi. Menarik," gumam Lin Tian santai.

​Ia menatap Ma Wei kembali. "Terima kasih atas informasinya."

​Mendengar itu, wajah Ma Wei dipenuhi harapan. "T-Terima kasih, Kakak Senior Lin! Saya berjanji akan tutup mul—"

​BAM!

​Gagang pedang hitam raksasa itu menghantam tengkorak Ma Wei, mengakhiri hidupnya seketika tanpa belas kasihan.

​Lin Tian memungut Cincin Penyimpanan dari kedua mayat itu dengan wajah datar. "Orang yang menjual atasannya demi nyawanya sendiri, akan kembali menikam punggungku jika kubiarkan hidup. Di dunia kehampaan, tidak ada ruang bagi penghianat."

​Ia memeriksa isi cincin mereka. Terdapat beberapa ratus Batu Roh dan sebuah peta perkamen kuno. Mata Lin Tian berbinar saat melihat titik merah yang ditandai di perkamen tersebut—Lembah Kuburan Pedang.

​"Lu Changkong ingin menyempurnakan jalurnya sebagai kultivator pedang," Lin Tian mengikatkan Logam Hitam Tanpa Nama kembali ke punggungnya. Pusaran hitam di Dantiannya berputar, memancarkan rasa lapar yang membara akan harta dan pembunuhan. "Bagus. Aku akan membiarkan dia membersihkan jalan menuju inti makam itu... lalu aku akan merampas semuanya dari tangannya."

1
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Makjlebz
hadad fernandez khan
lanjut tor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!