Selama lima tahun, Vincent Huang tidak pernah berhenti mengejar Stella Mo.
Namun, Stella selalu menolaknya dan memilih menjaga jarak tanpa pernah menjelaskan alasannya.
Ketika rahasia masa lalu Stella akhirnya terungkap, Vincent harus menghadapi pilihan sulit. Tetap menggenggam tangan wanita yang dicintainya, atau menjauh setelah mengetahui luka yang selama ini Stella sembunyikan.
Apakah cinta Vincent cukup kuat untuk menerima seluruh masa lalu Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Club malam.
Vincent sedang duduk bersama sahabatnya, Justin, dan asistennya, Willy.
Ia meneguk minumannya dengan wajah murung. Sejak tadi Vincent lebih banyak diam daripada berbicara.
"Vincent, ada apa denganmu? Kau yang mengajakku keluar untuk minum, tapi sejak tadi malah diam saja," tanya Justin.
Vincent meletakkan gelasnya.
"Justin, sudah berapa lama kau menjadi psikiater?"
"Delapan tahun. Kenapa? Apa kau membutuhkan bantuanku?" tanya Justin heran.
"Kau pernah menangani pasien yang menjadi korban pelecehan?"
Justin mengangguk.
"Sebagai dokter yang beberapa kali bekerja sama dengan kepolisian, tentu aku sering menangani korban pelecehan. Tapi kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal seperti itu?"
Vincent terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Stella Mo adalah salah satu korbannya."
Justin langsung memasang wajah serius.
"Ayah tirinya melakukan pelecehan terhadapnya. Bahkan ibunya sendiri yang menyerahkannya kepada pria itu. Kejadian tersebut membuatnya membawa trauma selama sepuluh tahun."
Justin terdiam beberapa saat.
"Stella Mo... Bukankah dia wanita yang kau kejar selama hampir enam tahun?"
Vincent mengangguk.
"Menurutmu, kenapa dia selalu menolakku? Apakah karena dia memang tidak mencintaiku?"
Justin menatap Vincent dengan serius.
"Kalau menurut penilaianku sebagai seorang psikiater, belum tentu karena dia tidak memiliki perasaan kepadamu."
Vincent menatapnya.
"Justru mungkin karena dia tidak percaya pada dirinya sendiri."
Willy yang sejak tadi diam ikut berbicara.
"Mantan kekasihnya juga meninggalkannya setelah mengetahui kejadian itu."
Justin menghela napas.
"Kalau begitu, luka yang dia bawa pasti semakin dalam."
Ia mengambil gelasnya, tetapi tidak langsung meminumnya.
"Bayangkan, Vincent. Seseorang yang pernah mengalami kejadian seperti itu kemudian ditinggalkan oleh orang yang dia cintai. Yang tertanam di pikirannya bukan hanya rasa sakit, tetapi juga ketakutan bahwa orang lain akan melakukan hal yang sama."
Justin menatap Vincent.
"Dia mungkin takut suatu hari nanti kau akan menyesal karena masa lalunya. Dia takut ketika kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, kau juga akan melihatnya berbeda."
Vincent mengepalkan tangannya.
"Jadi selama ini..."
"Dia bukan sedang menjual mahal atau sengaja membuatmu kesulitan," potong Justin. "Dia sedang melindungi dirinya sendiri."
Vincent terdiam.
"Pasien yang pernah kutangani juga mengalami hal serupa. Mereka memilih menjauh dari hubungan baru karena takut ditolak, merasa malu, atau khawatir pasangannya tidak bisa menerima masa lalu mereka."
Justin menghela napas.
"Jadi, meskipun ada pria yang benar-benar tulus mendekati mereka, rasa takut itu tetap ada."
Willy menatap Justin.
"Dokter Justin, apakah ada cara agar Tuan bisa membuat Nona Mo percaya kepadanya?"
Justin tersenyum tipis.
"Kalau kau bertanya apakah ada cara yang cepat, jawabannya tidak."
Ia menatap Vincent.
"Bosmu sudah berusaha selama ini. Tapi luka seperti itu tidak sembuh hanya karena seseorang mengatakan bahwa dia mencintainya."
Justin menepuk bahu Vincent.
"Kalau kau benar-benar ingin bersamanya, jangan memaksanya untuk percaya kepadamu. Tunjukkan kepadanya, sedikit demi sedikit, bahwa kau berbeda."
"Dan yang paling penting..." Justin menatap Vincent serius. "Jangan pernah membuatnya merasa bahwa dia harus menjadi wanita yang sempurna agar pantas dicintai."
"Aku sudah mengerti. Aku akan mendekatinya dengan status yang berbeda. Bukan sebagai pria yang mencintainya, tetapi sebagai seorang teman yang bisa dia percaya kapan pun," jawab Vincent.
"Mungkin ini cara terbaik," ujar Justin.
Dua bulan kemudian.
Stella kini telah bergabung dengan sebuah perusahaan besar di dalam negeri.
Selama dua bulan terakhir, hampir seluruh waktunya ia habiskan untuk bekerja. Ia sengaja menyibukkan diri agar tidak terlalu banyak memikirkan hal-hal lain.
Sementara itu, Vincent tidak pernah lagi menemui Stella setelah lamarannya ditolak.
Namun, bukan berarti Vincent benar-benar berhenti memperhatikannya.
Ia masih sering memantau Stella dari jauh tanpa mengganggu kehidupannya.
Siang itu, seorang staf mengantarkan makanan dan minuman ke ruangan Stella.
Seperti biasa, di dalamnya terdapat sebuah kartu kecil.
Stella mengambil kartu tersebut dan membacanya.
"Semoga harimu menyenangkan. Dari temanmu, Vincent."
Stella terdiam.
Tanpa sadar, pikirannya kembali pada percakapan terakhirnya dengan Vincent dua bulan lalu.
Suara Vincent kembali terngiang di kepalanya.
"Stella, aku sudah mempertimbangkannya. Aku tidak akan memaksamu lagi. Jangan merasa terbebani karena lamaranku. Yang aku inginkan hanya kau tetap bahagia. Mulai hari ini, aku akan menjadi temanmu... kalau kau tidak keberatan."
Stella menatap kartu di tangannya.
Selama dua bulan ini, Vincent benar-benar menepati perkataannya.
Ia tidak pernah datang menemuinya.
Tidak pernah menanyakan kapan Stella akan berubah pikiran.
Tidak pernah membicarakan perasaannya lagi.
Namun, hampir setiap hari selalu ada makanan, minuman, atau sekadar pesan singkat yang dikirimkan Vincent kepadanya.
Tidak pernah berlebihan.
Hanya sebuah perhatian sederhana dari seseorang yang mengaku sebagai teman.
Stella tersenyum tipis.
Ia meletakkan kartu itu di samping meja kerjanya, lalu kembali menatap layar komputer.