Setelah menerima donor mata dari kakak nya, Kanaya terpaksa harus menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi kakak ipar nya sendiri, karena sang kakak meningal akibat kecelakaan yang di sebabkan oleh nya.
Kanaya adalah seorang gadis buta yang berusia dua puluh dua tahun, sejak kecil dia hanya tinggal dengan ibu dan kakak nya, "Aurel" sementara ayah nya sudah meninggal sejak Kanaya masih kecil.
Aurel yang seminggu lagi hendak melangsungkan pernikahan malah meningal karena menyelamatkan Kanaya adik nya yang hampir tertabrak mobil saat hendak menyebrang jalan.
Samuel yang kecewa terpaksa menikahi Kanaya atas permintaan terakhir Aurel, meskipun dia cukup membenci Kanaya karena Kanaya adalah penyebab meningal nya Aurel.
Bagaimana kisah Kanaya dan Samuel yang menikah karena unsur keterpaksaan? Bagaimana perlakuan Samuel kepada Kanaya wanita yang sangat dia benci ini? Ayo baca kisah mereka di sini bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
"Masih pagi begini sudah meninggalkan aku sendirian di hotel, apa yang harus aku lakukan?" ucap Naya kebingungan sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Naya khawatir dia sendiri di kamar hotel, ini adalah pertama kalinya dia berada di tempat orang, dan tidak punya pengalaman dalam hal ini.
Ia pun melirik sekeliling kamar tersebut, memastikan apakah Samuel meninggalkan sesuatu atau secarik kertas untuk dia baca, namun tidak ada sama sekali, yang dia temukan hanyalah bungkusan makanan di atas nakas samping tempat tidur Samuel.
Naya yang kelaparan pun berjalan menghampiri nakas tersebut lalu mengambil kotak makanan yang dibungkus itu dan membukanya.
"Nasi goreng? Tapi ini daging apa ya?" ucap Naya sambil memperhatikan daging yang bercampur di dalam nasi goreng tersebut.
Lama memerhatikan, Naya pun akhirnya tahu kalau daging yang ada di dalam nasi goreng tersebut adalah daging kepiting.
"Nasi goreng kepiting," ucapnya terlihat kecewa.
Perutnya sudah cukup lapar, namun yang ditinggalkan Samuel adalah nasi goreng kepiting, Naya sangat tidak bisa makan kepiting karena alergi terhadap hewan laut tersebut.
Ia yang kecewa pun membungkus kembali makanan tersebut dan menaruhnya kembali ke tempat semula.
Tiga puluh menit pun berlalu, Naya kini sudah selesai mandi dan memutuskan untuk keluar dari kamar dan berjalan-jalan di sekitar hotel, ingin menikmati suasana indah pagi hari di kota X.
Ia pun keluar dari kamarnya dan kembali menutup pintu kamar dengan rapat.
"Wahh, hotel ini cukup besar, baru kali ini aku merasakan rasanya tidur di hotel hehe," ucap Naya terlihat sangat bahagia sejenak jalan-jalan membuat rasa laparnya hilang.
"Aduh, kakiku sakit sekali," ucap seseorang yang membuat Naya terdiam dan sekali lagi melirik ke sana dan ke sini di lorong hotel tersebut.
Sudah jauh melewati beberapa kamar dari kamarnya, Naya melihat seorang kakek yang sedang terjatuh di depan sebuah kamar, kacamata dan tongkatnya pun berada sedikit jauh darinya.
"Astaga!" ucap Naya segera berlari cepat untuk membantu sang kakek.
Naya mengambil kacamata sang kakek lalu buru-buru memasangnya kembali ke mata kakek tersebut dan kemudian mengambil tongkat itu lalu memberikannya kepada kakek tersebut.
"Astaga kakek, mengapa kakek bisa jatuh?" tanya Naya sambil membantu sang kakek untuk berdiri.
"Huh, maaf aku merepotkanmu, aku ingin keluar sarapan pagi di bawah tapi aku terpeleset dan jatuh," jelas sang kakek sambil memegang pinggangnya yang sakit.
"Astaga, mengapa kakek setua ini dibiarkan sendiri di sini? Kakek mengapa sendiri? Di mana anak atau cucu kakek?" tanya Naya kebingungan.
"Aku ... Aku ke sini sendiri, hanya liburan untuk menghilangkan bosan. Gadis cantik, mau kah kau menemaniku sarapan ke bawah?" jelas sang kakek kepada Naya.
Naya menatap wajah sang kakek, rasanya benar-benar tidak asing, dia seperti melihat kakek tersebut, tapi masih lupa di mana dia melihatnya.
"Mengapa kau diam? Kau mencoba mengingatku ya? Bukankah kita pernah bertemu di pesawat?" ucap kakek tersebut sambil tersenyum.
Naya pun akhirnya menyadari jika kakek tersebut adalah orang yang dia lihat di pesawat kemarin, kakek yang duduk bersama dengan Samuel.
"Astaga, ingatanku kalah dengan ingatanmu ya Kek, maaf," ucap Naya sambil tersipu malu kepada sang kakek.
"Mengapa kau malah minta maaf? Aku ingin kau menemani aku sarapan, ayo cepat," ucap sang kakek lagi.
"Aku tidak bisa menolakmu, ayo aku akan menemanimu," jawab Naya dengan senang hati.
"Ya, kau pasti juga belum sarapan kan?" tutur sang kakek.
Naya menjawab pertanyaan sang kakek dengan anggukan kepala saja.
Mereka pun berjalan pelan-pelan, dan masuk ke dalam lift. Karena Naya tidak tahu apa-apa soal lift dan sebagainya, sang kakek pun mengajarinya dengan senang hati.
Tidak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di lantai bawah, tepat di mana restoran hotel tersebut. Tidak hanya mereka berdua, masih banyak tamu lain yang memilih untuk makan langsung di restoran hotel daripada makan di kamar masing-masing, di sini mereka bisa melihat berbagai macam menu makanan secara langsung.
"Kakek tunggu di sini ya, aku akan mengambil makanannya," ucap Naya yang saat itu melihat tidak ada antrian untuk mengambil sarapan. Dia pun merasa bebas untuk memilih makanan yang dia sukai.
Sang kakek pun menganggukkan kepalanya dan kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di meja pojok restoran tersebut.
Selang sepuluh menit kemudian, Naya pun kembali menghampiri sang kakek dengan dua piring makanan di tangannya.
"Kakek maaf, aku tidak tahu apa yang kakek suka tapi aku menyamakan makananmu dan makananku," ucap Naya menaruh dua piring tersebut ke meja dan duduk di kursi berhadapan dengan sang kakek.
Sang kakek hanya tersenyum dan meraih piring tersebut lalu mulai makan. Sementara itu Naya yang melihat sang kakek lahap pun merasa lega karena sepertinya selera dia dan si kakek sama.
Sementara itu di sisi lain.
"Mengapa anda tiba-tiba menghentikan kerja sama kita secara sepihak tuan muda Samuel? Ini rasanya tidak adil bagi saya," ucap Tuan Juna kepada Samuel dengan wajah pucatnya karena kaget.
Tuan Juna terlihat kaget karena tiba-tiba saja Samuel datang ke kantornya dan mengakhiri kerja sama secara langsung.
"Azka, berikan penjelasan kepadanya," ucap Samuel melirik ke arah Azka.
Azka membuka tablet yang khusus untuk pekerjaan yang selalu dia bawa ke mana pun ia pergi lalu mengotak-atiknya beberapa menit.
"Lihatlah, ini bukti-bukti yang sudah aku kumpulkan tentang kecurangan perusahaan kalian," jelas Azka sambil memperlihatkan bukti yang ada di dalam tabletnya.
Seketika Tuan Juna yang melihat itu langsung kaget dan terduduk di kursinya, matanya bahkan hampir tidak berkedip, tak menyangka jika perusahaan Samuel akan secepat itu membongkar kejahatannya.
Setelah mengurus semua yang bersangkutan dengan perusahaannya Tuan Juna, Samuel dan Azka pun berangkat dari perusahaan tersebut.
"Masalah sudah selesai, aku rasa sekarang kita cukup kembali ke hotel, aku khawatir dengan Naya," jelas Samuel terlihat buru-buru sambil sesekali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Azka yang mendengar itu pun menoleh menatap Samuel, tidak biasanya bos mudanya itu mengkhawatirkan orang yang katanya sangat dia benci.
****
🤣❤️