Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan
Kata-kata itu menusuk. Meskipun Alya sudah tahu, mendengarnya diucapkan secara langsung tetap terasa seperti pisau yang menyayat hatinya perlahan-lahan.
"Aku mencintai orang lain, Al," bisik Reza, dan untuk pertama kalinya ia mengakui dengan lantang apa yang selama ini hanya menjadi kecurigaan Alya. "Aku mencintai kakakmu. Gita."
Alya merasakan dadanya sesak. Ia sudah tahu. Ia sudah mendengar percakapan telepon itu. Tapi mendengar Reza mengakuinya di sampingnya, di tengah malam yang sunyi, terasa sangat berbeda.
Ada kepedihan yang aneh—bukan cemburu, karena ia tidak pernah mencintai pria ini. Tapi ada rasa sakit karena menjadi orang yang tidak diinginkan. Menjadi pengganti. Menjadi alat.
"Aku mencintainya sejak pertama kali aku melihatnya, dua tahun lalu," Reza melanjutkan, suaranya seperti melayang ke masa lalu.
"Dia wanita yang luar biasa. Cantik, cerdas, ambisius. Aku jatuh cinta pada setiap hal tentang dirinya. Aku melakukan apa pun untuk membuatnya bahagia. Aku membelikan apa pun yang ia mau. Aku datang kapan pun ia butuh. Aku... aku benar-benar bodoh di hadapannya."
Ada getaran di suaranya. Getaran yang menunjukkan bahwa cinta itu masih membara di dalam dirinya.
"Enam bulan yang lalu, aku melamarnya. Aku menyiapkan cincin, restoran mewah, semua yang sempurna. Tapi dia... dia menolakku."
Reza tertawa kecil. Tawa pahit yang membuat bulu kuduk Alya meremang.
"Dia bilang dia belum siap menikah. Belum siap terikat. Dia masih ingin bebas, mengejar karirnya. Aku mencoba mengerti. Aku bilang aku akan menunggu. Tapi dia... dia punya ide lain. Dia bilang, daripada aku menunggu tanpa kepastian, lebih baik aku menikah saja. Dengan adiknya. Dengan kamu."
Alya merasakan sesuatu yang pecah di dadanya. Bukan karena cinta pada Reza. Tapi karena mendengar langsung, dari mulut pria ini, bagaimana kakak kandungnya sendiri menjodohkannya.
Bukan karena Gita peduli padanya. Tapi karena Gita ingin mempertahankan Reza. Gita tidak mau kehilangan seorang pria yang sangat menguntungkan untuk nya, tapi juga tidak mau terikat pernikahan. Dan ia, Alya, adalah solusinya. Sebuah alat. Sebuah tumbal.
"Awalnya aku menolak," suara Reza terdengar lirih. "Aku bilang itu gila. Menikahi adikmu? Wanita yang bahkan belum pernah aku kenal? Tapi Gita membujukku. Setiap hari. Setiap minggu. Selama 6 bulan, Dia bilang ini yang terbaik. Dia bilang dengan menikahi kamu, aku tetap bisa dekat dengannya. Dan suatu hari, ketika dia siap, dia akan menjadi istriku."
Reza berhenti. Alya bisa mendengar suara napasnya yang dalam dan berat.
"Aku bodoh, Al. Aku tahu itu. Tapi aku terlalu mencintainya untuk berpikir jernih. Aku setuju. Aku menikahi kamu. Aku melakukan semua ini demi wanita yang aku cintai."
Keheningan menyelimuti kamar selama beberapa saat. Alya merasakan air mata mengalir di pelupuk matanya yang terpejam. Bukan untuk dirinya sendiri.
Tapi untuk pria bodoh di sampingnya yang rela melakukan apa pun demi cinta yang bahkan mungkin tidak pernah benar-benar ada.
"Aku berangkat kerja pagi-pagi, Alya," Reza melanjutkan, suaranya mulai terdengar sayu.
"Aku berharap ada istri yang kucintai menyiapkan kopi untukku. Menyiapkan kemeja yang akan aku pakai. Tersenyum padaku sebelum aku pergi. Tapi yang ada hanya meja makan kosong. Dapur sunyi. Rumah dingin."
Alya teringat pagi-pagi sebelumnya. Ia memang tidak pernah menyiapkan sarapan untuk Reza. Ia tidak pernah berpikir untuk melakukannya. Ia berpikir ada Art yang mengerjakan itu semua.
Bagaimana mungkin ia melayani pria yang memperkosanya? Tapi mendengar Reza berbicara seperti ini, ada bagian kecil di hatinya yang... mengerti.
"Aku pulang kerja malam-malam, lelah, capek. Aku berharap ada istri yang kucintai menungguku. Mungkin dia sudah menyiapkan makanan, atau setidaknya bertanya bagaimana hariku. Tapi yang kutemui hanya rumah gelap. Kamar kosong. Istri yang bahkan tidak berani menatap mataku."
Suara Reza mulai bergetar hebat.
"Aku tahu ini semua salahku. Aku tidak berhak berharap semua itu dari kamu. Karena kamu bukan wanita yang aku cintai. Kamu bukan yang aku pilih. Kamu hanya... kamu hanya korban dari kebodohanku."
Alya menggigit bibirnya hingga hampir berdarah. Air matanya mengalir tanpa suara, membasahi bantal di bawah pipinya. Ia tidak tahu harus merasa apa. Marah? Kasihan? Sakit hati? Semuanya bercampur menjadi satu kekacauan yang tidak bisa ia pahami.
"Aku hanya berharap, Al," bisik Reza, suaranya semakin pelan, semakin sayu.
"Aku hanya berharap suatu hari nanti, wanita yang aku cintai itu sadar. Suatu hari nanti, Gita akan siap. Dia akan mau menjadi istriku. Dan saat itu tiba..."
Ia berhenti. Alya menahan napas.
"Saat itu tiba, aku akan meminta cerai padamu."
Kata-kata itu jatuh seperti palu godam di kepala Alya. Ia merasa dadanya seperti ditusuk ribuan jarum kecil. Bukan karena ia mencintai Reza. Tapi karena mendengar dengan jelas bahwa ia hanyalah benda sementara. Sebuah penghalang. Sebuah alat yang akan dibuang ketika tidak lagi diperlukan.
"Aku akan minta maaf padamu saat itu," Reza melanjutkan, suaranya mulai sayu.
"Aku akan beri kamu uang, rumah, apa pun yang kamu mau. Sebagai kompensasi atas semua yang sudah kamu alami. Dan aku mohon maaf... jika itu terjadi, kau sudah tidak diperlukan lagi di rumah ini."
Alya merasakan tubuhnya bergetar hebat. Ia menahan tangisnya dengan sekuat tenaga. Kerasnya. Kejamnya. Pria ini berbicara tentang masa depannya seolah Alya adalah furnitur yang akan dipindahkan ketika tidak muat lagi di ruangan.
"Maafkan aku, Al" bisik Reza. "Maafkan aku karena telah menikahimu. Maafkan aku karena aku tidak bisa untuk belajar mencintaimu. Maafkan aku karena... karena semalam. Aku mabuk. Aku kehilangan kendali. Gita menolakku lagi dan aku... aku melampiaskannya padamu. Itu salah. Aku tahu itu salah."
Ada keheningan panjang. Alya bisa mendengar suara Reza yang terisak pelan di sampingnya. Pria dewasa yang tegar dan dingin itu menangis seperti anak kecil.
"Maafkan aku, Al," ulangnya, kali ini nyaris tidak terdengar. "Aku tidak berharap kau mendengar ini. Aku hanya... aku hanya perlu mengatakannya. Kepada seseorang. Kepada kegelapan. Kepada dinding. Siapa pun."
Lalu ia diam. Napasnya perlahan mulai teratur, suara isaknya mereda, dan akhirnya terdengar napas panjang yang dalam—tanda bahwa ia tertidur.
Alya tetap berbaring dalam diam, matanya terbuka lebar di balik selimut yang membasahi air mata.
Ia mendengar semuanya. Setiap kata. Setiap bisikan. Setiap isak tangis pria di sampingnya.
Dan ia bingung.
Hatinya sakit. Sakit karena tahu ia hanyalah alat. Sakit karena tahu ia tidak akan pernah dicintai di rumah ini. Sakit karena tahu suatu hari ia akan dibuang seperti sampah ketika Gita akhirnya "siap".
Tapi ada bagian kecil di hatinya yang... mengerti.
Ia mengerti bahwa Reza juga korban. Korban dari cintanya sendiri yang buta. Korban dari manipulasi Gita. Korban dari keputusannya yang bodoh. Ia bukan pria jahat. Ia hanya pria yang terlalu mencintai wanita yang salah. Dan dalam prosesnya, ia menghancurkan orang lain—menghancurkannya.
Alya tidak tahu harus memaafkan atau membenci. Ia terlalu muda untuk memahami semua ini. Baru delapan belas tahun. Seharusnya ia sedang memikirkan tugas kuliah, bukan problema percintaan orang dewasa yang rumit.
Seharusnya ia sedang tertawa dengan teman-teman, bukan berbaring di samping pria yang tidak ia kenal, yang adalah suaminya, yang mencintai kakaknya, yang memperkosanya, yang kini meminta maaf dalam tidurnya.
Ia tidak mengerti.
Yang ia tahu, ada pria tampan dan kaya di sampingnya. Pria yang secara status adalah suaminya. Tapi mereka adalah orang asing. Dua orang asing yang terjebak dalam pernikahan yang dibangun di atas kebohongan, di atas manipulasi, di atas cinta yang salah tempat.
Alya menatap langit-langit kamar yang gelap. Matanya basah, dadanya sesak, pikirannya kacau.
Reza sudah tertidur. Napasnya dalam dan teratur, sesekali diselingi desahan kecil. Alya mendengar gumamannya yang tidak jelas—mungkin nama Gita, mungkin sesuatu yang lain.
Ia tidak tahu apa yang harus ia rasakan.
Yang ia tahu, di tengah malam yang sunyi ini, di ranjang yang sama dengan pria yang menghancurkannya, Alya merasa lebih kesepian dari sebelumnya.
Karena ia baru sadar: di rumah ini, ia bukan siapa-siapa. Bukan istri yang dicintai. Bukan keluarga. Bukan apa pun. Ia hanya penumpang sementara. Alat yang akan dibuang ketika tidak lagi diperlukan.
Dan tidak ada satu pun orang di dunia ini yang benar-benar membutuhkannya.
Alya memejamkan mata. Air mata masih mengalir di pelupuk matanya. Ia membiarkannya mengalir. Tidak ada gunanya menyeka. Tidak ada yang melihat.
Di sampingnya, Reza terus tidur dengan napas yang tenang, tanpa tahu bahwa istrinya mendengar setiap pengakuannya malam ini.
Dan Alya, di usianya yang baru delapan belas tahun, belajar satu hal lagi tentang hidup: bahwa terkadang, orang yang menyakitimu juga sedang sakit.
Bahwa cinta bisa membuat orang melakukan hal-hal gila. Bahwa pernikahan tanpa cinta hanyalah ruang kosong yang sunyi.
Bahwa menjadi orang asing di rumah sendiri adalah kesepian yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Ia masih terlalu muda untuk memahami semua ini. Tapi malam ini, ia dipaksa untuk mengerti.
Dan entah bagaimana, di tengah kebingungannya, di tengah sakit hatinya, di tengah kekacauan perasaannya, Alya merasakan satu hal yang jelas:
Ia tidak akan menjadi korban selamanya. Ia tidak akan menunggu sampai suatu hari nanti ia dibuang seperti sampah. Ia akan membuat dirinya diperlukan. Ia akan membuat dirinya kuat.
Dan ketika saat itu tiba, bukan Reza yang akan meninggalkannya—tapi ia yang akan pergi. Dengan kepala tegak. Dengan ijazah di tangannya. Dengan hidup yang ia bangun sendiri.
Itu janjinya. Pada dirinya sendiri. Di malam yang paling kelam.
jangan lupa mampir yaa🤭