NovelToon NovelToon
Mrs. Only His

Mrs. Only His

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.

Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.

Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.

Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.

Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.

Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.

Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.

Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#22

Aroma cairan antiseptik yang khas dan dengung halus dari mesin monitor jantung menjadi satu-satunya suara yang mengisi ruang VVIP Suite Nomor Satu Rumah Sakit Pusat Stone.

Ruangan itu sangat luas, lebih mirip kamar hotel bintang lima daripada bangsal perawatan.

Dindingnya dilapisi panel kayu ek yang hangat, dengan jendela besar yang menyuguhkan pemandangan cakrawala Chicago dari lantai teratas.

Namun, kemewahan itu sama sekali tidak mampu mengurangi rasa sesak yang menghimpit dada Suzanne Klatten.

Dengan jemari yang sedikit gemetar, Suzanne memeras handuk kecil yang telah direndam air hangat ke dalam baskom perak.

Ia membungkuk, dengan sangat telaten dan penuh kasih sayang mengusap lengan kurus ayahnya yang terbaring kaku di atas ranjang medis.

Selang-selang instrumen masih menempel di tubuh pria paruh baya itu, namun kondisinya jauh lebih stabil sejak dipindahkan ke ruangan isolasi premium ini beberapa jam lalu.

Air mata yang sejak tadi ditahan Suzanne akhirnya luruh juga, menetes perlahan mengenai punggung tangan sang ayah.

Kesadaran bahwa dirinya kini terjerat dalam jaring rahasia seorang pewaris dinasti terbesar di kota ini membuatnya merasa sangat rapuh.

"Dad, kau tahu?" bisik Suzanne, suaranya serak dan pecah oleh tangis yang tertahan. Ia menggenggam erat tangan ayahnya yang dingin, menempelkannya ke pipinya sendiri yang basah.

"Aku ternyata mengenal orang kaya yang benar-benar kaya... Seorang pria muda yang bahkan dengan begitu mudahnya mengikhlaskan uangnya demi membiayai pengobatanmu di sini untuk dua tahun ke depan. Dia melakukannya tanpa meminta imbalan apa pun dariku, Dad."

Suzanne terisak, bahunya berguncang hebat. "Tapi aku takut... Aku sangat takut. Dia terlalu muda, Dad. Dia baru delapan belas tahun dan dia adalah seorang Luther-Stone. Aku telah menyeretnya ke dalam kekacauan hidupku. Aku egois karena membiarkan kehangatannya menampungku..."

Suzanne terus menangis, menumpahkan seluruh ketakutan dan rasa bersalah yang berkecamuk di dalam dadanya tepat di samping tubuh sang ayah yang masih koma.

Ia begitu tenggelam dalam kesedihannya hingga tidak menyadari adanya langkah kaki yang tegas bergemas di koridor luar.

Ceklek.

Suara mekanisme pintu digital yang terbuka mendadak memutus kesunyian ruangan.

Suzanne tersentak, dengan cepat menghapus air matanya menggunakan punggung tangan, lalu berbalik menatap ke arah pintu masuk dengan tatapan waspada.

Dua sosok manusia paruh baya melangkah masuk ke dalam ruangan dengan aura yang begitu menekan dan berwibawa, seketika membuat atmosfer di dalam kamar VVIP itu terasa dingin dan mencekam.

Di sebelah kiri, berdiri seorang pria paruh baya dengan setelan jas formal yang teramat rapi.

Dia adalah Martin Luther Stone.

Di masa mudanya, Martin adalah seorang jenius yang menguasai dunia ilmu komputer dan teknik peretasan tingkat tinggi—sebuah keahlian rahasia yang membuatnya mampu melacak dan mengubur informasi apa pun di dunia digital dalam hitungan detik.

Meskipun posisinya sekarang bukan lagi seorang peretas melainkan pemimpin tertinggi Luther Corporation, kemampuan taktis itu langsung ia gunakan begitu putra tunggalnya, Aiden, terjerat skandal besar fajar ini.

Hanya dalam waktu tiga puluh menit setelah Aiden menyebutkan usia wanita itu adalah dua puluh empat tahun di ruang kerjanya, Martin langsung meretas dan membuka seluruh basis data internal Rumah Sakit Stone serta data sipil kota Chicago.

Melalui peretasan cepat itulah, Martin menemukan nama Suzanne Klatten dan transaksi pemindahan kamar semalam.

Dan fakta itulah yang membawa mereka pada kenyataan pahit yang membuat sang istri, Nora Amelie Stone, mengenali identitas asli wanita tersebut.

Nora mengenal Suzanne. Bukan sebagai gadis sembarangan, melainkan sebagai istri sah dari Willem Daendels, eksekutif muda Daendels Group yang beberapa kali menghadiri jamuan makan malam amal medis bersamanya.

Nora Amelie Luther-Stone melangkah maju terlebih dahulu.

Wajah cantiknya yang biasa memancarkan ketenangan seorang dokter kini tampak mengeras, dipenuhi oleh kilat kemarahan dan kekecewaan yang teramat mendalam.

Suzanne yang mengenali siapa wanita di hadapannya seketika membeku.

"N-Nyonya Stone? Kenapa Anda—"

PLAK!

Tanpa basa-basi sedikit pun, sebuah tamparan telak dan keras mendarat tepat di pipi kiri Suzanne.

Sentakan tangan Nora begitu kuat hingga membuat wajah Suzanne tertoreh ke samping, menyisakan bekas kemerahan yang langsung membakar kulit pucatnya.

Suzanne terkesiap, memegang pipinya yang berdenyut perih dengan mata yang melebar syok.

"Aku tidak menyangka wanita sepertimu... kau yang jelas-jelas memiliki suami sah, malah berani bermain serong dengan putra tunggalku yang bahkan masih duduk di bangku high school!" ucap Nora dengan suara yang bergetar hebat, meluapkan seluruh rasa sesak di dadanya.

Nora melangkah satu langkah lebih dekat, menunjuk wajah Suzanne dengan jari yang gemetar karena amarah yang memuncak.

"Kau mengekploitasi putraku yang masih di bawah umur, Nyonya Suzanne! Selama ini aku mengenalmu sebagai gadis baik dari keluarga Klatten, seorang istri yang tenang. Tapi kenapa?! Kenapa harus putraku yang kau jadikan alat untuk kau permainkan dalam pelarianmu, hah?!" teriak Nora dengan suara yang melengking parau, memecah keheningan kamar rawat.

Suzanne hanya bisa terdiam, air matanya kembali mengalir deras melewati bekas tamparan di pipinya.

Ia tidak bisa menyangkal satu patah kata pun karena semua tuduhan itu adalah kebenaran yang kejam.

"Dia masih remaja, Nyonya Daendels! Aiden-ku baru delapan belas tahun!" teriak Nora lagi, air mata kekecewaan kini ikut luruh di matanya sendiri sebagai seorang ibu yang ketakutan akan masa depan anaknya.

"Dia tidak tahu apa-apa tentang rumitnya pernikahan atau busuknya dunia orang dewasa! Aku... aku tidak siap jika putraku harus mengalami sakit hati yang mengerikan atau hancur masa depannya hanya karena terjebak oleh kecantikan dan manipulasi wanita dewasa sepertimu!"

Kilas-Balik

Beberapa jam sebelum tamparan keras itu mendarat di pipi Suzanne, atmosfer di dalam ruang kerja utama Mansion Luther-Stone baru saja mencapai titik didihnya.

Tepat setelah Aiden melangkah keluar dengan rahang mengeras—menolak memberikan nama wanita dua puluh empat tahun yang diklaim sebagai kekasihnya—Nora Amelie Stone ambruk di atas sofa kulit dengan tubuh yang bergetar hebat.

"Martin... aku bisa gila," lirih Nora, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya.

Napasnya memburu, dipenuhi rasa frustrasi yang teramat sangat sebagai seorang ibu.

"Putra kita... bocah delapan belas tahun itu dengan begitu berani menantang kita demi melindungi seorang wanita dewasa. Dia tidak mau jujur! Dia menyembunyikan identitas Kekasihnya seolah kita adalah musuh yang akan menghancurkannya!"

Martin Luther Stone melangkah mendekati istrinya, meletakkan tangan kokohnya di atas pundak Nora untuk memberikan ketenangan. Namun, sorot mata Martin sendiri memancarkan kilat taktis yang teramat tajam.

Sebagai seorang pria yang pernah menguasai dunia peretasan dan jaringan intelijen hitam di masa mudanya, dia tidak akan membiarkan masa depan pewaris tunggalnya dibiarkan abu-abu seperti ini.

"Tenang, Nora. Jika Aiden menolak membuka mulutnya, maka teknologi yang akan berbicara untuk kita," ucap Martin dengan nada suara yang rendah namun sarat akan otoritas mutlak.

Nora mendongak, matanya yang sembab menatap sang suami dengan kilat keputusasaan.

"Lakukan sesuatu, Martin. Telusuri apartemen milik Aiden di pusat kota. Periksa setiap rekaman CCTV, lacak transaksi kartu kredit rahasianya, dan temukan siapa sebenarnya perempuan yang telah berani masuk ke dalam ranjang putraku! Aku tidak akan bisa tenang sebelum tahu siapa wanita dewasa yang sedang mengendalikan pikiran Aiden."

Sang Suami mengangguk pasti.

Pria paruh baya itu langsung berjalan menuju meja kerjanya, membuka sebuah laptop taktis dengan sistem operasi khusus yang terhubung dengan satelit pribadi Luther Corporation.

Jemarinya yang panjang dan bergerak sangat cepat mulai menari di atas kibor, mengeksekusi serangkaian kode biner untuk menembus server keamanan gedung apartemen mewah tempat Aiden tinggal.

Tidak butuh waktu lama bagi mantan peretas ulung itu untuk melacak pergerakan putranya. Martin melacak sinyal GPS dari SUV mewah baru milik Aiden yang dikendarai kemarin sore.

Dari sana, koordinat perjalanan mengarah ke sebuah kawasan pantai privat di pinggir kota, tempat yang sama dengan lokasi foto paparazi apotek yang meledak fajar ini.

Martin kemudian meretas jaringan satelit pencitraan publik dan kamera pengawas lalu lintas di sekitar koridor pantai privat tersebut.

Dengan algoritma pemulihan piksel tingkat tinggi, Martin berhasil menarik beberapa jepretan mentah dari kamera pengawas yang belum sempat dibersihkan oleh tim IT internal Aiden.

Klik.

Sebuah file gambar berukuran besar berhasil diunduh dan terbuka di layar monitor utama.

Itu adalah foto Aiden dan wanita itu saat berada di pinggir pantai, tepat sebelum mereka mengenakan masker untuk kembali ke mobil.

Di dalam foto bersolusi tinggi itu, wajah sang wanita terlihat dengan teramat sangat jelas.

Cahaya matahari sore menerpa garis wajahnya yang lembut, matanya yang jernih tampak berkaca-kaca, dan Aiden sedang menunduk lembut untuk mengecup pelipis wanita itu dengan penuh pengabdian.

"Nora, kemari," panggil Martin, suaranya mendadak mendatar, menyiratkan keterkejutan yang tertahan.

Nora dengan cepat berdiri dan melangkah mendekati meja kerja suaminya.

Begitu sepasang matanya menangkap visual wanita tanpa masker di layar monitor, napas Nora seketika tercekat di tenggorokan.

Tubuhnya mendadak kaku, dan matanya melebar sempurna karena mengenali sosok tersebut.

"S-Suzanne... Nyonya Daendels?" bisik Nora dengan suara yang mendadak parau.

"Ini... ini Suzanne Klatten? Menantu dari keluarga Daendels?!"

Nora menggelengkan kepalanya berulang kali, seolah mencoba menolak fakta kejam yang terpampang nyata di depan matanya.

Sebagai seorang dokter sosial yang sering bergerak di yayasan amal kelas atas Chicago, Nora tentu saja beberapa kali berinteraksi dengan Suzanne di acara jamuan makan malam formal Daendels Group.

Di dalam ingatannya, Suzanne selalu dikenal sebagai gadis yang baik, santun, pembawaannya tenang, dan tidak pernah mencari masalah dengan siapa pun meskipun pernikahan perjodohannya dengan Willem Daendels dikabarkan dingin.

Namun, kenyataan bahwa wanita yang selama ini ia cap sebagai "gadis baik-baik" ternyata adalah orang yang sama yang tidur di ranjang apartemen putranya, membuat hati Nora sebagai seorang ibu terasa hancur dan terbakar oleh murka yang luar biasa.

"Bagaimana bisa... Bagaimana bisa wanita yang sudah memiliki suami sah seperti dia, tega menyentuh putraku yang masih remaja?!" desis Nora, suaranya meninggi dipenuhi rasa tidak terima yang teramat sangat.

Air mata kemarahan kini menetes di pipinya.

"Aku tahu pernikahannya dengan Willem mungkin diambang kehancuran, tapi itu bukan alasan untuk menjadikan Aiden-ku sebagai pelarian nafsu dan mainannya! Aiden-ku masih delapan belas tahun, Martin! Dia masih terlalu hijau untuk menghadapi intrik kotor dari wanita yang terikat pernikahan orang dewasa!"

Nora mencengkeram tepi meja kerja Martin dengan kuat, dadanya kembang kempis menahan gejolak emosi yang bercampur aduk antara kecewa dan proteksi buta seorang ibu.

Dia tidak akan pernah sudi membiarkan ketulusan dan hati putranya dimainkan, dirusak, atau dijadikan alat pemuas oleh seorang wanita yang secara hukum masih menyandang status sebagai istri pria lain.

"Kita ke rumah sakit sekarang, Martin," ucap Nora dengan nada dingin yang mematikan, menghapus air matanya dengan sentakan kasar.

"Aku tahu ayahnya dirawat di fasilitas kita. Perempuan itu pasti ada di sana pagi ini. Aku sendiri yang akan menyeretnya bangun dari mimpi indahnya bersama putraku."

... ooOoo...

Kembali ke Ruang Rawat VVIP

Gema kilas balik fajar itu seolah masih membakar dada Nora saat dia berdiri menatap Suzanne yang kini memegangi pipinya yang memar di dalam kamar rawat.

Sisa amarah dari ruang kerja mansion tadi meluap sepenuhnya di kamar isolasi ini.

"Kau diam karena kau tahu kau bersalah, 'kan, Suzanne?!" cecar Nora lagi, napasnya memburu setelah meluapkan makiannya di depan ranjang Tuan Klatten.

"Kau memanfaatkan kepolosan Aiden! Kau tahu dia seorang Stone, dan kau gunakan tubuhmu untuk memikatnya agar dia melunasi seluruh biaya rumah sakit ayahmu ini?! Benar-benar licik!"

Suzanne menggelengkan kepalanya perlahan, air matanya menetes deras membasahi lantai marmer.

"Tidak, Nyonya Stone... Demi Tuhan, aku bahkan baru tahu pagi ini bahwa Aiden adalah seorang Luther-Stone. Aku tidak pernah merencanakan ini... Aku tidak pernah bermaksud memanfaatkan putra Anda," lirih Suzanne perih, mencoba membela diri di tengah hancurnya harga diri yang ia miliki.

Namun, bagi Nora, setiap kata yang keluar dari bibir Suzanne kini hanyalah racun manipulasi yang harus ia bersihkan dari hidup putranya.

Pertarungan mempertahankan Aiden dari dunia luar baru saja dimulai, dan Nora tidak akan membiarkan Suzanne melangkah lebih jauh.

1
nayla tsaqif
"duaarrr!!! Nya knp pke tanda baca sih thor,, berasa di kagetin sama bang eiden
😌
Ainun Mahya
lanjutkan karyamu kakak author💪💪💪
Rosdianah: Ma'aciww kak reader 🫶🥰
total 1 replies
Shankara Senja
Kadang suka kasihan sama anak yg menikah karena perjodohan atau hutang budi..dan lebih kasihan lg bertahan dng menyakiti hatinya demi ortu yg kek gini ini ..
Rosdianah: huhuhu iya banget kak🥲
total 1 replies
Mia Camelia
yah nora jadi jahat gitu ya, kasian anne terpojok terus🤣🤣🤣
Rosdianah: wkwkwk😅🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ulat bulu licik udah mulai keluar nih, aduh semoga aiden gk kena jebakan lgi😔🤔
Rosdianah: huhuhu🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo ngaku aja sih aiden klo cewe itu anne 🤣🤣🤣
Rosdianah: Dicoret dari KK kaaa🤣 bini orang soalnya 🤣🤣🤣
total 1 replies
Debu Nakal
thor... tlng kasih tahu suzzy, suruh nongol tuh anak. ni ku dh nungguin ampe berjamur tp dianya ka gak nongol2 😅🤣
Rosdianah: huhuhu seminggu ini author sibuk Di dunia nyata🙏🏻
total 1 replies
nayla tsaqif
Gk bpk gk anak,, sikapnya dewsa sebelum waktunya,,, 😌😌😌 good boy!
Rosdianah: kesayangan author dan kak reader 🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo thor bikin wiliiam cemburu🤔
Rosdianah: siap kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ih gemes deh aiden so sweet banget🥰😄
Rosdianah: hihi biar jadi kesayangan kak reader 😅
total 1 replies
Mia Camelia
waduh siapa lagi nih🤔
Rosdianah: Paparazi kak🤭😅
total 1 replies
Mia Camelia
ngebayangiin nih kalo mereka beneran udh jadian, pasti romantic banget🤔😂
Rosdianah: author juga suka ngebayangin kak🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
😄😄😄
Rosdianah: ma'aciww sekali Komentar nya adalah semangat author 🤭😅🥰
total 1 replies
Mia Camelia
omg 🥰🥰🥰 aiden gentlemen bangat sih😄😄😄
sukaaak thor sama tokoh pria yg begini👍
Rosdianah: brondongnya kak Reader 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo aiden lindungiin anne, 🥰😄
Rosdianah: Author Jabanin 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayoooo berontak anne, kejar tuh berondong👍🤣
Mia Camelia
wah aiden udh mulai panas nih sisi obsesif nya, pingin liat klo brondong ngejar2🥰🥰🥰
Rosdianah: hahah author Jabanin kak🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
wiliam kaya nya udh mulai kepoo sm suzanne🤔🤔
nayla tsaqif
Ceritanya brondong terus, thorr,?? , ada cerita sugar duda gk...?? 🤭
Rosdianah: Nanti Author buatkan kak reader 🤭🥰
total 1 replies
nayla tsaqif
Vexana istri bang landon,, 😌
Rosdianah: sorry typo ya Kak Reader 🙏🏻 syukur diingatin 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!