Alesha rela mengorbankan impian dan kebahagiannya demi rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati dan menerima hinaan dan cacian oleh keluarga suaminya.
Namun semua pengorbanannya berakhir sia-sia ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh dan mengaku belum menikah.
Memilih pergi adalah langkah paling menyakitkan yang pernah ia ambil. Tetapi tanpa disadari, keputusan itu justru membawanya pada kehidupan baru yang lebih baik.
Alesha mulai bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan masa lalu adalah pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum itu bukan untukku
"Mas dari mana? Kenapa baru pulang pagi?"
Aldo yang baru turun dari motor hanya menatap datar istrinya.
"Bukan urusanmu," balasnya dengan nada ketus.
Alesha mendekati suaminya.
"Mas, aku cuma khawatir."
Aldo mendengus pelan lalu melewatinya begitu saja.
"Nggak perlu."
"Mas..."
Langkah Aldo terhenti sesaat.
Alesha meremas ujung bajunya sendiri.
"Setidaknya kabari aku kalau pulang larut."
Aldo berbalik dan menatapnya dingin.
"Kenapa? Aku nggak akan mati cuma karena pulang pagi."
Alesha menundukkan kepalanya.
"Aku cuma khawatir, Mas."
Bukannya tersentuh, Aldo justru tertawa sinis.
"Kamu urus saja dirimu sendiri."
Dada Alesha kembali terasa sesak.
"Mas, aku ini istrimu."
"Kalau tahu kamu istriku, harusnya kemarin kamu tidak bikin masalah."
Deg.
Alesha menundukkan kepalanya.
Selalu masalah itu lagi.
Lagi-lagi suaminya memilih menyalahkannya.
"Aku sudah bilang, aku difitnah."
"Aku nggak mau dengar itu lagi."
Aldo melangkah masuk ke dalam rumah.
Alesha berdiri mematung di halaman.
Pagi itu udara terasa sejuk, tapi tubuhnya justru terasa begitu dingin.
Ia hanya ingin sedikit perhatian dari suaminya.
Sedikit saja.
Tapi bahkan itu pun terasa terlalu sulit untuk didapatkan.
Alesha mengikuti suaminya masuk ke dalam rumah.
Ia menutup pintu perlahan lalu berjalan menuju kamar.
Saat masuk, Aldo sudah duduk di tepi ranjang.
Entah apa yang dilihatnya di ponsel, tetapi sudut bibir pria itu terangkat tipis.
Bahkan sesekali ia tersenyum sendiri sambil mengetik sesuatu.
Alesha mengernyit pelan.
Sudah lama ia tidak melihat suaminya tersenyum seperti itu.
"Kamu nggak kerja, Mas?" tanya Alesha pelan.
Aldo tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian, Aldo baru mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Aku cuti."
Jawabannya singkat dan terdengar ketus.
Alesha mengernyit.
Setahunya, Aldo jarang mengambil cuti. Bahkan saat sedang sakit pun pria itu tetap berangkat bekerja.
Namun kali ini ia memilih diam.
Alesha kembali menatap ponsel yang ada di tangan suaminya.
"Kamu chat sama siapa, Mas?"
Aldo langsung mengunci layar ponselnya.
"Bukan urusanmu."
Deg.
Alesha merasa tidak nyaman.
"Mas, aku cuma tanya."
"Aku nggak suka ditanya macam-macam."
Aldo bangkit lalu meletakkan ponselnya di ranjang.
"Mending kamu buatkan aku sarapan."
Alesha terdiam.
Tatapannya sempat jatuh pada ponsel di tangan Aldo.
Pria itu terlihat begitu fokus hingga tidak menyadari dirinya sedang diperhatikan.
Sudut bibir Alesha menipis.
Entah kenapa, pemandangan itu membuat dadanya terasa tidak nyaman.
"Alesha."
Suara Aldo membuatnya tersadar dari lamunannya.
"Buatkan aku sarapan cepat. Lama banget sih."
Alesha mengangguk pelan.
Saat hendak keluar, tanpa sengaja Alesha melirik ke arah suaminya.
Aldo sudah kembali menatap ponselnya.
Jemarinya bergerak cepat di atas layar, lalu sudut bibirnya terangkat tipis seolah sedang membaca sesuatu yang menyenangkan.
Alesha terdiam sesaat sebelum akhirnya melangkah keluar kamar.
——
Alesha menatap dapur yang kosong. Hampir semua bahan makanan telah habis. Beras yang tersisa hanya segenggam, sementara bumbu-bumbu dapur juga sudah tidak ada.
"Mau masak apa ini? Semua bahan sudah habis," ucapnya pelan.
Ia menghela napas lelah. Bahkan untuk menyiapkan sarapan pagi pun kini terasa sulit.
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari arah ruang tengah. Alesha menoleh dan melihat ibu mertuanya yang sepertinya baru saja bangun tidur.
"Bu..." ucap Alesha.
"Apa," balas Helena dengan ketus.
"Aku minta uang, Bu. Semua bahan pokok habis, Bu."
Helena melirik sekilas ke arah dapur. Apa yang dikatakan menantunya memang benar. Rak penyimpanan terlihat hampir kosong.
"Nggak ada," jawabnya.
"Bu, lalu kita sarapan dengan apa?" ucap Alesha.
"Pakai uangmu saja," jawab Helena tanpa peduli.
"Bu, aku kan dipecat. Uang tabunganku juga sudah aku kasih ke Ibu."
Helena mendengus.
"Makanya kamu jangan jadi wanita penggoda."
Deg.
ayoookkkk semangat
semangat
💪💪💪💪💪
😤😤😤😤😤😤😤😤😤kuweseeellleee rekkk...
yg Suai siapa tapi yg dituntut nafkahi siapa. kan gendeng yaaa.. ga DA kewajibannya mantu atau istri menafkahi keluarga nya apa lagi menafkahi kluarga suami.😄😄😄
ibu ini lupa minum obat inii pastii makanya rada kumat 🤭
mending sekalian beneran kerja jadi babu luar negri makan gratis tinggal gratis digaji besar. sama aja kan kayak kau tinggal dirumah kluarga suami mu, macam babu. bedanya babu luar negri digaji🤣🤣🤣🤣
lahhh ini sudah lah dihina dijelekkan dibabuin ga dihargai, dinafkahi ala kadarnya saja. boro boro mau beli berlian segunung🤣🤣🤣🤣
lanjut lahhhhhh
Thor kira kira kalau buat cerita, LG anteng2 baca sudah dibuat darah tinggi thorrrrrrr teganya dikau pada daku. 🤣🤣🤣🤣
coba Thor masukin aku kedalam novel mau aku geprek itu mertua dan ipar laknatnyaaa... sudah ga dinafkahi kok masih mau aja punya suami modelan gitu....
astaghfirullah
astaghfirullah
astaghfirullah
sabarrrr sabarrr... orang sabar rejekinya lebaaarrrrrrrrrrrr😁