"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi, Devan tahu?
Malam semakin larut.
Sebuah Mercedes-Benz G-Class hitam akhirnya memasuki area parkir basement sebuah apartemen eksklusif di Jakarta Selatan.
Mesin dimatikan.
Namun tak satu pun dari mereka langsung turun.
Keheningan memenuhi kabin.
Arsen masih memegang ponselnya.
Tatapannya terpaku pada foto keluarga Bagaskara yang dikirim tim intelijennya.
Ia memperbesar wajah pria bernama Raka Bagaskara.
Lalu berpindah ke wajah bayi perempuan dalam pelukannya.
Kemudian...
Matanya beralih kepada Senja yang sedang duduk di kursi penumpang.
Perempuan itu menyandarkan kepala ke kaca jendela.
Matanya terpejam.
Entah benar-benar tertidur...
Atau hanya terlalu lelah untuk membuka percakapan lagi.
Arsen mengembuskan napas pelan.
"Bagaimana mungkin aku baru menyadarinya sekarang..."
Selama ini...
Ia terlalu sibuk memastikan Senja tetap berada di dekatnya.
Namun ia tidak pernah benar-benar mencari tahu...
Siapa perempuan itu sebenarnya.
"Pak..."
Suara Senja terdengar pelan tanpa membuka mata.
"Hm?"
"Kita udah sampai?"
"Iya."
Senja membuka matanya perlahan.
Ia tersenyum kecil.
"Maaf."
"Kayaknya saya ketiduran."
Arsen hanya mengangguk.
"Nggak apa-apa."
Senja hendak membuka pintu.
Namun sebelum tangannya menyentuh gagang pintu...
Suara Arsen menghentikannya.
"Senja."
"Iya, Pak?"
Arsen menatap lurus ke arahnya.
"Saya ingin bertanya satu hal."
"Silakan."
"Apakah Ibu pernah melarang kamu mencari tahu tentang keluarga Ayahmu?"
Senja tampak berpikir.
Beberapa detik kemudian ia mengangguk pelan.
"Pernah."
Arsen langsung memusatkan perhatian.
"Apa yang Ibu bilang?"
Senja menatap ke luar kaca mobil.
"Waktu SMA saya pernah penasaran."
"Saya tanya kenapa saya nggak pernah ketemu keluarga Ayah."
"Ibu cuma bilang..."
Senja mengingat-ingat kalimat itu.
'Ada beberapa pintu yang lebih baik tidak pernah kamu buka, Senja.'
'Karena belum tentu semua kebenaran akan membuatmu bahagia.'
Arsen membeku.
Kalimat itu...
Bukan jawaban seorang ibu yang ingin menutupi kesedihan.
Melainkan...
Seseorang yang sedang menyembunyikan rahasia.
Senja terkekeh kecil.
"Dulu saya kesel banget."
"Sekarang sih udah biasa."
"Lagian saya pikir..."
"...selama masih ada Ibu, saya nggak butuh keluarga yang lain."
Arsen menatap perempuan itu cukup lama.
Semakin lama...
Semakin ia yakin.
Ratih mengetahui jauh lebih banyak daripada yang selama ini diperlihatkannya.
Dan jika itu benar...
Maka perjalanan mereka ke Bogor beberapa hari lalu bukan sekadar membawa Senja pulang.
Tanpa sadar...
Arsen baru saja berhadapan langsung dengan satu-satunya orang yang mungkin mengetahui seluruh kebenaran.
Di dalam hati, Arsen mengambil keputusan.
Besok.
Apa pun yang terjadi...
Ia harus kembali menemui Ratih.
Karena mulai malam ini...
Perlindungan saja tidak lagi cukup.
Ia membutuhkan jawaban.
Belum sempat Senja membuka pintu mobil...
Sorot lampu putih menyapu area basement.
Sebuah mobil sport hitam melaju perlahan, lalu berhenti tepat beberapa petak di depan Mercedes-Benz G-Class milik Arsen.
Mesinnya mati.
Suasana basement yang semula sunyi mendadak terasa jauh lebih menyesakkan.
Arsen langsung mengenali mobil itu.
Rahangnya mengeras.
"...Devan."
Pintu mobil terbuka.
Seorang pria bertubuh tinggi keluar dengan langkah santai. Setelan jas abu-abu gelap yang dikenakannya tetap rapi, seolah baru selesai menghadiri rapat, bukan muncul secara tiba-tiba di tempat ini.
Devan Malik.
Begitu melihat siapa yang turun dari mobil, Senja membeku.
"...Pak Devan?"
Selama bekerja di Malik Media, Devan selalu dikenal ramah. Murah senyum. Bahkan sering melontarkan candaan kepada para karyawan.
Namun setelah rentetan kejadian beberapa hari terakhir...
Senja tak lagi tahu mana sosok Devan yang sebenarnya.
Tanpa sadar, ia melangkah mendekati Arsen.
Hanya setengah langkah.
Namun cukup hingga bahunya hampir sejajar dengan lengan pria itu.
Gerakan kecil tersebut tidak luput dari perhatian Devan.
Tatapannya jatuh kepada Senja.
Untuk sesaat...
Ia hanya diam.
Sorot matanya berubah lembut.
Bukan tatapan seorang pria yang sedang menilai kecantikan seorang wanita.
Melainkan tatapan seseorang yang akhirnya memastikan...
Bahwa orang yang selama ini ia cari benar-benar masih berdiri di hadapannya.
Sebuah embusan napas lega nyaris tak terdengar keluar dari bibirnya.
"Syukurlah..."
"Kamu masih selamat."
"Selamat malam."
Senyumnya kembali muncul.
Senyum yang begitu akrab bagi seluruh karyawan Malik Media.
Senja membalas dengan anggukan kecil.
"Selamat malam, Pak."
Sopan.
Namun jauh lebih menjaga jarak dibanding biasanya.
Devan menangkap perubahan itu.
Meski begitu, ia tidak menunjukkan kekecewaan sedikit pun.
Sebaliknya...
Ia mengalihkan pandangannya kepada Arsen.
"Kamu cepat juga."
Arsen keluar dari mobil.
Pintu ditutupnya sedikit lebih keras dari biasanya.
"Apa tujuanmu datang ke sini?"
Devan terkekeh pelan.
"Langsung serius."
"Kamu memang nggak pernah berubah."
Arsen tidak menanggapi.
Tatapannya tetap tajam.
"Kamu mengikuti kami?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Saya hanya ingin memastikan sesuatu."
"Apa?"
Tatapan Devan kembali bergeser kepada Senja.
Hanya sesaat.
Lalu kembali kepada Arsen.
"Bahwa dia masih baik-baik saja."
Kalimat itu justru membuat Arsen semakin curiga.
"Aku tidak butuh perhatianmu."
"Tentu."
Devan mengangguk ringan.
"Karena sekarang yang menjaganya adalah kamu."
Beberapa detik...
Tak ada satu pun yang berbicara.
Udara di basement terasa semakin dingin.
Senja hanya berdiri di samping Arsen, diam memperhatikan percakapan dua petinggi Malik Group itu tanpa benar-benar memahami maksudnya.
Devan akhirnya melangkah menuju mobilnya.
Tangannya baru menyentuh gagang pintu ketika ia berhenti.
"Sen."
Arsen tidak menjawab.
Devan menoleh.
Senyumnya masih ada.
Namun kali ini tidak terasa hangat.
"Selama ini..."
"...aku sengaja membiarkanmu berpikir bahwa target mereka adalah dirimu."
Kalimat itu membuat mata Arsen menyipit.
"Tapi sekarang..."
"...kamu pasti sudah sadar."
Tatapan Devan beralih kepada Senja.
Hanya sepersekian detik.
"...siapa yang sebenarnya mereka incar."
Arsen mengepalkan tangan.
"Kalau memang kamu tahu sesuatu..."
"...bicara."
Devan menggeleng pelan.
"Bukan sekarang."
"Lalu kapan?"
"Ketika kamu siap menerima kenyataannya."
Ia membuka pintu mobilnya.
Namun sebelum masuk, Devan kembali berkata tanpa mengalihkan pandangan dari Arsen.
"Ada satu hal yang harus kamu ingat."
Arsen tetap diam.
Sorot mata kedua pria itu saling mengunci.
"Kalau kamu gagal menjaganya..."
Devan melirik sekilas ke arah Senja.
Lalu menatap Arsen sekali lagi.
"...aku akan datang..."
"...dan mengambilnya darimu."
Basement kembali sunyi.
Bagi Arsen...
Kalimat itu terdengar seperti sebuah ancaman.
Namun bagi Devan...
Itu adalah janji.
Tanpa menunggu jawaban, Devan masuk ke dalam mobilnya.
Beberapa detik kemudian, mobil sport hitam itu melaju keluar dari basement, menyisakan keheningan yang terasa jauh lebih berat.
Arsen terus menatap ke arah mobil yang menghilang.
Sementara Senja menoleh pelan ke arah Arsen.
"Pak..."
"Siapa sebenarnya Pak Devan?"
Untuk pertama kalinya...
Arsen tidak memiliki jawaban atas pertanyaan itu.
Beberapa menit setelah Devan meninggalkan basement...
Arsen dan Senja memasuki lift privat menuju penthouse.
Suasana di dalam lift dipenuhi keheningan.
"Pak..."
Arsen menoleh.
"Iya?"
"...Apa saya benar-benar sedang diburu?"
Arsen terdiam.
Kali ini...
Ia tidak lagi bisa berbohong.
"Iya."
Senja menundukkan kepala.
"Lalu... kenapa?"
"Saya juga sedang mencari jawabannya."
Ding.
Pintu lift terbuka.
Belum sempat mereka melangkah keluar, ponsel Arsen bergetar.
Genta.
"Lapor."
"Tuan."
"Kami berhasil mengidentifikasi wanita yang berada di samping Raka Bagaskara."
Tatapan Arsen berubah tajam.
"Siapa?"
"Namanya..."
"...Valery Walker."
Arsen mengernyit.
"Walker?"
"Iya, Tuan."
"Setelah kami telusuri..."
"...Valery Walker merupakan anggota keluarga Walker."
"Salah satu keluarga aristokrat tua di Inggris."
"Menurut arsip internasional..."
"...keluarga Walker memiliki hubungan kekerabatan yang sangat jauh dengan keluarga kerajaan Inggris."
Arsen terdiam.
Pantas saja...
Nama itu terdengar begitu asing di Indonesia.
"Lalu bagaimana dia bisa menjadi istri Raka Bagaskara?"
"Itu yang masih kami telusuri."
"Tapi ada satu fakta lain."
"Apa?"
"Setelah menikah..."
"...Valery Walker resmi menggunakan nama Valery Bagaskara."
Arsen mengepalkan ponselnya.
"Lanjut."
"Menurut catatan resmi..."
"...Valery Bagaskara meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan tunggal."
"Kapan?"
"Saat Nona Senja berusia sekitar satu tahun."
Suasana mendadak hening.
"Kecelakaannya?"
"Mobil yang dikendarainya terjun ke jurang di kawasan Puncak."
"Tidak ada saksi."
"Tidak ada penumpang lain."
"Kasus ditutup sebagai kecelakaan tunggal."
Arsen memejamkan mata sesaat.
Instingnya langsung menolak laporan itu.
Terlalu bersih.
Terlalu sempurna.
Seolah seseorang memang ingin dunia percaya...
Bahwa Valery Bagaskara benar-benar meninggal karena kecelakaan.
"Tuan."
Suara Genta kembali terdengar.
"Ada satu hal lagi."
"Apa?"
"Kami juga menemukan bahwa..."
"...setelah kematian Valery Bagaskara..."
"...seluruh jejak mengenai dirinya perlahan menghilang."
"Seolah..."
"...dia tidak pernah ada."
Tatapan Arsen perlahan berubah dingin.
Kini ia mulai memahami...
Mengapa seseorang rela menghapus identitas Senja selama lebih dari dua puluh tahun.
Karena jika identitas ibu kandungnya terbongkar...
Maka rahasia yang jauh lebih besar...
Akan ikut terbuka.