NovelToon NovelToon
Tirai Hitam Para Pewaris

Tirai Hitam Para Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi
Popularitas:526
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.

Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.

Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

25 tahun kemudian

Seorang gadis remaja yang lugu baru saja pulang dari tempatnya bekerja. Langkahnya terhenti saat dihadang oleh seorang wanita paruh baya dengan tatapan tajam dan penuh kebencian.

“Dari mana saja kamu, hah?” tanyanya dengan nada ketus.

“Dari kantor, Mah. Ada urusan dengan atasan, Kiara,” jawab Kiara lembut.

“Halah, berbohong saja! Tidak mungkin kau pulang selarut ini. Lagi pula, untuk apa kau bekerja di kantor orang lain sedangkan perusahaan milik ayahmu sendiri begitu besar?” desis wanita itu.

“Tapi kan Mama dan Papa sendiri yang melarang Kiara bekerja di sana, dengan alasan Kiara hanya akan membuat kekacauan,” balas Kiara pelan.

“Jawabanmu memang selalu begitu! Kami melarang mu karena kau adalah pembawa sial!” bentak wanita itu sambil menoyor kepala Kiara.

“Baik, Ma. Maafkan Kiara yang salah,” ucap Kiara mengalah menghadapi perkataan kasar ibunya.

“Ngomong-ngomong, jangan langsung masuk ke kamar dulu. Bantu-bantu Mbak Asih di dapur belakang!” perintahnya.

“Tapi Ma, Kiara kan…” Ucapan Kiara terhenti saat tatapan ibunya menajam.

“Jangan suka membantah! Kalau diperintah orang tua, turuti saja!”

“Baik, Ma. Kiara pergi ke dapur dulu.” Kiara pun berjalan menuju dapur, meninggalkan ibunya.

“Risma!” panggil ibu mertuanya dengan nada kesal.

Risma menoleh ke arah suara itu sambil memutar bola matanya malas. “Dia lagi, dia lagi. Kenapa sih tidak dibawa saja ke panti jompo oleh Mas Anton,” gumamnya dalam hati.

“Ya, ada apa, Bu?” jawab Risma dengan nada tak bersemangat.

“Jangan pernah sekalipun kau bersikap kasar pada cucu kesayanganku. Ingat, kalian bisa menikmati semua kemewahan ini berkat kelicikanmu dan Anton,” ucap wanita tua itu dengan nada datar namun tegas.

“Ck! Lalu apa maksud Ibu? Mau mengusir kami? Ibu, Ibu… sebaiknya Ibu diam saja. Ingat, usia Ibu sudah tua. Kalau terlalu sering marah-marah, nanti malah jatuh sakit, lama-lama bisa meninggal,” balas Risma pedas.

Ucapan itu membuat hati ibu mertuanya memanas. Ia tak habis pikir bagaimana bisa Anton menikahi wanita sekejam dan selicik Risma itu.

Karena tak ingin meladeni pertengkaran, Risma memilih berjalan menuju kamar pribadinya di lantai atas—yang dulunya merupakan kamar Yuda dan Linda. Sementara itu, ibu mertuanya berjalan menuju dapur untuk menemui cucunya.

“Nona, sudahlah, jangan lakukan itu terus. Nanti Mbak Asih dimarahi oleh Nenek, lho,” bujuk Mbak Asih.

“Tidak apa-apa, Mbak. Daripada terus dimarahi Mama dan bahkan dilarang makan, lebih baik Kiara membantu Mbak saja,” jawab Kiara sambil terus mencuci beberapa piring yang tersisa.

“Duh, kalau begini Mbak jadi tidak enak hati, Nona. Nanti malam Mbak pijatkan ya, pasti Nona Kiara sudah sangat lelah,” tawar Mbak Asih.

“Tidak usah, Mbak. Kiara tidak apa-apa, sudah terbiasa kok.”

Di balik pintu dapur, sang nenek berdiri diam sambil memperhatikan cucunya dengan hati yang perih. Air matanya mengalir melihat kenyataan: di rumah yang begitu megah, dengan harta yang tak akan habis tujuh turunan, serta perusahaan yang memiliki cabang di berbagai kota, Kiara justru tak bisa menikmati fasilitas itu semua. Ia bahkan dilarang bekerja di perusahaan milik ayahnya sendiri.

.

.

.

 

Berbeda jauh dengan nasib Kiara, kakak laki-lakinya justru menghabiskan waktunya bersenang-senang di klub malam bersama teman-teman lelaki dan wanita. Ia tak pernah memikirkan berapa banyak uang yang telah dihabiskannya.

“Ayo, pesan lagi minumannya! Kita habiskan malam ini dengan bersenang-senang sepuasnya!” teriak Rico dengan suara lantang.

“Siap, Bos Rico!” sahut salah seorang wanita di sampingnya.

Kring… Kring…

Ponsel Rico berdering. Dengan enggan ia menghentikan kegiatannya lalu mengangkat telepon itu tanpa melihat nama pemanggil.

“Ya, halo!” teriaknya keras.

“Kau ada di mana?” tanya suara dari seberang sana.

“Aku sedang di klub, jelas saja! Ini siapa, sih?”

Klik! Sambungan terputus tanpa memberi jawaban atas pertanyaan Rico. Dalam keadaan setengah mabuk, Rico melempar ponselnya ke atas sofa lalu kembali melanjutkan kesenangannya.

Di luar gedung, orang yang baru saja menelepon Rico memberi perintah kepada anak buahnya.

“Seret dia keluar dan masukkan ke dalam mobil. Setelah itu kita pulang ke rumah. Sebentar lagi Ayah akan tiba di rumah.”

“Baik, Bos.”

Dua orang anak buah itu pun masuk ke dalam klub tanpa dihalangi oleh petugas keamanan di sana. Mereka berjalan menyusuri ruangan hingga akhirnya menemukan Rico yang sedang berduaan mesra dengan seorang wanita bayaran. Suara desahan keduanya yang hampir mencapai puncak kenikmatan seketika terhenti saat kedua orang itu menarik paksa tubuh Rico dan menyeretnya keluar.

“Hei! Gue belum selesai! Kenapa kalian seret-seret gue begini, hah?” Rico memberontak, namun tubuhnya yang lemas karena pengaruh minuman keras tak mampu melepaskan diri dari cengkeraman mereka.

Sesampainya di luar, pintu mobil dibuka dan tubuh Rico dilemparkan kasar ke dalam kursi belakang.

“Jalan, Pak!” perintah seseorang. Mobil itu pun segera melaju meninggalkan area klub malam.

“Ternyata kau, Kak! Kenapa sih selalu mengganggu kesenangan gue malam ini, hah?” gerutu Rico kesal.

“Sadarkan dirimu! Ayah bisa sangat marah jika mengetahui kau masih saja berkeliaran di klub dan bermain dengan wanita-wanita itu! Apakah kau tak sadar dengan perbuatanmu? Mau sampai kapan kau begini? Mau terkena penyakit menular?” bentak Angga tak kalah kesal.

“Gue kan selalu memakai pengaman, Bro! Gue tidak sebodoh itu, kok!” balas Rico yang kesal karena kesenangannya hampir tercapai justru digagalkan oleh kakaknya sendiri.

“Dengarkan dan turuti perkataanku saja! Sebentar lagi Papa akan sampai di rumah,” ucap Angga memberi tahu.

Rico menoleh dengan dahi berkerut. “Memangnya urusan bisnis Papa sudah selesai? Kenapa bisa pulang secepat ini?”

“Ada masalah. Gadis lugu itu sudah membuat malu nama keluarga kita,” jawab Angga singkat.

“Gadis lugu? Maksudmu Kiara? Tolonglah, Kak Angga. Kenapa di antara kalian semua tak ada satu pun yang bersikap baik padanya? Kiara itu adik kita sendiri!”

“Koreksi ucapan mu, ya. Kiara itu hanyalah anak pungut. Paham?”

“Mulutmu sungguh kejam sekali, Kak!” Rico memilih diam karena kepalanya masih terasa berputar akibat pengaruh minuman keras.

.

.

.

 

Di rumah megah keluarga Anugerah, seorang pria berpakaian rapi dan elegan baru saja melangkah masuk. Ia berjalan melewati Kiara yang sudah berdiri menunggunya untuk menyambut kedatangannya.

Pria itu sempat berjalan menjauh, namun tiba-tiba ia berhenti, membalikkan badan, lalu melangkah mendekati Kiara.

“Kau belum tidur?” tanyanya dengan nada datar tanpa ekspresi.

“Belum, Pa. Kiara menunggu Papa pulang dulu baru berani tidur,” jawab Kiara lembut.

Mendengar itu, hati pria itu terasa hangat sejenak, namun ia segera menyembunyikan perasaannya di balik sikap dinginnya.

“Jangan membuat masalah. Segera tidur. Aku tak ingin repot mengurusmu jika sampai jatuh sakit,” perintahnya dengan nada yang tetap sama dinginnya.

“Baik, Pa. Eh… apakah Papa sudah makan malam?” tanya Kiara lagi. Namun pria itu hanya diam dan tak menggubris pertanyaannya. Hati Kiara terasa perih melihat sikap dingin dan datar ayahnya.

“Kiara!” panggil pria itu saat sudah berada di atas tangga. Kiara mendongak menatapnya. “Jangan lagi membuat masalah yang bisa mempermalukan nama keluarga Anugerah karena ulahmu!” bentaknya tajam tanpa menoleh ke bawah.

“Dan mulai besok, jangan pernah lagi bekerja di perusahaan milik keluarga Kencana. Jika sampai aku mendengar kabar kau masih berkeliaran di sana, Papa tak akan segan-segan menghukummu. Paham?”

“Baik, Pa. Kiara mengerti,” jawab Kiara pelan.

Pria itu pun melanjutkan langkahnya menuju kamar di lantai atas. Sementara itu, Kiara masih berdiri terpaku di tempatnya, dengan air mata yang perlahan membasahi kedua pipinya.

Bersambung

1
Noviyanti
satu bunga untuk kiara
Noviyanti
semangat Thor, salam kenal
Abyyasdemons: oke KK , salam kenal kembali 😍💪👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!