Berawal dari petaka sebuah konser band terkenal, seorang gadis harus membuatnya menerima reward besar karena baru putus cinta. Gadis itu tidak tau bahwa dirinya sedang di kerjai teman kuliahnya hingga membuat seorang Letnan terkena imbasnya.
Disisi lain, akibat petaka tak sengaja, sang Letnan terpaksa harus menanggung akibatnya. Bukan hal mudah menaklukan hati pria yang ternyata adalah Abang dari gadis tersebut, namun pada kenyataannya, lebih sulit menaklukan gadis yang tiba-tiba masuk dalam hidupnya tanpa permisi, apalagi jejak kehidupannya kini di mulai pada wilayah dengan resiko yang cukup tinggi, wilayah yang bisa di katakan rawan, KARANG HITAM.
KONFLIK.. Harap SKIP bagi yang tidak bisa ber KONFLIK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Situasi dalam diam.
Plaaakkk.. Plaaaakk.. baaaghhh.. buugghhhh..
Mata Bang Riegan berkilat merah basah menyala. Amarahnya tak terbendung melihat kedua ajudannya yang ceroboh.
"Sejak kapan kamu melihat atasanmu minta bahan untuk mabok???" Tegur keras Bang Riegan.
"Siap salah, Danton."
Agaknya Bang Riegan kurang sehat, ia bersandar pada bingkai pintu belakang rumahnya.
"Terlepas dari urusan kepangkatan dan kedinasan, apa yang kalian lihat dan kamu dengar, simpan untuk kalian sendiri. Jika kalian tidak ingin menghargai saya, tolong jaga perasaan istri saya..!!" Perintah Bang Riegan.
"Ijin, Dan. Kami sudah paham. Apapun yang terjadi hari ini.. Kami buta dan tuli." Jawab para ajudan.
***
Phia menggeliat merenggangkan ototnya yang kaku. Ia terkejut saat melihat dirinya tidur dengan nyenyak dalam kamar bernuansa pink, mirip dengan kamar miliknya dirumah Bang Reigar dulu, lengkap dengan semambu dan aroma floral.
Lebih terkejut lagi saat tau pakaian tidurnya sudah berganti. Dari pantulan meja rias, ia bisa melihat lebam di sekitar leher dan dadanya, bibirnya pun serasa bengkak.
Tak lama Bang Riegan masuk membawa sarapan untuk Phia.
Phia nampak gelisah tapi masih berusaha bersikap biasa saja.
"Kenapa kamu bersikeras membuat semua ini. Jangan membuat harimu sia-sia dan berlalu dengan percuma." Kata Phia sambil memalingkan wajah saat Bang Riegan hendak menyuapinya. "Tinggalkan saya, carilah wanita yang kamu suka."
"Iya. Setelah ini saya cari. Makan dulu..!!" Bang Riegan kembali menyuapkan makanan untuk Phia.
Phia tidak menolak, tapi suaminya itu kembali membuatnya bingung dengan jawabannya yang datar saja.
"Phia sudah mabuk kemarin, kenapa tidak usir Phia??" Tanya Phia sengaja kembali memancing perselisihan.
"Masa sih?? Kamu hanya tidur saja kemarin. Saya pikir pingsan, makanya saya ganti saja pakaianmu."
Phia langsung menoleh mendengarnya. "Dasar lancang. Lihat apa??"
"Yaa.. Lihat yang seharusnya di lihat??? Kau mau si Gun atau Rivan yang mengganti pakaianmu???" Balas Bang Riegan.
Phia sesaat terpaku. "Ta_pi.. Tidak terjadi apapun, kan??"
"Memangnya kamu berharap terjadi apa??" Pancing Bang Riegan. Mulutnya memang diam, tapi ada senyum kecil dalam hatinya.
"Itu.. Kenapa bibirmu?" Tanya Phia penasaran melihat bibir Bang Riegan. Tapi sekelebat ia mengingat mimpinya yang terasa aneh.
"Nggak apa-apa." Jawab Bang Riegan tenang.
Akhirnya sepiring nasi dari Bang Riegan pun habis tak bersisa. Bang Riegan segera mencuci piring tersebut.
Dari tempatnya, Phia memperhatikan Bang Riegan yang masih sibuk membereskan ini dan itu. Keningnya berkerut kemudian mengedarkan pandang ke seluruh ruang kamar yang sudah berubah total.
Kemarin kamar itu masih terlihat angker dan mengerikan. Phia meneguk salivanya dengan kasar.
"Apa ada penunggunya??" Gumamnya.
Sekelebat ingatannya beralih pada 'mimpinya' semalam. Ada sentuhan yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Anehnya, Phia membalasnya.
Flasback ingatan Phia semalam, on..
"Siapa saja yang pernah mendekatimu seperti ini??" Tanya Bang Riegan.
"Nggak ada, baru kamu."
"Apa ini?? Siapa yang mengajarimu tidak sopan???" Tangan Bang Riegan mulai menjalar menyentuh.
Phia takut, tapi rasanya sulit untuk menolak. Apalagi bibir yang menyusuri lekuk ping*ang hingga leh*rnya membuatnya serasa melayang.
"Kamu suka??" Bisik Bang Riegan.
"Sukaaa." Jawab Phia jujur.
Saat itu ia merasa Bang Riegan 'membuka diri'.
"Kamu, atau saya yang mulai??" Bisik Bang Riegan.
Lebih parahnya, ia sendiri yang mendekati Bang Riegan. "Phia duluan."
Flashback ingatan Phia semalam, off..
"Aarrgghh.. Ya ampun.. Ya ampuuunn.. Itu hanya mimpi, kan??? Tapi darimana datangnya lebam ini????" Gumam Phia cemas ketakutan. Ia sampai memeluk lututnya. "Nggak mungkin kan, aku melakukan hal memalukan seperti itu di depan laki-laki?????"
Phia kembali menoleh ke arah Bang Riegan. Suaminya itu sedang sibuk dan tidak ada pembahasan apapun tadi, besar kemungkinan yang ia alami hanyalah mimpi.
"Ini pasti hanya mimpi. Rumah ini mengerikan sekali."
...
"Kenapa harus mandi seperti ini??? Airnya terlalu dingin." Protes Phia.
"Pertama karena kita baru pindah di rumah ini. Kedua, supaya badanmu benar-benar segar setelah semua rasa tidak nyaman yang kamu alami." Jawab Bang Riegan.
Bang Riegan mengambil handuk dari tangan Phia lalu mengeringkan rambutnya. Setelah lumayan kering, Bang Riegan menyisir lembut rambut sang istri.
"Mulai besok, kita sholat subuh sama-sama. Setelahnya, kalau kamu mau bangun siang pun, saya tidak akan ganggu. Ibadah itu demi dirimu sendiri, bukan untuk saya ataupun orang lain. Sebagai manusia, kita tetap butuh mengadu, mengeluh dan bercerita pada Sang Pemilik Hidup."
Phia menatap wajah Bang Riegan dari pantulan cermin. Pria itu nampak tenang. "Rumah ini, ada hantunya ya?"
Bang Riegan sekilas balas menatap wajah Phia. "Memangnya ada apa??"
"Ehmm.. Nggak.. Nggak apa-apa."
Tapi kemudian Phia melihat ada tanda yang sama di bagian leher Bang Riegan. "Eehhh.. Itu.. Dari mana datangnya tanda itu?? Coba buka..!!"
"Buat apa sih?? Nggak ada apa-apa." Tolak Bang Riegan.
"Bukaaa.. Phia mau lihat. Kalau memang benar dugaan Phia.. Berarti memang ada yang nggak beres di rumah ini. Ini dekat hutan, dekat sungai, pasti ada penunggunya." Kata Phia mulai penasaran dengan nada manjanya.
"Nggak usah. Apa sih, dek."
Bang Riegan menutup krah seragamnya tapi Phia memaksa hingga pakaian seragam itu terbuka. Akhirnya ia melihat tanda yang sama bahkan lebih parah dari yang ia miliki.
Wajah Phia seketika berubah serius. "Ini aneh nggak sih???? Bekas lebam ini......???? Apa ada hantu wanita yang ngincarmu?"
"Nggak mungkin."
"Nggak mungkin apa?? Semalam Phia mimpi di tindih makhluk hitam besar." Kata Phia serius.
.
.
.
.
Bang Jan...udah beri bang Hernad pencerahan tp knp jadinya kyk gini😄😄🤭
kocak ini ...lanjut mba Nara👍
lanjut mba nara🤭
semangat jg buat mba Nara👍