NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Dan Rasa

Belenggu Janji Dan Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: "Emy"

seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Setelah mendapat kabar dari kaki tanganya, tentang apa yang terjadi di gudang itu. Tuan Ganesha mencengkeram ponselnya erat-erat, membiarkan deru napasnya yang berat memenuhi keheningan ruang kerjanya yang megah setelah mendengar laporan dari kaki tanganya jika Athur di larikan ke rumah sakit pusat kota.

Ia memutuskan untuk menghubungi Evan atau Bagas. Pertama Bagas tidak mengangkat panggilan teleponnya. "Kemana kalian, kenapa tidak di angkat?" Ghanesa berusaha menghubungi kembali. Namun kali ini dia menghubungi Evan.

Dret... dret...

Evan mengambil ponsel yang ada di saku celananya, melihat nama yang tertera di layar ponselnya membuatnya panik.

"Hallo... "

"Evan! Di rumah sakit mana kamu membawa mereka?!" tanya Tuan Ganesha langsung tanpa basa-basi.

Dari seberang saluran, suara Evan terdengar bergetar hebat, terengah-engah di sela-sela langkah kakinya yang terburu-buru. "Rumah Sakit Medika Utama, Tuan Besar! Mereka... mereka berdua ada di ruang ICU lantai tiga Medika Utama sekarang!"

Setelah mendapatkan jawaban dari Evan, Tuan Ganesha langsung mematikan sambungan telepon. Ia berbalik menatap sang istri, Amelia, yang duduk sedikit pucat di ranjang kamar. Dengan hati-hati namun sarat akan ketegasan yang tertahan, Tuan Ganesha menyampaikan kenyataan pahit itu.

Mendengar anak sulung kesayangannya saat ini sedang kritis di Rumah Sakit Medika Utama bersama menantu perempuan yang bahkan belum sempat ia peluk, runtuh sudah seluruh pertahanan sang Ibu. Kepanikan, ketakutan, dan rasa sakit seorang ibu yang mengira akan kehilangan darah dagingnya tidak bisa lagi dijelaskan dengan kata-kata.

Sesampainya di koridor depan ruang ICU lantai tiga Rumah Sakit Medika Utama, suasana terasa begitu dingin dan mencekam. Langkah kaki Amelia terasa sangat lemas hingga ia harus dipapah erat oleh Tuan Ganesha.

Begitu mereka berbelok di ujung lorong, pemandangan tragis langsung menyambut pandangan mereka. Evan dan Bagas berdiri mematung di depan pintu ICU yang tertutup rapat, pakaian mereka—dari pundak hingga ujung kemeja—dipenuhi oleh noda darah tebal yang masih basah milik Athur dan Rara.

Melihat noda darah yang begitu banyak, Amelia langsung jatuh terduduk di lantai rumah sakit yang dingin. Tangis histerisnya pecah seketika, menggaung memilukan di sepanjang koridor sepi.

 "Athur... anakku... ya Tuhan, Ganesha... selamatkan anak kita, Pa..." isak Amelia parau, dadanya sesak luar biasa membayangkan tajamnya pisau yang bersarang di tubuh anaknya.

Tuan Ganesha mendekap erat tubuh istrinya yang gemetar hebat, namun matanya yang tajam bak elang langsung mengunci sosok Evan. Langkah tegap Tuan Ganesha maju satu langkah, menatap Evan dengan tatapan menuntut yang sangat berat dan penuh intimidasi, meskipun di dalam lubuk hatinya ia juga sedang digulung badai kecemasan.

"Evan... katakan pada saya," suara Tuan Ganesha terdengar rendah, bergetar, namun sangat menekan.

"Bagaimana keadaan anak saya? Dan... bagaimana dengan menantu saya, Rara? Katakan!"

Evan yang selama ini dikenal sebagai pria dingin berhati baja dan tidak pernah takut pada apa pun, perlahan mendongak. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sepasang mata elang Evan tampak berkaca-kaca, dipenuhi oleh lapisan air mata penyesalan yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun. Bahunya yang tegap tampak merosot layu saat menatap Tuan Ganesha.

"Tuan Besar..." suara Evan tercekat di tenggorokan, bergetar hebat menahan tangis yang hampir pecah.

"Bos Athur... pisaunya menancap sangat dalam di pinggangnya, dia kehilangan banyak darah dan langsung pingsan di lokasi. Dokter bilang lukanya hampir mengenai organ vitalnya."

Evan menjeda kalimatnya sejenak, menatap telapak tangannya sendiri yang masih berlumuran darah kering milik Rara. Setetes air mata akhirnya lolos membasahi pipinya yang kaku.

"Dan... Nyonya Muda Rara... kondisinya juga sangat kritis, Tuan. Kedua telapak tangannya robek parah karena menahan ujung tajam gunting besi secara langsung dengan tangan kosong demi melindungi perutnya. Tubuhnya sangat lemah, pucat, dan sebelum pintu ICU ditutup... dia terus-menerus meronta menangis memanggil nama Athur, menolak untuk dipisahkan. Sumpah, Tuan Besar... saya belum pernah melihat sepasang suami istri yang saling mempertahankan nyawa semati-matian itu. Di dalam sana... mereka berdua sedang bertaruh nyawa bersama-sama."

Mendengar penuturan Evan yang begitu menyayat hati dengan mata yang berkaca-kaca, tangis Mama Amelia semakin pecah di pelukan suaminya, sementara Tuan Ganesha hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat. Rahangnya mengeras sempurna, mengepalkan tangannya hingga urat-urat birunya menonjol, siap menumpahkan seluruh amarah mautnya pada Daren dan Jesika di markas besar nanti malam.

Suasana di koridor lantai tiga Rumah Sakit Medika Utama terasa semakin pekat oleh keputusasaan. Tiba-tiba, suara derap langkah kaki yang terburu-buru memecah keheningan lorong yang sunyi.

Gino dan Nina mendadak muncul di ujung koridor dengan napas yang terengah-engah. Wajah sepasang kembar kelas 1 SMA itu tampak sangat pucat. Rasa cemas yang membakar dada membuat Gino tidak sabar menunggu di rumah.

Beruntung, di dalam ponsel baru pemberian Athur, nomor kontak Bagas dan Evan sudah tersimpan rapi beserta sistem pelacak koordinat darurat. Fino langsung melacak posisi Ponsel Bagas dan memacu motor bebek sekonnya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit.

Ya, sebenarnya Fino lumayan cukup cerdas. Namun dia dulu masih terlalu manja, dan di manjakan oleh Rara.

Begitu mereka tiba di depan lorong ICU, langkah kaki Nina seketika terhenti. Gadis lugu itu membekap mulutnya sendiri, matanya membelalak sempurna menyaksikan pakaian Evan dan Bagas yang basah kuyup oleh noda darah tebal yang mulai mengering.

Tubuh Nina gemetar hebat, ia langsung menangis ketakutan di samping kembarannya. Fino, yang sudut bibirnya sendiri masih diperban akibat perkelahian tadi pagi, sekuat tenaga menahan getaran di lututnya. Ia merangkul pundak Nina dengan sangat erat, mencoba bersikap kuat demi menjadi benteng pelindung terakhir bagi adiknya, meskipun di dalam lubuk hatinya Fino juga merasa dunianya seakan runtuh.

Di sudut lorong, Tuan Ganesha yang sedang mendekap istrinya langsung menoleh. Sepasang mata elang pria paruh baya itu menatap dalam ke arah Fino—bocah 15 tahun yang dengan nyali mati-matian menghajar Alden demi membela kehormatan keluarganya tadi pagi.

Gino melepaskan rangkulannya pada Nina, lalu melangkah lebar menerobos jarak. Dengan napas yang memburu kencang dan emosi remaja yang meledak di ubun-ubun, Fino langsung maju dan mencengkeram kuat kerah baju denim Evan yang berlumuran darah.

"Mana Kak Rara?" Fino mencengkeram kuat krah leher Evan. Evam bungkam lidahnya kelu apa yang akan dia katakan sudah pasti akan membuat perasaan kedua remaja itu hancur.

"Bang Evan!! Jawab gue, Bang!!" raung Fino dengan suara serak yang bergetar hebat menahan tangis. "Kenapa baju lu penuh darah?! Mana Kak Rara?! Mana Abang ipar?! Kenapa mereka di dalam sana?! Jawab gue, Bang!!"

Evan tidak membalas cengkeraman tangan Fino. Pria itu hanya diam mematung, membiarkan Fino mengguncang tubuh tegapnya dengan pandangan mata berkaca-kaca yang dipenuhi rasa bersalah. Kegagalan menjaga Rara dan Athur membuat lidah Evan mendadak kelu untuk bersuara.

Melihat Fino yang semakin frustrasi dan hampir kehilangan kendali, Tuan Ganesha akhirnya melepaskan dekapannya pada sang istri. Ia melangkah tegap, lalu meletakkan tangan kekarnya yang berwibawa tepat di atas pergelangan tangan Fino yang masih mencengkeram kerah baju Evan.

"Lepaskan tanganmu, Anak Muda," ucap Tuan Ganesha dengan suara berat, dalam, dan sarat akan penekanan yang mutlak.

"Evan tidak salah. Di dalam sana, kakakmu dan Athur sedang berjuang bersama tim dokter terbaik. Jika kamu benar-benar pria dewasa yang ingin melindungi kakak dan adikmu, tenangkan dirimu. Kemarahanmu tidak akan bisa menghentikan pendarahan di dalam ruang operasi."

Mendengar sepatah dua kata dari pria paruh baya yang memancarkan aura kepemimpinan yang luar biasa kuat itu, kepalan tangan Fino perlahan melemas. Ia melepaskan cengkeramannya dari baju Evan, lalu mundur satu langkah dengan dada yang naik turun menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan.

1
Embhul82
bagus ceritanya q suka
Emy: makasih sudah mau mampir. Jangan lupa kritik dan saran
total 1 replies
Embhul82
up lagi kak 🤭
Brigita
kurang paham di ini sih
Emy: makasih bnyak kak sudah di koreksi. sebagai manusia pasti tetap ada kesalahan. Alhamdulillah kak sudah di perbaiki
total 1 replies
Brigita
lanjutt truss kakk😍👍💪
Emy: terimakasih kak
total 1 replies
Brigita
semangat kakkk💪💪💪👍😍
Emy: Makasih sudah hadia kak. kritik dan sarannya y kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!