NovelToon NovelToon
Mahar Sandiwara Sang Papa

Mahar Sandiwara Sang Papa

Status: tamat
Genre:CEO / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Dua tahun kemudian setelah badai melanda yang hampir menghancurkan hidupnya, dunia Amira kini terasa jauh lebih tenang, meski ada ruang di hatinya yang telah tertutup rapat.

Ia duduk di bandara Yogyakarta sambil menatap lelaki kecil yang sedang berlarian riang di area ruang tunggu.

Bocah laki-laki berusia sekitar satu setengah tahun itu memiliki sepasang mata yang bulat dan jernih, membawa kembali tawa yang sempat hilang dari hidup Amira.

"Mama, Mama, lihat ini!" seru bocah kecil itu dengan suara cemprengnya yang menggemaskan, memamerkan sebuah mainan pesawat terbang di tangan mungilnya.

Amira tersenyum lembut, namun rasa khawatir seorang ibu tetap tidak bisa disembunyikannya.

"Devan, jangan lari-lari, nanti jatuh, Nak," panggil Amira lembut namun penuh ketegasan, bersiap bangkit dari kursinya.

"Biarkan saja, Amira," ucap Ferdinand, sebuah suara bariton yang hangat menginterupsi dari sampingnya.

Ferdinand berjalan mendekat sambil membawa dua cup kopi hangat, lalu duduk di sebelah Amira dengan senyuman yang selalu berhasil menenangkan.

Amira menoleh ke arah lelaki yang menolongnya saat ia pingsan di bandara Belanda saat pertama menginjakkan kakinya di sana.

Menatap wajah Ferdinand selalu membawa Amira kembali pada memori awal kedatangannya ke negeri kincir angin itu.

Flashback Dua Tahun Lalu

Hari itu, Ferdinand, seorang CEO muda dari sebuah perusahaan multinasional yang berbasis di Amsterdam, sedang berada di bandara untuk menjemput klien penting.

Di tengah hiruk-pikuk kedatangan internasional, perhatiannya teralih pada seorang wanita yang berjalan dengan tubuh luar biasa lemas, wajahnya sepucat kertas, dan tatapan matanya kosong tanpa arah.

Wanita itu adalah Amira. Efek sisa obat bius dari peristiwa gudang tua, ditambah tekanan emosional yang hebat dan kelelahan setelah penerbangan belasan jam, membuat tubuh Amira benar-benar mencapai batasnya.

Tepat sebelum melewati pintu keluar, pandangan Amira menggelap. Ia ambruk ke lantai semen yang dingin.

Ferdinand yang kebetulan berada hanya beberapa meter di dekatnya langsung bertindak cepat.

Sebagai seorang pria yang tegas dan bertanggung jawab, ia tidak membiarkan wanita asing itu terlantar.

Ferdinand menggendong Amira dan langsung membawanya ke rumah sakit terbaik di Amsterdam.

Tidak hanya membayar seluruh biaya pengobatan, Ferdinand juga dengan setia menemani Amira hingga sadar.

Di rumah sakit itulah, fakta mengejutkan terungkap dari mulut dokter: Amira tengah berbadan dua.

Kehamilan yang masih sangat muda itu ikut melemahkan fisiknya akibat stres berat yang dialaminya di Jakarta.

Ferdinand yang mengetahui bahwa Amira sebatang kara di Belanda akhirnya menawarkan perlindungan, mencarikan tempat tinggal yang layak, dan membantu Amira mengurus administrasi studinya hingga melahirkan Devan.

Kembali ke masa kini, di Bandara Yogyakarta.

"Dia anak yang aktif, Amira. Biarkan Devan mengeksplorasi tempat baru ini.

Lagipula, ada aku yang menjaganya," lanjut Ferdinand sambil menyerahkan salah satu cup kopi kepada Amira, menatap lurus ke depan di mana Devan masih asyik bermain.

Amira menerima kopi itu, hatinya dipenuhi rasa syukur yang tak terhingga pada Ferdinand.

Kepulangannya ke Indonesia kali ini bukan untuk kembali pada masa lalu, melainkan untuk urusan bisnis mendampingi Ferdinand.

Namun, menginjakkan kaki kembali di tanah air mau tidak mau membuat dada Amira berdesir bimbang.

Dua tahun telah berlalu, dan ia tidak pernah tahu bagaimana kabar Daniel dan putri kecilnya, Felia, di Jakarta sana.

"Papa, Papa, ayo ke rumah Oma!" ajak Devan sambil berlari kecil ke arah Ferdinand, lalu memeluk lutut pria itu dengan manja.

Mainan pesawatnya kini sudah berpindah ke kantong celana monyetnya yang menggemaskan.

Ferdinand terkekeh, langsung berjongkok dan menggendong Devan ke dalam pelukannya.

"Siap, Jagoan. Kita berangkat sekarang," ucap Ferdinand hangat sebelum menoleh ke arah Amira dengan tatapan penuh arti.

Amira yang melihat kedekatan mereka hanya bisa tersenyum simpul, menyembunyikan getaran aneh di dadanya.

Ia bangkit dari kursi tunggu sambil merapikan tas jinjingnya.

"Ayo, Ferdinand, kita ke rumah Mama," ajak Amira, berusaha mengalihkan suasana agar tetap kasual. Mereka berdua melangkah beriringan membelah keramaian bandara menuju area parkir.

Namun, Ferdinand tampaknya tidak ingin membiarkan momen ini lewat begitu saja. Sambil menggendong Devan yang mulai asyik bersandar di bahunya, Ferdinand berjalan melambat, menyejajari langkah Amira.

"Jadi kapan kamu menerima cintaku, Amira?" tanya Ferdinand tiba-tiba, suaranya pelan namun terdengar begitu bersungguh-sungguh di telinga Amira.

Amira seketika menghentikan langkahnya, menatap Ferdinand dengan tatapan bimbang yang sudah sangat sering ia tunjukkan setiap kali topik ini muncul.

Ferdinand tersenyum tipis, ada gurat ketulusan sekaligus kepasrahan di wajah tampannya.

"Devan sudah memanggilku Papa, dan tinggal kamu yang belum..." lanjutnya, mencoba mencairkan ketegangan dengan nada sedikit menggoda, meski matanya tak bisa berbohong bahwa ia sangat menginginkan kepastian.

Amira menghela napas panjang, tatapannya melembut namun sarat akan rasa bersalah.

"Fer..."

Mendengar nada suara Amira yang mulai memberat, Ferdinand langsung paham.

Ia tahu dinding pertahanan di hati Amira yang hancur dua tahun lalu di Jakarta masih belum sepenuhnya runtuh.

Ferdinand tidak ingin merusak suasana kepulangan mereka.

"Ok, ok, aku tidak membahasnya lagi," potong Ferdinand cepat sambil mengangkat sebelah tangannya yang bebas, tersenyum maklum untuk menenangkan Amira.

"Ayo, jangan buat Oma menunggu cucu tampannya ini terlalu lama."

Amira mengangguk pelan, merasa lega sekaligus bersyukur atas pengertian Ferdinand yang tiada habisnya.

Namun di dalam hatinya, Amira tahu, kembali ke Indonesia berarti ia harus siap menghadapi kemungkinan terburuk: takdir yang mungkin saja mempertemukannya kembali dengan Daniel.

Sementara itu, di tempat lain, di mana Daniel duduk di ruang kerjanya, suasana terasa begitu sunyi dan mencekam.

Ruangan megah itu kini terasa hampa. Daniel menatap nanar ke arah jendela besar yang menampilkan lanskap kota Jakarta, dengan gurat penyesalan yang mendalam di wajahnya yang kian menua dan lelah.

Pintu ruang kerja diketuk pelan. Seorang pria berjas hitam, kepala tim keamanannya, melangkah masuk dengan kepala tertunduk.

"Bagaimana? Apakah kamu sudah menemukan keberadaan istriku?" tanya Daniel cepat, suaranya terdengar serak dan penuh keputusasaan saat ia langsung berdiri dari kursi kebesarannya.

Pria itu menghela napas berat sebelum menjawab, "Maaf, Pak Daniel, kami belum menemukan keberadaan Nyonya Amira. Semua akses penerbangan dua tahun lalu atas namanya seperti sengaja dikunci, dan keluarga Nyonya Amira di Yogyakarta tetap bungkam."

Daniel perlahan terduduk kembali, menyandarkan punggungnya dengan lemas.

Ia melambaikan tangan, mengisyaratkan anak buahnya untuk keluar. Begitu pintu tertutup, Daniel menutupi dengan kedua telapak tangan.

"Amira, di mana kamu, Sayang?" bisik Daniel parau. Setitik air mata penyesalan jatuh membasahi meja kerjanya.

Dua tahun ini rasanya seperti neraka baginya. Mengetahui bahwa wanita yang ia cintai pergi karena sebuah kesalahpahaman besar di gudang tua itu adalah hukuman paling berat yang harus ia tanggung seumur hidup.

Di tempat lain, Nyonya Gayatri sedang di lapas menjenguk Selena yang dihukum seumur hidup.

Suasana di dalam ruang kunjungan penjara itu terasa sangat dingin.

Dibatasi oleh sekat kaca tebal, Nyonya Gayatri menatap wanita di hadapannya dengan pandangan campur aduk—antara amarah, malu, dan sisa rasa kasihan sebagai seorang ibu.

Di balik kaca, Selena duduk dengan pakaian tahanan.

Wajahnya yang rusak karena luka bakar kini terlihat semakin kusam dan tak terawat.

Tatapan matanya masih menyiratkan kegilaan, namun ada kehampaan yang mendalam di sana setelah semua rencana iblisnya digagalkan dan ia harus mendekam di balik jeruji besi tanpa pernah bisa menghirup udara bebas lagi.

1
falea sezi
lanjut q kasih hadiah
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!