1. "THE 13TH FLOOR"
Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist
Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.
Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.
Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12 kebohongan pertama
Tawa anak kecil itu berhenti mendadak.
Suasana kamar berubah begitu sunyi hingga suara napas mereka sendiri terdengar jelas.
Sepasang kaki kecil yang hangus masih terlihat di balik pintu kamar mandi.
Tidak bergerak,Tidak melangkah,Hanya berdiri diam.
Naya memejamkan mata sambil menggenggam lengan Alea.
"Jangan... jangan lihat."
Namun Alea justru melangkah maju.
"Lea!" bisik Keanu.
Alea menggeleng pelan.
"Aku harus tahu siapa dia."
Perlahan ia mendekati pintu kamar mandi.
Satu langkah,Dua langkah,Tiga langkah Udara semakin dingin.
Cermin di atas wastafel mulai dipenuhi embun.
Saat Alea mendorong pintu kamar mandi hingga terbuka lebar...
Tak ada siapa pun di dalam.
Sepasang kaki itu telah menghilang.
Hanya ada lantai basah dengan jejak kaki kecil berwarna hitam.
Jejak itu tidak menuju ke pintu.
Justru...
Berakhir tepat di depan cermin.
"Aneh..." gumam Alea.
Ia mengusap embun di permukaan cermin.
Tiba-tiba muncul tulisan yang seolah ditulis dari balik kaca.
«"IBUNYA BERBOHONG."»
Alea membeku.
"Ibunya..."
Ia langsung menoleh ke arah Raka.
"Rak..."
Sebelum sempat menjelaskan, tulisan di cermin berubah.
Huruf-huruf lama menghilang.
Digantikan kalimat baru.
«"RIO TIDAK PERNAH PULANG."»
Brak!
Cermin retak membentuk garis panjang.
Semua refleks mundur.
Dari balik retakan itu terdengar suara anak laki-laki.
"...tolong aku..."
Lalu suara itu lenyap.
Keanu segera menarik Alea keluar dari kamar mandi.
"Kita nggak bisa terus begini."
"Besok pagi kita harus cari data tentang Rio."
Raka masih terduduk di lantai.
Pikirannya kacau.
Selama ini ia percaya dirinya anak tunggal.
Namun dalam semalam, ia mengetahui bahwa ia pernah memiliki saudara kembar.
Dan yang lebih mengerikan...
Saudaranya disebut meninggal di hotel ini.
Malam semakin larut.
Tak ada satu pun dari mereka yang benar-benar bisa tidur.
Keesokan paginya, mereka memutuskan berpura-pura mengikuti jadwal study tour.
Namun diam-diam, mereka menyelinap ke perpustakaan kecil milik hotel yang berada di lantai dua.
Ruangan itu tampak tua Raknya dipenuhi buku dan koran lama.
Liora menemukan sebuah album kliping berita.
Debunya begitu tebal hingga membuat Dimas bersin.
Saat album itu dibuka...Mereka menemukan sebuah artikel surat kabar yang tanggalnya sudah memudar.
Judulnya masih bisa dibaca dengan jelas.
"KEBAKARAN HOTEL KARUNIA MENELAN ENAM KORBAN SISWA."
Di bawah judul itu terdapat foto hitam putih.
Enam siswa berdiri berjajar sambil tersenyum ke arah kamera.
Raka langsung berdiri.
Tangannya gemetar.
Di barisan paling kanan...
Berdiri seorang anak laki-laki yang wajahnya sama persis dengannya.
Namun yang membuat mereka semua benar-benar terdiam adalah keterangan di bawah foto itu.
«"Korban termuda: Rio Mahendra (17)."»
Raka menggigit bibirnya.
"Kalau Rio meninggal saat umur tujuh belas..."
"...bagaimana mungkin Ibu bilang dia meninggal saat bayi?"
Belum sempat siapa pun menjawab...
Seseorang bertepuk tangan dari balik rak buku.
Tep... Tep... Tep...
Perlahan, seorang pria tua keluar dari balik bayangan.
Ia mengenakan jas hitam lusuh.
Di dadanya tergantung kartu identitas.
MANAJER HOTEL.
Pria itu tersenyum.
"Lama sekali aku menunggu kalian menemukan berita itu.Suara tepuk tangan itu menggema di seluruh perpustakaan.
Tep... Tep... Tep...
Pria tua berjas hitam itu melangkah perlahan keluar dari balik rak. Rambutnya sudah memutih, tetapi posturnya masih tegap. Di saku jasnya tersemat sebuah pin berbentuk angka 13.
Alea langsung menyadari sesuatu.
Pin itu...
Sama persis dengan kalung yang diberikan Maya.
"Siapa Bapak?" tanya Keanu sambil berdiri di depan teman-temannya.
Pria itu tersenyum tipis.
"Namaku Aditya."
"Aku manajer hotel ini."
"Tapi..." gumam Dimas, "resepsionis bilang manajernya sedang di luar kota."
Pria itu tertawa pelan.
"Resepsionis kalian memang pandai berbohong."
Kalimat itu membuat Alea teringat pesan Maya.
"Jangan percaya resepsionis."
Aditya melangkah mendekati meja tempat kliping koran terbuka.
Ia menatap foto enam siswa itu cukup lama.
"Dua puluh tahun lalu..."
"Aku gagal menyelamatkan mereka."
Ruangan mendadak sunyi.
"Bapak kenal Rio?" tanya Raka.
Aditya mengangguk pelan.
"Rio adalah siswa paling pemberani."
"Ia kembali ke dalam hotel untuk menolong teman-temannya."
"Tapi..."
"...ia tidak pernah keluar lagi."
Raka mengepalkan kedua tangannya.
"Kalau begitu... kenapa Ibu bilang Rio meninggal saat bayi?"
Aditya menghela napas panjang.
"Karena seseorang memaksanya berbohong."
"Siapa?"
Belum sempat Aditya menjawab, terdengar suara langkah kaki dari luar perpustakaan.
Tok... Tok... Tok...
Wajah Aditya langsung berubah tegang.
"Dia datang."
"Siapa?" bisik Alea.
"Resepsionis."
"Tidak banyak waktu."
Aditya memasukkan sesuatu ke tangan Alea.
Sebuah kunci kuno berwarna keemasan.
Pada kepalanya terukir lambang hotel.
"Ini bukan kunci Kamar 1307."
"Ini kunci menuju ruang kontrol hotel."
"Di sanalah semua jawaban disembunyikan."
Keanu mengernyit.
"Kalau begitu kenapa Bapak tidak mengambilnya sendiri?"
Tatapan Aditya mendadak kosong.
"Aku..."
"...tidak bisa keluar dari perpustakaan ini."
Semua terdiam.
"Maksud Bapak?"
Aditya tersenyum pahit.
"Aku sudah mati sejak dua puluh tahun yang lalu."
Jantung Alea seperti berhenti berdetak.
"Jadi..."
"...Bapak juga arwah?"
Aditya tidak menjawab.
Ia hanya mengangguk pelan.
Saat itu juga terdengar suara pintu perpustakaan terbuka.
Seorang resepsionis tua berdiri di ambang pintu.
Senyumnya jauh lebih lebar dari sebelumnya.
"Akhirnya..."
"...aku menemukan kalian."
Perlahan ia mengangkat kepalanya.
Untuk pertama kalinya, mereka melihat wajah asli resepsionis itu.
Separuh wajahnya hangus terbakar.
Salah satu matanya benar-benar hitam.
Ia tersenyum sambil menatap keenam siswa itu.
"Lama sekali kita tidak bertemu..."
"...Rio."
Tatapannya tertuju langsung kepada Raka.
Raka membeku.
"Aku bukan Rio..."
Resepsionis itu terkekeh pelan.
"Kalau begitu..."
"...kenapa arwah-arwah itu terus memanggilmu dengan nama itu?"
Di belakang tubuh resepsionis, lorong perpustakaan perlahan berubah menjadi lorong gelap yang dipenuhi api.
Dan dari dalam kobaran itu...
Muncul enam bayangan manusia yang berjalan perlahan menuju mereka.