NovelToon NovelToon
ISTRI PENGGANTI

ISTRI PENGGANTI

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Binar jingga08

ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

.

Bab 11: Janji yang Diingkari

Di mata seluruh orang yang mengenal mereka, Adelin Yhosep dan Gyantara Raharja adalah pasangan yang paling ditakdirkan untuk bersatu. Di setiap acara sosial, di setiap pertemuan bisnis, bahkan di berita media sekalipun, mereka selalu tampak serasi seolah diciptakan untuk saling melengkapi. Adelin selalu berdiri di samping Gyantara dengan senyum paling manis, sering menyandarkan kepalanya di bahu pria itu, atau memeluk lengannya erat seolah tak ingin terpisah sedetik pun. Sikap manjanya membuat siapa pun yang melihatnya yakin bahwa cinta mereka begitu tulus dan tak tergoyahkan.

Namun tak ada yang tahu apa yang sebenarnya tersembunyi di balik senyum manis itu. Tak ada yang tahu bahwa di dalam hati Adelin, tak pernah ada tempat khusus untuk Gyantara.

Sejak awal, Adelin hanya melihat Gyantara sebagai pintu gerbang menuju kehidupan yang lebih tinggi, nama yang lebih harum, dan kekayaan yang tak akan pernah habis. Ia mengagumi kekuasaan keluarga Raharja, kagum pada bagaimana semua orang tunduk pada kata-kata Gyantara, dan terpesona oleh kemewahan yang bisa didapatkan jika ia menjadi istrinya. Cinta yang ia perlihatkan hanyalah sandiwara yang sudah ia latih bertahun-tahun.

Sementara itu, hati Adelin sudah lama dimiliki oleh orang lain. Pria itu bernama Dimas, seorang fotografer muda yang sederhana, pekerja keras, dan tak memiliki latar belakang keluarga terpandang. Mereka bertemu saat sesi pemotretan majalah beberapa bulan lalu. Berbeda dengan Gyantara yang selalu penuh tanya dan menuntut kesempurnaan, Dimas justru mendengarkan Adelin tanpa menghakimi. Ia memuji Adelin bukan karena wajahnya yang cantik atau namanya yang terkenal, tapi karena caranya menatap dunia, karena ketulusan yang tersembunyi di balik sikap angkuhnya.

Hubungan mereka berjalan sembunyi-sembunyi. Adelin sering menyelinap keluar rumah saat malam, atau berbohong pada orang tuanya kalau ia sedang latihan untuk acara pernikahan, padahal ia pergi menemui Dimas. Mereka berjanji satu sama lain: suatu hari nanti mereka akan bebas, tak perlu lagi bersembunyi di balik nama besar orang lain.

Saat mendekati hari pernikahan, tekanan dari orang tuanya semakin berat. Ayahnya, Adam Yhosep, sering mengingatkan bahwa pernikahan ini adalah jalan satu-satunya bagi keluarga Yhosep. Ibunya, Belinda Yhosep, tak henti-hentinya memuji betapa beruntungnya Adelin mendapatkan pria sebaik Gyantara. Setiap kali mendengar itu, dada Adelin terasa sesak. Ia tak sanggup mengakui kesalahannya, tak sanggup melihat kekecewaan di wajah orang tuanya, dan tak sanggup melepaskan segalanya demi cinta yang ia pilih sendiri.

Di dalam kamarnya yang luas dan penuh barang mahal, Adelin sering duduk termenung sendirian. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Ia terlihat sempurna, dicintai banyak orang, memiliki segalanya—tapi ia merasa seperti pencuri yang menyembunyikan rahasia besar. Ia tahu ia sedang menipu Gyantara, menipu orang tuanya, dan menipu dunia. Dan yang paling menyakitkan, ia juga sedang menipu dirinya sendiri.

Hari itu, Adelin kembali mendapat telepon dari Gyantara. Pria itu bertanya dengan nada penuh kasih sayang: "Kamu sudah siap, Sayang? Tinggal beberapa hari lagi kita akan menjadi suami istri. Aku tak sabar ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu."

Kata-kata itu seolah menghantam hati Adelin. Ia menelan ludah dengan susah payah, lalu menjawab dengan suara yang berusaha tenang: "Aku juga, Tantara. Aku juga tak sabar."

Begitu sambungan telepon terputus, air mata Adelin jatuh deras. Ia merasa begitu jahat. Ia ingin sekali berterus terang, tapi ia takut. Ia takut dimarahi, takut dicap sebagai pembawa malu, dan takut kehilangan tempat di dunia yang selama ini ia kenal.

Sementara itu, di sudut lain rumah, Julian Leonard dan Tama Alvaro sedang duduk bersama Adelia di bangku kayu halaman belakang. Udara sore terasa sejuk, tapi ketiga sahabat itu tak bisa merasa tenang.

"Aku melihat sesuatu yang aneh hari ini," kata Julian memecah keheningan. Ia menatap ke arah jendela kamar Adelin yang tertutup rapat. "Tadi siang aku melihat Kak Adelin diam-diam keluar lewat pintu samping. Ia terlihat gugup sekali, dan takut ada yang melihatnya."

Tama mengangguk setuju. "Aku juga pernah melihatnya. Beberapa kali ia mematikan telepon dari Gyantara begitu melihat nama peneleponnya. Atau kalau diangkat, bicaranya singkat dan terburu-buru. Padahal dulu ia tak pernah lelah bicara soal persiapan pernikahan."

Adelia hanya mendengarkan sambil memeluk lututnya. Ia tak berani berpendapat banyak soal kakaknya, karena selama ini apa pun yang ia katakan selalu dianggap salah. Namun dalam hatinya, ia juga merasakan ada yang tak beres. Ia tahu betul perasaan tak tenang itu.

"Kalian pikir... Kak Adelin tidak sungguh-sungguh ingin menikah?" tanya Adelia pelan.

"Entahlah," jawab Tama dengan wajah serius. "Tapi satu hal yang aku yakin. Adelin bukan tipe orang yang mau berkorban demi orang lain. Kalau dia merasa pernikahan ini tidak menguntungkan dirinya, atau kalau hatinya sudah di tempat lain... dia bisa saja melakukan hal nekat."

Julian menatap Adelia lekat-lekat, lalu menambahkan dengan suara rendah namun penuh kekhawatiran: "Yang paling aku takutkan bukan soal pernikahan ini batal atau tidak. Tapi aku takut kalau hal buruk terjadi, orang tuamu akan mencari jalan keluar termudah. Dan kita sudah tahu siapa yang selalu jadi pilihan mereka saat keadaan terdesak."

Adelia terdiam. Ia paham betul maksud sahabatnya. Selama ini ia selalu berada di posisi kedua, selalu menjadi cadangan, selalu disuruh mengalah demi kakaknya. Jika Adelin berbuat sesuatu yang merusak rencana besar keluarga, tak ada yang bisa menjamin nasib Adelia.

Malam harinya, kecemasan itu semakin terasa nyata. Adelin datang ke ruang makan dengan wajah pucat dan mata sembab. Saat Belinda bertanya apa yang terjadi, Adelin hanya menjawab singkat kalau ia hanya lelah. Ia tak menyentuh makanannya sedikit pun, hanya memandang ke arah piring kosong dengan tatapan kosong.

Di dalam kepalanya, pertarungan batin sedang berlangsung hebat. Haruskah ia tetap melangkah menuju pernikahan palsu dan menjamin kehidupan mewahnya selamanya? Atau haruskah ia berani mengambil risiko, mengikuti kata hatinya, dan berharap Dimas bisa melindunginya? Ia tahu janji yang ia ucapkan di depan nanti adalah janji suci yang tak boleh diingkari. Tapi bagaimana caranya berjanji setia selamanya pada pria yang tak ia cintai?

Janji yang diucapkan dengan bibir saja, tanpa didukung oleh hati yang tulus, hanyalah kebohongan yang suatu saat pasti akan terbongkar. Dan Adelin mulai menyadari, bahwa ia sudah berada di ambang jurang. Sekecil apa pun langkah yang salah, ia bisa menjatuhkan dirinya sendiri, bahkan menyeret orang-orang di sekitarnya ikut jatuh bersamanya.

Di luar jendela, bulan bersinar terang namun terasa dingin. Tak ada yang tahu bahwa rencana yang disusun dengan sangat rapi dan megah itu sebenarnya berdiri di atas fondasi yang rapuh. Tak ada yang menyangka bahwa sosok yang ditunggu-tunggu sebagai pengantin wanita, justru sedang berusaha mencari jalan untuk lari dari kewajiban itu sendiri.

Dan di antara semua ketidakpastian itu, Adelia yang tak berdosa tetap duduk diam di sudutnya, tak menyadari bahwa badai terbesar dalam hidupnya sedang bersiap datang. Ia tak tahu bahwa janji yang diingkari kakaknya kelak akan mengubah seluruh takdir hidupnya, dan memaksanya menjalani kehidupan yang tak pernah ia impikan sekalipun.

1
Tere Rere
watak Adelin menurun dari kedua orang tuanya yg otaknya cuman separuh 😡
Tere Rere
bersyukur masih ada Tama dan Julian di saat Adelia terpuruk🥹
Tere Rere
GYANTARA bangke😡
Tere Rere
Adelin jahat banget😡😭
Tere Rere
Adelin sialan😡
Tere Rere
ao ao😍🤭
Binar Jingga
Huhuhu 🥹
Tere Rere
yg pengen nangis cuslah baca ISTRI PENGGANTI karya Binar jingga. nyesek banget jadi Adelia🥹
Binar Jingga: Wah terimakasih kak atas supportnya🥹🤗
total 1 replies
Tere Rere
Adelia🥹
Hasbia n Hasbia nn
pusing bcanya😮‍💨
Binar Jingga: Pusing kenapa kak?🙏🏻
total 1 replies
Tere Rere
ada orang tua yang sangat jahat seperti si Belinda dan YHOSEP ini/Sleep/
Binar Jingga: Huhuhu jahat yah…. Semoga ini terjadi cuman d dalam novel saajaa
total 1 replies
tia
jangan banyak omong suami durhaka 😁
Binar Jingga: Mohon bersabar😂🤣🤣🤣
total 1 replies
tia
jgn mao kembali dulu Adelia ,,,biarkan di hukum penyelan 😁
tia
kapok suami durhaka 😁
tia
keluar gila banget
tia: siap thor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!