Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.
Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.
Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.
Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.
Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.
Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.
Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#21
Pukul 05.00 pagi di Markas Komando EOD Pusat Los Angeles.
Kabut tipis menyelimuti perbukitan di sekeliling markas, sementara suhu udara merosot hingga 12 derajat Celsius.
Di dalam kegelapan yang masih pekat, kedamaian fajar mendadak pecah berkeping-keping oleh suara raungan sirene darurat yang memekakkan telinga, disusul tiupan peluit nyaring yang bersahut-sahutan di sepanjang koridor gedung asrama.
...NIIII-NOOOO-NIIII-NOOOO!...
PRIIIIT! PRIIIIT! PRIIIIT!
"SEMUA PESERTA! BANGUN! WAKTU KALIAN TIGA MENIT UNTUK BERKUMPUL DI LAPANGAN APEL!" teriakan Sersan Mayor Hendrick bergema menggelegar dari speaker koridor, diselingi gedoran keras pada pintu-pintu kamar. "LENGKAP DENGAN SERAGAM LAPANGAN DAN SEPATU BOT! TIDAK ADA ALASAN!"
Seketika itu juga, kekacauan melanda Kamar Nomor 07.
"APA-APAAN INI?!" jerit Lucas yang kaget setengah mati hingga hampir terjatuh dari ranjang tingkat atasnya. Pria itu sibuk mencari kacamata minusnya dalam kegelapan, meraba-raba meja hingga membalikkan cangkir air kalengnya.
"Sial, jariku tersangkut di lubang celana!" erang Daniel yang panik setengah mati. Dalam kegelapan dan kebingungan, ia mencoba memasukkan kedua kakinya ke dalam satu lubang celana taktikal, membuatnya tersandung dan jatuh telungkup di lantai beton dengan suara BRUK yang lumayan keras.
Di tengah kepanikan delapan peserta pria lainnya yang saling bertabrakan, grasa-grusu mengikat tali sepatu bot, dan mencari kaos kaki yang hilang, Evander berdiri di samping ranjangnya dengan ketenangan yang hampir mengesalkan.
Pria itu sudah rapi—rambut cokelat gelapnya tersisir rapi meski agak basah, pakaian seragam latihannya terpasang sempurna, dan tali sepatu botnya sudah terikat rapat sejak menit pertama sirene berbunyi.
"Evander! Kau ini manusia atau robot, sih?!" desis Daniel dari lantai, menyenggol kaki Evander sembari sibuk memasang sepatu. "Bagaimana bisa kau sudah siap secepat ini?!"
Evander hanya tersenyum tipis, merapikan kerah kaosnya. "Latihan disiplin. Dan satu saran, Daniel: celanamu terbalik."
Daniel menunduk, melotot melihat ritsleting celananya ada di belakang, lalu meratapi nasibnya dengan erangan frustrasi.
Sementara itu, di barak wanita, keadaannya tiga kali lipat lebih dramatis.
"SVEA! SEPATU KANANKU MANA?!" jerit Alessia hysteris. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini mengembang liar seperti sarang burung karena baru bangun tidur. Ia berlutut di lantai, mengaduk-aduk kolong tempat tidur dengan mata setengah terpejam.
"AKU NGGAK TAHU, ALE! INI SEPATU SIAPA YANG AKU PAKAI JUGA AKU NGGAK TAHU!" balas Svea tak kalah heboh.
Wanita itu sibuk memakai topi lapangan dengan posisi terbalik, sementara satu tangannya berusaha menyisir rambutnya yang kusut menggunakan jemari. "CEPATAN, ALE! NANTI KITA DISURUH MERAYAP DI LUMPUR BERSAMA ANJING PELACAK!"
...°°°°°...
Tepat pukul 05.03, seluruh 35 peserta berlarian keluar dari gedung, menghentak-hentakkan kaki mereka yang masih kaku menuju lapangan apel yang basah oleh embun pagi.
Formasi barisan yang terbentuk benar-benar menyedihkan sekaligus menggelikan. Beberapa pria memakai topi miring, Daniel menyilangkan kancing kemeja latihannya hingga bagian bawahnya condong ke kanan, sementara beberapa wanita tampak menahan dingin sembari gemetaran dalam balutan jaket yang belum terkancing sempurna. Alessia berdiri di barisan tengah dengan satu tali sepatu yang sama sekali belum terikat, matanya merah karena masih mengantuk berat.
Di hadapan barisan, Zacheriyya berdiri tegak di atas panggung rendah. Ia mengenakan jaket taktikal hitam dengan lambang EOD, celana tempur yang rapi, dan memegang sebuah papan jepit kayu serta peluit di tangannya.
Di sampingnya, Sersan Mayor Hendrick melipat tangan dengan wajah tanpa ekspresi.
Zacheriyya menyapu pandangannya ke arah barisan. Matanya berkedip lambat melihat pemandangan absurd di hadapannya.
"Tiga menit lima puluh detik," ujar Zacheriyya dengan suara lantang yang dingin dan jernih. "Kalian terlambat lima puluh detik dari instruksi. Dan lihat diri kalian. Formasi ini lebih mirip rombongan pengungsi bencana daripada peserta pelatihan tanggap darurat militer Los Angeles!"
Beberapa peserta menundukkan kepala, mengutuki nasib mereka.
"Lihat Peserta Daniel," lanjut Zacheriyya, menunjuk Daniel dengan pena di tangannya. "Kancing kemejamu tidak simetris. Apakah kau mengancingkan baju sambil memejamkan mata?"
GELAK TAWA kecil pecah dari barisan. Daniel hanya bisa menyengir pasrah sembari membetulkan kancing bajunya secepat kilat.
"Dan Peserta Alessia," pandangan Zacheriyya bergeser. "Tali sepatu kirimu berisiko membuatmu terkilir di langkah ke-ten. Perbaiki sekarang!"
Alessia langsung berjongkok panik, mengikat tali sepatunya dengan tangan gemetaran.
Namun, di tengah inspeksi tegas itu, mata Zacheriyya akhirnya hinggap pada sosok yang berdiri paling ujung di barisan pria.
Evander berdiri sangat tegap. Postur tubuhnya sempurna, seragamnya bersih tanpa cacat, topi lapangannya terpasang presisi dua sentimeter di atas alis. Namun yang membuat dada Zacheriyya mendadak berdesir kesal adalah raut wajah pria itu.
Evander menatap Zacheriyya dengan pandangan yang terlalu santai, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan rasa percaya diri dan ketampanan yang sangat menyebalkan.
Pria itu tampak seolah sedang berdiri di panggung peragaan busana, bukannya di lapangan apel militer jam lima pagi.
Zacheriyya melangkah turun dari panggung rendah, berjalan mendekati barisan pria. Roda sepatu botnya menginjak rumput basah. Ia sengaja berhenti tepat di depan Evander, mendongak sedikit untuk menatap wajah suaminya.
"Peserta Evander," panggil Zacheriyya dingin, menatap mata cokelat jernih milik pria itu.
"Siap, Instruktur Zacheriyya," jawab Evander dengan nada tegas yang dibuat-buat, namun matanya memancarkan kehangatan rahasia yang mengunci tatapan Zacheriyya.
"Kau tampak sangat siap pagi ini," ujar Zacheriyya sembari memutar tubuh mengelilingi Evander, seolah sedang memeriksa kekurangan kecil dari penampilannya. "Tapi ingat, kerapian penampilan tidak ada artinya jika kau tidak bisa menyelesaikan lari penyesuaian lima mil pagi ini."
Zacheriyya berhenti di samping Evander, merendahkan suaranya hingga hanya bisa didengar oleh pria itu ketika Sersan Mayor Hendrick sedang berjalan ke arah barisan wanita.
"Dan berhentilah tersenyum seperti itu," bisik Zacheriyya tajam namun halus. "Kau membuat beberapa peserta wanita di barisan sebelah hilang fokus sejak tadi."
Evander tidak memutar kepalanya, tetap menatap lurus ke depan sesuai prosedur militer. Namun bisikan balasannya terdengar sangat jelas dan penuh godaan di telinga Zacheriyya.
"Aku tidak bisa menahannya, Instruktur," bisik Evander dengan suara bass-nya yang sangat rendah. "Melihat istriku sendiri berdiri sangat anggun dan galak di jam lima pagi adalah pemandangan terbaik untuk memulai hari."
Pipi Zacheriyya langsung terasa hangat. Ia mengetukkan papan jepitnya pelan ke lengan Evander—gerakan yang terlihat seperti teguran fisik dari pengawas di mata orang lain.
"Dua puluh kali push-up setelah lari nanti, Peserta Evander. Karena mengobrol saat barisan," desis Zacheriyya sebelum berbalik dan melangkah kembali ke panggung utama.
Evander hanya menahan tawa renyahnya, membalas dalam hati: Jual mahal seperti biasa, Cher. Tapi aku tahu kau menyukainya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"LARI! ANGKAT KAKI KALIAN! JANGAN ADA YANG MANJA!"
Suara terompet dan peluit Sersan Mayor Hendrick bergema di sepanjang jalur tanah berdebu yang membelah perbukitan belakang markas EOD Los Angeles. Udara pagi yang dingin kini perlahan menghangat seiring terbitnya matahari.
Program lari lima mil (delapan kilometer) pagi itu menjadi mimpi buruk nyata bagi sebagian besar warga sipil.
Jalur perbukitan yang menanjak, tanah yang agak licin sisa hujan semalam, dan kelelahan fisik membuat barisan peserta terpecah menjadi beberapa kelompok terpisah.
Svea berlari di kelompok depan bersama Daniel dan Lucas. Wanita itu ternyata memiliki ketahanan fisik yang lumayan, terengah-engah namun terus memotivasi dirinya sendiri.
Sementara itu, jauh di kelompok paling belakang... Alessia berjuang setengah mati.
"Aku... aku mau mati saja..." rengek Alessia dengan napas memburu, wajahnya yang cantik kini pucat pasi dan dipenuhi bulir-bulir keringat. Langkah kakinya sudah sangat berat, seolah dipasangi bongkahan timah. "Svea... tega sekali kamu meninggalkan aku..."
Alessia hampir saja menyerah dan terduduk di pinggir jalan tanah ketika tiba-tiba sebuah tangan kekar merangkul bahunya dari samping, menopang sebagian berat tubuhnya tanpa menghentikan ritme lari.
"Jangan berhenti sekarang, Alessia. Kalau kau duduk, otot kakimu akan kram parah," suara Evander terdengar di sampingnya.
Pria itu berlari kecil dengan sangat stabil, bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda kehabisan napas yang berarti.
Alessia menengadah dengan mata berkaca-kaca. "Evander... tolong katakan pada negosiator EOD untuk menembakku sekarang juga... aku tidak kuat lagi..."
Evander terkekeh pelan, menyesuaikan langkahnya agar Alessia bisa terus bergerak. "Sedikit lagi. Di atas bukit itu adalah garis finish. Kalau kau pingsan di sini, Cherry—maksudku Instruktur Zacheriyya—yang akan turun tangan menyirammu dengan air es."
Mendengar nama Zacheriyya dan ancaman air es, Alessia langsung mendapat sedikit dorongan tenaga panik. "Jangan! Dia benar-benar akan melakukannya! Ayo berlari lagi!"
...°°°°°...
Di puncak bukit, Zacheriyya berdiri di dekat mobil jeep taktikal yang terparkir. Tangannya memegang stopwatch dan teropong lapangan. Ia sedang mengawasi jalannya lari dari ketinggian.
Melalui lensa teropongnya, Zacheriyya melihat bagaimana Evander dengan sabar membantu Alessia yang kepayahan, perlahan-lahan menuntun sahabatnya itu mendekati garis finish.
Tidak hanya itu, Zacheriyya juga memperhatikan hal lain: Evander beberapa kali menyapa dan menyemangati peserta pria lain yang kelelahan, menunjukkan jiwa kepemimpinan alaminya yang begitu karismatik.
Zacheriyya menurunkan teropongnya, helaan napas halus keluar dari bibirnya. Di balik sifat menyebalkan dan kejahilannya yang tak ada habisnya, Evander memang selalu menjadi sosok pria yang hangat, peduli, dan dapat diandalkan oleh siapa saja di sekitarnya. Hal itulah yang membuat Zacheriyya jatuh cinta setengah mati pada pria itu tahunan lalu.
Ketika kelompok terakhir yang dipimpin Evander dan Alessia akhirnya melintasi garis finish di puncak bukit, sebagian besar peserta langsung ambruk menungkup di atas rumput, meratapi rasa sakit di sekujur tubuh mereka.
Alessia terduduk kaku, memegangi dadanya sembari bernapas serak. Svea langsung berlari menghampiri sahabatnya, merasa bersalah. "Ale! Maafkan aku! Kamu nggak apa-apa, kan?!"
"Jangan... bicara... padaku... selama... dua jam..." respon Alessia terbata-bata dengan napas memburu.
Zacheriyya melangkah mendekati area pendaratan. "Istirahat sepuluh menit! Ambil air minum di bagian belakang jeep!" perintahnya pada seluruh peserta.
Sementara para peserta lain mengerubungi tangki air dan minum dengan serak, Evander berjalan agak memisahkan diri menuju tepi bukit yang menghadap langsung ke pemandangan Kota Los Angeles yang mulai tersiram sinar matahari pagi.
Pria itu menyapu keringat di dahinya dengan lengan kaosnya, bernapas agak dalam.
Zacheriyya melangkah menuju jeep, mengambil dua botol air mineral dingin. Ia berjalan melintasi area istirahat, berpura-pura sedang melakukan patroli pengawasan.
Saat melewati posisi Evander yang membelakanginya, Zacheriyya meletakkan satu botol air mineral dingin di atas batuan besar tepat di samping tangan Evander—tanpa menghentikan langkahnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Gerakan itu begitu cepat, halus, dan luput dari perhatian peserta lain yang sedang sibuk meratapi nasib kram otot mereka.
Evander menoleh, melihat botol air mineral berembun yang diletakkan di sampingnya. Ia mengangkat kepala, menatap punggung Zacheriyya yang sedang melangkah menjauh sembari memberikan instruksi pada Sersan Mayor Hendrick dengan nada tegas.
Evander mengambil botol air dingin itu. Di bagian penutup botolnya, terdapat satu goresan kecil berbentuk bintang—tanda yang biasa dibuat Zacheriyya jika memberikan minuman khusus untuknya.
Evander membukanya, menyesap air dingin segar itu hingga separuh botol. Rasa dingin yang menjalar di tenggorokannya seolah membuang seluruh rasa lelah di tubuhnya.
Pria itu menatap Zacheriyya dari kejauhan. Perhatian dari jauh, rasa peduli yang disembunyikan di balik ketegasan seragam militer, dan kehangatan kecil yang selalu diberikan sang calon Kekasihnya di tengah situasi tersulit sekali pun—semua itu membuat senyuman paling tulus dan hangat terukir manis di wajah Evander.
Dua bulan di pelatihan EOD Los Angeles ini mungkin akan penuh dengan siksaan fisik dan kelelahan, tapi bagi Evander, setiap detiknya adalah momen berharga yang tak akan pernah ia sesali.
Zacheriyya yang sedang berdiri di dekat jeep melirik sekilas melalui kaca spion mobil. Ia melihat Evander sedang meminum air darinya sembari menatapnya dengan senyuman hangat dari kejauhan.
Zacheriyya menundukkan kepalanya sedikit, menyembunyikan senyuman manis yang akhirnya lolos di bibirnya di balik kerah jaket taktikalnya.
omg evander aku padamu😘😘
gemes deh ama merka berdua