Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hangat di Kamar Sari
Suara rintik hujan sore itu terdengar konstan, beradu dengan suara pendingin ruangan yang menyala pelan di dalam kamar Sari. Kamar itu selalu menjadi tempat paling aman bagi mereka bertiga. Nuansanya tenang, dengan cat dinding berwarna krem, aroma lilin terapi lavender yang menenangkan, serta hamparan karpet bulu tebal di lantai yang kini dipenuhi oleh beberapa bungkus camilan, botol soda, dan semangkuk besar seblak buatan mereka sendiri.
Kirana duduk selonjoran sambil memeluk bantal sofa bermotif bunga, sementara Maya sudah berbaring telentang di sampingnya dengan ponsel yang menempel di dada. Sari sendiri duduk bersandar pada dipan tempat tidur, memegang cangkir tehnya dengan pembawaan yang selalu tenang dan santai.
"Gila ya, akhirnya proyek monster lo sama si Beruang Kutub kelar juga, Ra!" seru Maya membuka obrolan, langsung membalikkan tubuhnya menjadi tengkurap dan menatap Kirana dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu. "Gue beneran kepo. Sekarang setelah proyeknya udah resmi ditutup, gimana progresi hubungan lo sama Bima? Atau... jangan-jangan lo malah makin lengket sama Kak Danu setelah kejadian nemenin nyari kado itu?"
Kirana yang sedang mengunyah keripik kentang mendadak tersedak kecil. Ia buru-buru meneguk air mineral di dekatnya, wajahnya langsung merona merah. "Apaan sih, May! Nggak ada progresi apa-apaan. Kan emang dari awal gue sama Bima cuma sebatas rekan tim proyek. Sekarang setelah drafnya kelar dan dapet nilai A, ya kita balik ke kesibukan masing-masing. Bima ya sibuk di lab Teknik, gue ya di kelas Sastra."
"Halah, klasik banget jawaban lo, kayak draf novel belum revisi!" cibir Maya sambil melempar sebutir popcorn ke arah Kirana. "Nggak usah bohong deh. Kemarin pas di rektorat, anak-anak yang lewat koridor pada liat muka Bima ketat banget pas Kak Danu dateng bawa kue. Itu namanya radar cemburu Teknik lagi konslet, Kirana!"
Sari terkekeh pelan melihat Kirana yang semakin kelabakan. Ia meminum tehnya sedikit, lalu menimpali tanpa nada menggurui. "Tapi serius, Ra. Di antara mereka berdua, perhatian siapa yang paling bikin kamu kepikiran pas malam hari? Kadang, rasa bingung itu muncul karena kamu sebenernya udah tahu jawabannya, tapi kamu takut buat ngakuinnya."
Kirana menghela napas panjang, menenggelamkan separuh wajahnya di balik bantal yang ia peluk. "Jujur... Gue bingung banget, Sar, May. Kak Danu itu baik banget, pembawaannya lembut, sopan, dan kalau ngomong sama Gue selalu bikin ngerasa dihargai banget sebagai cewek. Tapi Bima... dia emang kaku, ketus, dan nyebelin banget kalau ngomong. Tapi semua tindakan kecil dia, kayak plester beruang atau kata kata perhatiannya, anehnya itu selalu berhasil bikin jantung Guemau copot. Gue beneran nggak paham sama teori perasaan begini."
"HAHH BENERAN DIA GITU??? Tapi ya, itu namanya lo udah mulai kesangkut sama pesona kaku anak Teknik!" goda Maya yang awalnya kaget sekarang berubah menjadi tertawa puas, menikmati ekspresi pasrah di wajah Kirana.
Kirana yang tidak mau terus-terusan menjadi pusat interogasi langsung memutar arah pembicaraan. Ia menunjuk Maya dengan ujung jarinya yang sudah bebas dari plester. "Eh, jangan gue terus ya yang dipojokin! Gimana progresi lo sendiri sama Adit, hah? Kemarin katanya Adit mau nganterin lo balik, tapi kok gue liat lo malah pulang bareng anak dkv?"
Mendengar nama Adit disebut, wajah Maya yang tadinya ceria langsung berubah menjadi cemberut. Ia memutar bola matanya malas, lalu melempar bantal kecil ke lantai. "Ih, jangan diingetin, Ra! Menyebalkan banget tahu nggak si Adit itu! Masa kemarin pas gue kodein kalau tangan gue pegal habis praktikum, dia bukannya peka malah ngasih gue minyak angin cap kapak punya neneknya! Terus dia bilang, 'Nih, gosok sendiri, biar aliran darah lo lancar secara mekanis.' Kan penonton kecewa! Makanya gue sengaja pulang bareng anak DKV biar dia tahu rasa!"
Ruang kamar Sari seketika pecah oleh tawa renyah Kirana dan senyuman maklum dari Sari. Hubungan Maya dan Adit memang selalu dipenuhi drama komedi akibat Adit yang terlalu lurus sebagai anak Teknik dan Maya yang terlalu ekspresif sebagai anak Komunikasi.
Setelah tawa mereka mulai mereda, Kirana mengalihkan pandangannya ke arah Sari yang sejak tadi hanya menjadi pendengar yang baik. Kirana menopang dagunya di atas bantal, menatap sahabatnya yang selalu tampak damai itu.
"Ngoomong-ngomong soal cowok... Sar, gue sama Maya beneran penasaran deh. Lo kan cantik, pinter, kalem, dan banyak banget anak Psikologi atau fakultas lain yang terang-terangan nyoba ngedeketin lo. Tapi kenapa sih lo selalu nolak dan kayak nggak tertarik buat pacaran sama sekali? Emangnya nggak ada satu pun yang masuk kriteria lo?" tanya Kirana penasaran.
Maya langsung ikut bergeser mendekat ke arah dipan Sari, mendukung pertanyaan Kirana dengan antusias. "Iya, Sar! Jujur ya, lo itu dapet predikat 'Gadis Kalem Idaman' di angkatan kita. Tapi kenapa hati lo kayak benteng rongsokan yang susah banget ditembus? Cerita dong, jangan disimpan sendiri mulu."
Sari menatap kedua sahabatnya bergantian, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman khasnya yang misterius namun menenangkan. Ia meletakkan cangkir tehnya di atas nakas, lalu melipat kedua tangannya di atas lutut.
"Sebenernya bukan karena aku nggak mau pacaran atau pasang kriteria yang ketinggian, May, Ra," jawab Sari dengan nada suara yang sangat lembut dan teratur. "Aku cuma ngerasa, untuk saat ini, duniaku udah cukup penuh dan seru dengan melihat tingkah ajaib kalian berdua. Lagipula, aku lebih suka mengamati dinamika hubungan orang lain daripada harus terlibat di dalamnya. Pacaran itu butuh komitmen energi yang besar, dan untuk sekarang, energi aku lebih mau aku pakai buat nyelesein draf teori kuliah dan nemenin kalian dapet pacar anak Teknik."
"Yah, Sari mah jawabannya selalu diplomatis banget!" protes Maya sambil mengerucutkan bibirnya, meskipun di dalam hati ia sangat menghargai prinsip sahabatnya itu.
"Tapi beneran, Sar, kalau suatu saat ada cowok yang beneran bisa bikin lo tertarik, lo harus langsung cerita ke kita ya!" pinta Kirana sambil tersenyum tulus, yang langsung diangguk setuju oleh Sari.
Sore itu, di dalam kamar yang hangat, obrolan mereka terus mengalir tanpa arah yang pasti. Dari masalah draf proyek yang sudah usai, tingkah kaku Bima, perhatian manis Danu, hingga kekonyolan Adit, semuanya melebur menjadi satu. Kirana merasakan beban di dadanya perlahan-lahan terangkat.
Meskipun kerumitan hubungannya dengan Bima dan Danu belum menemukan jalan keluar, memiliki sahabat seperti Maya dan Sari membuat Kirana sadar bahwa ia tidak perlu terburu-buru untuk menyusun akhir dari narasinya sendiri.