NovelToon NovelToon
Teratai Pedang Sembilan Kematian

Teratai Pedang Sembilan Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
​Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Lonceng Kematian di Gerbang Awan

​Cahaya matahari sore terasa menyilaukan saat Lin Tian dan Lin Chen melangkah keluar dari terowongan utama Tambang Batu Hitam. Udara segar yang bebas dari miasma beracun menyapu wajah mereka. Bagi Lin Chen, ini adalah udara kebebasan yang sudah setahun tidak ia rasakan. Namun bagi Lin Tian, ini hanyalah udara sebelum badai.

​Di pelataran luar, para budak yang sedang mengantre untuk menyetor Batu Hitam terdiam. Perhatian mereka tertuju pada sosok Lin Tian yang kini mengenakan jubah murid dalam milik mendiang Su Ming. Meskipun jubah itu sedikit kebesaran dan kotor oleh debu, aura beringas yang memancar dari pemuda berwajah dingin itu membuat tidak ada satu pun yang berani bersuara.

​Di ujung pelataran, Mandor Tie yang sedang bersantai di kursi batunya tiba-tiba tersedak arak. Matanya melotot menatap jubah dan kantong penyimpanan giok di pinggang Lin Tian.

​"I-Itu jubah Tuan Muda Su!" Mandor Tie bangkit berdiri dengan gemetar. Jantungnya berdegup kencang. Jika Su Ming mati di tambang ini, seluruh staf penjaga akan dieksekusi oleh sekte!

​"Lin Tian! Kau bajingan cacat! Apa yang kau lakukan pada Tuan Muda Su?!" raung Mandor Tie, menarik cambuk berdurinya. "Penjaga! Bunuh dia! Cincang dagingnya sekarang juga!"

​Puluhan penjaga tambang yang dipersenjatai golok besar dan tombak beraura Qi tingkat rendah segera mengepung Lin Tian dan Lin Chen.

​Lin Chen mundur selangkah, namun Lin Tian bahkan tidak menghentikan langkah kakinya. Ia terus berjalan dengan ritme yang santai, menatap lurus ke arah Mandor Tie seolah kerumunan penjaga berwajah beringas di sekitarnya hanyalah ilusi.

​"Mati kau!" Dua penjaga di garis depan mengayunkan golok mereka ke leher Lin Tian.

​Lin Tian tidak menghindar, tidak juga mengangkat tangannya. Saat golok itu berjarak satu inci dari kulitnya, tubuh perunggunya bereaksi secara alami. Otot di leher dan bahunya menegang secara mikroskopis.

​TRANG! TRANG!

​Dua golok besar setebal tiga jari itu memantul keras, bilahnya retak dan pecah berkeping-keping. Gaya pantul yang mengerikan mengalir kembali ke tangan para penjaga, membuat tulang lengan mereka remuk seketika. Keduanya menjerit histeris dan jatuh berlutut.

​Penjaga lain terkesiap, langkah mereka terhenti. Sihir kebal macam apa ini?!

​Lin Tian terus melangkah menembus kepungan. Tidak ada yang berani menebasnya lagi. Mereka membuka jalan dengan sendirinya, gemetar ketakutan saat melihat mata Lin Tian yang sedingin jurang es.

​Mandor Tie panik. Ia menyalurkan seluruh energi Qi Pengumpulan Tingkat 5-nya ke dalam cambuk, meniatkan satu serangan mematikan ke arah mata Lin Tian.

​"Mati!"

​Cambuk itu melesat membelah udara dengan suara ledakan.

​Namun, Lin Tian hanya mengangkat tangannya dan menyentilkan jari telunjuknya ke arah depan, menyambut ujung cambuk itu.

​DUAAR!

​Sentilan murni bertenaga fisik itu menciptakan gelombang kejut udara yang mengerikan. Ujung cambuk hancur menjadi debu. Gelombang udara itu tidak berhenti, melesat lurus seperti meriam tak kasat mata dan menghantam dada Mandor Tie.

​BAM!

​Dada gempal Mandor Tie melesak ke dalam. Tubuhnya terlempar ke udara sejauh dua puluh meter, menabrak menara pengawas kayu hingga hancur berantakan. Darah menyembur dari mulutnya bak air mancur, dan ia mati bahkan sebelum tubuhnya menyentuh tanah.

​Keheningan total menyelimuti pelataran.

​Lin Tian berhenti melangkah di depan gerbang keluar tambang. Ia menoleh sedikit, menatap para penjaga dan budak yang masih mematung.

​"Mulai hari ini, Tambang Batu Hitam dibubarkan," suara Lin Tian menggema tenang, namun menembus hingga ke gendang telinga semua orang. "Larilah ke mana pun kalian mau. Jika ada tetua sekte yang mengejar kalian... katakan pada mereka bahwa Lin Tian yang melakukan ini."

​Tanpa menoleh lagi, Lin Tian melesat ke dalam hutan lebat di luar lembah, membawa Lin Chen bersamanya. Di belakang mereka, sorak-sorai kebebasan yang bercampur dengan isak tangis perlahan mulai terdengar.

​Tiga hari kemudian. Senja mulai turun di ufuk barat, digantikan oleh bulan purnama yang menggantung besar dan terang, memancarkan cahaya perak yang dingin.

​Gunung Awan Hijau berdiri megah menyentuh langit. Ribuan lentera merah menyala di sepanjang anak tangga batu yang berkelok-kelok menuju puncak sekte. Malam ini adalah malam perayaan bulanan sekte, namun di Puncak Awan Hukuman yang terletak di sisi barat gunung, auranya terasa jauh lebih suram dan tertutup.

​Di kaki gunung, tersembunyi di balik semak belukar yang rimbun, Lin Tian meletakkan tubuh Lin Chen. Perjalanan tiga hari tiga malam menembus hutan pegunungan tanpa henti menguras tenaga Lin Chen yang baru saja pulih. Lin Tian sendiri, berkat tubuh Baja Pembelah Urat-nya, bahkan tidak berkeringat setetes pun.

​"Kita sudah sampai," bisik Lin Tian, menatap gerbang batu raksasa Sekte Awan Hijau dari kejauhan.

​"Kak Tian..." Lin Chen memegang lengan jubah Lin Tian. Wajah remaja itu penuh dengan kekhawatiran. "Mereka memiliki formasi pertahanan, ribuan murid, dan puluhan Tetua berinti Emas. Kau sendirian... Ini bunuh diri."

​Lin Tian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun kecuali keluarganya. Ia menepuk kepala Lin Chen perlahan.

​"Dulu, aku percaya bahwa sekte adalah pelindung kita. Tapi mereka mengajarkanku satu kebenaran yang keras, Chen. Di dunia ini, keadilan tidak dibicarakan dengan mulut, melainkan ditegakkan dengan pedang. Dan karena aku tidak punya pedang..."

​Lin Tian mengepalkan tangan kanannya hingga urat-urat keperungguannya menonjol, mengeluarkan suara decitan logam yang ngilu.

​"...maka aku yang akan menjadi pedang itu."

​"Tunggu di sini. Bersembunyilah," perintah Lin Tian, bangkit berdiri. "Sebelum matahari terbit besok, aku akan membawa Lin Xue kembali ke sini. Jika aku tidak kembali... pergilah sejauh mungkin ke selatan."

​Tanpa menunggu jawaban, Lin Tian melesat keluar dari semak-semak. Gerakannya tidak lagi seperti manusia, melainkan seperti bayangan iblis yang membelah angin.

​Di depan Gerbang Utama Sekte Awan Hijau, empat murid luar sedang berjaga. Mereka bersandar santai pada pilar batu berukir naga, tertawa dan bertukar cerita tentang pembagian pil bulan ini.

​Tiba-tiba, embusan angin yang sangat kencang menyapu debu di anak tangga batu.

​Keempat murid itu terkesiap, mengangkat senjata mereka ketika melihat sesosok pemuda berjubah abu-abu kusam berdiri tepat di tengah-tengah gerbang batu setinggi sepuluh meter tersebut. Pemuda itu menunduk, wajahnya tersembunyi di balik bayang-bayang.

​"Siapa di sana?! Ini area terlarang Sekte Awan Hijau! Sebutkan namamu atau kami akan menyerang!" bentak pemimpin penjaga.

​Pemuda itu perlahan mengangkat wajahnya. Mata yang sedingin jurang es menatap mereka.

​Dua dari murid penjaga itu adalah angkatan yang sama dengan Lin Tian. Saat mereka mengenali wajah yang dipenuhi debu dan aura kematian itu, mata mereka membelalak ngeri.

​"L-Lin Tian?! Bukankah... bukankah Dantianmu sudah dihancurkan dan kau dibuang ke Lembah Kematian?!" salah satu murid tergagap mundur. "B-Bagaimana kau bisa hidup?! Tidak ada Qi di tubuhmu, kau hanya hantu!"

​Lin Tian tidak menjawab. Ia mengabaikan keempat penjaga itu, matanya hanya tertuju pada gerbang batu raksasa di depannya—simbol kebanggaan, kesombongan, dan kezaliman Sekte Awan Hijau. Plakat besar bertuliskan "Keadilan Melampaui Awan" tergantung arogan di puncaknya.

​"Keadilan," gumam Lin Tian sinis.

​Ia menarik lengan kanannya ke belakang. Otot-ototnya membesar sesaat, memancarkan warna perunggu gelap. Udara di sekitarnya mulai berputar, terhisap oleh tekanan tenaga fisik murni yang memadat di kepalan tangannya.

​"Hei! Apa yang kau lakukan?! Menjauh dari gerbang!" teriak para penjaga, menyadari ada sesuatu yang tidak beres, meski mereka tidak merasakan aura sihir sama sekali.

​Lin Tian melangkah satu kali. Anak tangga batu di bawah kakinya hancur menjadi debu.

​Lalu, ia melayangkan tinjunya menghantam pilar utama gerbang raksasa itu.

​DDUUUAAARRR!!!

​Suara ledakan yang dihasilkan murni dari gaya kinetik itu mengalahkan suara petir di musim hujan. Gelombang kejut beringas menyapu area sekitar, mementalkan keempat penjaga sejauh puluhan meter hingga mereka muntah darah dan pingsan.

​Gerbang batu berukir naga setinggi sepuluh meter, yang telah berdiri selama seribu tahun dan dilindungi oleh formasi pelindung sekte, hancur berkeping-keping menjadi hujan batu. Plakat bertuliskan "Keadilan Melampaui Awan" terbelah dua dan jatuh berdebam di tanah, tepat di bawah injakan kaki Lin Tian.

​Ledakan dahsyat itu menggetarkan seluruh gunung. Lonceng Peringatan Emas di puncak sekte, yang terhubung dengan formasi pelindung gerbang, berdentang secara otomatis.

​TENGGG! TENGGG! TENGGG!

​Lonceng kematian telah berbunyi. Perayaan terhenti. Ribuan murid dan puluhan Tetua yang sedang berpesta menoleh ke arah gerbang gunung dengan wajah terkejut dan marah. Siapa yang berani menyerang Sekte Awan Hijau?!

​Di tengah kepulan debu gerbang yang hancur, suara Lin Tian yang dilapisi tenaga dalam membelah malam, menggema hingga ke puncak Puncak Awan Hukuman.

​"Zhao Feng! Serahkan adikku, atau malam ini aku akan mengubur seluruh sektemu bersama dengan kepalamu!"

1
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪👍💪👍💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!