Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
doa nanda
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Nadia.
Pesan dari Bu Rosidah, bendahara sekolah Nanda.
Ibu Nadia, kami mengingatkan bahwa pembayaran study tour Nanda sebesar Rp2.000.000 belum kami terima. Mohon konfirmasinya. Terima kasih.
Di bawah pesan itu terlampir foto rincian tagihan.
Biasanya, Nadia akan langsung membuka aplikasi mobile banking dan mentransfer tanpa berpikir dua kali.
Namun kali ini tidak.
Jemarinya bergerak pelan mengetik balasan.
Mohon informasi ini juga disampaikan ke nomor suami saya. Terima kasih.
Setelah mengirim pesan itu, Nadia meletakkan ponselnya.
Dadanya terasa sesak.
Namun ada sedikit kepuasan yang sulit ia jelaskan.
Untuk pertama kalinya, ia berhenti mengambil alih tanggung jawab yang seharusnya bukan miliknya seorang diri.
Hari itu, Nadia sama sekali tidak berbicara dengan Yuni.
Mereka berada di rumah yang sama, tetapi seolah hidup di dua dunia yang berbeda.
Yuni lebih banyak berdiam di kamar.
Nadia pun melakukan hal yang sama.
Menjelang pukul satu siang, mobil jemputan dari sekolah internasional Nanda berhenti di depan rumah.
Nadia segera keluar.
Begitu pintu mobil terbuka, ia langsung menyadari ada yang tidak beres.
Wajah Nanda tampak pucat.
Kelopak matanya sayu.
Nadia meletakkan telapak tangan di dahi anak itu.
“Ya Allah… panas sekali.”
Nanda tidak menjawab.
Ia hanya memeluk Nadia erat-erat.
“Bunda… kepala Nanda pusing. Gendong, ya.”
Suara kecil itu membuat hati Nadia mencelos.
“Ya, Sayang.”
Dengan satu tangan, Nadia menggendong Nanda. Tangan lainnya membawa tas sekolah.
Setelah sampai di kamar, ia membantu Nanda berganti pakaian, lalu menyiapkan makan siang dan obat.
Nanda bersandar lemah di tempat tidur.
Sambil menyuapinya, Nadia bertanya lembut.
“Nanda, waktu di Puncak kemarin kamu makan apa saja?”
Nanda terdiam.
Wajah mungil itu tampak tegang.
Nadia mengusap rambutnya dengan penuh kasih.
“Katakan saja. Bunda tidak akan marah.”
Nanda menunduk, meremas jemarinya sendiri.
“Katakan, Sayang. Bunda janji tidak marah.”
Suara Nanda terdengar pelan.
“Nanda makan es krim… minum sirup… sama bakso.”
“Pakai saus?”
Nanda mengangguk.
“Iya.”
“Warna sausnya bagaimana?”
“Merah tua.”
Nadia memejamkan mata.
Pantas saja tubuh Nanda demam.
Selama ini, Nadia selalu menjaga makanan anak itu dengan sangat ketat.
Tidak terlalu banyak gula.
Tidak terlalu banyak penyedap.
Tidak makanan yang dapat memicu alergi.
Itulah sebabnya ia selalu cemas setiap kali Nanda pergi tanpa dirinya.
“Tuh, kan. Bunda marah,” ucap Nanda dengan wajah bersalah.
Nadia segera memeluk anak itu erat-erat.
“Bunda tidak marah.”
Ia mengecup rambut Nanda.
“Bunda hanya sedih. Kenapa kalau Bunda tidak ada, Nanda selalu makan sembarangan? Sekarang Nanda sakit, kan?”
Dari balik pelukan, terdengar suara kecil penuh penyesalan.
“Maafkan Nanda, Bunda.”
Air mata Nadia nyaris jatuh.
Ia mengusap pipi putrinya.
“Sekarang makan dulu, ya.”
“Suapin.”
Nadia tersenyum.
“Baik.”
Ia menyuapi Nanda dengan sabar hingga makanan habis.
Setelah itu, ia memberikan obat sirup.
Nanda meminumnya tanpa protes.
“Sekarang istirahat.”
“Bunda temani?”
“Selalu.”
Nadia menunggu sampai napas Nanda kembali teratur.
Barulah ia keluar dari kamar.
Di ruang makan, Yuni sedang makan siang ditemani Mbak Tari.
Begitu melihat Nadia keluar dari kamar Nanda, Yuni langsung berkata,
“Tari, belikan gorengan.”
Mbak Tari menoleh ragu ke arah Nadia.
Namun Nadia berjalan begitu saja menuju kamarnya.
Tak berkata apa-apa.
Mbak Tari akhirnya bertanya,
“Uangnya, Bu?”
Yuni terdiam beberapa detik.
Lalu mendengus.
“Tidak jadi. Saya memang tidak boleh makan makanan berminyak.”
Mbak Tari menggaruk kepala.
Hari itu, ia merasa rumah majikannya dipenuhi suasana yang aneh.
Seolah semua orang sedang memainkan peran masing-masing.
Yuni menatap ke arah kamar Nadia.
“Dia sudah berubah, Tari.”
“Siapa, Bu?”
“Nadia.”
Mbak Tari mengangguk pelan.
“Iya, Bu. Saya juga merasa begitu.”
Ia ragu sejenak sebelum bertanya,
“Memangnya ada apa?”
Yuni menyandarkan punggung ke kursi.
“Suatu saat kamu akan tahu.”
Nada suaranya terdengar misterius.
Setelah makan, Mbak Tari mengambil obat dan segelas air.
“Bu, waktunya minum obat.”
Yuni langsung menelan obat itu tanpa membantah.
Mbak Tari sampai tertegun.
Dalam hati ia berpikir,
Kenapa dengan saya Bu Yuni begitu mudah minum obat, tetapi dengan Bu Nadia selalu banyak alasan?
……
Waktu terus berlalu.
Menjelang pukul lima sore, Nanda terbangun dari tidurnya.
Nadia yang sejak tadi menunggu di samping tempat tidur segera mengambil termometer dan memeriksa suhu tubuh putrinya.
Beberapa detik kemudian, ia mengembuskan napas lega.
Demam Nanda sudah turun.
“Bun, aku mau mengerjakan PR,” ucap Nanda sambil duduk.
Nadia tersenyum.
“Perlu Bunda temani?”
Nanda menggeleng.
“Enggak usah. Sebentar lagi Papah pulang. Bunda sambut saja Papah.”
Kalimat sederhana itu membuat hati Nadia mencelos.
Hubungan Raka dan Nanda memang sangat dekat.
Terlalu dekat.
Dan itulah yang membuat Nadia semakin takut.
“Baiklah,” ucapnya lembut. “Kamu kerjakan PR dulu, ya.”
Nanda mengangguk.
Nadia keluar dari kamar, lalu masuk ke kamarnya sendiri.
Di layar ponselnya, beberapa notifikasi dari pihak bank sudah menunggu.
Ibu Nadia, apakah deposito akan diperpanjang atau dicairkan?
Nadia menatap pesan itu cukup lama.
Awalnya, ia berniat mencairkan deposito tersebut untuk membantu Raka membangun perusahaan sendiri.
Ia ingin suaminya tidak selamanya bekerja untuk orang lain.
Ia ingin mereka tumbuh bersama.
Membangun sesuatu yang menjadi milik mereka berdua.
Namun semua rencana itu kini terasa ironis.
Raka justru memilih mengkhianatinya.
Dengan jemari sedikit gemetar, Nadia mengetik balasan.
Tolong tunggu satu minggu lagi.
Tak lama kemudian, balasan masuk.
Baik, Bu.
Nadia meletakkan ponselnya.
Satu minggu.
Ia memberi dirinya waktu satu minggu untuk menentukan arah hidupnya.
Waktu Magrib tiba.
Nadia mengambil wudu dan melaksanakan salat.
Setelah selesai, ia menuju kamar Nanda.
Gadis kecil itu sedang berdiri di atas sajadah, menunaikan salat Magrib dengan khusyuk.
Pemandangan itu membuat hati Nadia menghangat.
Apa pun yang terjadi, ia ingin memastikan Nanda tumbuh menjadi anak yang baik.
Biasanya, setelah salat, Nadia akan langsung menuju dapur.
Menghangatkan lauk.
Menyiapkan teh hangat.
Menyusun piring makan untuk Raka.
Namun malam itu, Nadia tidak melakukannya.
Ia tidak sanggup.
Terlalu berat rasanya melayani lelaki yang telah mengkhianatinya.
Tak lama kemudian, suara mobil Raka terdengar memasuki halaman.
Disusul derit pintu gerbang yang terbuka.
Nadia tetap duduk di ruang keluarga.
Televisi menyala, tetapi perhatiannya tidak tertuju ke sana.
Ia hanya menunggu Nanda selesai salat agar mereka bisa belajar bersama.
Pintu depan terbuka.
Raka masuk.
Tatapan mereka bertemu sejenak.
Namun tanpa mengatakan apa-apa, Raka langsung melangkah menuju kamar Nanda.
Beberapa detik kemudian, suara riang Nanda terdengar.
“Yeaay! Papah pulang cepat!”
Nadia tak kuasa menahan diri.
Ia melangkah mendekat dan berdiri di ambang pintu.
Di dalam kamar, Raka sedang duduk di samping Nanda.
Keduanya tertawa bersama.
Pemandangan yang selama ini selalu menghangatkan hati Nadia.
“Papah,” ujar Nanda dengan mata berbinar, “malam ini Papah sama Bunda mendongeng untuk Nanda bareng-bareng, ya? Kasihan Bunda, selama ini selalu Bunda terus yang mendongeng.”
Raka tersenyum.
“Iya, Sayang.”
Nadia terdiam.
Dadanya terasa sesak.
Untuk pertama kalinya, keyakinannya goyah.
Jika ia benar-benar pergi…
Apakah Nanda sanggup kehilangan sosok ayahnya?
Dan pertanyaan yang lebih menyakitkan muncul tanpa bisa ia cegah.
Apakah ia sendiri sanggup memisahkan Nanda dari orang yang begitu dicintainya
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭