NovelToon NovelToon
Aksara Cinta Sang Penulis

Aksara Cinta Sang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Gayuh gelagapan. Ia memutar otak secepat kilat untuk mencari alasan mengapa seorang Tryas Adiguna berada di rumah sekecil ini.

"E-eh... ini, aku sedang riset! Aku mau main film horor di sini. Peranku jadi gadis desa yang tinggal di rumah angker, jadi aku harus membiasakan diri," jawab Gayuh asal.

Jati harus sekuat tenaga menahan tawa hingga bahunya sedikit bergetar.

Jawaban itu benar-benar konyol, namun entah mengapa terdengar menggemaskan dari mulut Gayuh.

"Ooh, jadi begitu. Totalitas sekali ya," ucap Jati pura-pura kagum.

"Kalau begitu, selagi kamu di sini, Tryas, kamu ada waktu? Aku mau mengajakmu mengantarkan orderan."

Gayuh mengerjapkan matanya. "Hah? Mengantar orderan ojek? Memang aku boleh ikut? Memangnya tidak dimarahi kantormu?" tanya Gayuh dengan wajah polos yang sangat tulus.

Jati tersenyum tipis. "Tidak ada yang marahin. Perusahaannya milik temanku. Jadi aman."

Mendengar itu, rasa penasaran Gayuh sebagai penulis muncul.

Ia ingin merasakan sensasi membonceng ojol sambil bekerja.

"Boleh! Tunggu ya, aku mandi dulu. Sebentar saja!"

Gayuh segera berlari masuk ke dalam kamar. Mendengar suara kucuran air dari kamar mandi, Jati segera mengeluarkan ponsel pribadinya.

Wajahnya yang tadi ramah seketika berubah menjadi tegas dan penuh otoritas. Ia menghubungi Pak Gunawan.

"Pak Gun, catat alamat ini," ucap Jati dengan suara rendah namun mutlak.

"Cari pemilik kontrakan ini, beli rumahnya sekarang juga atas nama perusahaan bayangan. Setelah itu, renovasi rumah ini secara diam-diam. Perbaiki atapnya, cat ulang, dan buat jadi lebih layak."

"Tapi Tuan, bagaimana menjelaskannya pada penghuninya?" tanya Pak Gunawan di seberang sana.

"Beritahu Pak RT setempat untuk bilang pada penghuninya bahwa dia memenangkan hadiah undian renovasi rumah dari sebuah bank atau perusahaan. Pastikan dia tidak curiga kalau itu dariku."

Jati menutup ponselnya. Ia berdiri dan berjalan perlahan mengitari ruang tamu kecil itu.

Matanya mendongak, menatap langit-langit kayu yang sudah lapuk dan meninggalkan noda hitam akibat bekas bocor yang mengering.

"Tryas membuangku karena menganggapku sampah, dan kamu justru menerimaku dengan tangan terbuka di tempat sesederhana ini, Gayuh," gumam Jati lirih.

Ada rasa perih sekaligus hangat di dadanya. Ia tidak menyangka bahwa di dunia yang serba materialistis ini, ia justru bertemu dengan wanita yang mau menemaninya duduk di lantai yang dingin meski ia hanya mengaku sebagai pria yang habis kena tipu orderan fiktif.

"Akan kupastikan kamu mendapatkan istana yang layak, tanpa kamu perlu tahu siapa yang membangunnya," bisik Jati sesaat sebelum suara pintu kamar mandi terbuka.

Pintu kamar mandi terbuka, dan Gayuh keluar dengan wajah yang tampak jauh lebih segar. Rambutnya yang basah ia ikat asal, dan ia kembali mengenakan gaun pink yang semalam ia pakai—satu-satunya pakaian paling "pantas" yang ia miliki untuk tetap berperan sebagai Tryas di depan Jati.

Jati yang sedang berdiri menatap langit-langit rumah segera memutar tubuhnya.

Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang kali ini terasa sangat tulus dan dalam.

Kemudian ia meraih helm dari atas meja tamu dan memberikannya kepada Gayuh.

"Sudah siap? Ayo, kita antar orderan. Keburu pelanggannya lapar," ajak Jati hangat.

"Ayo!" jawab Gayuh dengan penuh semangat. Ada binar petualangan di matanya yang tidak bisa ia sembunyikan.

Mereka berjalan keluar menuju motor tua Jati yang terparkir di depan kontrakan.

Begitu mesin motor dinyalakan, Gayuh naik ke bangku penumpang dengan cekatan.

Tanpa ragu seperti semalam, kali ini ia langsung melingkarkan tangannya, memeluk tubuh Jati dengan erat agar tidak jatuh.

Jati sempat tertegun sejenak. Pelukan itu terasa begitu hangat dan nyata, jauh berbeda dengan kepalsuan yang biasanya ia temui di dunia bisnis. Ia pun menjalankan motornya membelah jalanan pagi yang mulai ramai.

Tujuan mereka adalah sebuah kedai pizza populer di pusat kota.

Rupanya, ada pelanggan yang memesan beberapa kotak pizza melalui aplikasi.

"Kamu tunggu di sini sebentar ya, aku harus antre di dalam," ucap Jati setelah mereka sampai.

Gayuh duduk di kursi tunggu yang disediakan di area luar kedai.

Ia memperhatikan punggung Jati yang sabar mengantre di antara pengemudi ojek online lainnya.

Tak lama kemudian, Jati keluar bukan membawa pesanan besar, melainkan sebuah kotak pizza kecil di tangannya.

Jati duduk di samping Gayuh dan membuka kotak itu.

Aroma keju dan oregano yang gurih langsung menyeruak.

"Pesanan orang lain masih dibuat, antreannya panjang. Jadi, aku beli ini untuk kita. Kita makan sambil menunggu pembuatannya selesai," ujar Jati sambil menyodorkan sepotong pizza hangat kepada Gayuh.

Gayuh menerima potongan itu dengan mata berbinar.

"Wah, makasih ya, Jat! Padahal tadi aku cuma mau menemanimu kerja, malah jadi ikut makan enak."

Jati terkekeh, matanya tidak lepas dari wajah Gayuh yang kini tampak sangat bahagia hanya karena sepotong pizza.

Di tempat ini, di keramaian pengemudi ojek dan aroma dapur, Jati merasa jauh lebih hidup daripada saat ia duduk di ruang rapat dewan direksi.

Ia menikmati setiap detik sandiwara ini, karena baginya, kebahagiaan Gayuh adalah sesuatu yang ingin ia jaga selamanya—meski wanita itu masih memanggilnya dengan nama yang salah.

Sambil mengunyah pizza hangat di tangan, Jati melirik Gayuh yang duduk di sampingnya.

Suasana riuh kedai pizza itu seolah meredup saat Jati mulai membuka percakapan yang membuat jantung Gayuh berdegup kencang.

"Sebenarnya, aku suka membaca novel di waktu senggang saat menunggu orderan," ucap Jati santai, matanya menatap lurus ke arah jalanan.

Gayuh tersedak kecil, ia segera menelan makanannya dengan susah payah.

"Be-benarkah? Seorang pria sepertimu suka baca novel?"

Jati mengeluarkan ponselnya, lalu membuka sebuah aplikasi novel digital yang sangat populer.

Ia menggeser layarnya dan menunjukkan sebuah profil penulis kepada Gayuh.

"Ada satu penulis yang sangat aku sukai karyanya. Namanya Gayuh Leksananingtyas," ucap Jati dengan nada suara yang terdengar sangat menghargai.

Gayuh terpaku. Ia menatap layar ponsel Jati yang menampilkan foto profil akun penulisnya—meskipun foto itu hanya siluet bunga, namun nama itu adalah nama aslinya.

"Novel-novelnya bagus-bagus. Bahasanya sederhana tapi sangat menyentuh. Aku selalu menunggu setiap bab barunya rilis. Sepertinya, penulis ini punya hati yang sangat tulus dalam menulis," lanjut Jati sambil menoleh ke arah Gayuh, menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam.

Gayuh yang ada di hadapannya hanya bisa tersenyum kecil.

Ada perasaan haru yang membuncah di dadanya, sekaligus rasa sesak karena ia tidak bisa mengakui identitasnya sekarang.

"Ini aku, Jati. Penulis yang kamu puji itu sedang duduk di sampingmu sekarang," ucap Gayuh dalam hati dengan rasa perih yang manis.

Gayuh menundukkan kepalanya, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya.

"O-oh ya? Mungkin nanti aku coba cari dan baca novelnya. Sepertinya menarik kalau kamu sampai memujinya begitu."

Jati tersenyum penuh arti. "Kamu harus membacanya, Tryas. Mungkin kamu bisa belajar banyak tentang kejujuran dan ketulusan dari tulisan-tulisan Gayuh ini."

Gayuh terdiam. Kalimat Jati barusan terasa seperti sindiran halus yang menembus jantungnya.

Ia merasa semakin terjebak dalam jaring-jaring kebohongannya sendiri.

Di sisi lain, Jati merasa sangat puas. Ia menikmati bagaimana "pemeran pengganti" di sampingnya ini tersipu malu mendengar pujian untuk dirinya sendiri.

"Mas Jati! Orderan nomor 45 sudah siap!" teriak pelayan dari balik konter.

Jati berdiri dengan sigap. "Nah, pesanannya sudah jadi. Ayo kita antar, Tryas. Setelah ini, aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang spesial."

Gayuh menganggukkan kepalanya, ia mengikuti langkah Jati menuju motor, tanpa menyadari bahwa "pria ojol" ini sebenarnya sudah tahu bahwa ia sedang membawa sang penulis favoritnya berkeliling kota.

1
Dew666
😍😍😍😍
Rahmawati
wow maharnya fantastis bgt👏👏👏
Rahmawati
hahaha, pagi pagi udah nongol aja si jati
Rahmawati
tryas km akan nyesel nanti😂
Rahmawati
lah kok malah jadi nyaman😂
Rahmawati
baru mulai baca
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Vie
aaaa..... ini disini juga aku mau jati... ini udah mangap dari tadi loh... 🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
nah itu kau tahu sendiri kan.... makanya selamat tersiksa ya tryas.... 🤪🤪🤪🤪
Vie
lanjut kak.... 👍👍👍👍👍👍
Vie
iiihhhh jadi baper deh.... 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Vie
kamu dasar cucu durhakim.... bilang neneknya sakit.... eh ternyata lagi santai di ln..... dasar cucu durhakim... 🤭🤭🤭🤭
Vie
demi bos jadi ikutan nyamar.... 🤣🤣🤣🤣 demi apa coba hal itu dilakukan.... demi cinta... 🤭🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
lanjut kak..... 👍👍👍👍 seru banget..
Vie: makasih kak.... aku selalu stay walau jarang komen, tapi tetap lanjut baca... lanjut sampai ceritanya tamat ya kak.. 👍👍👍👍😊😊😊
total 2 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!