NovelToon NovelToon
Lagu Yang Tenggelam

Lagu Yang Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Cinta Seiring Waktu / Dark Romance
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: Keivanya Huang

Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.

Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.

Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Rahasia dari Palung Hitam

Pesta usai. Nana dan Jeno kembali ke Aequoria dengan lega.

Tapi kelegaan itu tidak bertahan lama.

Keesokan harinya, Zara — mantan Siren Hitam yang kini menjadi Kepala Intelijen Aequoria — datang dengan wajah tegang. Di tangannya, sebuah benda yang terbungkus rumput laut.

"Yang Mulia," kata Zara sambil berlutut. "Aku menemukan ini di reruntuhan Palung Hitam."

Zara membuka bungkusannya.

Sebuah buku. Sampul dari kulit ikan paus, halamannya menguning karena usia. Ada tulisan di sampulnya — dalam aksara Siren kuno yang tidak semua orang bisa baca.

Nana mengambil buku itu. Ia membuka halaman pertama.

"Buku harian Raja Valerius," bacanya. Suaranya bergetar.

Jeno mendekat. "Ayahmu?"

Nana mengangguk. Matanya tidak lepas dari halaman itu.

Ia membaca lebih lanjut. Tulisan tangan ayahnya — rapi, tegas, mirip dengan tulisannya sendiri.

"Hari ini, putriku lahir. Aku beri nama Nanara Ciel Aequoria. Nanara berarti 'cahaya' dalam bahasa leluhur. Ciel berarti 'langit' — karena ia lahir di malam saat langit laut bersinar paling terang."

Air mata Nana jatuh. Ia tidak pernah tahu arti namanya.

"Ruenna — istriku — menangis saat melahirkan. Bukan karena sakit. Tapi karena bahagia. Katanya, 'Akhirnya kita punya pewaris, Valerius. Aequoria akan aman di tangannya.'"

Nana membalik halaman. Tangannya gemetar.

"Hari ini, Aramis datang ke istana. Ia menuntut Jantung Aequoria. Katanya, batu itu miliknya. Aku tidak tahu apa maksudnya. Tapi Ruenna pucat saat mendengar namanya."

"Hari ini, Ruenna memintaku menulis buku harian ini untuk Nanara. 'Kalau sesuatu terjadi padaku,' katanya. 'Kalau sesuatu terjadi pada kita... setidaknya dia tahu siapa ayahnya.'"

Nana membalik halaman lagi. Halaman berikutnya robek — hanya menyisakan beberapa baris terakhir.

"Jika suatu hari kau membaca ini, anakku... carilah aku di..."

Halaman itu putus di tengah kalimat.

"Tidak!" Nana hampir melempar buku itu. "Tidak, tidak, tidak!"

Jeno meraih tangannya. "Nana, tenang."

"Tidak ada petunjuk! Halaman terakhir robek! Aku tidak tahu harus mencari di mana!"

Zara membersihkan tenggorokannya. "Yang Mulia... halaman yang robek itu tidak hilang."

Nana menatap Zara. "Apa maksudmu?"

"Palung Hitam luas. Aku hanya menemukan buku ini di satu ruangan. Mungkin halaman yang robek itu ada di ruangan lain. Atau... mungkin sengaja dipisahkan oleh seseorang."

"Siapa yang sengaja memisahkan?"

Zara menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi ada sesuatu di Palung Hitam — sesuatu yang tidak ingin ditemukan."

 

Jeno mengusap punggung Nana yang gemetar.

"Kita akan mencari," katanya. "Kita akan menemukan halaman itu. Tapi tidak sekarang. Kael masih mengintai. Aequoria masih pulih."

Nana menggigit bibirnya. "Jadi aku harus memilih antara ayahku dan kerajaanku?"

"Tidak. Kau hanya harus... sabar."

"Kesabaran bukan keahlianku."

Jeno tersenyum tipis. "Aku tahu. Tapi kau bisa belajar. Aku akan mengajarimu."

Nana mendengus. "Kau akan mengajariku sabar? Kau orang paling tidak sabar yang aku kenal."

"Aku sabar. Aku menunggumu selama sepuluh tahun."

Nana terdiam.

"Baik," katanya akhirnya. "Kau menang poin."

Jeno tersenyum bangga.

 

Malam itu, Nana tidak bisa tidur.

Ia duduk di taman laut, buku harian ayahnya di pangkuan. Ia membaca ulang setiap halaman — mencari petunjuk yang mungkin terlewat.

Tidak ada.

Hanya kalimat putus itu yang berputar di kepalanya.

"Carilah aku di..."

Di mana? Di Palung Hitam? Di kerajaan lain? Di daratan?

Nana menutup buku itu. Jantung Aequoria di dadanya berdenyut — pelan, seperti sedang merenung.

"Ayah," bisiknya. "Di mana kau?"

Tidak ada jawaban.

Hanya angin laut yang berbisik — atau mungkin hanya arus yang bergerak.

Tapi Nana merasakan sesuatu. Sebuah getaran di buku itu. Bukan dari halaman yang robek, tapi dari sampulnya — dari kulit ikan paus yang membungkus buku itu.

Ia membalik buku itu. Di bagian dalam sampul, ada ukiran kecil. Ukiran peta — samar, hampir tidak terlihat.

Nana menyipitkan matanya.

"Teluk Hantu," bacanya.

Jantung Aequoria berdenyut kencang.

Teluk Hantu.

Tempat yang tidak pernah ia dengar. Tapi namanya — Hantu — terdengar seperti tempat yang tidak ingin dikunjungi siapa pun.

"Zara," panggil Nana ke luar taman. "Zara, kemari."

Zara muncul dari balik karang. "Ya, Yang Mulia?"

"Kau pernah dengar Teluk Hantu?"

Wajah Zara berubah pucat — sepucat yang bisa dilakukan Siren.

"Yang Mulia... jangan ke sana."

"Kenapa?"

"Tempat itu angker. Siren yang masuk tidak pernah kembali. Konon, di sana ada... sesuatu. Sesuatu yang lebih tua dari Dewi Laut sendiri."

Nana menggenggam buku itu erat-erat.

"Kalau ayahku di sana... aku harus pergi."

Zara meraih tangan Nana. "Yang Mulia, kumohon—"

"Aku tidak akan pergi sekarang," potong Nana. "Tapi suatu hari... aku akan pergi. Dan tidak ada yang bisa menghentikanku."

1
hrarou
seruuu!! Lanjut yaaa 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!