Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3.Mencuri Rahasia Langit
Mendengar penuturan Su Yuntao, bola mata Kakek Jack seketika melebar penuh keterkejutan. Lelaki tua itu menoleh dengan gerakan yang kaku, seolah-olah sendi-sendi tuanya menolak untuk mempercayai apa yang baru saja ditangkap oleh indra pendengarannya. Pandangannya terpaku pada sosok anak laki-laki berbaju abu-abu yang berdiri tenang di dekat pintu aula. Kerutan-kerutan mendalam di wajah tuanya kian meliuk tajam, menyiratkan badai perasaan yang beradu hebat—antara rasa tidak percaya, kebanggaan yang membubung, serta secercah harapan gila yang mendadak menyulut dadanya yang ringkih.
"Apa?! Xiao Xuan... kau... kau sudah berhasil membangkitkan kekuatan rohmu?" suaranya bergetar hebat, berat oleh timbunan rasa penasaran yang mendesak hingga ke ubun-ubun.
Xiao Xuan mengangguk pelan, gerakannya santai namun sarat akan ketegasan seorang pria dewasa. Di dalam genggaman tangan kanannya, tongkat besi putih keperakan itu tampak polos, kusam, dan tak bernyawa di mata orang lain. Namun bagi Xiao Xuan, logam dingin seberat sepuluh kilogram ini adalah fondasi awal, jangkar realitas dari perjalanannya di benua yang kejam ini. Tatapannya tetap sedatar air sumur, namun di kedalaman manik mata hitamnya, berkilat keyakinan yang diam, kokoh, dan tak tergoyahkan oleh penilaian merendahkan dari sang Grandmaster.
"Benar, Kakek Jack. Aku telah membangkitkan rohku—sebatang Tongkat Besi," jawabnya dengan nada suara yang bariton dan stabil untuk anak seusianya. Tidak ada nada sombong karena memiliki kekuatan roh, tidak ada pula nada meratapi nasib karena hanya mendapat tingkat satu. Ia hanya menyampaikan sebuah kenyataan matematis yang dingin apa adanya.
Detik itu juga, wajah keriput Kakek Jack mekar menjadi senyuman paling cerah yang pernah disaksikan penduduk desa hari itu. Beban berat di pundak sang kepala desa seolah runtuh seketika. Ia tertawa lebar, suara tuanya yang serak menggema riang, memecah keheningan lapangan Desa Roh Suci. Dengan penuh kasih sayang yang tulus, tangan tuanya yang dipenuhi kapalan menepuk-nepuk puncak kepala Xiao Xuan, memandang bocah yatim piatu itu seolah melihat sebuah mukjizat.
Namun, ketika pandangan Jack beralih perlahan ke arah Tang San yang masih berdiri mematung di samping altar, senyuman cerah itu berangsur-angsur memudar. Guratan di wajahnya kembali menekuk, digantikan oleh rasa iba yang mendalam serta kekecewaan yang gagal disembunyikan oleh topeng tuanya.
"Bagus! Sangat bagus, Xuan Kecil! Masa depanmu... kakek yakin masa depanmu pasti akan memiliki jalan!" ujarnya dengan suara lantang, seolah-olah sedang meyakinkan hatinya sendiri yang sempat patah. "Memiliki kekuatan roh—meski hanya tingkat satu—berarti kau memiliki tiket mutlak untuk menjadi seorang Master Roh sejati kelak. Kau bisa meninggalkan desa kecil yang terisolasi ini, pergi melihat dunia luar yang luas, dan mengukir takdirmu sendiri di sana!"
Suaranya bergema penuh semangat yang dipaksakan, sebelum akhirnya merosot menjadi bisikan lirih yang berat saat menatap Tang San yang masih menundukkan kepalanya dalam-diam.
"Sayang sekali... kasihan sekali San Kecil. Membawa bakat Kekuatan Roh Penuh Bawaan yang hanya muncul sekali dalam seratus tahun di wilayah ini, namun langit justru mengikatnya pada sehelai Rumput Perak Biru. Sungguh... takdir terkadang bertindak terlalu kejam dan mempermainkan manusia."
Setelah membereskan seluruh batu hitam dan peralatan upacara kebangkitan dengan gerakan yang efisien, Su Yuntao mengambil dua lembar dokumen bersampul tipis dari tas penyimpanan spiritualnya. Ia berjalan mendekati kedua anak itu, menyerahkan masing-masing satu lembar ke tangan mereka. Gerakannya formal, namun sisa-sisa wibawa sebagai utusan resmi Aula Roh tetap melekat erat pada setiap langkahnya.
"Anak-anak, ini adalah surat bukti kebangkitan sekaligus panduan dasar bagi para calon Master Roh. Dengan dokumen resmi ini, kalian memiliki hak hukum untuk mendaftar dan belajar sebagai siswa magang di Akademi Master Roh Junior Kota Nuoding. Itu akan menjadi langkah awal dari jalan panjang kalian yang dipenuhi darah dan persaingan," ujar Su Yuntao dengan nada datar. Ia menoleh ke arah Kakek Jack, memberikan anggukan sopan yang kaku. "Waktuku sudah sangat terbatas di sini. Masih ada beberapa desa di sektor ini yang harus kuperiksa hari ini, jadi aku pamit sekarang."
"Hei, Grandmaster Su! Tunggu sebentar, tolong dengarkan satu permintaan dari orang tua ini!" seru Kakek Jack, bergegas maju selangkah dengan tubuhnya yang agak membungkuk, seolah takut kesempatan emas untuk memajukan desanya akan menguap begitu saja.
Su Yuntao menghentikan langkah kakinya tepat di dekat kereta kuda, menatap Jack dengan pandangan tenang. Biasanya, sebagai Master Roh dari Aula Roh yang terhormat, ia akan merasa sangat jengkel dan tak sabaran menghadapi urusan warga sipil yang berbelit-belit. Namun, mengingat hari ini ia telah menyaksikan sebuah keajaiban mutlak berupa Kekuatan Roh Penuh Bawaan milik Tang San, serta ketenangan emosional yang sangat langka dari Xiao Xuan, suasana hatinya terasa jauh lebih lapang dari biasanya.
"Apa lagi yang mengganjal di pikiranmu, Pak Tua?"
"Grandmaster Su, Anda tentu tahu bahwa menurut aturan Kekaisaran, Desa Roh Suci kami hanya mendapatkan jatah satu kuota resmi untuk siswa magang setiap tahunnya," kata Kakek Jack dengan nada suara yang diatur selembut dan sehormat mungkin, matanya menatap lurus penuh harap. "Namun tahun ini... kami memiliki dua anak yang berhasil memicu kekuatan roh sejati. Apakah mungkin... Anda bisa memberikan kebijaksanaan dengan menambahkan satu kuota lagi untuk desa kami? Saya berjanji, kedua anak ini tidak akan mempermalukan reputasi Aula Roh di Kota Nuoding kelak."
Su Yuntao tertawa pelan, sebuah tawa ringan yang membuat ketegangan di wajah Jack sedikit mengendur. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, lalu menjawab dengan nada santai khas seorang petugas yang memiliki otoritas menengah.
"Bukan masalah besar, Pak Tua. Aku bisa mengalihkan satu kuota tak terpakai yang dialokasikan untuk desa berburu di wilayah pegunungan sebelah utara. Orang-orang di sana jarang sekali melahirkan anak dengan kekuatan roh, sehingga kuota mereka selalu hangus dan terbuang sia-sia setiap tahunnya. Lebih baik kualokasikan untuk desamu daripada menjadi dokumen sampah di kantor pusat."
Tanpa membuang waktu, Su Yuntao mengeluarkan pena bulu angsa, mencoret beberapa baris tulisan di buku log perjalanannya, dan menuliskan dua pucuk surat rekomendasi baru yang distempel dengan tinta emas berlambang Aula Roh. Setelah menyerahkan kertas-kertas berharga itu ke tangan Kakek Jack yang gemetar, Su Yuntao langsung melompat naik ke atas punggung kuda besar berbulu hitam yang telah menunggu di pinggir lapangan. Binatang itu mendengus kasar, memancarkan tekanan energi spiritual yang samar dari otot-otot kakinya yang kokoh—sebuah tanda bahwa ia adalah makhluk pacuan yang telah diberi makan ramuan khusus.
Dengan satu hentikan tali kendali yang mantap, Su Yuntao melesat pergi. Deru kaki kuda itu meninggalkan kepulan debu jalanan yang beterbangan tinggi, mengaburkan punggung sang utusan yang kian mengecil di ujung cakrawala.
Melihat kepergian yang begitu cepat, Kakek Jack kembali menghela napas panjang, sebuah desahan yang sarat akan rasa pasrah namun juga terselip kelegaaan mendalam. Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, ia masih tidak bisa berhenti meratapi ketidakadilan takdir yang baru saja ia saksikan.
Memiliki Kekuatan Roh Penuh Bawaan adalah berkah tertinggi yang diimpikan oleh jutaan manusia di benua ini, namun jika bakat dewa itu disandingkan dengan Rumput Perak Biru—yang sejak ribuan tahun lalu dicap sebagai sampah tak berguna—maka potensi sebesar apa pun hanya akan berakhir menjadi tumpukan abu di siang bolong.
*Mengapa harus sehelai rumput liar?* batin Jack menangis. *Andai saja roh Tang San sedikit lebih berbobot, meski hanya berupa Sabit Besi karat atau Pisau Dapur kayu, dengan kekuatan tingkat sepuluh itu, Desa Roh Suci ini pasti akan kembali melahirkan seorang ahli legendaris yang mampu mengguncang kekaisaran.*
Harapan besar yang telah lama mati di desa ini kini kembali tergantung di ujung benang yang sangat tipis dan rapuh. Namun, setidaknya nasib Xiao Xuan yang memiliki tongkat besi dan kekuatan tingkat satu sudah cukup menjadi alasan konkret bagi si orang tua untuk bersyukur kepada para dewa.
Di sisi lain lapangan, Tang San hanya berdiri diam menatap debu-debu yang ditinggalkan oleh kereta Su Yuntao. Di balik sepasang matanya yang berwarna ungu pudar, terselip kilatan kekecewaan yang samar. Bukan karena ia mengutuk takdir atas bangkitnya Rumput Perak Biru, melainkan karena terlalu banyak misteri mengenai energi dalam di tubuhnya yang belum terjawab, dan utusan itu pergi terlalu cepat sebelum ia sempat menggali informasi lebih dalam.
Jalan latihan dari *Keterampilan Surga Misterius* yang ia pelajari sejak bayi kini benar-benar menemui jalan buntu yang keras. Logika analitisnya mengatakan bahwa jika ia ingin memahami esensi dari hambatan ini dan menerobos ke tingkat berikutnya, ia tidak bisa lagi mengurung diri di desa terpencil ini. Ia harus masuk ke akademi kota, mencari perpustakaan yang memadai, atau menemukan seorang guru dengan pengetahuan teori yang sangat luas.
"Xiao Xuan, kau bawa Lang Xi pulang ke rumah terlebih dahulu ya," pinta Kakek Jack sambil menepuk pundak bocah baju abu-abu itu dengan lembut. Wajah tuanya kini tampak mengeras, menyiratkan sebuah keputusan besar yang telah bulat di kepalanya. "Kakek harus pergi mengunjungi pondok pandai besi milik San Kecil sebentar. Aku harus bicara serius dengan Tang Hao, pria pemabuk yang keras kepala itu. Aku harus meyakinkannya dengan cara apa pun agar mengizinkan San Kecil pergi bersekolah di Kota Nuoding. Meskipun rohnya dinilai rendah, kekuatan penuh bawaannya adalah fakta mutlak. Itu sudah lebih dari cukup untuk mendaftarkannya sebagai Master Roh resmi dan mengklaim tunjangan bulanan dari Aula Roh. Uang koin emas itu... akan sangat mengubah kehidupan kemiskinan mereka berdua kelak."
Xiao Xuan hanya mengangguk patuh, tanpa mengajukan pertanyaan yang tidak perlu atau memberikan komentar yang menceramahi. Sebagai pria dewasa, ia mengerti betul watak keras Tang Hao dan niat tulus Pak Tua Jack. Dengan gerakan sigap yang protektif, ia menggandeng tangan adiknya, Lang Xi, yang sejak tadi menatapnya dengan sepasang mata bulat yang dipenuhi rasa bangga yang meledak-ledak, lalu menuntunnya berjalan membelah jalanan desa menuju kediaman kecil mereka.
Sesampainya di rumah kayu mereka yang sederhana, Lang Xi segera melepaskan genggaman tangannya dan berlari kencang menuju halaman belakang, bersemangat untuk membantu ibunya mengurus tanaman sayur di ladang kecil mereka sambil membagikan berita besar hari ini. Xiao Xuan menatap punggung adiknya dengan pandangan hangat sejenak, sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar sempit miliknya. Ia menutup pintu kayu itu dengan rapat, mengunci selotnya perlahan hingga seluruh kebisingan dan hiruk-pikuk dunia luar teredam sepenuhnya, menyisakan keheningan mutlak yang ia butuhkan.
Ia mengambil posisi bersila di atas kasur jerami tipis yang menjadi tempat tidurnya sehari-hari. Udara di dalam ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu terasa agak pengap, pekat dengan aroma kayu tua yang kering dan jerami. Namun bagi Xiao Xuan, tempat sunyi inilah benteng pertahanan terbaiknya untuk berpikir, menganalisis situasi, dan merajut benang takdirnya sendiri tanpa intervensi mata-mata luar.
Dengan satu tarikan napas yang teratur, ia mengangkat tangan kanannya. Seketika itu juga, pusaran cahaya keperakan tipis melonjak dari telapak tangannya, dan sebatang tongkat besi putih keperakan kembali mewujud dalam genggamannya. Beratnya terasa pas, sekitar sepuluh kilogram, padat, kokoh, dan dingin. Permukaannya abu-abu kusam tanpa kilauan magis, ukiran kuno, atau hiasan permata seperti senjata para bangsawan. Namun, jari-jemari Xiao Xuan meraba tekstur logam kasar itu dengan kelembutan yang aneh, seolah-olah ia sedang menyentuh sebongkah bahan mentah yang siap ia tempa menjadi senjata pembunuh dewa.
Di dalam kepalanya, insting dan intuisinya yang tajam langsung merangkai skenario demi skenario dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Kini, variabel terbesar dalam hidupnya telah aktif. Ia memiliki kekuatan roh, dan yang jauh lebih krusial—ia memiliki entitas misterius yang bersemayam di dalam jiwanya. Sebuah entitas yang menempatkan dirinya di atas seluruh rantai makanan Benua Douluo dalam hal potensi perkembangan.
Sambil mengembuskan napas panjang, ia memusatkan fokus batinnya ke sudut kesadaran yang paling dalam. Bukan dengan mantra kaku atau perintah mekanis khas robot, melainkan dengan sebuah kehendak spiritual yang murni.
Di depan retinanya, hamparan cahaya keperakan tipis kembali terbentang seperti kabut pagi yang elegan, menampilkan deretan karakter kuno yang memancarkan aura sakral. Tampilan itu menyatu alami dengan hukum alam jiwanya, menyajikan sebuah pilihan mutlak yang berhubungan langsung dengan pemindaian terhadap Tang San di lapangan tadi.
[ ( ` ∇ ` )/ *Ding! Selamat Datang Kembali di Ruang Penempaan Jiwa, Tuan Xuan! Sistem Sifat sedang dalam kondisi prima untuk melayani intuisi tajam Anda!* ✨ ]
【 Kapasitas Replikasi Tersedia: 2 Slot 】✨
【 Jejak Takdir Terkunci: Warisan Keahlian Sekte Tang (Peringkat: Ungu)! 】😎
【 Apakah Anda ingin melakukan Replikasi sekarang? 】
Xiao Xuan tidak terburu-buru mengambil keputusan. Ia duduk mematung dengan mata menyipit tajam menatap tulisan bercahaya itu, membiarkan akal sehat, logika dewasa, dan naluri anti-naifnya menguliti setiap risiko yang mungkin timbul.
Ia harus memahami secara mutlak apa batasan, hukum sebab-akibat, serta harga yang harus dibayar dari anugerah sistem ini. Perlahan tapi pasti, seiring dengan berdenyutnya riak takdir di kepalanya, pemahaman tentang cara kerja kekuatan ini mengalir alami ke dalam benaknya, seolah-olah pengetahuan itu memang hak warisannya sejak lahir.
Aturannya ternyata sangat sakral namun penuh perhitungan matematis yang adil. Setiap kali ia berhasil menaikkan tingkatan kekuatan rohnya sebanyak lima tingkat, ia akan dianugerahi satu Poin Penempaan yang bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas atau peringkat dari sifat kehidupan yang telah ia miliki (seperti mengubah sifat peringkat Putih menjadi Biru atau Ungu). Dan setiap kali ia berhasil menyerap sebuah Cincin Roh baru dari binatang roh, ia berhak mendapatkan satu Slot Replikasi untuk menyalin satu kemampuan, keahlian, atau sifat eksternal dari makhluk lain atau sesama Master Roh.
Namun, sistem ini memiliki satu Hukum Tabu yang absolut: takdir inti dari setiap jiwa manusia adalah milik pribadi yang tidak bisa dicuri atau digantikan oleh kekuatan apa pun. Hanya aspek-aspek luaran, keterampilan yang dipelajari melalui latihan fisik, serta teknik yang ditempa oleh keringat yang bisa diserap dan diintegrasikan ke dalam tubuhnya.
Sebagai contoh nyata, bakat bawaan Tang San yang tidak masuk akal, eksistensi Roh Kembarnya, serta *Lentera Sang Tokoh* peringkat Emas yang diberikan oleh kehendak dunia—semua itu adalah hak cipta jiwanya yang terdalam, tak terjangkau oleh fungsi replikasi sistem. Bahkan ketangguhan otot dan kepadatan meridian tubuh Tang San saat ini, yang merupakan produk nyata dari latihan keras memeras keringat dengan *Keterampilan Surga Misterius* selama bertahun-tahun sejak bayi, tidak bisa ditransfer begitu saja secara instan ke dalam daging Xiao Xuan.
Jika Xiao Xuan menginginkan fisik yang sekuat itu, ia harus menempa dagingnya sendiri, mengubah fondasi tubuhnya melalui latihan fisik yang ekstrem dan tetesan keringat, memanfaatkan pengetahuan yang disalin nanti.
Sistem ini juga menegaskan hierarki peringkat yang ketat untuk setiap sifat atau keahlian yang ada di dunia: diurutkan dari yang paling dasar hingga yang paling agung—Putih, Biru, Ungu, Merah, dan di puncaknya adalah Emas.
Kini, di hadapan meja kalkulasi Xiao Xuan, terbentang dua jalan besar yang saling bertolak belakang. Menyalin atau melewatkan *Warisan Sekte Tang* milik sang Putra Surga.
Ia mengingat dengan sangat detail dari serpihan memori masa lalunya, banyak pembaca awam yang mencemooh teknik Sekte Tang sebagai ilmu beladiri tingkat rendah yang tidak berguna jika dibandingkan dengan keagungan Cincin Roh dan Kemampuan Jiwa berdaya ledak tinggi di Benua Douluo. Namun, bagi Xiao Xuan yang kini hidup dalam realitas, pemikiran seperti itu adalah puncak dari kenaifan yang bodoh. Metode pengolahan energi dan kebijaksanaan bertarung Sekte Tang terbukti tetap eksis, mendominasi, dan diadopsi bahkan hingga era sepuluh ribu tahun kemudian, di zaman modern Douluo Dalu generasi ketiga. Itu adalah bukti empiris yang tak terbantahkan bahwa ilmu tersebut memiliki keunggulan fondasi yang luar biasa.
Jika ia memilih untuk melakukan replikasi sekarang, dalam sekejap mata ia akan menguasai seluruh cetak biru, teori, dan metode dari lima keahlian utama: mulai dari *Keterampilan Surga Misterius* untuk memproduksi energi dalam yang murni, *Mata Iblis Ungu* untuk mempertajam penglihatan dan meruntuhkan ilusi, *Tangan Giok Misterius* untuk mengeraskan tangan melampaui besi, *Langkah Bayangan Hantu* demi kelincahan mutlak, hingga ensiklopedia mengenai ratusan jenis senjata tersembunyi dan pembuatan racun mematikan. Jalannya untuk merangkak naik dari tingkat satu kekuatan roh akan menjadi jauh lebih rata dan terukur.
Namun, ada harga tak terlihat yang harus ia bayar dalam bentuk kewaspadaan konstan. Ia harus berlatih, mematangkan, dan mempraktikkan seluruh ilmu ini dengan tingkat kerahasiaan tertinggi, sepenuhnya terisolasi dari jangkauan pandangan Tang San.
Tang San bukanlah anak-anak ingusan yang mudah dikelabui. Dia adalah seorang pembunuh profesional dari dunia lain yang memiliki jiwa dewasa, sangat protektif, dan memiliki paranoia yang tinggi terhadap hak milik ilmunya. Jika suatu hari nanti ia memergoki Xiao Xuan mengoperasikan *Keterampilan Surga Misterius* atau menggunakan teknik *Tangan Giok Misterius*, intuisi pembunuhnya akan langsung mengenali teknik tersebut. Mengingat doktrin kaku Sekte Tang yang menganggap penyebaran ilmu tanpa izin sebagai dosa yang harus dibayar dengan nyawa, Xiao Xuan tahu bahwa ia akan langsung ditempatkan di posisi musuh bebuyutan yang harus dilenyapkan tanpa ampun.
Meskipun Tang San sendiri mempelajari ilmu itu dengan mencurinya dari Sekte Tang di kehidupan sebelumnya, logika paranoianya akan selalu membenarkan dirinya sebagai pewaris tunggal yang sah di dunia baru ini, sementara orang lain adalah pencuri yang harus dibasmi.
Sebaliknya, jika ia memilih untuk melewatkan kesempatan emas ini karena takut... kemajuan kultivasinya dipastikan akan berjalan sangat lambat, merayap layaknya siput. Hanya mengandalkan metode medidasi standar dan kasar yang diajarkan di akademi junior biasa, akan menjadi kemustahilan mutlak bagi sebatang tongkat besi tingkat satu untuk bisa menembus batas tingkat sepuluh dalam waktu singkat.
Waktu bagi seorang Master Roh adalah aset yang paling kejam. Semakin tua usia biologis seseorang saat melakukan terobosan, semakin kaku meridian tubuhnya, dan semakin rendah pula batas puncak pencapaian yang bisa diraih sepanjang hidupnya.
Suasana di dalam kamar kecil itu kian hening, hanya menyisakan suara embusan napas Xiao Xuan yang panjang dan teratur. Angin sore merayap masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka, membawa aroma tanah basah setelah hujan serta kesejukan yang menenangkan saraf-saraf kepalanya yang tegang.
Akhirnya, seberkas kilatan dingin dan ketegasan yang sekeras baja melintas di manik mata hitam pekatnya.
Sebagai pria yang keras pada diri sendiri dan anti-naif, ia tidak akan pernah membiarkan rasa takut terhadap potensi bahaya di masa depan melumpuhkan peluang emas yang ada di depan kelopak matanya. Melewatkan keuntungan sebesar ini di garis awal pertempuran hanya karena takut pada Tang San adalah tindakan pengecut yang bodoh.
Lagipula, ia tahu satu rahasia besar yang luput dari analisis Su Yuntao: alasan utama mengapa Tang San yang terlahir dari rahim seorang kaisar binatang roh bisa memiliki Kekuatan Roh Penuh Bawaan tingkat sepuluh adalah karena akumulasi tanpa henti dari energi dalam yang dihasilkan oleh latihan *Keterampilan Surga Misterius* sejak ia masih bayi. Teknik itulah kunci dari segalanya.
Untuk mempercepat langkahnya, merombak bakat tingkat satunya, dan membangun fondasi yang kokoh, ia tidak boleh ragu sedikit pun. Xiao Xuan menarik napas dalam-dalam, mengunci seluruh emosinya, lalu berbicara di dalam keheningan batinnya dengan otoritas yang mutlak.
"Sistem... gunakan satu slot. Salin dan integrasikan seluruh *Warisan Keahlian Sekte Tang* ke dalam jiwaku."
[ ᕙ( ` ∇ ` )ᕗ *Ding! Perintah Eksekusi Diterima! Mengunci Sifat Ungu: Warisan Keahlian Sekte Tang! Proses Replikasi dan Peleburan Jiwa Dimulai... Harap Tahan Sedikit Rasa Sakit Ini ya, Tuanku yang Kejam!* ⚡✨ ]
Begitu suara bisikan spiritual itu menghilang dari kepalanya, sebuah sensasi luar biasa yang mengerikan langsung menghantam seluruh kesadaran Xiao Xuan. Seolah-olah ada bendungan raksasa yang jebol di dalam otaknya, menumpahkan air bah berupa gelombang informasi murni yang sangat deras, membanjiri setiap sudut ingatan dan sel-sel saraf kesadarannya.
Ribuan bait mantra kuno, ribuan diagram jalur meridian yang rumit, puluhan ribu visualisasi gerakan tubuh, serta prinsip-prinsip alkimia pembuatan racun mengalir paksa, menempati ruang di benaknya secara absolut, menyatu sedemikian rupa seolah-olah seluruh ilmu itu telah ia latih selama puluhan tahun di kegelapan.
*Ugh...!*
Rasa sakit yang tajam dan menusuk menyergap seketika, membuat kepalanya terasa seperti sedang dihantam oleh palu gada besi berulang kali akibat muatan data yang terlampau padat dan luas untuk ukuran otak anak berusia enam tahun. Seluruh otot tubuh Xiao Xuan menegang kaku, pembuluh darah di pelipisnya menyembul tegang, dan keringat dingin bercampur minyak spiritual kotor langsung membanjiri dahi serta jubah abu-abunya dalam sekejap.
Namun, rasa sakit yang hampir meruntuhkan kewarasannya itu pergi secepat ia datang. Hanya dalam hitungan detik yang terasa seperti satu keabadian, badai informasi itu perlahan mereda, mengendap dengan sangat rapi dan terstruktur di sudut terdalam memorinya, bertransformasi menjadi bagian organik yang tak terpisahkan dari jiwanya.
Xiao Xuan terhuyung ke depan, tubuh kecilnya merosot dan bersandar lelah pada dinding kayu di belakangnya, napasnya terengah-engah berat seolah-olah ia baru saja merangkak keluar dari medan perang sejauh puluhan mil. Wajah tegasnya tampak pucat pasi, namun di balik kelelahan fisik yang terlihat jelas itu, sepasang matanya perlahan terbuka, memancarkan kilatan kecerdasan, ketajaman, dan otoritas kekuatan yang baru saja lahir.
Kini, di dalam benak bocah yatim piatu itu, telah tertanam dengan sempurna seluruh warisan rahasia dan ilmu pembunuh dari Sekte Tang—sebuah pengetahuan yang telah melintasi batas ruang dan waktu kekosongan, kini resmi menjadi hak milik mutlaknya. Langkah pertamanya untuk menghancurkan vonis takdir sebagai 'bakat sampah' baru saja dimulai dengan sebuah plot tirai gelap yang gemilang.
[ ( ` 3 ` ) *Phew... peleburan selesai dengan sempurna tanpa cacat! Selamat, Tuan Xuan! Anda sekarang adalah 'pencuri rahasia' terbesar di benua ini! Mau tahu status barumu? Buka panelnya sekarang!* 💅✨ ]