NovelToon NovelToon
Keluarga Tak Terduga untuk Sang Mafia

Keluarga Tak Terduga untuk Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Wanita perkasa / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:5
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.

Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.

Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.

Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.

Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.

Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 — Pantas untuk Kita

Ekaterina

Viktor memarkir mobil di garasi. Dia membuka pintu dan mengangkat Lisbela dari pangkuanku, berkata bahwa dia yang akan membawanya. Aku turun dan mengambil kedua mahkota.

Di dalam lift, keheningan terasa pekat di antara kami. Ini bukan sekadar lelah, tapi sesuatu yang belum terucap seutuhnya, yang sudah terlalu membebani udara.

Viktor membuka kunci pintu dan berkata akan membaringkan Lis di ranjang. Aku mengikutinya.

Napas Lisbela lembut, tenang. Aku bernapas lega melihatnya seperti itu, bahkan setelah semua yang terjadi. Kerapuhannya mengingatkanku alasan aku tak boleh runtuh begitu saja sekarang.

Kubetulkan selimut di tubuhnya dengan hati-hati. Beberapa detik aku menatap wajahnya, memastikan semuanya baik-baik saja, seolah itu yang menjagaku tetap utuh.

Lalu kami keluar dari kamar.

Viktor memegang lenganku dan bertanya apakah kami bisa bicara. Dia menatapku dalam-dalam, seakan telah lama mengumpulkan keberanian.

Dia menuntunku ke sofa ruang tamu.

Aku bertanya ada apa, tubuhku sudah mulai waspada.

Viktor berdeham lalu menatapku. Dia menggenggam tanganku.

"Seharusnya aku sudah lama meminta maaf padamu, Ekaterina. Tapi aku baru melakukannya sekarang... maafkan aku karena telah menghinamu, maafkan aku karena menyangkal anak kita, entah lelaki atau perempuan. Maafkan aku karena telah menjadi bodoh."

Tubuhku kaku sesaat, seolah kata-kata itu mengenai satu titik yang lama kututup rapat-rapat.

Aku tak menarik tanganku dari genggamannya, tapi juga tak balas menggenggam. Aku hanya diam di sana, merasakan bobot ucapannya menyebar di antara kami sebagai sesuatu yang tak bisa lagi diabaikan.

"Viktor..." suaraku keluar pelan, nyaris pecah. "Kau tak bisa begitu saja mengatakan ini seakan semuanya beres."

Dia menelan ludah. Matanya tak lepas dari mataku.

"Aku tahu," jawabnya, suaranya lebih serak dari biasa. "Tapi aku harus memulai dari suatu tempat."

Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menata kekacauan di dalam diriku. Di atas sana, Lisbela tidur, terlalu rapuh untuk membuat pertengkaran kami terasa cukup penting.

"Kau tak cuma menghinaku sekali," lanjutku, kini lebih tegas. "Kau meragukan aku. Kau membuatku merasa sendirian justru saat aku paling membutuhkanmu."

Rahangnya mengeras, tapi dia tak memotongku.

"Dan saat kau menyangkal..." suaraku pecah sesaat, tapi aku terus. "Saat kau menyangkal anak kita, Viktor... kau tak tahu apa yang itu lakukan padaku."

Matanya berkedip, seakan itu lebih berat dari yang dia perkirakan akan didengar dengan lantang.

Dia melepaskan tanganku perlahan, seolah paham bahwa dia tak berhak menggenggamnya.

"Aku salah," ucapnya, lebih pelan. "Dalam semua ini, Ekaterina."

Keheningan kembali, tapi kali ini bukan cuma ketegangan. Ada sesuatu yang lebih mentah. Telanjang.

Aku menyilangkan tangan, berusaha melindungi diri dari hal yang masih terlalu memengaruhiku.

"Lalu sekarang?" tanyaku akhirnya. "Kaupikir sebuah permintaan maaf mengubah apa yang sudah terjadi?"

Dia butuh waktu untuk menjawab.

"Tidak," akunya. "Tapi aku tak mau terus menjadi pria yang menghancurkan segala di sekitarnya."

Aku menunduk sesaat. Tenggorokanku tercekat.

"Viktor... aku tak tahu apakah aku masih punya ruang untuk kekecewaan lagi."

Dia melangkah maju ringan, tapi berhenti, seakan takut melampaui batas tak kasatmata.

"Kalau begitu, katakan bagaimana aku memperbaikinya," ucapnya. "Karena aku takkan pergi sekarang. Tidak kali ini."

Aku memejamkan mata sesaat.

Kamar itu senyap. Lisbela tidur.

Dan di sini, semua yang hancur di antara kami akhirnya terucap dengan lantang. Viktor mendekat, tangannya menangkup wajahku, bibirnya menyentuh bibirku dalam ciuman lambat, lidahnya menyentuh lidahku.

Duniaku berhenti. Ciuman itu lembut, aku menyerah beberapa detik. Tapi kemudian kudorong dia menjauh. Aku tak boleh memberi Viktor kuasa untuk menghancurkanku lagi.

Viktor menatapku lekat-lekat.

Dia berkata, dengan suara mantap, nyaris menantang.

"Untuk yang satu ini aku takkan minta maaf. Aku menginginkanmu, Ekaterina. Aku akan membuktikan bahwa aku pantas untukmu. Untuk kalian."

Keheningan terasa berat di antara kami selama satu detik penuh.

Lalu dia mundur.

Viktor berdiri.

Tanpa sepatah kata lagi.

Tanpa menoleh ke belakang.

Dia keluar dari apartemen dan pintu tertutup, menyisakan hanya gema dari apa yang baru saja terjadi di antara kami.

Aku terpaku.

Sendirian.

Dengan kekacauan emosinya masih terperangkap dalam diriku, seakan itu tak ikut pergi bersamanya.

Aku berdiri di sana beberapa saat, mengulang kembali kata-katanya dan ciuman itu.

Berusaha memahami apa yang baru saja Viktor lakukan...

Berusaha memahami apa yang kulakukan ketika tak segera mendorongnya menjauh...

Dan terutama... berusaha memahami apa yang masih tersisa di antara kami ketika keheningan berhenti melindungi dan mulai menelanjangi segalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!