Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27 ke Yamaici
“Siapa pemilik kedai ini?” tanya lelaki tampan itu seraya merapikan kemejanya.
“Pemiliknya ada dua orang, Pak. Ibu Amira dan Ibu Rika,” jawab pelayan kedai ramah.
“Apakah mereka orang asli Jepang?”
Pelayan itu mengernyit. “Bukan, Pak. Asli Indonesia. Kenapa, ya, Pak?”
Lelaki tampan itu terdiam sejenak. Yang dicarinya sejak awal adalah racikan tangan orang Jepang asli, bukan warga lokal Indonesia. Namun rasa masakan tadi benar-benar mengguncang memorinya.
“Apakah aku bisa bertemu dengan pemiliknya sekarang?”
“Untuk hari ini beliau berdua sedang keluar, Pak.”
“Ke mana?”
Pelayan itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Saya cuma karyawan biasa, Pak, jadi tidak tahu pasti agenda bos.”
“Oh, baiklah. Kalau begitu, boleh aku minta nomor telepon kedai ini?” pinta lelaki itu pantang menyerah.
Pelayan melangkah ke meja kasir, mengambil selembar kartu nama, lalu menyerahkannya. “Ini, Pak.”
Pria itu meneliti deretan angka di kartu tersebut. “Apakah ini nomor pribadi pemiliknya?”
“Itu nomor admin perusahaan, Pak.”
“Kalau nomor pribadi pemiliknya?”
“Wah, kalau itu saya harus izin dulu sama bos, Pak. Tidak berani sembarangan memberi nomor pribadi.”
Lelaki tampan itu menarik napas panjang. “Ok, baiklah.”
Setelah mencuci tangan dan menyelesaikan pembayaran, ia melangkah kembali ke dalam mobil mewahnya. Kepalanya dipenuhi tanda tanya besar. Siapakah sosok Amira yang berhasil meracik rasa nostalgik masa kecilnya itu?
Sementara itu, Amira dan Rika sudah tiba di gedung pencakar langit kantor pusat PT Yamaichi.
Setelah mengisi buku tamu di meja resepsionis, mereka berdua duduk menunggu di ruang tamu utama yang megah. Rika segera merogoh ponselnya dan menghubungi Niko.
Tak berapa lama, seorang pemuda melangkah mendekat. Ia mengenakan celana kain abu-abu, kemeja hitam yang terpotong rapi, serta name tag yang tergantung anggun di lehernya. Ini adalah impian Niko sejak lama—menjadi pekerja kantoran yang dihormati.
“Niko! Apa kabar?” sapa Amira berdiri seraya tersenyum hangat.
“Alhamdulillah baik. Kabar Kak Rika dan Kak Amira bagaimana?” tanya Niko. Matanya mendadak berkaca-kaca.
Sebagai sesama anak yang tumbuh di panti asuhan tanpa mengetahui latar belakang orang tua kandungnya, Niko selalu merasa rapuh jika berhadapan dengan teman-teman masa kecilnya. Namun di luar sana, ia ditempa untuk selalu berdiri tangguh.
“Kami semua baik-baik saja, Niko. Jadi, apakah kita bisa menjalin kerja sama dengan perusahaanmu ini?” tanya Rika bersemangat.
Niko terkekeh pelan. “Aku ini cuma staf biasa, Kak, tidak punya wewenang untuk mengambil keputusan. Tapi tenang, aku antar kalian bertemu dengan Procurement Manager—manajer bagian pengadaan barang dan vendor, ya.”
“Oh, siap! Kami tunggu,” sahut Amira.
Niko menghubungi seseorang melalui telepon genggamnya, berbicara sejenak, lalu mengangguk. “Ok, Kak. Beliau bersedia menemui kalian. Mari aku antar ke ruang rapat.”
Niko menuntun langkah Amira dan Rika menyusuri koridor megah kantor pusat hingga berhenti di depan sebuah ruang rapat berdinding kaca tebal.
Di dalam ruangan itu, dua orang sudah duduk menanti. Seorang pria dan seorang wanita.
Langkah Amira terhenti sejenak. Wajah kedua orang di dalam sana sama sekali tidak asing baginya. Mereka adalah Adam dan Alya.
“Bu Alya, ini calon vendor catering untuk perusahaan kita,” sapa Niko sopan memecah keheningan yang mendadak canggung.
Adam dan Alya hanya diam, menatap Amira tanpa menyapa sedikit pun. Secara prosedur perusahaan Jepang yang ketat, sikap ini sudah sangat menyalahi standar operasional (SOP). Dalam filosofi bisnis mereka, setiap tamu yang datang wajib diperlakukan dengan rasa hormat tanpa memandang besar kecilnya perusahaan.
“Oh, kalau begitu kamu boleh pergi, Niko,” perintah Alya dingin, tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari Amira.
Niko agak ragu. “Sebaiknya saya mendampingi di sini, Bu. Ini juga termasuk bagian dari tugas saya—”
“Saya bilang keluar, ya keluar!” potong Alya tajam dan penuh penekanan.
Dengan gestur canggung, Niko membungkukkan badan sedikit lalu melangkah keluar, menutup pintu rapat-rapat.
Adam menatap Amira dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Amira mengenakan pakaian bisnis yang sangat profesional, membuatnya tampak begitu menawan, mandiri, dan berkelas. Di sisi lain, dada Alya langsung dibakar cemburu yang membuncah melihat pesona Amira yang sama sekali tak pudar meski telah diusir dari rumah.
“Kalian tidak mempersilakanku duduk?” tanya Amira tenang.
Alya bersandar di kursinya seraya mengukir senyum meremehkan. “Oh, kursi di ruangan ini hanya ditujukan untuk orang-orang yang layak. Kamu pikir kamu layak?”
“Lalu kamu pikir aku tidak layak?” balas Amira datar.
“Perusahaan kecil seperti milikmu mau menjalin kerja sama dengan perusahaan raksasa seperti kami?” Alya tertawa sinis. “Sesuai aturan di divisi kami, kamu harus berdiri dulu selama 30 menit. Baru setelah itu kamu diizinkan presentasi.”
Amira menarik napas dalam-dalam, menahan kejengkelan yang mulai memuncak. Alya tampak begitu puas melihat perubahan raut wajah Amira. Adam yang duduk di sebelah Alya sempat menyentuh lengan istrinya, hendak menegur tindakan melampaui batas itu, namun tatapan tajam Alya seketika menghentikan niat Adam.
Amira menegakkan posisinya, menatap Alya lurus-lurus. “Kalau begitu, justru kamu yang tidak layak menjadi seorang manajer.”
Alya membelalakkan mata. “Apa maksudmu, hah?!”
“Kamu bilang lulusan magister dari Jepang, tapi membaca tulisan di dinding saja kamu tidak bisa?” Amira menunjuk sebuah plakat ukiran kayu berhuruf Kanji Jepang yang terpajang megah di dinding utama ruang rapat. “Kamu bisa membacanya atau tidak?”
“Sok pintar sekali!” dengkus Alya tajam. “Kami di sini mengutamakan kedisiplinan dan ketangguhan! Sekarang berdiri 30 menit, baru kamu boleh bicara!”
Amira melipat kedua tangannya di dada dengan gaya yang sangat tenang namun mengintimidasi.
“Baiklah. Aku akan pulang sekarang. Tapi pastikan, hari ini juga aku akan menuliskan ulasan resmi di portal evaluasi pelayanan pelanggan perusahaan ini. Aku akan melaporkan bahwa seorang Procurement Manager bernama Adam dan istrinya tidak menjalankan prinsip dasar... Kokyaku wa Kami-sama da.”
Amira melafalkan kalimat bahasa Jepang itu dengan sangat fasih dan intonasi yang sempurna. Adam dan Alya seketika tercengang, saling pandang dengan wajah pucat.
“Kamu tahu artinya itu?” seru Amira, suaranya menggema tegas di ruang rapat. “Jika otak magistermu lupa, biar kujelaskan! Artinya adalah ‘Pelanggan dan Tamu Adalah Dewa’! Maknanya, setiap tamu yang melangkah ke perusahaan ini harus diperlakukan dengan sangat mulia bagaikan sosok yang suci! Dan aku datang ke sini secara terhormat dengan niat bisnis yang sah, tetapi kalian menunjukkan sikap yang sangat kekanak-kanakan dan tidak beradab!”
Amira melangkah satu tindak lebih dekat. “Sudah tidak paham adab Jepang, tidak profesional dalam bekerja... apakah kamu sedemikian menyedihkannya hingga membawa dendam pribadi masa lalu ke dalam dunia kerja resmi?”
Mendengar ancaman ulasan dan penjelasannya yang menohok, Adam seketika panik dan berdiri dari kursinya. Jika laporan ketidakpuasan tamu masuk ke bagian audit dan pelayanan pelanggan (Customer Service Evaluation), posisi jabatan Adam dan Alya di PT Yamaichi akan dievaluasi habis-habisan oleh jajaran pimpinan pusat.
“Bu Amira, silakan duduk,” ucap Adam terburu-buru seraya memundurkan kursi untuk Amira dan Rika.
Adam benar-benar heran dan takjub dalam hati. Bagaimana bisa Amira begitu fasih berbahasa Jepang dan memahami filosofi kebudayaannya dengan sangat mendalam?
Alya mengepalkan tangan di bawah meja. Wajahnya merah padam menahan malu dan amarah. Ternyata Amira bukanlah sosok penurut yang mudah ditindas seperti dahulu lagi.
Amira dan Rika akhirnya duduk dengan tenang. Adam yang panik segera menekan tombol interkom, menyuruh petugas Office Boy untuk menyajikan minuman hangat dan kudapan kualitas terbaik ke dalam ruang rapat.
Sikap Amira dan Rika sangat berwibawa, memancarkan etika profesional kelas atas. Hal itu memaksa Alya yang terbakar kejengkelan untuk ikut memasang topeng formalitas.
“Jadi... produk dan layanan apa yang Anda tawarkan kepada perusahaan kami?” tanya Adam, mencoba mencairkan ketegangan.
Amira mengeluarkan berkas company profile dengan desain yang sangat elegan dan modern—bukan sekadar daftar menu masakan biasa. Rika, meski masih kesal dengan kelakuan Alya, membagikan berkas tersebut secara profesional kepada Adam dan Alya, lalu menyajikan beberapa kotak sampel masakan sebagai tester.
Amira mulai melakukan presentasi. Penjelasannya begitu lugas, sistematis, mudah dipahami, serta didukung oleh struktur harga yang sangat masuk akal bagi skala perusahaan besar. Adam mendengarkan presentasi itu dengan antusiasme tinggi. Entah mengapa, nada suara Amira yang tenang dan penuh percaya diri terasa begitu mendayu-dayu dan indah di telinganya.
Namun, begitu Amira menyelesaikan penjelasannya, Alya menyilangkan tangan dan menyahut dengan nada dingin, “Perusahaan kalian sama sekali tidak layak untuk bekerja sama dengan PT Yamaichi.”
Rika yang dari tadi menahan emosi akhirnya tak sanggup lagi. “Bahkan Anda belum mencicipi sampel makanan kami! Atas dasar apa Anda memutuskan begitu saja kalau kami tidak layak?!