Farra dan Barra adalah murid kelas 3 SMK Kesehatan Hewan dari dua keluarga penguasa industri kesehatan hewan Indonesia—keluarga Barra pemilik Saputra Pet Hospitals (rumah sakit hewan terbesar), sedangkan keluarga Farra pemilik Aurelie Vet Medicine (produsen obat hewan terbesar).
Dua bulan sebelum Ujian Nasional, hidup mereka berubah total saat dipaksa menikah demi memenuhi janji masa lalu Opa dan Oma mereka. Enggan memicu skandal dan demi fokus lulus UN, keduanya sepakat menikah diam-diam dengan dua aturan ketat: menjadi suami-istri di rumah, tetapi berpura-pura asing saat di sekolah.
Tinggal serumah sambil menyembunyikan status pernikahan dari teman-teman sekolah ternyata memicu berbagai canggung, kecemburuan, dan drama praktik lapangan. Di tengah tekanan Ujian Nasional dan ego masing-masing, persaingan dingin di antara mereka perlahan berganti menjadi benih cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inayusrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Sebelum gelak tawa di kafe itu berlanjut lebih jauh, Barra mendaratkan pandangan serius ke arah keempat sahabatnya. Tatapannya kembali dingin dan tegas—isyarat bahwa apa yang akan ia katakan tidak bisa ditawar.
"Satu hal yang paling penting," ujar Barra, menatap Gabriella, Amelia, Ben, dan Farraz bergantian. "Tolong simpan rapat-rahasia ini dulu. Jangan ada satu orang pun di luar meja ini yang tahu soal pernikahan dan kehamilan Farra, sampai keluarga besar Saputra dan Aurelie yang mengumumkannya secara resmi ke publik."
Farra mengangguk pelan, menambahkan dengan senyum hangat. "Iya, teman-teman. Kita mau momen pengumuman resmi nanti berjalan tenang tanpa ada gosip aneh-aneh dari luar."
Gabriella dan Amelia kompak mengangkat tangan seperti berjanji. "Tenang aja, Far! Mulut kita dikunci rapat, nggak bakal bocor!" sahut Amelia mantap.
Namun, rasa penasaran kedua sahabat perempuan Farra itu mendadak beralih. "Eh, tapi tunggu... berarti selama ini kalian tinggal bareng dong?" tanya Gabriella dengan mata berbinar penuh kepo. "Kita boleh main ke rumah pengantin baru kalian nggak sekarang? Mau lihat sarang cintanya pasangan fenomena ini!"
Melihat binar antusias dari teman-temannya, Farra melirik Barra yang akhirnya mengangguk pasrah. Rombongan kecil itu pun bergerak menuju apartemen mewah milik Barra dan Farra.
Begitu pintu unit penthouse apartemen terbuka, seruan takjub langsung terdengar dari mulut Amelia dan Gabriella.
"Demi apa?! Ini sih mewah banget, Far!" seru Amelia sambil mengamati interior bernuansa modern minimalis yang hangat.
Langkah mereka terhenti di selasar ruang tamu, di mana sebuah bingkai foto ukuran raksasa terpajang anggun di dinding utama. Foto prewedding dan foto pernikahan Farra dan Barra berbalut busana adat dan modern yang begitu memukau.
"Ya ampun, cantik dan ganteng banget kalian di sini!" puji Gabriella histeris, menunjuk foto Barra yang tersenyum tipis sambil merangkul Farra. "Barra kalau senyum ternyata bisa kelihatan hangat juga ya, nggak kayak es batu di sekolah."
Ben dan Farraz hanya bisa tertawa geli di sofa, sementara Barra melipat tangan di dada dengan bangga.
Di sela-sela keasyikan mereka mengobrol dan mengelilingi apartemen, Farra tiba-tiba mengelus perutnya yang masih rata. Wajahnya mendadak berubah kecam dan matanya berbinar penuh keinginan. Ia menatap Barra yang sedang berdiri di dekat meja makan.
"Barra..." panggil Farra dengan nada mendayu-dayu yang sangat khas.
Barra langsung siaga, melangkah mendekat. "Kenapa, Sayang? Mual lagi?"
Farra menggeleng pelan, lalu menyenggol lengan suaminya. "Nggak... aku mendadak pengin banget makan mangga muda serut. Tapi... harus kamu yang buat sendiri dari awal."
Seketika ruangan hening. Amelia dan Gabriella menahan tawa, sementara Ben dan Farraz mendadak merasa bahaya mengintai.
"Mangga muda serut?" ulang Barra, alisnya bertaut. "Sore-sore begini cari mangga muda di mana, Farra?"
"Nggak tahu... pokoknya si kembar penginnya mangga muda serut buatan Papanya," rengek Farra pelan sambil memasang wajah paling menggemaskan.
Mendengar kata "si kembar" dan sebutan "Papa", benteng Barra langsung runtuh tanpa sisa. Ia menghela napas pasrah, lalu memutar badannya menatap Ben dan Farraz dengan tatapan intimidasinya. "Kalian berdua, ikut aku cari mangga muda sekarang."
"Lho?! Kok kita ikut terseret sih, Bar?!" protes Farraz tak terima.
"Anak kembar gue yang minta. Nggak ada penolakan," balas Barra dingin sambil menyambar kunci mobil.
Mau tidak mau, Ben dan Farraz pasrah menjadi "korban" idaman hamil Farra. Bertiga, mereka mengelilingi beberapa toko buah hingga pasar tradisional menjelang malam demi berburu mangga muda yang super asam. Usaha mereka tidak mudah; mereka harus merayu penjual toko buah yang hampir tutup hingga mencari ke sudut pasar demi mendapatkan mangga segar dengan tingkat keasaman yang pas.
Satu jam kemudian, Barra kembali ke apartemen dengan peluh tipis di dahi dan sekantong plastik berisi mangga muda super mentah. Tanpa membuang waktu, Barra langsung masuk ke dapur—dengan diawasi Farra dari jarak aman agar tidak mual—untuk mengupas, mencuci, dan menyerut sendiri mangga tersebut. Ia bahkan mencicipi sedikit bumbu rujak buatannya hingga wajah tegapnya meringis menahan asam.
"Nih, khusus buat Mama dan si kembar," ucap Barra lembut sambil menyodorkan semangkuk mangga muda serut yang tampak begitu menyegarkan.
Farra menyambut mangkuk itu dengan wajah berbinar bahagia. Saat suapan pertama masuk ke mulutnya, Farra tersenyum puas. "Enak banget! Makasih ya, Papa Barra!"
Melihat binar bahagia di wajah istrinya, rasa lelah Barra dan perjuangan "berburu mangga" bersama Ben dan Farraz terbayar tuntas seketika. Sementara Amelia dan Gabriella hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat betapa bucin dan tunduknya seorang Barra yang dingin di hadapan sang istri.