"Dimana Papaku, Ma?"
Pertanyaan seorang bocah cilik bernama Arka Daru Hutama itu membuat wanita dewasa bagaikan tersambar petir. Raut wajah perempuan bernama Ariska Sandra Hutami seketika pucat karena mendengar pertanyaan sederhana itu. Pada akhirnya pertanyaan itu takkan pernah mendapatkan jawaban pasti sampai takdir kembali mempertemukan Ariska dengan sosok seorang laki-laki yang mirip dengan Arka.
Siapakah sosok laki-laki itu? Apakah pertemuan mereka itu bisa menguak cerita masa lalu yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi
Bukannya mencari kos, Ariska memutuskan pergi ke luar kota. Dia ketakutan dengan seorang laki-laki yang semalam menodainya. Dia tidak mengenal laki-laki itu. Hanya orang-orang tertentu saja yang mengenal sosok pemilik hotel itu karena memang identitasnya dirahasiakan. Bukan tanpa sebab identitasnya dirahasiakan, banyak orang memanfaatkan namanya untuk hal buruk. Bahkan teman-temannya pun juga begitu. Sehingga wajar jika Ariska tidak mengetahui siapa orang semalam.
Ariska naik bus antar provinsi dengan modal uang gaji dan pesangonnya yang baru saja ditransfer. Dia tadi juga langsung mengirimkan surat pengunduran diri kepada HRD hotel tempatnya bekerja. Entah disetujui atau tidak, itu urusan nanti. Yang penting, dia tidak mau bertemu dengan orang yang telah merusaknya. Untuk barang-barang kosnya, tadi dia sudah kirim pesan pada Bu Lastri agar disumbangkan saja. Apalagi barang-barang itu hanya perabotan rumah tangga saja.
"Bisa Nenek duduk di sebelah kamu, Nak?" tanya seorang wanita tua dengan tas besarnya.
"Silahkan, Nek." Ariska sempat terkejut ketika mendengar ada seseorang yang mengajaknya berbicara. Terlebih tadi dia sedang melamun memikirkan nasibnya setelah ini. Pikiran-pikiran buruk menggelayutinya.
"Kamu mau kemana, Nak? Kok naik bus antar provinsi? Mudik?" tanya wanita tua itu dengan tatapan aneh. Pasalnya raut wajah Ariska itu seperti orang kebingungan.
"Oh... Ini mau ke rumah saudara, Nek." ucap Ariska memberi alasan bohong pada orang asing di sampingnya. Padahal dia hanya asal saja membeli tiket ke suatu daerah yang ada saat itu juga.
"Kenalkan nama Nenek itu Yuli. Siapa tahu nanti kamu bertemu Nenek lagi kalau sudah sampai tujuan," ucap wanita tua bernama Yuli itu.
"Saya Ariska, Nek."
Ariska tersenyum saat wanita itu memperkenalkan dirinya. Padahal dia adalah orang asing, tapi entah mengapa Nenek Yuli sama sekali tidak takut. Nenek Yuli pun memilih tidur begitu juga dengan Ariska. Perjalanan menuju provinsi berikutnya membutuhkan waktu yang lumayan lama. Sehingga Ariska ingin istirahat sebentar agar pikirannya lebih tenang dan bisa berpikir.
"Nak, sudah sampai di kota B ini. Kamu berhenti dimana?" tanya Nenek Yuli membangunkan Ariska yang masih tertidur.
"Iya, Nek." Ariska pun terbangun dan melihat beberapa orang sudah keluar dari bus.
"Saya berhenti di sini, Nek." Ariska mengusap wajahnya kemudian segera turun dari bus. Begitu juga dengan Nenek Yuli yang memang tujuannya adalah kota itu.
"Kamu mau ke daerah mana? Kalau searah, bareng saja sama Nenek. Nanti dijemput sama cucu Nenek," tanya Nenek Yuli lagi. Apalagi Nenek Yuli melihat Ariska tampak kebingungan, seperti orang yang tengah mencoba mencerna sesuatu.
Ke sana,
Eh...
Sana...
Ariska bingung harus menjawab apa. Dia pun tidak tahu daerah ini. Dia hanya asal saja tadi saat membeli tiket. Nenek Yuli menatap Ariska dengan intens. Tampaknya Ariska berbohong mengenai dia akan pergi ke rumah saudaranya. Namun Nenek Yuli tidak akan bertanya karena itu urusan pribadi orang. Tak berapa lama, seorang perempuan muda mendekati mereka dengan langkah cerianya.
"Nenek..." panggil remaja itu pada Nenek Yuli.
"Akhirnya kamu sampai juga. Nenek sudah lelah berdiri dari tadi," protes Nenek Yuli padahal mereka juga baru sampai.
"Perasaan busnya juga baru saja pergi, Nek. Lebay nih," sindir remaja bernama Nana itu pada Neneknya. Nenek Yuli hanya tertawa menanggapi sindiran cucunya.
"Ini siapa, Nek?" tanyanya pada Ariska yang berdiri di sebelah Neneknya.
"Namanya Ariska. Dia ini juga cucuku yang akan ikut ke rumah," jawab Nenek Yuli membuat Ariska dan Nana saling pandang.
"Ayo ikut Nenek pulang," ajaknya sambil menarik tangan Ariska sebelum perempuan itu memberikan jawaban.
"Cucu Nenek yang satunya ketinggalan ini," seru Nana tak terima karena dirinya ditinggal.
Bawa itu tas Nenek. Ini Mbakmu udah kecapekan,
Eh...
Ariska tampak kebingungan karena orang asing yang tak dikenalnya malah menarik dirinya. Ariska juga bingung harus pergi kemana setelah ini. Yang pertama kali dirinya ingin lakukan adalah mencari tempat tinggal. Setelahnya, baru mencari pekerjaan. Untuk kuliahnya, dia sudah mengajukan secara daring. Walaupun harus membayar tambahan biaya yang mahal, tidak masalah baginya. Yang penting dia bisa berlari dari laki-laki itu.
"Nek, carikan saja saya kos atau kontrakan." ucap Ariska tak enak hati pada Nana karena Neneknya malah menganggap dia sebagai cucu.
"Kos di rumah Nenek aja. Gratis, nggak usah bayar." ucap Nenek Yuli membuat Ariska membulatkan matanya.
"Aduh... Jangan dong. Nanti dikira Ariska ini simpanan Nenek lho," ceplos Ariska dengan asal.
Bugh...
Sembarangan. Nenek bukan sugar grandmax,
Grandma, Nek. Dipikir kendaraan,
Hahaha...
***
Puk... Puk...
"Dimana perempuan itu? Apa mandi?" gumam seorang laki-laki yang baru saja terbangun dari tidurnya.
Dia adalah laki-laki yang semalam menghabiskan malam panjang dengan Ariska. Tangannya menepuk dan meraba sampingnya tapi tidak merasakan ada seorang perempuan. Dia teringat bahwa semalam sudah menghabiskan waktu dengan seorang perempuan yang tak dikenal. Dia berencana akan bertanggungjawab dengan segera menikahinya dalam waktu dekat. Apalagi dia tahu kalau perempuan itu masih lah tersegel dan suci. Itu artinya dia sedang tidak bersama wanita-wanita yang disodorkan teman-temannya.
Matanya terbuka lebar sambil melihat ke arah samping dirinya tidur dan kamar mandi secara bergantian. Namun lampu kamar mandi tidak menyala, membuat laki-laki itu terduduk. Laki-laki itu melihat ke arah sekelilingnya dan tidak ada tanda kehidupan dari perempuan tersebut. Laki-laki itu segera membuka ponselnya dan memeriksa CCTV yang ada di hotelnya.
Sial...
"Dia pergi,"
"Dia pakai masker dan semalam aku tak bisa melihat jelas bagaimana wajahnya karena pusing," gumam laki-laki itu sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Carlo..." teriak laki-laki itu ketika panggilannya diangkat oleh seseorang bernama Carlo.
"Cepat cek CCTV jalanan dan gambar orang yang aku kirimkan," titahnya yang kemudian mematikan panggilannya.
Sedangkan Carlo yang berada di seberang sana hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Apalagi melihat foto yang dikirimkan oleh atasannya itu. Mencari seorang perempuan menggunakan masker hingga tak terlihat wajahnya. Bahkan matanya saja tidak terlihat karena perempuan itu menundukkan kepala dan tertutup rambut panjangnya.
"Astaga... Ini si Bos sekalinya ada kabar, bikin pusing. Padahal tadi aku sudah mencarinya karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Malah sekarang ada pekerjaan tambahan," gumam Carlo sambil menghela nafasnya kasar.
"Karen, tanya HRD hotel Arvana. Apakah di sana ada karyawan dengan ciri-ciri ini?" Carlo pun memerintahkan sekretaris untuk menghubungi Arvana Hotel tempat Carlo menginap saat ini dengan menunjukkan gambar seorang perempuan.
"Baik, Tuan."
Namanya Ariska Sandra Hutami, Tuan. Namun katanya sudah mengajukan resign tadi pagi,
Apa?
Jadi apa yang sebenarnya terjadi?
kmu tu dulu pas diap kejadian kurang usaha nyari keberadaan ariska
tq thor🙏😍
lanjutt lg ya🤭💪😄
pov Carlo : lanjuuut pak bos ,, 🕺🕺🕺🕺🕺
🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣