**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**
**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**
Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*
Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 034 - Aku Setuju
Arkana menahan pintu lift sampai Raka dan aku keluar.
"Ruang rekaman sudah siap," katanya kepada Raka, seolah tidak baru melihat bibir lelaki itu menyentuhku.
Raka berdiri di sampingku. "Kami tahu jalannya."
Tatapan Arkana turun ke tangannya yang hampir menyentuh punggungku. Raka memilih memasukkan tangan ke saku.
Arkana kemudian menatapku. "Boleh bicara sebentar?"
Aku mengangguk.
Kami berjalan beberapa langkah menjauh. Vania mengajak Raka memeriksa jadwal, memberi ruang tanpa terlihat berpihak.
Arkana meraih tanganku, menggenggam sekali, lalu segera melepaskannya.
"Tentang permintaanmu kemarin," katanya.
Aku teringat percakapan di mobil setelah pesta, ketika aku memintanya mengakhiri semua ikatan yang masih menahan kami. Aku mengatakan ingin lepas, meski tubuhku justru mendekat saat dia memberi kesempatan terakhir.
"Aku setuju," lanjutnya.
Suara itu serak.
"Kau setuju mengakhiri pernikahan kita?"
"Kalau itu yang benar-benar kauinginkan. Pengacara akan mengurusnya. Tidak ada syarat."
Jawaban yang kunanti dua tahun seharusnya terasa seperti kebebasan. Yang muncul justru ruang kosong di dada.
"Setelah melihat Raka menciumku, kau masih setuju?"
Rahangnya menegang. "Keinginanku tidak berubah. Aku ingin membawamu pulang, mengunci pintu, dan memastikan tidak ada lelaki lain menyentuhmu."
"Itu terdengar seperti Arkana yang lama."
"Karena dia belum mati. Aku hanya tidak membiarkannya memutuskan hidupmu lagi."
"Ciuman tadi bukan pilihanku."
Tatapannya langsung naik. "Dia memaksamu?"
"Dia salah membaca keadaan. Aku menyuruh berhenti, dan dia berhenti. Aku sudah menangani batas itu."
Arkana mengangguk perlahan, menerima bahwa aku tidak membutuhkan pembalasan atas namaku.
"Baik."
"Hanya itu?"
"Kalau dia mengulanginya, beri tahu aku."
"Lalu?"
"Aku akan mencoba mengingat semua pelajaran tentang pengendalian diri."
Aku hampir tersenyum.
Di studio rekaman, sutradara film menjelaskan adegan yang harus kuiringi: seorang lelaki membiarkan kekasihnya pergi karena hidup bersamanya akan menghancurkan perempuan itu. Musik diminta terdengar seperti cinta yang tidak mengejar.
Aku duduk di depan piano.
Pada percobaan pertama, permainanku terlalu marah. Produser musik menekan tombol bicara.
"Indah, tetapi tokohnya tidak sedang menghukum perempuan itu. Dia sedang menyelamatkannya."
Aku mencoba lagi.
Kali ini aku membayangkan bandara. Seorang lelaki berdiri di lantai atas, cukup dekat untuk memanggil tetapi memilih diam. Aku belum tahu Arkana benar-benar berada di sana, tetapi gambaran itu terasa begitu nyata hingga tanganku gemetar.
Aku membayangkan barang-barang di depan gerbang, penjaga yang diperintahkan berhenti melapor, dan nomor telepon yang sengaja dimatikan agar aku tidak punya jalan mudah untuk kembali.
Semua yang selama ini kubaca sebagai penolakan perlahan berubah bentuk.
Arkana tidak membuangku karena berhenti mencintai.
Dia membuang dirinya sendiri dari hidupku karena percaya itulah satu-satunya cara aku dapat hidup.
Nada berikutnya jatuh lebih lembut. Tangan kiri menahan tema berat, tangan kanan melepaskannya sedikit demi sedikit. Ketika akor terakhir selesai, ruang kontrol hening.
Sutradara mengusap mata. "Itu yang kami cari."
Aku menatap pantulan wajah sendiri pada piano. "Saya juga."
Produser memutar ulang bagian tengah. Di monitor, tokoh perempuan dalam film berjalan menuju kereta, sedangkan lelaki yang mencintainya tetap berdiri di peron. Ia tersenyum sampai pintu tertutup, lalu baru membiarkan wajahnya runtuh.
"Kita butuh satu lapisan lagi di sini," kata produser. "Bukan kesedihan karena ditinggalkan. Kesedihan karena berhasil membuat orang yang dicintai pergi."
Aku memainkan delapan bar tambahan.
Kali ini aku teringat nasi goreng yang Arkana masak lalu pura-pura hendak dibuang. Tirai yang ditutup saat aku meminta tatapan. Tidak datang ke gerbang, tidak menelepon, tidak mencari alamat London. Keberhasilan-keberhasilan kecil yang mungkin menghancurkannya setiap hari.
Nada terakhir nyaris tidak terdengar.
"Sempurna," kata sutradara.
Aku menarik tangan dari tuts. Selama dua tahun aku mengira hanya aku yang ditinggalkan. Baru di ruangan itu aku memahami bahwa orang yang melepaskan juga tetap berdiri di tempat yang sama setelah kereta pergi.
Vania masuk membawa air hangat. "Pak Arkana menanyakan apakah sesi selesai."
"Kau masih melapor?"
"Tidak. Beliau berdiri di luar selama satu jam dan membuat semua staf takut melewati lorong. Saya hanya menyampaikan pertanyaan langsung."
"Katakan belum."
Vania mengangkat alis. "Padahal sudah?"
"Aku ingin tahu apakah dia bisa menunggu sepuluh menit lagi."
"Dua tahun sepertinya belum cukup sebagai bukti?"
Aku menatapnya. Vania tersenyum dan keluar sebelum botol air sempat kulempar.
Sepuluh menit kemudian, aku sengaja merapikan partitur sangat lambat. Tidak ada ketukan di pintu. Tidak ada staf yang menyuruhku bergegas. Arkana menunggu sampai aku sendiri yang keluar.
Saat keluar studio, Raka menunggu di lorong.
"Tentang lift," katanya. "Aku benar-benar minta maaf."
"Aku percaya. Tapi permintaan maaf tidak membuatku berutang kesempatan."
"Aku tahu."
"Kalau kerja sama kita berlanjut, batas itu tidak boleh dilanggar."
"Tidak akan."
Arkana muncul dari ujung lorong. Ia telah mengganti dasi, tetapi warna merah pemberianku terselip di saku jas.
Raka melihatnya. "Kau menunggu hasil rekaman atau menunggu kami?"
"Hotel ini milikku. Aku tidak perlu alasan berdiri di lorongnya."
"Kebetulan yang mahal."
Aku berjalan melewati keduanya. "Aku lelah dijadikan pusat pertandingan."
Arkana menyusul. "Aku tidak bertanding."
"Tanganmu tadi berkata lain."
Dia berhenti di depan pintu keluar privat. "Kau benar."
Pengakuan tanpa bantahan itu membuatku menoleh.
"Aku cemburu," katanya. "Aku membayangkan mencium semua jejaknya dari bibirmu. Tapi aku tidak akan menyentuhmu tanpa jawabanmu."
Raka masih cukup dekat untuk mendengar.
Arkana mengangkat tangan ke wajahku, berhenti beberapa sentimeter dari kulit. "Bolehkah?"
Aku seharusnya mengatakan tidak. Sebaliknya, aku memandang lelaki yang baru bersedia melepaskan pernikahan kami meski seluruh dirinya menolak.
"Boleh."
Arkana menciumku.
Ciumannya tidak kasar, tetapi tidak menyembunyikan dua tahun rindu. Aku meraih kerahnya dan membalas. Suara langkah di lorong berhenti; aku tahu Raka masih melihat, tetapi pilihan ini bukan pertunjukan untuknya.
Ketika kami berpisah, Arkana menyentuhkan dahi ke dahiku.
"Ini bukan berarti aku membatalkan permintaan," bisikku.
"Aku tahu."
"Dan bukan berarti aku sudah memaafkan semuanya."
"Aku tahu."
Raka berkata dari belakang, "Kalian selalu mengatakan tidak sambil melakukan kebalikannya."
Aku melepaskan Arkana dan menatap Raka. "Aku tidak pernah mengatakan tidak pada ciuman ini."
Lalu aku menggenggam tangan Arkana dan berjalan bersamanya menuju pintu, meninggalkan Raka di lorong bersama pertandingan yang sejak awal tidak pernah bisa dimenangkannya.
Arkana tidak bertanya ke mana kami akan pergi. Dia hanya menyesuaikan langkah dengan kakiku, seperti dulu, tetapi kali ini tidak mengarahkan jalan. Ketika kami mencapai mobil, dia membuka pintu dan menunggu pilihanku.
Aku masuk bersamanya.
Bukan karena dia menarikku kembali, melainkan karena setelah dua tahun menjauh, aku akhirnya ingin melihat tempat yang selama ini membentuk dirinya.