NovelToon NovelToon
Hello Panda

Hello Panda

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:428
Nilai: 5
Nama Author: Dena Tan

Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.


Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:


Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.


Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.


Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.


Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pertama Sekolah dan Senjata di Balik Kotak Pensil

Lala terbangun bukan karena alarm, melainkan karena panggilan tugas pertama sebagai murid St. Starling Academy.

Di atas tempat tidur, bocah empat tahun itu memeluk kotak pensil panda raksasa pemberian Chiko. Namun, jemari kecilnya dengan cepat menekan deretan bintik timbul di telinga panda pada kotak pensil tersebut—pola braille tersembunyi yang ia modifikasi sendiri semalam saat kedua orang tuanya tertidur.

KLIK.

Sisi bawah kotak pensil itu bergeser pelan tanpa suara. Di dalam kompartemen rahasia yang terbilang mustahil ada di mainan anak-anak, tersusun rapi sebuah pemancar pelacak inframerah mikro sebesar biji beras, tiga kapsul EMP mini buatan tangan, dan sebuah pemindai frekuensi radio generasi terbaru.

Lala mengulas senyum manisnya. "Sip! Peralatan sekolah Lala sudah lengkap," bisiknya pelan, lalu menutup kembali kompartemen itu menjadi kotak pensil bulu yang menggemaskan.

Di meja makan, Chiko dan Mila sibuk menyiapkan bekal sekolah. Mila mengoles selai cokelat pada roti tawar, sementara tangannya yang lain di bawah meja secara terampil memasukkan sebilah pisau lempar berbahan karbon tipis—yang tidak akan terdeteksi oleh pemindai logam sekolah—ke dalam lipatan sol sepatu kecil milik Lala.

‘St. Starling baru saja diserang kemarin,’ batin Mila dingin seraya memoles senyum manis pada roti. ‘Meskipun terorisnya sudah dilumpuhkan, aku tidak bisa membiarkan Lala tanpa perlindungan jarak dekat. Pisau ini akan melindungi kakinya kalau-kalau ada bahaya mendadak.’

Di sisi lain meja, Chiko sedang merapikan tali tas punggung Lala. Dengan gerakan jemari yang tak terlihat mata telanjang, Chiko menyisipkan sebuah cip pelacak kuantum dan mikrofon pemantau lansung di balik emblem bros panda pada tas tersebut.

‘Sinyal cip ini terhubung langsung ke satelit pertahanan Leonhart,’ batin Chiko serius sambil membetulkan posisi kacamatanya yang agak miring. ‘Jika ada ancaman radius lima puluh meter dari Lala, sistem pengawal otomatis akan langsung aktif.’

Tanpa kedua orang tuanya sadari, Lala yang baru keluar kamar memperhatikan setiap gerakan rahasia Papa dan Bundanya melalui pantulan kaca lemari es.

‘Bunda menaruh pisau tipis di sepatuku, dan Papa menaruh cip pelacak di brosku...’ batin Lala tertawa riang di dalam hati. ‘Sepatuku jadi makin keren, dan brosku jadi ada pemancar sinyalnya! Terima kasih Papa, terima kasih Bunda!’

Lala melompat gembira menghampiri mereka. "Bunda! Papa! Bekal Lala ada biskuit pandanya kan?"

"Pasti dong, Sayang," sahut Mila lembut sambil memeluk dan memakaikan sepatu yang sudah 'dimodifikasi' ke kaki mungil Lala. "Sepatunya pas kan?"

"Pas banget, Bunda! Terasa hangat!" seru Lala jujur karena lapisan karbon pisau itu memang menyimpan suhu tubuh.

"Ayo berangkat, nanti hari pertama sekolah Lala terlambat!" ajak Chiko gembira.

Pukul delapan pagi, St. Starling Academy telah dijaga ketat oleh kepolisian dan satuan pengaman swasta setelah insiden kemarin. Namun, di balik kemegahan dan pengawalan ketat gedung sekolah tersebut, sebuah riak ancaman baru mulai bergerak secara tak kasat mata.

Di dalam kelas 'Panda Merah' untuk anak usia empat tahun, Lala duduk di barisan depan dekat jendela. Ia meletakkan kotak pensil panda raksasanya di atas meja dengan penuh kebanggaan. Di sebelahnya, anak-anak dari kalangan miliarder dan pejabat duduk kaku diiringi pengawal yang mengawasi dari luar kelas.

"Selamat pagi anak-anak!" sapa Ibu Guru Rina dengan ramah. "Hari ini kita akan berkenalan dan melukis cita-cita kita ya!"

Anak-anak bersorak riang. Lala membuka kotak pensilnya, berpura-pura sibuk memilih krayon warna hitam dan putih.

Namun, tepat pukul sembilan pagi, lencana panda di bros tas Lala—sekaligus kompartemen di kotak pensil dan sensor di sol sepatunya—mendadak bergetar halus secara bersamaan!

BZZZZT.

Lala menyipitkan mata bulatnya. Layar pemindai mikro di balik kotak pensilnya menampilkan sinyal tak dikenal. Seseorang dari lantai dasar gedung baru saja meretas seluruh jaringan listrik dan mengunci akses keluar-masuk St. Starling Academy dari luar.

Di luar gedung, Chiko yang berpura-pura menunggu di parkiran motor sambil membaca koran, mendadak menegang. Layar jam tangannya bergetar hebat.

‘Sinyal satelit diputus! Seseorang memasang isolator frekuensi skala militer di seluruh area sekolah!’ batin Chiko terkejut.

Di sudut lain area taman sekolah, Mila yang sedang pura-pura memilih sayuran di pasar kaget yang berjarak dua ratus meter mendadak menghentikan tangannya. Ponsel terenkripsinya kehilangan koneksi secara total.

‘Isolator sinyal kelas tinggi milik organisasi arms-dealing internasional... target mereka bukan lagi pejabat, tapi seluruh anak di dalam St. Starling!’ batin Mila dingin, aura pembunuhnya mendadak membumbung tinggi.

Namun, yang tidak diketahui oleh Chiko, Mila, maupun kelompok penyerang misterius tersebut adalah...

Di dalam kelas, Lala perlahan mengetuk tombol rahasia di kotak pensil pandanya. Sebuah peta tiga dimensi dari seluruh saluran ventilasi gedung St. Starling Academy mendadak terproyeksi secara tak kasat mata di depan mata Lala.

Lala melihat titik-titik merah penyusup baru yang sedang merayap naik melalui lorong udara—persis di atas atap kelasnya!

Lala menghentikan krayon hitamnya, lalu menengadah menatap langit-langit kelas dengan senyuman kecil yang sangat manis namun dipenuhi kejeniusan mutlak.

‘Paman-paman baru ini mengganggu waktu melukis Lala...’ batin Lala riang. ‘Waktunya mencoba senjata baru di kotak pensil buatan Papa!’

Tiba-tiba, dari balik lubang ventilasi tepat di atas meja Ibu Guru, sebuah benda silinder hitam kecil jatuh meluncur pelan, mengeluarkan bunyi KLIK yang dingin...

Benda silinder hitam itu berguling pelan di atas lantai kayu, tepat di dekat meja Ibu Guru Rina yang masih sibuk membagikan kertas gambar.

Bagi orang biasa—atau bagi Ibu Guru Rina yang mengira itu hanyalah spidol hitam yang terjatuh—benda tersebut tampak biasa saja. Namun, bagi penglihatan ber-IQ 210 milik Lala, objek tersebut adalah Gas-Grenade type MK-4 berisi zat penenang dosis tinggi.

‘Kalau gas itu meletus sekarang, Ibu Guru dan teman-teman bisa tidur sampai besok pagi, dan kertas gambarku jadi kotor!’ batin Lala kesal.

Lala tahu ia harus bertindak. Namun, aturan utama penyamaran tetap berlaku: ia harus bertingkah seperti anak empat tahun yang polos, menggemaskan, dan ceroboh.

"Wah! Ada mainan kaleng meluncur!" jerit Lala dengan suara anak-anaknya yang nyaring dan menggemaskan.

Ia melompat dari kursi kayu mungilnya. Puk-puk-puk! Langkah kaki kecilnya berlari menghampiri silinder hitam itu. Dengan gaya bocah yang pura-pura tersandung lipatan roknya sendiri, Lala menjatuhkan diri ke lantai secara dramatis.

Gubrak!

"Aduh! Lala jatuh!" seru Lala heboh.

Saat tubuhnya terjatuh, jemari mungil Lala menyambar silinder hitam itu secara presisi. Sebelum pin pemicu gas sempat aktif, tombol rahasia di kotak pensil panda raksasanya yang ikut terseret memancarkan gelombang Pulse EMP Mikro langsung ke pemicu elektronik bom tersebut.

Bzzzt... pfft.

Gas tidur di dalam tabung itu mati total sebelum sempat menyebar.

"Lala! Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya Ibu Guru Rina panik, langsung berlari menghampirinya. Benda hitam itu sudah lebih dulu disembunyikan Lala di balik lipatan rok birunya.

"Lala tidak apa-apa, Ibu Guru! Cuma dengkul Lala kaget sedikit!" jawab Lala sambil tersenyum manis dan berkedip polos.

Di luar jendela kelas, dua energi berbahaya sedang bergerak mendekat dengan kecepatan luar biasa.

Melalui pemindai mikro di balik kotak pensilnya, Lala mendeteksi keberadaan Chiko dan Mila. Chiko—yang mengaku hanya karyawan biasa—sedang memanjat pipa air di balik gedung dengan gerakan parkour presisi tinggi sambil membawa alat peretas sinyal. Sementara Mila—yang mengaku hanya ibu rumah tangga biasa—sedang meluncur stealth di atas atap gedung dengan pisau lempar di tangannya.

Kedua orang tuanya bergerak cepat demi melindungi putri mereka, tanpa menyadari bahwa Lala sudah melumpuhkan ancaman pertama di dalam kelas.

Namun, lencana panda di dada Lala kembali bergetar halus. Bzz-bzz.

Di atas atap ruangan kelas, tiga penyusup berpakaian serba hitam sedang bersiap merobek plafon untuk menerobos masuk.

Lala kembali duduk di kursinya, merapikan roknya, lalu memegang krayon hitamnya. Ia mendongak menatap lubang ventilasi di plafon dengan senyuman lembut.

‘Papa dari kiri, Bunda dari kanan, dan Lala dari bawah...’ batin Lala gembira seraya menyentuh tombol peluncur kapsul EMP di kotak pensilnya.

‘Paman-paman di atas atap... siap-siap dapat kejutan!’

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!