Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meditasi Ditengah Amukan Petir Ungu
Episode 29
Suara raungan badai esensi di luar celah akar tulang ini terdengar sangat mengerikan seolah olah ada ribuan mahluk raksasa yang sedang mencakar cakar dinding pelindungku dengan kuku kuku besi mereka. Aku duduk bersandar pada dinding gua yang terasa sangat dingin sekaligus bergetar secara ritmis mengikuti dentuman petir ungu yang menyambar nyambar di langit Gehenna. Cahaya petir tersebut sesekali masuk melalui celah sempit di langit langit gua memberikan kilatan warna biru elektrik yang menyinari wajah metalik ku selama sepersekian detik sebelum akhirnya kembali ditelan oleh kegelapan yang pekat. Aku menarik napas panjang melalui paru paru semu ku merasakan sensasi udara yang sangat berat serta kaya akan partikel energi yang belum sempat terurai oleh alam.
Dug... dug... dug...
Jantung esensi ku berdetak dengan frekuensi yang sangat rendah hampir menyerupai detak jantung mahluk yang sedang dalam masa hibernasi. Aku bisa merasakan bagaimana aliran darah hitamku bergerak sangat lambat menyusuri pembuluh nadi buatan di sekujur otot otot pahaku yang masih terasa panas akibat lari cepat tadi. Rasa pegal yang luar biasa menyerang persendian lutut dan pergelangan kakiku yang kini telah dilapisi oleh logam Black Iron. Sebagai seorang pendaki aku tahu bahwa masa pemulihan setelah melakukan aktivitas fisik ekstrem adalah saat di mana jaringan otot sebenarnya tumbuh serta menguat menjadi lebih padat.
"Goma kau jangan tertidur terlalu dalam. Badai ini sering kali membawa mahluk mahluk kecil pemakan energi yang suka menyelinap masuk ke dalam celah celah sempit seperti ini untuk mencari kehangatan esensi mahluk lain," bisik Kharis yang kini melayang rendah di depan dadaku.
Cahaya ungu dari tubuh asap Kharis tampak sangat redup memberikan penerangan yang hanya cukup untuk melihat ujung ujung jari tanganku. Aku membuka sedikit mata kuning keemasan ku menatap roh kecil itu dengan pandangan yang tenang namun tetap waspada. Aku menyadari bahwa di dunia ini tidak ada tempat yang benar benar aman bahkan di dalam lubang perlindungan sekalipun.
"Aku tidak tidur Kharis. Aku sedang melakukan sinkronisasi ulang antara jiwa dan lapisan kulit metalik ku. Aku merasa ada beberapa bagian di punggungku yang sedikit retak akibat tekanan angin badai tadi," jawabku dengan suara yang sangat rendah hampir tidak terdengar oleh telinga biasa.
[ SISTEM: MEMULAI MODE PEMULIHAN MANDIRI ]
[ SISTEM: TINGKAT REGENERASI JARINGAN: MENINGKAT 15 % ]
[ SISTEM: STATUS INTEGRITAS KULIT: 85 % ]
[ SISTEM: PERINGATAN: TERDETEKSI ADANYA MAHLUK PARASIT KECIL PADA DINDING GUA ]
Aku memfokuskan penglihatan Eyes of the Abyss milik ku ke arah dinding tulang yang ada di sebelah kananku. Benar saja di antara celah celah material kalsium yang sudah membatu terdapat puluhan mahluk kecil berbentuk seperti kutu namun memiliki cangkang kristal yang bercahaya hijau redup. Mereka adalah Marrow Mites mahluk parasit yang hidup dengan menghisap sisa sisa energi sumsum yang tertinggal di dalam tulang purba. Saat ini mereka sepertinya mulai tertarik dengan hawa panas yang terpancar dari jantung esensi ku.
"Hanya serangga kecil Kharis. Biarkan mereka mendekat. Aku butuh sedikit tambahan nutrisi esensi untuk mempercepat proses deskripsi peta dimensi di dalam pikiranku."
Aku tetap diam mematung membiarkan kutu kutu kristal tersebut merayap naik ke atas permukaan kulit jubah pelayanku yang sudah robek. Begitu mereka menyentuh kulit metalik ku yang terbuka aku merasakan sensasi seperti tusukan jarum jarum kecil yang mencoba menembus lapisan dermisku. Namun mereka tidak tahu bahwa kulitku sekarang sudah jauh lebih keras daripada cangkang mereka sendiri.
Aku menggunakan jari jari tangan kananku yang sudah diperkuat oleh esensi jantung Blood Vulture untuk menangkap beberapa ekor kutu tersebut. Aku meremasnya dengan pelan hingga cangkang kristal mereka hancur mengeluarkan cairan hijau kental yang sangat kaya akan energi sumsum mentah. Tanpa ragu aku mengusapkan cairan tersebut ke atas bekas luka di bahuku yang tadi terkena ledakan api.
Sret... sret... sret...
Aku merasakan sensasi dingin yang sangat menyegarkan menyapu seluruh jaringan syaraf di bahuku. Jaringan otot merah yang tadinya sedikit robek mulai merajut kembali dirinya dengan sangat cepat seolah olah diberikan lem biologis yang sangat kuat. Aku memakan sisa sisa tubuh kutu tersebut menghisap esensi murni yang ada di dalamnya secara langsung.
[ SISTEM: MENGONSUMSI MARROW MITES ESSENCE ]
[ SISTEM: CADANGAN ENERGI MENINGKAT 5 % ]
[ SISTEM: PROSES REGENERASI OTOT BAHU SELESAI ]
[ SISTEM: STATUS DEKRIPSI PETA DIMENSI: 22 % ]
Masih terlalu lambat. Aku butuh lebih banyak energi serta waktu untuk benar benar memahami jalur menuju Terra. Tapi setidaknya aku sekarang tahu arah tujuanku.
Aku menyandarkan kepalaku kembali membiarkan jiwaku melayang ke masa lalu sejenak. Aku teringat pada suatu malam di panti asuhan saat badai hujan melanda kota kami. Aku duduk di ruang tengah bersama Ibu Widya dan anak anak lainnya mencoba menahan kebocoran atap dengan ember ember plastik yang sudah pecah. Saat itu aku merasa sangat tidak berdaya karena aku tidak punya uang untuk memperbaiki rumah satu satunya tempat kami bernaung.
Kenangan itu terasa sangat pahit namun sekaligus memberikan dorongan kekuatan yang luar biasa pada jiwaku sekarang. Jika dulu aku tidak bisa memperbaiki atap panti asuhan maka sekarang setelah aku memiliki kekuatan untuk menundukkan iblis aku akan memastikan bahwa panti asuhan itu akan menjadi tempat yang paling aman di seluruh dunia. Aku tidak akan membiarkan kemiskinan atau mahluk dimensi lain menghancurkan rumah masa kecilku itu.
"Goma kau terlihat sangat sedih. Apa kau sedang memikirkan wanita cantik dari duniamu sebelumnya," goda Kharis mencoba memecah kesunyian yang mencekam di dalam gua.
Aku tersenyum tipis di balik kegelapan. "Bukan wanita cantik Kharis. Aku memikirkan sebuah bangunan tua dengan atap yang bocor. Sebuah tempat yang lebih berharga bagiku daripada seluruh emas yang ada di Kota Oksidian ini."
Kharis terdiam sejenak. Ia sepertinya sulit memahami mengapa mahluk yang sudah memiliki kekuatan besar sepertiku masih memikirkan hal hal sepele seperti atap bangunan yang bocor. Di dunia Gehenna mahluk kuat biasanya hanya memikirkan tentang bagaimana membangun istana yang lebih megah atau bagaimana menguasai wilayah yang lebih luas.
"Manusia benar benar mahluk yang aneh. Tapi mungkin itulah alasan kenapa kau bisa bertahan sejauh ini Goma. Kau memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh sebagian besar iblis di sini: Sebuah Jangkar Jiwa," ucap Kharis dengan nada yang lebih bijaksana.
Tiba tiba sebuah getaran yang sangat kuat menghantam dasar gua membuat beberapa serpihan tulang dari langit langit jatuh menimpa bahuku. Suara gemuruh di luar terdengar semakin keras menandakan bahwa puncak badai esensi baru saja dimulai. Aku bisa merasakan bagaimana energi di sekelilingku menjadi sangat tidak stabil hingga sistem penglihatan ku sesekali mengalami gangguan statis.
[ SISTEM: PERINGATAN: BADAI ESENSI MENCAPAI LEVEL MAKSIMAL ]
[ SISTEM: TEKANAN ENERGI EKSTERNAL: SANGAT TINGGI ]
[ SISTEM: DISARANKAN UNTUK MASUK KE DALAM MODE TIDUR DALAM (DEEP SLEEP MODE) ]
[ SISTEM: SISTEM AKAN TETAP AKTIF UNTUK MENJAGA KEAMANAN JIWA ANDA ]
Mode tidur dalam. Ini adalah pertama kalinya sistem menyarankan hal ini. Sepertinya badai kali ini benar benar berbahaya bagi mahluk yang belum memiliki struktur organ dalam yang sempurna sepertiku.
"Kharis masuklah ke dalam rongga dadaku. Jantung esensi ku akan melindungi mu dari tekanan badai ini. Aku akan memasuki mode tidur untuk memulihkan seluruh energiku."
Kharis tidak membuang waktu. Ia segera melesat masuk ke dalam celah jubahku kemudian menempelkan dirinya pada kulit dadaku yang berdenyut hangat. Aku menarik tudung jubahku menutupi seluruh wajahku kemudian menyilangkan kedua tanganku di depan dada. Aku mulai mengatur aliran jiwaku membiarkan kesadaranku perlahan lahan meredup menuju kegelapan batin yang tenang.
Di dalam tidurku aku seolah olah kembali memanjat sebuah dinding tebing yang tidak berujung. Namun kali ini tebing itu terbuat dari susunan mayat para dewa yang telah mati. Setiap pijakan yang kuambil adalah kepala mereka serta setiap pegangan yang kuraih adalah tangan mereka yang dingin. Aku terus memanjat ke atas menuju sebuah cahaya putih yang sangat terang di puncaknya. Cahaya itu adalah Bumi. Cahaya itu adalah rumahku.
Goma sang pendaki kini sedang bermimpi tentang kemenangan besar di tengah tengah neraka yang sedang mengamuk. Ia tidak tahu bahwa saat ia terbangun nanti dunia Gehenna di sekitarnya akan berubah menjadi tempat yang jauh lebih haus akan darah serta pengkhianatan. Namun untuk sekarang biarkan mahluk yang membawa dendam ini beristirahat sejenak mengumpulkan tenaga untuk pendakian pulang yang paling berdarah dalam sejarah dua dunianya.
Setiap tarikan napas tidurnya sekarang adalah janji kehancuran bagi siapa pun yang mencoba menghalangi langkahnya nanti. Aku adalah Goma serta aku tidak akan pernah berhenti mendaki sampai aku menyentuh cahaya itu kembali.