kau hadir saat ku benar benar merasa hancur dan nyaris gila dengan alur cerita hidupku. kau seperti malaikat tak bersayap yg di utus tuhan untuk menyadarkan dan menyelamatkan hidupku.
tanpamu aku bukan lah siapa siapa, tanpamu aku hanya orang hina yg kehilangan arah tujuan hidup.
takan cukup aku mengucap kata terimakasih kepadamu, atas segala kebaikan dan ketulusan hatimu.
kaulah jawaban do'a dalam hatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lukmanben99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tertekan hutang
*waktu terus berjalan hari hari berganti*
Hari itu selepas aku pulang main dengan teman ku, aku pulang ke rumah. sesampainya di depan rumah aku melihat asep sedang bersiap siap mau berangkat berdagang, lalu aku mematikan motor ku.
" Dari mana loe.." tanya asep sambil membereskan dagangannya ke motor.
" Dari rumah temen..." Jawabku, sambil memarkirkan motor vespaku.
" Betah banget loe jadi pengangguran.." ucap asep dengan cuek.
sejenak aku terdiam saat kakak ku berkata seperti itu. " Ya kalau ada kerjaan mah satria juga kerja kang.." ucap ku, lalu aku berjalan masuk rumah menemui ibuku.
Aku melihat ibu sedang mengiris sayuran di dapur, lalu aku menghampirinya, dan berbisik kepada ibu ku. " Mi, satria pinjem dulu 100 ribu ada gak,? Nanti satria ganti.. " Bisik ku ke telinga ibu.
" Buat apa kamu.? " Tanya ibu dengan penasaran.
" Emm, buat benerin motor mi, ada yang harus di ganti, ada kan mi.." ucapku.
" bentar umi ambil uangnya dulu.." ucap ibu, lalu ibu ngambil uangnya itu dan memberikan kepadaku.
" Makasih ya mi..!!" Ucapku dengan tersenyum.
" Iya, tapi bener kan buat benerin motor, awas kalau bohong.." tanya ibu curiga.
" Iya beneran mi..yaudah mi satria mau ke bengkel dulu, makasih mi.." ucapku, lalu aku berjalan keluar rumah.Sebenarnya saat itu aku berbohong kepada ibuku, sebenarnya motor ku tidak apa apa, aku meminjam uang itu untuk membeli narkoba dengan teman temanku.
Saat aku menyalakan motor untuk berangkat pergi, asep bertanya kepadaku mau kemana, dan aku menjawab mau ke bengkel, setelah itu aku pun pergi mengendarai motor vespa ku menemui teman temanku.
Sesampainya di sana. saat itu aku sedang bersama beberapa teman ku, aku meminta uang tambahan kepada mereka untuk membeli narkoba tersebut, setelah uang terkumpul, aku pergi lagi untuk membeli barang itu ke tempat rahasiaku dengan temanku pengedar narkoba itu. setelah mendapatkan barang tersebut, aku pergi ke suatu tempat dengan teman temanku, dan memakai barang tersebut dengan beberapa teman ku di tempat sunyi sepi. Saat itu dony tidak ikut denganku.
Saat malam hari, Dan sementara asep. saat itu asep sedang membereskan daganganya, bersiap untuk pulang. Ia pun berangkat pulang.
saat di tengah perjalanan, asep melihat ku sedang asik bercanda tawa sambil bermabuk mabukan dengan teman temanku. asep berhenti sejenak memperhatikan ku dari kejauhan. Saat itu aku tidak tau bahwa aku sedang di perhatikan oleh asep.
Asep geleng geleng kepala melihat kelakuan ku yang selalu seperti itu. ingin rasanya asep menegurku, namun ia tidak enak jika menegurku di hadapan teman temanku, dan tak lama kemudian asep melanjutkan lagi perjalanan pulangnya.
*Beberapa hari kemudian*
saat itu aku sangat ingin mengonsumsi barang terlarang itu, namun saat itu aku tidak punya uang untuk membelinya. Aku mendatangi dan menghampiri temanku yang mengedarkan barang tersebut, aku sudah akrab dan dekat denganya, bahkan aku tau cara cara system bisnis gelap dia. Saat itu aku sedang denganya berdua di tempat biasa.
" Gue lagi pengen banget ini, gue minta dulu barangnya, nanti gue bayar, serius minggu minggu ini dah entar gue bayar bang..." ucapku membujuk temanku agar bisa menghutang dulu.
" Apaa loe ah, waktu itu aja nyampe mau sebulan loe baru bayar.." ucap temanku.
" Beneran bang, ya elah kayak ke siapa aja si, gak percayaan banget sama gue bang.." ucapku.
" Yaudah dah, tapi bner loe ya, minggu minggu ini, awas loe kalau bohong.." ucap temanku.
" Iya beneran bang.." jawabku.
Dan hingga akhirnya temanku memberikan barang itu kepadaku, setelah mendapatkan barang tersebut, dengan senang hati aku pergi meninggalkan tempat itu.
*waktu terus berjalan hari hari berganti*
Dan sementara elina di jakarta, saat itu elina baru saja sampai di campusnya mengendarai mobil pribadinya, ia memarkirkan mobilnya di parkiran campusnya, sebelum turun dari mobilnya, ia memebereskan buku buku yang tergeletak di kursi mobil sebelahnya, lalu ia menatap boneka pemberian dariku di kursi sebelahnya, ia selalu membawa boneka itu kemana pun ia pergi mengendarai mobilnya.
Elina tersenyum menatap boneka itu. kemudian ia ngambil HP, ia mengetik mengirim pesan kepadaku.
Dan sementara aku yang di kampung. aku sedang berada di suatu tempat, saat itu aku sedang memperbaiki motor vespaku sendirian, lalu HP ku berdering menerima pesan dari elina. Aku membacanya. dia menyatakan rindu kepadaku, dan menanyakan aku sedang apa, lewat pesanya itu. dengan tersenyum aku pun membalasnya, dan memberi kabar aku sedang apa. Dan aku juga menyemangati elina yang sedang kuliah itu lewat pesan di hp ku.
setelah elina chatan denganku. elina turun dari mobilnya, dan berjalan masuk menuju ruang belajarnya.
Dan sementara aku. Setelah chatan dengan elina, ku taruh HP ku di dekat ku, dan melanjutkan memperbaiki motor vespaku. Tak lama, tiba tiba temanku yang mengedarkan narkoba itu menelponku, aku sudah tau maksudnya, dia pasti menagih hutangku. lalu aku mengankatnya dan benar saja dia menagih hutangku, karena sudah seminggu lebih aku belum membayarnya. aku menjawab aku akan membayarnya, tapi aku meminta waktu 2 hari lagi untukku membayar hutangku kepadanya. setelah itu aku menutup telponya.
Aku bingung harus mencari uang kemana untuk membayar hutangku itu, lalu aku berpikiran untuk minjam uang kepada elina, namun aku malu, dan lagi lagi ibuku jadi sasaran. Setelah aku selesai memperbaiki motor ku, aku pulang ke rumah.
sesampainya di rumah. aku melihat rumah sangat begitu sepi, aku merasa heran, lalu aku menghentikan motorku dan berjalan masuk rumah, saat itu di dalam rumah hanya ada ibuku, aku melihat ibu sedang mencuci piring di dapur, sejenak aku terdiam memperhatikanya. ibu belum menyadari kehadiranku, tadinya aku ingin meminjam uang lagi, namun entah kenapa saat itu aku jadi berubah pikiran, di tambah saat itu aku memerlukan uang lebih banyak dari pada yang waktu itu aku meminjam kepada ibu. aku membatalkan niatku itu, kemudian aku menghampiri ibu dan menyapanya.
" Mi.." sapaku, dan tiba tiba saja ibu kaget saat aku menyapa nya.
" Astagfirlah, kamu ngagetin umi aja.." ucap ibu dengan kaget.
Aku sedikit ketawa melihat ibu kaget. " Kang asep dagang ya mi,,,?" Tanyaku.
" Iya baru tadi berangkat. kamu udah makan..?." Jawab dan tanya ibu sambil mencuci piring.
" Ouh, belum mi, nanti aja belum laper..kalau teh lia sama layla kemana mi..?" Tanya ku.
" Gak tau tadi keluar bawa layla, paling juga lagi main sama tetangga.." jawab ibu.
Aku garuk garuk kepala. _Hadehh gue nyari duit kemana ya..?_ Dalam hati ku. Aku aral, bingung harus mencari uang kemana.