Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Dingin
Pintu ruang kerja itu terbuka kembali setelah dua jam berlalu, sejak Sagara meninggalkannya.
Sagara memasuki ruangan itu dengan langkah seperti biasa. Tenang. Terukur.
Agam tidak mengikuti. Ia berhenti di ruang kerjanya sendiri.
Baru masuk dua langkah dalam ruangannya, Sagara berhenti. Merasa
Ada yang berbeda.
Bukan pada ruangan. Tapi pada isinya.
Shafiya.
Ia tidak lagi duduk seperti tadi.
Tubuhnya meringkuk di salah satu sisi sofa. Tidak benar-benar dalam posisi berbaring. Juga tidak sedang duduk bersandar.
Tubuh itu seperti mencari posisi yang paling bisa ditahan.
Lengannya memeluk dirinya sendiri.
Kerudungnya masih terpakai, namun tidak rapi dan sedikit longgar.
Beberapa anak rambutnya sedikit berantakan. Terjuntai keluar.
Dan yang paling terlihat jelas adalah
warna wajahnya.
Pucat.
Sagara memperhatikan dengan seksama.
Pucat di wajah itu, sepertinya bukan karena lelah. Tapi karena dingin yang terlalu lama.
Sagara lalu menggeser pandangan ke AC yang selalu aktif dengan tekanan suhu yang sama. Dan karena itu,
ruangan itu memang selalu bersuhu rendah. Terjaga stabil. Nyaman bagi sebagian orang. Namun tidak untuk tubuh yang sedang berubah.
Tidak untuk seseorang yang tengah hamil, seperti Shafiya.
Shafiya tadi sempat mencoba bertahan.
Tangannya juga sempat mencari sesuatu.
Remote, atau panel untuk menurunkan tekanan AC.
Namun tidak ditemukan. Dan ia tak melanjutkan pencarian.
Terlalu banyak yang tidak ia pahami di ruangan ini. Terlalu rapi. Terlalu terkontrol.
Ia khawatir salah.
Ia takut satu sentuhan yang salah akan mengubah sesuatu yang tidak seharusnya.
Maka ia memilih diam.
Menarik tubuhnya lebih rapat.
Menahan dingin itu dengan cara sederhana. Duduk. Meringkuk.
Hingga perlahan--rasa tidak nyaman itu bergeser.
Perutnya mulai bereaksi.
Mual. Terasa ringan di awal.
Namun makin lama cukup mengganggu.
Tubuh Shafiya melemah. Diam, sambil berperang dengan rasa dingin dan mual.
Dan tanpa ia sadari--ia tertidur.
Bukan karena nyaman. Tapi karena tubuhnya… menyerah lebih dulu.
Sagara berdiri diam.
Tatapannya tertahan di Shafiya untuk
beberapa detik.
Lebih lama dari biasanya.
Ia melangkah mendekat, perlahan.
Tanpa suara.
Dan semakin dekat, ia semakin jelas melihat. Jari-jari Shafiya yang sedikit kaku.
Bahu yang masih menegang meski tertidur. Dan napas yang tidak sepenuhnya tenang.
Sagara berhenti di dekat sofa.
Tatapannya turun cukup lama. Saat itu, baru pertama ia merasa kalau pengaturan ruangan itu kali ini tidak setepat biasanya.
Terlalu dingin.
Terlalu sunyi.
Terlalu… tidak ramah untuk Shafiya.
Tangannya kemudian bergerak cepat.
Bukan ke Shafiya.
Namun ke panel di sisi meja.
Dengan satu sentuhan saja,
suhu ruangan itu langsung berubah.
Pelan.
Lebih hangat.
Lebih manusiawi.
Sejenak ia kembali menatap Shafiya.
Memastikan kalau tekanan udara saat ini sudah lebih nyaman untuknya.
Lalu tangannya beralih.
Menarik jas yang masih tersampir di sandaran kursi.
Beberapa detik ia masih menatap jas itu.
Seolah mempertimbangkan. Lanjut atau tidak. Namun akhirnya--jas itu ia letakkan di atas tubuh Shafiya.
Tidak terlalu rapi.
Tidak terlalu hati-hati.
Hanya cukup untuk menutup sebagian tubuh Shafiya yang masih lelap dan meringkuk.
Shafiya bergerak sedikit.
Tubuhnya merespon tanpa sadar. Kini posisinya nampak lebih rileks.
Lebih tenang.
Sagara tidak langsung menjauh.
Ia tetap berdiri di sana.
Menatap Shafiya cukup lama.
Seolah baru menyadari--bahwa ruang yang selama ini ia kendalikan dengan sempurna… tidak selalu aman
untuk semua orang.
Sagara duduk. Di kursi meja kerjanya. Memeriksa beberapa file di laptop. Namun sesekali tatapannya bergeser ke Shafiya. Singkat. Hanya untuk memastikan.
Waktu pun berlalu.
Sagara melihat jam.
Waktu makan siang sudah lewat.
Tatapannya kembali pada Shafiya.
Masih tertidur.
Sagara tidak membangunkan.
Ia kembali diam. Berpikir sejenak.
Kondisi yang dialami Shafiya tidak bisa ia abaikan.
Ia lalu mengambil ponselnya.
Menekan satu nama.
Menunggu sesaat, panggilan itupun terhubung.
"Hallo." Suara di seberang.
“Dokter Zulaika."
"I--iya Pak."
Jawaban dari sana sedikit terbata. Mungkin kaget menerima telepon dari pewaris Adinata itu dengan tiba-tiba.
Dan Sagara tidak memberi waktu. Apalagi untuk basa-basi tak perlu.
“Kondisi hamil. Tadi kedinginan AC. Sedikit mual.”
Jeda sebentar.
“ Apa itu Aman?”
"Jika--kondisi itu segera diatasi. Seharusnya aman, Pak." Dokter Zulaika menjawab lancar.
Sagara mendengarkan. Sementara
tatapannya tetap pada Shafiya.
“Menu yang disarankan?” tanyanya kemudian.
"Apa ini, ning Shafiya?" Dokter Zulaika masih bertanya. Tujuannya jelas. Agar tak memberi saran yang keliru.
"Apa saya akan bertanya tentang
orang lain?" Datar. Tajam.
"Maaf, Pak." Dokter Zulaika menanggapi dengan cepat. "Jika seperti kondisi yang Anda sampaikan. Ning Shafiya butuh makanan hangat. Sup hangat bening. Itu yang utama."
Sagara tak menyela ia mendengarkan semua yang disampaikan dokter Zulaika dengan seksama.
"Nasi lembut atau nasi tim untuk mudah dicerna. Lauk ringan, seperti ayam rebus suwir. Dan sayuran sederhana, seperti tumis buncis, atau sayur bayam bening."
Dokter Zulaikan menutup rekomendasi menu itu dengan helaan napas ringan.
“Baik.”
Telepon segera ditutup.
Tanpa menunggu jawaban dokter Zulaika.
Sagara beralih ke panggilan berikutnya.
Saat telepon diangkat. Ia langsung memberi instruksi singkat.
“Siapkan makan siang. Bawa ke ruangan saya."
"Baik, Pak." Suara di seberang.
"Satu lagi." Sagara menambahkan.
"Menu yang hangat. Ringan, mudah dicerna. Jangan terlalu berminyak."
"Baik, Pak."
Tak butuh waktu lama. Pintu diketuk.
Lalu petugas makanan masuk mendorong meja yang dipenuhi menu yang sudah dipesan.
Atas instruksi Sagara, mereka menatanya di atas meja tak jauh dari Shafiya yang masih tidur dengan diselimuti jas milik Sagara.
Aroma sup ayam bening perlahan menyebar. Ringan. Tidak tajam.
Uap tipis naik dari mangkuk.
Nasi disajikan lembut.
Lauk sederhana. Dan segelas air hangat diletakkan di sampingnya.
Dan satu menu lagi yang diletakkan di meja yang sama, namun berjarak.
Petugas kemudian berlalu setelah melaporkan hasil kerjanya. Mereka tak berani menatap lebih lama, meski tanda tanya itu jelas tersirat dari tatap mereka saat melihat ke arah Shafiya.
Ruangan kembali sepi. Sagara masih tetap duduk di kursinya. Ia tak membangunkan Shafiya. Ia menunggu sampai beberapa menit berlalu.
Hingga akhirnya Shafiya bergerak pelan.
Alisnya sedikit berkerut.
Tubuhnya menyesuaikan.
Dan saat matanya terbuka--hal pertama yang ia rasakan…
bukan dingin lagi. Tapi hangat.
Dari jas yang masih menutup tubuhnya.
Dan dari udara yang tidak lagi menusuk.
Shafiya mengedip sekali.
Lalu duduk perlahan.
Masih sedikit bingung.
Tatapannya berkeliling ruangan.
Dan berhenti pada meja kecil tak jauh di depannya. Pada makanan yang ditata lengkap. Masih hangat. Dan aromanya menggoda.
Ia belum sempat bertanya--saat suara Sagara terdengar.
“Sudah bangun.”
Sagara sudah berdiri tidak jauh darinya.
Seperti biasa. Dengan tenang. Tanpa meninggalkan jejak kepanikan. Juga tak terlihat ingin menjelaskan panjang lebar.
Shafiya menatapnya beberapa detik.
Lalu pandangannya kembali beralih pada makanan itu lagi.
“…ini?”
“Makan.”
Hanya satu kata singkat.
Namun cukup.
Dan Shafiya tidak bertanya lagi.
Ia bangkit. Melangkah mendekat.
Duduk di depan makanan itu.
Dan saat sendok pertama menyentuh, suhu hangatnya langsung terasa.
Tidak hanya di tubuh.
Tapi juga… pada sesuatu yang sejak tadi tidak ia sadari.
Shafiya menyuap perlahan.
Hangatnya menyebar. Pelan.
Menurunkan rasa tidak nyaman yang tadi sempat mengganggu.
Beberapa detik kemudian pada suapan kedua. Sendok itu berhenti. Dan tatapannya bergeser ke arah Sagara.
Lelaki itu masih berdiri di tempatnya tadi.
Padahal makanan yang ada di meja itu, jelas bukan hanya untuk satu orang.
Namun Sagara belum menyentuhnya.
Seolah itu bukan hal yang perlu diprioritaskan.
Shafiya ragu sejenak. Sebelum akhirnya berkata pelan.
“Mas… makan juga.”
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣
Ayok mas Agam pelet trus ning cantik
Masih bnyak yg nunggu jandanya😍
Semoga Sagara & Ning Shafiya sukses menaklukan retensi dari 20 bab sampai 100 bab, aamiin.
Semangat & semoga sukses, Ning Najwa ♥️
Semoga update nya lebih sering