NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Pelakor / Tamat
Popularitas:64.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.

Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~

Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.

Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.

Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.

Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.

Rana tahu.

Rana melihat.

Ia menyadari.

Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.

Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?

Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26

Selamat membaca
please komen, subscribe, vote, dan like🫶

°°°°°

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pucuk 24

Rana diam sesaat, jemarinya memeluk stir- menahan amarah. Matanya yang cenderung bulat-almond itu kembali melirik ke arah gedung rumah sakit.

Ia terkekeh saat mengingat ucapan Laras barusan. "Hanya takut kehilangan Raka?!" dengusnya.

Perempuan berusia 32 tahun itu melepas jepit rambutnya dan melemparkan jedai mutiaranya ke sembarang arah. Lalu menyalakan mesin mobil dan mengendalikan mobil Range Rover sport-nya keluar dari gedung parkir rumah sakit.

Tujuannya adalah menjemput Alaric dari sekolahnya. Mobil yang di kendarai Rana membelah jalanan ramai, beberapa kali ponselnya berdering. Sekilas ia melirik ponselnya, namun Rana enggan mengangkat telpon dari suaminya.

"Mau minta maaf lagi..." sungutnya. "Siapa sebenarnya Laras? Aku rasa hubungan mereka lebih dari sekedar teman," ujarnya.

~

Sesampainya di pelataran sekolah, Rana mematikan mesin mobil. Perempuan itu keluar dengan begitu elegan. Ia melihat Alaric yang berdiri di lobi sekolah bersama seorang guru wanita.

"Bundaaa!!!" panggil anak itu seraya berlari mendekati Rana yang melambaikan tangannya.

"Ayu mana?" tanya Alaric, kedua matanya mencari sosok adiknya.

"Di rumah, lagi sama Mbak Sari." Jawab Rana seraya membukakan pintu mobil untuk putranya.

Beberapa menit kemudian, Rana dan Alaric sudah berada di dalam mobil. Anak itu duduk manis mengenakan sabuk pengaman yang di pasang oleh ibunya. Rana sesekali melirik putranya.

"Gimana di sekolah?" tanya Rana santai.

"Baik, cuma tadi tuh katanya mau ada temen baru...tapi gak jadi masuk."

"Temen baru?" Rana menghentikan laju mobilnya saat lampu merah menyala.

Alaric mengangguk lucu. "Bundaaa...Mas Al mau ke kantor ayah..."

"Mau ngapain?" Rana menatap putranya yang semakin hari semakin mirip dengan ayahnya.

Anak itu meraih tas TK nya dan membuka resleting tas, mengeluarkan sebuah kerajinan tangan yang mungkin saja di buat oleh anak itu di sekolah tadi.

"Barusan di sekolah bikin kelajinan ini...ikan timbul...ayahkan suka makan ikan," sahut anak itu nyengir seraya memperlihatkan kertas kerajinan.

Lampu lalu lintas berubah warna. Rana tidak yakin jika Dipta sudah kembali ke kantornya. Hingga pada akhirnya Rana mengatakan kalau ayahnya ada meeting jadi tidak bisa di ganggu. Mendengar penjelasan bundanya, Alaric mengerti.

"Gimana kalau kita ke kantor kakek? Kita makan siang di cafetaria kantor kakek?" ajak Rana.

Alaric kembali sumringah, kedua tangannya mengangkat berseru riang. "Asyik....Mas Al udah lama ndak ketemu kakek..."

Rana tersenyum, lalu kembali fokus pada jalanan. Meskipun jalanan ramai namun Rana mengendalikan mobil itu dengan kecepatan rata-rata.

Hingga mereka sampai di parkiran sebuah gedung tinggi. Ayahnya yang seorang Presdir dari perusahaan yang bergerak dalam bidang real estate, salah satu orang penting dan bahkan masuk kedalam peringkat orang terkaya di Indonesia. Kerap kali para investor yang ingin sekali berinvestasi pada perusahaan Wijaya grup.

Rana membuka pintu mobilnya dan di ikuti oleh putra sulungnya. Melangkah anggun menuju lift yang ada di area parkiran.

Sesaat kemudian, mereka sampai di kantor yang dulu sempat Rana pegang sebelum pada akhirnya ia memutuskan menikah dan menjadi seorang ibu rumah tangga tanpa memikirkan bisnis. Semua karyawan yang mengetahui siapa Rana langsung diam dan menunduk hormat.

"Apa itu putri Presdir?"

"Kamu belum tahu? Dia juga menantu dari keluarga Mahendra. Tuan Adhikara Pradipta Mahendra, itu loh CEO muda yang lumayan sering wara-wiri di televisi."

"Cantik banget..."

"Memang cantik, bahkan meskipun sudah melahirkan dua anak tapi proporsi tubuhnya ideal banget!"

Desas-desus itu terus bergumam sampai Rana dan Alaric sampai di depan ruangan ayahnya. Seorang sekretaris laki-laki mengetuk pintu ruangan besar itu. Menunggu persetujuan dari Tuan Wijaya.

Beberapa detik kemudian, sekretaris itu membuka pintu dan mempersilahkan Rana dan juga Alaric untuk masuk.

Pintu kembali di tutup.

"Kakek....." seru Alaric seraya berlari kecil ke arah seorang pria yang sedang duduk di kursi kekuasaannya.

Ruangan itu besar, bahkan lebih besar dari ruangan tempat kerja suaminya. Rana tersenyum dan melangkah santai mendekati ayahnya.

Pria paruh baya dengan wajah berwibawa itu sudah menggendong cucu laki-lakinya, lalu menoleh ke arah putri semata wayangnya.

"Mendadak? Ada apa itu Ran?" tanya ayahnya seraya berdiri.

Rana tersenyum, "cuma pengen ketemu ayah aja. Apa ayah dan ibu baik?"

perempuan itu kini duduk di sofa dan di susul oleh ayahnya. Alaric di biarkan memilih tempat duduk yang menurutnya nyaman.

"Baik," jawab Pak Wijaya. "Mana Masayu? Lalu... bagaimana kabar suamimu? Sudah lama ayah tidak mendapatkan kabar tentang dia."

Rana menoleh ke arah Alaric yang tengah asyik sendiri, lalu kembali menatap ayahnya. Wajahnya tenang, elegan seperti hal layaknya seorang berpendidikan.

"Rana ingin punya orang," ucapnya seraya menyandarkan punggungnya.

Pak Wijaya mengeryit, "orang?"

Rana mengangguk. "Ya."

Pak Wijaya membenarkan cara duduknya dan menatap putrinya tegas. "Apa terjadi sesuatu?"

"Hanya untuk berjaga-jaga," jawabnya.

"Baiklah, nanti akan ayah cari."

Pak Wijaya menatap sekilas putrinya, ia tahu jika putrinya ini tengah memiliki guncangan. Namun ia lebih mengenal Rana, ia tidak bertanya atau apapun, ia hanya menuruti keinginannya, lalu jika Rana sudah merasa tidak sanggup maka ia akan mengatakan sebenarnya.

Ponselnya berdering.

Ayah dan anak itu menoleh ke arah tas Dior berwarna putih milik Rana.

"Angkat saja," ucap ayahnya santai.

Rana merogoh ponselnya, menatap layar sejenak.

"Mas Dipta," ucap Rana seraya menoleh ke arah ayahnya.

Pak Wijaya tersenyum, "angkat!"

Rana menekan tombol hijau, lalu sambungan telepon dari suaminya memantulkan suara berat sang suami.

"Aku akan pulang, bagaimana kalau kita makan siang bersama?"

Rana melirik ayahnya, "aku...lagi sama ayah Mas, mungkin kalau nanti malam aku bisa."

"Oh...kamu lagi sama ayah mertua rupanya."

Hening.

"Bagaimana keadaan beliau? Sudah lama mas nggak ketemu."

"Baik," jawab Rana.

"Rana, gimana kalau nanti kita makan malam bareng ibu sama ayah? Kayanya udah lama juga kita gak makan keluarga bareng. Biar nanti aku telpon ayah sama ibuku juga."

Rana diam, lalu melirik ayahnya yang tersenyum mengangguk.

"Oh, baiklah. Sepertinya...ayah juga menyetujuinya." Jawab Rana.

"Baiklah, kalau gitu Mas makan siang dulu. Sampaikan salam Mas buat ayah,"

"Ya. Nanti aku salamin. Kalau gitu, aku tutup dulu telponnya."

"Ya sudah,"

Sambungan terputus, Rana menurunkan ponselnya. Ayahnya tertawa kecil- namun tawa bahagia melihat putrinya.

"Ada apa denganmu, Ayah?" tanya Rana.

"Ayah senang mendengar hubungan kalian baik-baik saja. Katakan kepada suamimu nanti, biar ayah yang reservasi tempat. Kebetulan ayah mendapatkan tender proyek yang besar." Pak Wijaya menyilangkan kedua tangannya.

Pintu kayu jati itu terbuka, memberikan celah untuk seorang pria yang usianya mungkin seumuran dengan Dipta. Pria itu mengenakan pakaian rapi.

"Tuan, Pak Bram kembali datang kesini. Katanya...dia ingin membicarakan soal proyek di Bali." Ucapnya lugas.

"Suruh tunggu lima menit di ruang tamu, nanti saya akan menemuinya." Ujar Pak Wijaya ringan.

Pria itu mengangguk hormat, "baik, tuan."

Pintu kembali tertutup.

"Rana, sepertinya ayah harus pergi dulu. Kamu sama Alaric mau makan siang apa? Biar sekretaris ayah yang belikan."

Rana menggeleng, "Rana ke cafetaria kantor ayah aja."

"Yasudah,"

Pak Wijaya langsung berdiri dan keluar dari ruangan besar itu, meninggalkan Rana dan Alaric yang akan bersiap ke cafetaria perusahaan ayahnya.

...****************...

Hallo👋👋👋

Jangan lupa komen, like, vote, subscribe, bintang limanya...☺️🫶🫶🫶

Jangan loncat-loncat bab ya, biar performa novel Yehppee tidak menurun🫶🫶🫶

Kira-kira kenapa Rana meminta 'orang' kepada ayahnya??? Buat apa??? Coba tebak di kolom komentar, siapa tahu reader tahu isi pikiran Rana heheh

Jangan lupa follow ya😘

Dan juga Yehppee cuma mau ngasih tahu setiap Sabtu dan Minggu Yehppee libur ya...

Bab selanjutnya Yehppee bakalan rilis visual karakter Rana sama Dipta🫶🫶🫶🫶

Bersambung.....

1
Bundanya Pandu Pharamadina
kak Author, terimakasih cerita bagus...
❤❤❤❤
Cheng Nyo
👍👍
Bundanya Pandu Pharamadina
Dipta Rana mungkin kurangnya komunikasi , semoga ga ada drama perempuan lain dalam rumah tangga kalian❤❤
Rosita Tumbelaka
Aq suka coment yg serius ajaa krn bikin Adrenalin ku naik..deg... deg... deg..
Rosita Tumbelaka
Ayoo Thor.... lanjut ...aneh istri nya bicara dgn pria lain di muka Umum marah. tapi suami berdua an dgn perempuan lain di tempat private mkn di resto ... apa itu pantas...
Bundanya Pandu Pharamadina
aduh Dipta gimana sih.... nggapeka dgn istri yg cemburu
Bundanya Pandu Pharamadina
Dipta jangan main api.. ingat istri juga anak² yg menunggu kepulanganmu
Bundanya Pandu Pharamadina
Laras ga tepat waktu klo telfon.. ga lihat waktu,
Bundanya Pandu Pharamadina
semoga ga ada drama kegoda masa lalu, tetap jadi keluarga harmonis Dipta Rana❤
Bundanya Pandu Pharamadina
masa lalunya Dipta kah laras....
Bundanya Pandu Pharamadina
ijin marathon kak Author🙏
Ririn Nursisminingsih
kereen rena👍👍
Ririn Nursisminingsih
syukurin Dipta terus aja bahagiain mntan kmu itu
Ririn Nursisminingsih
dipta kmu mulai main hati rena jg mudah percaya ini juga sang mntan ganggu aja
Sayekti 0519
baguss dan nyata sakitnya
Memyr 67
𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝖻𝖾𝗋𝗁𝖺𝗋𝖺𝗉 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗆𝖾𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋𝗄𝖺𝗇 𝖼𝖺𝗅𝗈𝗇 𝗃𝖺𝗇𝖽𝖺. 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝗇𝗂 𝗌𝗎𝖺𝗆𝗂
Memyr 67
𝗌𝗎𝖺𝗆𝗂 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖽𝗂𝗄𝗂𝗋𝖺 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝖾𝗇𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗌𝖺𝗄𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗆𝖺𝗌𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺? 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝗋𝖺𝗃𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗌𝗎𝖺𝗌𝖺𝗇𝖺 𝗋𝗎𝗆𝖺𝗁 𝗍𝖾𝗋𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝗇𝗒𝖺𝗆𝖺𝗇 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝖽𝗂𝗇𝗀 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺? 𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋 𝗈𝗍𝖺𝗄 𝖽𝗂 𝖻𝗈𝗄𝗈𝗇𝗀
Nha_A
IRT apa thoor? Ibu Rumah Tangga? kirain kalo pembantu itu ART, Asisten Rumah Tangga
🍀 YEHPPEE 🍀: typo kayak nya hehe makasih koreksinya
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
/Heart/
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih
total 1 replies
Gemuruh riuh
akhirnya happy ending 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!