(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.
⚙⚙⚙
Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.
Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.
—T28J
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRAKENFORD ARC 28 - BENGKEL
...Malam itu, bengkel berhenti menjadi tempat untuk memperbaiki......
......ia berubah menjadi tempat untuk menghancurkan....
...⚙⚙⚙...
BRAKK...
Keheningan itu pecah tanpa peringatan. Pintu depan meledak menjadi serpihan kayu yang beterbangan ke segala arah. Dua bayangan hitam menerobos masuk bersama pusaran debu dan angin malam yang dingin.
GRRRAAAHH...
Dua Nightclaw Stalker merendah di ambang pintu. Tubuh ramping mereka meliuk seperti bayangan hidup dengan mata kuning yang menyala di tengah kegelapan. Cakar panjangnya menggores lantai kayu.
“Ibu, DI BELAKANGKU!” bentak Arven.
Ia memasang kuda-kuda, mengangkat Titan Wrench di depan dada. Salah satu Nightclaw melesat, gerakannya hanya berupa sapuan hitam yang kabur. Cakar makhluk itu menyambar dari samping.
Arven menangkis dengan batang logam berat senjatanya. Benturan itu memicu percikan api. Kaki Arven terseret mundur, membuat papan lantai kayu retak dan mencuat di bawah tumpuannya.
“Gh—!”
Nightclaw kedua tidak memberikan napas. Ia melompat dari sisi kanan, mengincar leher Arven.
“ARVEN!!”
Ibunya menyambar botol minyak di atas meja dengan gerakan cepat.
WOOOSH-PRAKK...
Botol kaca itu pecah tepat di wajah Nightclaw. Cairan kental menyiram matanya, membuatnya memekik kesakitan. Makhluk itu meraung, gerakannya terhenti sepersekian detik saat ia mencoba mengusap wajahnya.
“Itu dia!” teriak ibunya.
Arven menghentak maju, memanfaatkan celah itu. Titan Wrench memukul sisi kepala dengan kekuatan penuh. Suara tulang retak terdengar jelas, membuat makhluk itu terhuyung namun masih mencoba menggapai dengan cakarnya. Arven mengangkat kembali senjatanya.
“Jangan bangun lagi.”
BRAKK...
Pukulan kedua menghancurkan tengkoraknya sepenuhnya. Cairan gelap merembes ke celah lantai saat tubuh makhluk itu jatuh lemas. Satu mati.
“Arven, yang satu lagi!”
Nightclaw pertama yang tadi tertahan kini kembali menyerang. Kali ini ia mengabaikan Arven dan melesat langsung ke arah ibunya yang masih berada di dekat meja.
“JANGAN!”
Arven melempar tubuhnya, menerjang ke depan. Ia menabrak makhluk itu di udara. Keduanya berguling hebat di atas lantai, menghantam meja kayu hingga hancur berkeping-keping. Kaki meja patah, piring-piring sisa terbang ke dinding. Cakar Nightclaw menyambar bahu Arven.
SRRKK...
Kain bajunya robek, diikuti semburan darah yang membasahi lengannya.
“Gh—!!” Arven menggertakkan gigi, menahan perih yang membakar. Tangannya masih mengunci Titan Wrench, namun jarak mereka terlalu rapat untuk mengayun. Monster itu membuka rahangnya lebar-lebar, memperlihatkan barisan gigi runcing tepat di depan wajah Arven.
“ARVEN!”
Ibunya bergerak, mengambil patahan kayu dari lantai. Kayu itu menghajar pelipis makhluk itu. Meski tidak mematikan, hantaman itu cukup membuat fokus si predator goyah. Arven segera menyentakkan lututnya ke perut makhluk itu. Ia memutar tubuh, menggunakan momentum putaran untuk menghantamkan Titan Wrench dari arah bawah.
Logam berat itu menghantam perut Nightclaw, melontarkannya hingga menabrak dinding kayu. Makhluk itu merangkak bangun kembali, meraung lebih liar dengan mata yang makin membara.
Arven menarik napas kasar, merasakan darah hangat mengalir di bahunya. Ia melirik ke samping, memastikan posisi ibunya.
“Di sini tidak aman.” Ia mengarahkan ujung senjatanya ke pintu samping. “Ke bengkel. Sekarang!”
Ibunya mengangguk tanpa suara. Mereka bergerak cepat meninggalkan ruang tamu yang sudah hancur berantakan, sementara di belakang mereka, bayangan hitam itu kembali bersiap untuk menerjang.
Arven dan ibunya menerobos pintu samping, masuk ke dalam bengkel. Ruangan itu lebih luas namun pengap, dipenuhi aroma oli, rantai berkarat, dan kerangka mesin setengah jadi yang menggantung di langit-langit. Di sinilah Arven tumbuh, dan di sini pula ia akan bertarung.
Nightclaw menghantam pintu bengkel dari belakang hingga debu semen berhamburan dari sela-sela kusen. Makhluk itu tidak berhenti, ia langsung menerjang dengan cakar terhunus. Arven menyapu pandangan ke sekeliling meja kerja, lalu tangannya menyambar kepala palu godam besar yang terlepas dari gagangnya. Bongkahan logam padat itu terasa sangat berat di tangannya.
“Ke sini!” bentak Arven.
Ia tidak mundur. Saat Nightclaw melesat dengan suara angin yang tajam, Arven memiringkan tubuh. Cakar makhluk itu menyambar udara kosong, nyaris menyayat ujung hidungnya. Arven menggunakan momentum itu untuk menghantamkan bahunya ke dada makhluk tersebut.
Nightclaw goyah, tumpuan kakinya goyah di atas lantai semen. Arven memutar tubuhnya dengan tumpuan kaki kiri, mengayunkan bongkahan palu logam itu dengan seluruh tenaga punggungnya.
Logam padat itu menghantam rusuk Nightclaw. Suara patahan tulang rusuk bergema di ruang bengkel. Tubuh makhluk itu terpental hebat, menghantam pintu bengkel hingga kayu tebal itu retak dan hampir copot dari engselnya.
Makhluk itu jatuh tersungkur. Diam sesaat. Namun, perlahan tubuhnya kembali bergerak. Kepalanya miring dengan sudut yang tidak wajar, namun mata kuningnya kembali menyala.
GRRRRAAAHH...
Arven berdiri tegak di depan ibunya. Napasnya berat, keringat bercampur darah menetes dari luka di lengannya, membasahi lantai bengkel.
DUUM... DUUM...
Getaran berat menghantam tanah dari arah luar. Nightclaw yang baru saja bangkit mendadak membeku. Pupil matanya melebar, bukan karena takut pada Arven, melainkan karena sesuatu yang muncul di belakangnya.
Dari pintu bengkel yang sudah setengah hancur, seekor Stonefang Ravager muncul. Tubuhnya jauh lebih besar dan lebih berat dari manusia biasa.
Belum sempat Arven bereaksi, sisi lain dinding bengkel meledak.
BOOOOOOM...
Kayu, besi, dan batu hancur berhamburan ke dalam ruangan. Sebuah tubuh raksasa lain menerobos masuk dari tumpukan puing.
Bonebreaker Brute.
Arven mengumpat dalam hati, mencengkeram Titan Wrench lebih erat.
“Sial...” desisnya pelan. “...Kenapa harus monster ini yang datang.”
Nightclaw Stalker yang tersisa menoleh, menggeram marah pada penyusup yang lebih besar. Namun, Stonefang bergerak lebih cepat. Cakar batu raksasanya turun menghujam.
CRUNCH...
Nightclaw Stalker terbelah dua di atas lantai semen. Darah gelap menyembur ke segala arah, membasahi mesin-mesin tua di sekitarnya. Makhluk itu mati seketika tanpa sempat menjerit. Debu tebal memenuhi ruangan, membuat napas terasa sesak.
Dua monster besar itu kini berdiri di dalam bengkel yang terasa makin sempit. Mereka saling berbagi ruang, dan kini, mereka berbagi target yang sama.
Sunyi menyergap sesaat. Kedua monster itu menoleh bersamaan, mengunci pandangan pada dua manusia di hadapan mereka.
Arven menggeser posisinya, berdiri kokoh di depan ibunya sambil menggenggam Titan Wrench. Di hadapannya, Stonefang Ravager dan Bonebreaker Brute mendengus, hawa panas dari napas mereka mengaduk debu bengkel yang sesak.
“Ibu, cari posisi di dekat panel tuas!” perintah Arven tanpa menoleh.
Bonebreaker menerjang lebih dulu. Cakar batunya menghantam lantai semen hingga hancur berkeping-keping. Arven melompat ke samping, berguling di antara mesin bubut tua.
Ia melangkah maju. Pada detik terakhir, ia menancapkan ujung Titan Wrench ke lantai bengkel. Tubuhnya berputar menggunakan batang Titan Wrench sebagai poros.
⚙ MECHANIC DRIVE : ⚙
Tubuh Arven berputar penuh. Titan Wrench terlepas dari lantai dan ia memutarnya secara horizontal.
⚙ GEARSTORM!!! ⚙
WHOOOOOM...
Hantaman itu mengenai rahang Bonebraker dengan kekuatan putaran penuh. Kepala Batu itu retak, monster itu terpental setengah meter.
Namun disisi lain, Stonefang sudah menyerang dari samping. Cakarnya turun seperti guillotine. Arven dengan lincah melompat ke meja kerja, menghindar dari cakar monster itu.
Arven meraih rantai katrol yang menggantung dan menyentaknya sekuat tenaga. Rantai itu melilit leher Stonefang. Arven menariknya, memaksa kepala monster itu mendongak.
“Sekarang, Ibu!” teriak Arven.
Ibunya, yang sudah berada di balik panel, menarik tuas uap darurat dengan kedua tangannya.
PSSSHH...
Semburan uap panas bertekanan tinggi meledak dari pipa-pipa di dinding, menghantam wajah Stonefang. Monster itu meraung kesakitan, matanya tertutup uap putih. Arven tidak membuang waktu. Ia melompat dari meja kerjanya, mengayunkan Titan Wrench secara vertikal sekuat tenaga.
⚙ MECHANIC DRIVE : ⚙
⚙ PISTON PRESS!!! ⚙
DUAARRR...
Hantaman itu mendarat telak di ubun-ubun Stonefang. Logam bertemu batu. Kepala monster itu pecah, serpihan batu tajam terbang ke segala arah. Tubuh besarnya terhuyung ke belakang, menghantam tumpukan besi tua sebelum akhirnya ambruk tak bergerak.
Namun disisi lain, gumpalan debu tersingkap saat sosok raksasa kembali menegak. Bonebreaker Brute belum selesai. Pijakannya menghancurkan sisa-sisa ubin bengkel, menciptakan retakan baru yang menjalar hingga ke bawah kaki Arven.
Arven menoleh. Matanya tajam, mengunci target di depannya dengan sisa tenaga yang ada. Keringat kental menetes dari dahinya, jatuh ke lantai yang kotor oleh oli dan darah. Arven mengangkat Titan Wrench sekali lagi. Otot lengannya terasa seperti terbakar, berdenyut hebat di balik kulit yang memerah. Logam berat itu berderit di tangannya yang lelah, seolah ikut merasakan tekanan pertarungan ini.
Ia menatap Bonebreaker yang bangkit dengan rahang yang retak, menggantung miring dengan tetesan liur gelap. “Baik...” desis Arven, mencoba mengatur aliran napasnya yang pendek. “Satu lagi.”
Arven berdiri beberapa meter di depannya, memasang kuda-kuda rendah. Tangannya menggenggam Titan Wrench begitu erat hingga buku jarinya memutih. Napasnya juga mulai berat, meninggalkan uap tipis di udara bengkel yang pengap. Di belakangnya, ibunya masih bersandar lemah di dekat panel di sudut bengkel, tangannya mencengkeram tuas besi untuk menjaga keseimbangan.
Monster itu tiba-tiba menerjang. Lantai semen bergetar hebat di bawah beban masif sang raksasa. Arven melompat ke samping, berguling di atas tumpukan baut. Pukulan Bonebreaker menghantam meja kerja baja tepat di posisi Arven sebelumnya.
Meja baja tebal itu langsung penyok, melengkung ke dalam seperti kertas yang diremas. Kekuatan hantaman itu mementalkan alat-alat kecil ke udara, menghantam dinding dengan suara denting yang kacau. Arven dengan cepat meraih mesin pemotong besi besar dari lantai, menyambar pegangannya saat ia bangkit berdiri.
Ia menyalakannya.
WRRRRRRRR...
Cakram logam bergerigi itu berputar cepat, mengeluarkan raungan bising yang memecah kesunyian bengkel. Saat Bonebreaker kembali menyerang dengan hantaman horizontal, Arven melompat maju, menyusup di bawah jangkauan lengan panjang monster itu. Ia menekan cakram pemotong itu ke sisi wajah monster, tepat di area rahang yang sudah retak.
SKRRRRRK...
Percikan api menyembur liar, menyiram baju Arven dan menerangi sudut-sudut gelap bengkel. Debu batu dan serpihan tulang keras makhluk itu beterbangan dari kulitnya. Bonebreaker meraung marah, suara lengkingannya membuat telinga Arven berdenging. Dengan satu sentakan, monster itu menyapu Arven dengan tangannya.
Arven mengangkat lengan untuk menangkis, namun kekuatan sapuan itu mementalkannya mundur hingga punggungnya menghantam lemari besi. Napasnya terputus sesaat. Lemari itu ambruk, menumpahkan isinya ke lantai sementara Arven berusaha tetap berdiri di tengah rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Bonebreaker meraung, mengangkat kedua tangannya untuk menghancurkan Arven yang masih berusaha bangkit. Tepat sebelum hantaman mendarat, sebuah tangki minyak kecil melayang di udara mengenai kepala monster itu tepat dibagian rahang yang retak.
Minyak hitam kental membasahi kepala Bonebreaker. Ibunya berdiri memegang obor minyak yang menyala.
“Ke sini, monster!” teriak ibunya dengan suara lantang. Ia melemparkan obor itu.
WUUUTTT—BOOM...
“Ibu...” teriak Arven.
Kepala Batu Bonebreaker terbakar hebat. Wajah Bonebreaker memerah panas. Monster raksasa itu berputar, mencoba memadamkan api yang menjilat kulit kepalanya.
Arven melihat celah itu. Ia membuang mesin pemotong yang sudah berasap dan mencengkeram Titan Wrench dengan kedua tangan. Cahaya biru dari logam itu kini berpijar lebih terang, menyedot getaran dari lantai bengkel yang terus berguncang.
Ia berlari secepat kilat, menginjak bahu Stonefang yang sudah mati sebagai pijakan untuk melompat tinggi. Titan Wrench ikut berputar mengumpulkan momentum seperti roda mesin raksasa. Cahaya biru berdenyut dengan hebat seolah benda itu mengerti emosi Arven.
“Ini untuk bengkelku,” desis Arven di udara.
⚙ MECHANIC DRIVE : ⚙
⚙ TORQUE CRASH!!! ⚙
WHOOOOM...
Hantaman horizontal Titan Wrench mendarat tepat pada retakan rahang yang dipanaskan api. Kekuatan benturan itu meledakkan gelombang kejut yang mementalkan debu dan puing di sekitar mereka.
Retakan itu pecah dan menghancurkan rahang bdan tengkorak Bonebreaker. Tubuh raksasa monster itu terhuyung perlahan dan menghantam dinding bengkel.
DUUM...
Sunyi mendadak turun, hanya menyisakan suara uap yang mendesis dari pipa yang bocor. Arven mendarat dengan lutut gemetar, menggunakan Titan Wrench sebagai penopang agar tidak jatuh. Ia menoleh ke arah ibunya, napasnya memburu di tengah kabut debu.
“Ibu!”
Wanita itu masih berdiri di dekat panel, namun tubuhnya goyah. Tangannya yang tadi menggenggam tuas kini perlahan melemah. Arven langsung berlari menghampiri, menangkap tubuh ibunya sebelum jatuh menabrak lantai semen yang retak.
“Ibu, duduk… duduk dulu.”
Ia membimbingnya bersandar di sisi dinding bengkel yang masih utuh. Tangan Arven yang kotor oleh oli dan debu gemetar saat memeriksa bahu dan punggung ibunya.
“Ibu terluka?” suaranya rendah, tertahan oleh kecemasan.
Ibunya menggeleng pelan, meski napasnya masih berat dan tersengal. “Tidak, hanya kelelahan.”
Arven menghela napas panjang, namun rahangnya masih mengeras. Matanya sekilas melirik ke arah bangkai Bonebreaker yang masih berasap di tengah ruangan, menyisakan bau daging terbakar yang menyengat.
“Mereka… masuk sampai ke sini,” gumamnya pelan. “Ini bukan lagi sekadar serangan liar.” Ibunya menatapnya. Dalam lelahnya, ada kekhawatiran yang lebih dalam di matanya.
“Arven…” suaranya lirih, “kau sudah mengerti sekarang, bukan?”
Arven terdiam. Tangannya tanpa sadar menggenggam Titan Wrench lebih erat. Logam itu masih terasa panas setelah benturan tadi dan samar-samar bergetar di telapak tangannya.
“...Astraeus,” bisiknya.
Ibunya mengangguk pelan. “Mereka mencarinya.”
DUUUM...
Getaran itu kembali datang, lebih kuat hingga menjatuhkan sisa perkakas yang menggantung. Titan Wrench di tangan Arven berdengung rendah.
KRRRRRKK...
Arven menatap alat itu, lalu ke arah tambang. Cahaya biru yang tadi hanya terlihat dari kejauhan kini mulai menerobos masuk lewat celah-celah bengkel yang hancur, menyinari debu yang beterbangan. Cahaya itu seolah memanggilnya.
Ibunya meraih lengannya yang terluka dengan lemah. “Arven…”
Arven menoleh.
Tatapan ibunya kini tidak lagi ragu. “Pergilah. Kau adalah anak Eldric.” Ibunya menatapnya dalam. “Dan malam ini… dunia datang untuk apa yang ia tinggalkan.”
Arven menggeleng cepat. “Aku tidak akan meninggalkan ibu sendirian—”
“Aku tidak sendirian,” potong ibunya lembut. Tangannya menyentuh pipi Arven yang penuh coretan debu. Ibunya tersenyum kecil, senyum yang sama seperti ketika Arven masih kecil. “Aku masih bisa berjalan.”
Ia menunjuk ke arah pusat desa dari balik tembok bengkel. “Aku akan menuju pusat desa dan bersembunyi bersama warga lain. Mungkin Bram dan Rogan bersama penjaga lain ada di sana.”
Arven masih tampak ragu. “Apa yang harus kulakukan terhadap Astraeus?” Tangannya mencengkeram Titan Wrench.
“...Kau pasti akan menemukan jawabannya disana.”
Arven tidak rela meninggalkan ibunya dalam kondisi seperti ini. “Ibu...”
Wanita itu mengangkat tangannya lagi, menyentuh pipi Arven dengan tegas. “Pergilah. Lindungi warisan ayahmu. Dan lindungi masa depanmu sendiri.”
Arven menatap wajah ibunya beberapa detik. Tubuhnya sendiri sudah lelah. Lengannya berdarah, dan otot-ototnya terasa seperti terbakar setelah pertarungan panjang melawan raksasa tadi. Namun akhirnya, ia mengangguk pelan. “...Baik.”
Arven membantu ibunya berdiri tegak. “Ibu harus berhati-hati.”
“Aku selalu begitu,” jawab ibunya sambil tersenyum.
Arven menarik napas dalam. Sebelum berbalik, tangannya masuk ke kantong sabuk mekaniknya yang penuh oli. Ia mengeluarkan pistol rivet kecil dan meletakkannya di tangan ibunya.
“Pegang ini.”
Ibunya menatap alat berat itu sebentar. Arven kemudian merogoh kantongnya lagi dan mengeluarkan dua bola logam kasar dengan sumbu pendek, dua buah bom tambang.
“Jika ada monster mendekat... lempar ini.”
Ibunya mengerutkan alis. “Arven—”
“Tidak apa-apa.” Arven memaksakan senyum kecil di wajahnya yang tegang. “Ini biasa dipakai untuk menghancurkan batu tambang. Cukup kuat untuk membuat apa pun berpikir dua kali sebelum mendekat.”
Ibunya menggenggam bom kecil itu erat-erat. Arven lalu mengeluarkan satu alat terakhir dari sabuknya, sebuah pistol suar. Ia menatap ke arah langit malam melalui atap bengkel yang sudah rubuh total.
BANG...
Suar merah melesat ke udara, membelah kegelapan. Cahaya merah terang meledak di atas desa Brakenford, membuat langit malam seketika berkilau seperti luka terbuka. Sinyal darurat telah dikirim.
Arven menurunkan pistol suar itu, lalu menatap ibunya sekali lagi. “Pergilah ke pusat desa.”
Ibunya mengangguk pelan, wajahnya diterangi cahaya merah dari langit. “Dan kau... kembalilah hidup-hidup.”
...⚙⚙⚙...
A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, like, vote, dan support author dengan mengirimi hadiah ya...
—T28J
tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Alice hanya menatap para pekerja itu dari kaca sihir yang mengambang di udara.
"Ah.. beberapa manusia yang bosan hidup ya? biar saja Xena, mereka memang suka cari mati. nanti pingsan sendiri." Alice kembali ke kuilnya meninggalkan Xena yang masih berlari memutar.
"Ini.... dunia ini terlihat lebih kejam dari dunia kita." potong Arthur yang baru saja selesai mandi. ( oh wow pakai baju thur)