Dengan langkah lemah, Farin mencoba pulang dan meninggalkan semua kenangan tentang lelaki yang pernah menyelamatkannya. Namun baru beberapa langkah menjauh dari pematang sawah, tiba-tiba sebuah suara lirih memanggil namanya dari balik hutan.
“Farin…”
Tubuhnya seketika membeku.
Suara itu… suara yang dulu menemaninya di saat gelap, saat luka dan ketakutan hampir merenggut hidupnya. Suara Althaf.
Jantung Farin berdegup tak karuan. Dengan mata berkaca-kaca ia menoleh cepat ke arah hutan lebat di seberang sawah, berharap menemukan sosok yang selama ini terus ia cari dalam doa-doanya.
Tapi tak ada siapa-siapa.
Hanya angin, dedaunan yang bergoyang pelan, dan keheningan yang terasa begitu menyakitkan.
Air mata Farin jatuh tanpa bisa ditahan. Nama itu kembali menggema dalam hatinya, memenuhi dadanya dengan rindu yang selama ini ia kubur sendirian.
Di tengah sesak yang menghancurkan dadanya, tubuh Farin perlahan melemah. Pandangannya kabur, lututnya tak lagi mampu menopang luka dan rindu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosy_Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Terakhir
Farin melangkah pelan memasuki gua itu, napasnya berat tapi langkahnya mantap. Suasana di dalam menyambutnya dengan ketenangan yang tak mampu dijelaskan.
Udara lembap, suara tetes air dari dinding batu, dan aroma dedaunan basah membuat hatinya terasa pulang.
Meski matanya belum pernah benar-benar melihat tempat ini, jiwanya telah sangat mengenalnya. Ada kehangatan yang tak asing. Ada kedamaian yang membuatnya ingin tinggal lebih lama.
Langkahnya terhenti tepat di tengah gua, di tempat yang dulu menjadi saksi sunyi perjuangannya untuk bertahan hidup. Tanpa bisa ditahan, lututnya lemas. Farin tersungkur… bersujud di atas tanah lembap itu.
Air matanya jatuh membasahi bumi yang dulu menjadi alas pengharapan. “Ya Allah… ini bukan mimpi, bukan ilusi,” bisiknya parau.
Dalam sujudnya yang penuh haru, Farin terus memuji nama Allah, tak henti-hentinya bibirnya bergetar menyebut asma-Nya. Air mata mengalir deras, bercampur antara rasa syukur, rindu, dan kelegaan yang membuncah di dadanya.
“Allahu Akbar… Subhanallah wa bihamdih.. subhanallahil 'adziim.. Alhamdulillah…,” lirihnya berulang-ulang.
Kemudian shalawat pun mengalir dari lisannya dengan penuh cinta, seakan ingin menghantarkan semua rasa syukur dan harapannya kepada langit.
Dia duduk bersimpuh, memeluk dirinya sendiri dalam hening yang penuh makna, lalu menatap sekeliling gua itu dengan pandangan yang berkabut air mata.
"Apakah dia masih di sini? Masihkah tempat ini menyimpan jejak langkahnya? Atau hanya aku yang tertinggal di antara kenangan yang tak sempat selesai?" gumamnya dalam hati
Farin menatap sekeliling gua dengan pandangan sendu, setiap sudutnya terasa begitu akrab di hati.
Langkahnya pelan, menyusuri ruang yang dulu menjadi saksi bisu perjuangannya bertahan hidup. Air mata haru mengalir tanpa bisa dibendung, membasahi pipinya yang pucat.
Saat melewati sudut gua yang dulu menjadi tempat musholla, matanya tertumbuk pada sesuatu yang mencolok di antara bebatuan, selembar kertas yang terlipat rapi.
Farin terdiam, jantungnya berdetak lebih cepat.
Perlahan, ia bersimpuh di hadapan kertas itu, tangannya gemetar saat meraihnya. Dengan hati-hati, ia membuka lipatannya. Tulisan tangan sederhana di atasnya membuat dadanya bergemuruh:
"Jika suatu hari engkau kembali, dan aku tiada… ketahuilah, kau telah kusematkan dalam tiap doa. Meski namamu tak pernah kuucap, namun Allah tahu siapa yang kusebut dalam diamku.
Jangan pernah mencari dan menunggu, berbahagialah dengan takdir yang sedang memelukmu, terimalah dengan lapang & ikhlas. Semoga keberkahan dari Allah selalu menyertai setiap langkahmu."
Farin menutup mulutnya, menahan isak. Tangannya menggenggam erat kertas itu, seolah sedang menggenggam secuil jejak yang selama ini dia cari.
Pandangan Farin nanar menyapu setiap sudut goa, seolah berharap ada jejak yang tertinggal, bekas tapak, bayang samar, atau aroma yang masih menggantung di udara.
Namun, tak ada apa-apa. Hening. Hanya dinding goa yang dingin dan sunyi yang menjawab tatapannya. Hatinya mencelos, ada harapan yang runtuh pelan-pelan. Sosok yang selama ini ia cari, yang begitu nyata di hatinya, kini kembali menjadi misteri yang tak terjamah.
Tapi entah mengapa, ia tetap berdiri di sana… melangkah pelan memastikan kembali di setiap sudut tempat itu, seakan yakin, sesuatu dari Althaf masih tinggal, meski tak terlihat.
Farin terus berputar di sekitar goa, memanggil nama itu dengan suara lirih yang makin lama makin pecah oleh tangis. "Althaf…" panggilnya, lagi dan lagi, berharap ada sahutan, bayangan, atau secuil keajaiban yang menjawab rindunya. Namun hutan tetap bisu, goa tetap sunyi. Tak ada yang muncul, tak ada yang datang.
Langkahnya goyah, tubuhnya akhirnya terkulai lemas di lantai goa yang dingin. Farin terduduk, menunduk, dan tangis pun pecah. Isaknya tak bisa lagi dibendung, seakan semua rindu, lelah, dan harapan yang pupus luruh bersama air mata.
Dia menangis tersedu-sedu, menggenggam kertas yang tadi dia temukan, seolah menggenggam satu-satunya sisa kehadiran Althaf. Dalam sunyi itu, hanya doanya yang terus bergema, agar Allah menjaganya… di manapun lelaki itu berada.
"Ya Allah.... Hamba titipkan dia padaMu, Engkaulah dzat yang tidak pernah menyia-nyiakan titipan hambaNya.. jagalah dia, lindungilah setiap langkahnya, bahagiakanlah hatinya, tenangkan jiwanya, permudahlah semua urusannya..
Ya Allah, wahai Dzat yang Maha Hidup, wahai Dzat yang Maha Berdiri Sendiri, dengan Rahmat dan Kasih SayangMu, hamba memohon... Wahai Dzat pencipta langit & bumi beserta segala isinya, wahai pemilik setiap jiwa dan raga, Dzat yang menggenggam nadi setiap hambaNya...
Tabahkanlah jiwaku untuk tidak meratap..
Teguhkanlah hatiku agar selalu ikhlas dan lapang dengan takdirMu..
Lailaaha Illa llah.. lailaaha Illa llahul 'aliyyul 'adhiim.."
Dalam tangis dan kesenduan Rachel terus mengulang-ulang asma Allah, untuk menahan dirinya agar tidak lepas kendali dan meraung dalam kehampaan serta kesedihan yang mendalam.
Di bilik rawat Klinik Karang Asih, tubuh Farin terbaring lemah. Keringat membasahi pelipisnya. Di antara tidur dan sadar, bibirnya bergerak lirih, seolah sedang mengucap sesuatu. Suaranya nyaris tak terdengar, hanya gumaman samar yang berulang.
“Allahu… Allah.…”
Napasnya memburu, jemarinya mencengkeram selimut seperti sedang menggenggam sesuatu yang tak terlihat.
Di alam bawah sadarnya, Farin sedang berjuang sekuat tenaga. Dia mencoba mengendalikan dirinya agar tidak hanyut terlalu dalam, agar tak tenggelam di pusaran kesedihan dan kehampaan yang mengintai.
Di tengah gelap dan sunyi itu, ia merintih tanpa suara, menahan agar jiwanya tak meraung pedih, tak pecah oleh perasaan yang tak tertampung. Meski raganya terbaring lemah, batinnya sedang menapaki jalan terjal antara kehilangan dan harapan.
Dan dalam dunia nyata, dzikir terus mengalir lembut dari lisannya seperti seseorang yang sedang mengigau, namun hati dan jiwanya sedang benar-benar hadir dalam perjalanan yang jauh, antara ingatan, rindu, dan harap