Lumpuh di hari pernikahan.
Dibuang keluarga sendiri.
Mereka bilang hidupku sudah tamat.
Tapi demi Nisa…
aku akan bangkit dan membuktikan kalau masa depanku belum suram.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaji Pertama Dari Jari Patah
Lampu LED 50 ribu itu nyala 3 malam. Terang. Nisa belajar. Aku nulis. Istriku jahit. Kandang ayam yang bocor terasa kayak rumah.
Tapi malam keempat, lampu redup. Batre habis. Listrik PLN belum ada. Aku dorong kursi roda ke warung Pak RT lagi. "Pak, numpang ngecas."
Pak RT geleng. "Galih, HP lu tiap hari cas di sini. Lampu lu juga. Malu sama tetangga. Pasang listrik lah. Utang dulu sama aku gapapa."
Utang. Kata itu berat Jendral. Aku udah janji ke Nisa gak akan utang lagi. Cukup kata yang jadi uang.
HP nyala. Notif NovelToon masuk. "Selamat! Episode #8 Anda Berhasil. Royalti Pembaca: Rp 85.000 masuk saldo."
85 ribu. Saldo total jadi 145 ribu. Masih jauh dari 1,2 juta buat pasang listrik.
Aku buka komentar Episode #8. 70 komentar. Satu komentar paling atas dari akun "BundaRere": "Pak, ini kisah nyata? Kalau iya, saya mau transfer langsung. Kasih rekening. Anak saya nangis baca Bab 7."
Jantungku berhenti. Ada yang mau transfer langsung. Bukan dari NovelToon. Dari pembaca.
Tanganku gemeter ngetik balasan. "Terima kasih Bu. Ini kisah nyata saya. Tapi saya gak bisa terima transfer langsung. Saya mau berjuang lewat tulisan. Doakan saya cepat kontrak. Itu lebih dari cukup."
Aku hapus balasan itu. Gak aku kirim. Aku takut Jendral. Takut dibilang ngemis. Takut akun NovelToon-ku dibanned karena transaksi di luar.
Malemnya Nisa demam. Gara-gara kehujanan tiga hari berturut-turut. Badannya panas. Istriku kompres pakai air hangat. Obat turun panas di warung 15 ribu. Uang sisa tinggal 130 ribu.
Aku liat Nisa menggigil di dipan. Dia pegang buku tulisnya. "Yah... besok Nisa ulangan... Nisa belum belajar..."
Aku ambil HP. Buka NovelToon. Dashboard nulis. Jari patahku ngetik Bab 11. 500 kata. Selesai jam 2 pagi. Langsung aku submit.
Jam 7 pagi, notif masuk. "Selamat! Episode #9 Anda Berhasil. Bonus Kecepatan: Rp 50.000. Royalti Pembaca: Rp 95.000. Total masuk saldo: Rp 145.000."
Saldo total jadi 275 ribu. Aku langsung tarik ke DANA. Biaya admin 2.500. Sisa 272.500.
Jam 9 pagi aku ke bidan desa. Bayar 50 ribu buat obat Nisa. Sisa 222.500.
Jam 10 pagi aku ke pasar. Beli beras 5 liter 70 ribu. Minyak 1 liter 20 ribu. Telur 1/2 kg 15 ribu. Sisa 117.500.
Sore, Nisa udah mendingan. Dia duduk, minum obat, sambil buka buku. Lampu LED udah aku cas di warung Pak RT tadi siang.
"Yah, Nisa udah sehat. Makasih ya Yah udah beliin obat." Dia senyum. Lalu nulis di bukunya: "Cita-citaku: Jadi dokter. Biar bisa obatin Ayah gratis."
Aku diem Jendral. Dada sesak. Ini gaji pertamaku dari nulis. Bukan 2.4 juta. Cuma 272.500. Tapi cukup buat obat, beras, dan senyum Nisa.
Malamnya aku buka dashboard lagi. Episode #10 udah aku tulis setengah. Target hari ini 3 bab. Kurang 14 bab lagi untuk kontrak.
Kutulis di kardus Indomie: "SISA 14 BAB \= 2.127.500 LAGI. LISTRIK 1,2 JUTA. MOTOR BEKAS 3 JUTA. RUMAH 100 JUTA."
Angka itu gak nakutin aku lagi. Karena aku udah pegang buktinya. Jari patah bisa hasilkan uang. Pena bisa jadi obat. Kata bisa jadi beras.
Editor NovelToon, 14 bab lagi. Aku ngerti sistem kalian. Makin rajin update, makin cepat direview. Besok 3 bab lagi aku kirim.
Untuk Nisa, Ayah gak akan berhenti ngetik. Sampai kontrak itu pecah di rekening kita.
Author benar-benar menghargai setiap like dan hadiah yang kamu kasih 🙏 Semoga cerita ini selalu bisa nemenin harimu, dan jangan bosan ikut perjalanan mereka sampai akhir ya ✨