NovelToon NovelToon
Arumi

Arumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.

​Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.

Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.

​Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 10

Suara klakson mobil yang memekakkan telinga menyentak Arumi dari kegelapan. Ia terbangun di atas ubin dingin sebuah emperan toko tutup.

Kepalanya berdenyut seolah dihantam palu godam, dan rasa anyir darah masih terasa di pangkal tenggorokannya. Namun, hal pertama yang ia cari bukanlah napasnya sendiri, melainkan detak jantung anaknya.

"Kirana..." suaranya hanya berupa bisikan pecah.

Di dalam dekapannya, Kirana masih menggigil hebat. Napas bocah itu pendek-pendek dan panasnya kian membara. Arumi menyadari bahwa waktu tidak lagi memihak padanya.

Ia tidak punya pilihan lain. Harga diri yang selama ini ia jaga dengan sisa tenaga harus ia buang ke selokan. Hanya ada satu tempat yang tersisa. Rumah Mas Danu.

Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, Arumi menyeret kakinya. Gunting jahit di dalam tasnya berdenting setiap kali ia melangkah, seolah menjadi satu-satunya detak jantung buatan yang memaksanya tetap tegak.

Ia berjalan sejauh dua kilometer, menggendong beban yang terasa ribuan ton, hingga akhirnya sampai di depan gerbang besi tinggi yang sangat ia kenali.

Wangi aroma sate kambing dan opor ayam menyeruak dari dalam rumah megah itu, menabrak hidung Arumi yang sudah berhari-hari hanya mencium bau apek gudang. Di dalam sana, lampu kristal berpijar terang.

Gelak tawa anggota keluarga besar terdengar nyaring, menandakan mereka sedang merayakan sesuatu, mungkin keberhasilan bisnis Mas Danu atau sekadar arisan keluarga rutin.

Arumi menekan bel gerbang dengan tangan gemetar. Penjaga rumah membukanya dengan wajah enggan, namun saat melihat Arumi yang tampak seperti gelandangan sakit, ia nyaris mengusirnya.

"Saya Arumi... adiknya Mas Danu. Tolong, panggilkan Mas Danu. Anak saya sakit keras," pinta Arumi dengan mata merah.

Penjaga itu masuk, dan tak lama kemudian, Mbak Sari keluar. Ia tidak membukakan pagar, melainkan hanya berdiri di baliknya. Mbak Sari mengenakan kaftan sutra berwarna hijau zamrud, kontras dengan daster Arumi yang berlumur lumpur dan noda darah batuknya.

Mbak Sari langsung menutup hidungnya dengan sapu tangan kecil yang wangi lavender. "Astaga, Arumi! Apa-apaan kamu datang ke sini dengan kondisi seperti ini? Kamu mau menularkan penyakit ke keluarga kami?"

"Mbak Sari... tolong. Kirana demam tinggi. Saya butuh uang untuk ke dokter. Pinjami saya sedikit saja, saya akan cicil dengan menjahit..."

"Menjahit apa? Menjahit kain kafanmu?" potong Mbak Sari tajam. "Kamu itu sudah jadi berita nasional di grup keluarga kita, Arumi. Pencuri di butik, pelakor di kantor pengusaha tekstil. Kamu itu sampah, pembawa kuman!"

Mas Danu keluar dengan perut buncitnya yang dibalut kemeja batik mahal. Ia memegang piring berisi paha ayam yang masih mengepul. Ia menatap adiknya bukan dengan rasa iba, melainkan dengan kejengkelan yang murni.

"Mas Danu... tolong," Arumi jatuh bersimpuh di depan pagar, di atas tanah yang mulai basah oleh gerimis. Ia meletakkan Kirana yang lemas di atas pangkuannya. "Demi Kirana, Mas. Dia darah dagingmu juga."

Danu meletakkan piringnya di atas pilar pagar dan bersedekap. "Arumi, dengar baik-baik. Kemiskinan yang kamu alami sekarang itu bukan musibah, tapi azab. Gusti Allah itu tidak tidur. Kamu menggoda suami orang, kamu mencuri barang majikanmu. Ini adalah cara Tuhan mencuci dosamu. Kalau aku membantumu sekarang, itu artinya aku menghalangi proses tobatmu."

"Mas, aku dijebak! Aku bersumpah demi nyawa ibu yang sudah tiada!"

"Jangan bawa-nama Ibu!" bentak Danu. "Ibu pasti malu punya anak sepertimu. Lihatlah dirimu, sudah bau, kotor, dan penyakitan. Kamu hanya akan merusak selera makan tamu-tamuku di dalam."

Tiba-tiba, seorang sepupu sepantaran Arumi keluar membawa sebuah mangkuk plastik berisi air sisa cuci tangan yang sudah keruh dan berminyak. Tanpa peringatan, ia menyiramkan air itu ke arah Arumi.

Byurr!

Air bekas lemak daging itu membasahi wajah dan tubuh Arumi. "Sana pergi! Bau badanmu mulai masuk ke dalam ruang makan. Malu tahu kalau ada kolega Mas Danu yang lihat ada gelandangan ngaku saudara di sini."

Arumi terpaku. Air sisa cuci tangan itu menetes dari ujung rambutnya, bercampur dengan air mata yang akhirnya jatuh juga. Ia menatap wajah-wajah saudaranya yang berdiri di balik pagar seolah sedang menonton pertunjukan topeng monyet yang membosankan.

Mbak Sari tersenyum licik. Ia merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dua ribuan dan lima ribuan yang sudah lecek dan kumal.

"Dengar, Arumi. Ini uang terakhir yang akan kamu dapatkan dari keluarga ini," Mbak Sari mulai menjatuhkan uang itu satu per satu ke tanah becek di depan kaki Arumi.

Satu lembar... dua lembar...

"Ini harga dirimu, Rum. Ambil uang ini dari lumpur, karena di situlah tempatmu yang pantas," ucap Mbak Sari dengan nada tenang yang mematikan. "Dan satu lagi... tadi sore kami sudah sepakat. Nama kamu sudah kami hapus dari Kartu Keluarga besar. Kamu bukan lagi adik Danu. Kamu bukan lagi keluarga kami. Jangan pernah lagi menginjakkan kaki di sini, atau aku akan lapor polisi atas tuduhan pengrusakan properti."

"Ambil uangnya, lalu pergi!" timpal Danu sambil mengambil kembali piring ayamnya, seolah-olah drama ini sudah selesai.

Arumi menatap uang-uang yang mulai basah terkena air hujan di atas lumpur. Tangannya gemetar hebat. Ia melihat Kirana yang merintih pelan karena kedinginan.

Perlahan, Arumi memunguti uang itu. Satu per satu. Setiap kali tangannya menyentuh lumpur untuk mengambil lembaran ribuan itu, ia merasa ada sesuatu yang hancur sekaligus membeku di dalam dadanya.

Rasa hangat persaudaraan, rasa hormat pada darah daging, semuanya menguap, digantikan oleh kekosongan yang sangat dingin.

Ia berdiri dengan tubuh tegak, meski napasnya masih terasa berat. Ia tidak lagi memohon. Ia tidak lagi menangis. Ia menatap Mas Danu dan Mbak Sari melalui celah pagar besi. Tatapannya tidak lagi mengandung harapan, melainkan sebuah janji gelap yang tak terucapkan.

Di balik jendela kaca ruang makan yang hangat, ia melihat anggota keluarga lain tertawa, kembali menikmati pesta seolah-olah Arumi hanyalah debu yang baru saja disapu dari teras.

"Terima kasih," bisik Arumi. Suaranya kali ini tidak bergetar. Dingin. Tajam. "Terima kasih telah membunuh Arumi yang dulu."

Ia membalikkan badan, menggendong Kirana yang menggigil, dan berjalan menjauh dari gerbang megah itu. Gerimis berubah menjadi hujan yang menderu, seolah langit ingin menghapus jejak air cuci tangan yang tadi mengotori tubuhnya.

Arumi berjalan menembus kegelapan malam, menuju jalan raya yang sepi. Ia tidak tahu harus ke mana, tapi satu hal yang ia tahu, Ia tidak akan pernah kembali sebagai peminta-minta.

Uang di tangannya yang berlumur lumpur itu tidak akan ia gunakan untuk menyerah. Itu adalah modal pertamanya untuk membalas setiap tetes air mata Kirana.

Saat lampu jalanan menerangi wajahnya sesaat, nampak sorot mata Arumi yang sudah tidak lagi memiliki cahaya manusia. Di sanalah, di bawah hujan deras, Arumi benar-benar kehilangan segalanya, kecuali satu hal. Keinginan untuk bertahan hidup demi menghancurkan mereka semua.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Dew666
💎💎💎💎
Enny Suhartini
semangat Arumi
Dyas31
bagus cerita nya KK, mengandung konflik berat, tetep semangat KK kuuuu 😘😘😘😘
Enny Suhartini
ayo Arumi semangat 💪
Sulfia Nuriawati
kok ni crta keterlaluan skali konflik nya, dlm dunia nyata bs d siksa tu yg sk fitnah knp jatuhnya arumi sampai sdh bangkit jd kesel bc nya
Enny Suhartini
semangat ya Arumi
Enny Suhartini
Miss Ra kenapa kok kejam banget
Enny Suhartini
kok kejam sekali sih
Enny Suhartini
sabar dan kuat ya Arumi 💪
Enny Suhartini
ayo semangat Arumi💪
Enny Suhartini
cerita penuh perjuangan
semoga kuat dan sabar Arumi
Dew666
☀️☀️
Dew666
🔥🔥🔥🔥
Himna Mohamad
sdh mampir baca,,lanjut kk
Ma Em
Miss Ra , Arumi atau Arini namanya , tapi semoga sukses Arini dgn usahanya dan balas tuh perbuatan mbak Sari yg menyebalkan selalu menghina dan merendahkan Arini tunjukan pada mereka yg sdh menghina kamu Arini bahwa Arini bisa sukses .🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Miss Ra: ooh sori, saya ingatnya arini yg di novel baru yg belum rilis..
nanti saya rubah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!