Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.
Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.
Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Arga menarik napas panjang, membiarkan udara dari pendingin ruangan di kelas SMA Nusa Bangsa menusuk paru-parunya. Ia masih bisa merasakan getaran di ujung jarinya setelah kebohongan yang baru saja ia lontarkan kepada Nala. Gadis itu sudah kembali ke bangkunya, tampak berdiskusi serius dengan Rara tentang catatan sejarah, seolah percakapan singkat yang menguras emosi Arga tadi hanyalah angin lalu.
Punggung Arga bersandar pada dinding kelas yang dingin. Ia menatap lurus ke depan, berusaha mengabaikan denyut di pelipisnya. Namun, sebuah tepukan keras mendarat di bahunya, membuyarkan lamunan yang mulai membeku.
"Lo benar-benar juara dalam hal mempersulit diri sendiri, Ga," ujar Dimas yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya.
Arga tidak menoleh. Ia hanya menggerakkan sudut bibirnya sedikit, sebuah senyum kecut yang lebih mirip seringai tipis. Ia tahu Dimas memperhatikan segalanya dari kejauhan tadi. Sahabatnya itu memang memiliki kemampuan luar biasa untuk membaca situasi, meski sering kali dibungkus dengan komentar yang pedas.
"Gue nggak mempersulit apa pun, Dim," balas Arga dengan suara rendah.
Dimas mendengus kasar. Ia menarik kursi di depan meja Arga dan duduk menghadap sahabatnya itu. Wajah Dimas tampak tidak puas, matanya menatap tajam ke arah Arga yang masih berusaha bersikap tenang.
"Tadi itu kesempatan emas. Dia mulai ingat, Ga. Dia mulai merasakan sesuatu yang familier tentang lo. Kenapa lo malah memutus talinya?" tanya Dimas dengan nada mendesak.
Arga membuang muka ke arah jendela. Di luar sana, langit Jakarta yang abu-abu tampak seperti cerminan hatinya. Ia melihat beberapa siswa sedang berlatih basket di lapangan, termasuk Satria yang tampak begitu mencolok dengan tawa lebarnya.
"Memang itu tujuannya, kan? Biar dia nggak perlu merasa terbebani sama janji anak kecil delapan tahun lalu," gumam Arga pelan.
Dimas menggebrak meja dengan pelan, cukup untuk membuat Arga kembali menatapnya. Dimas menggelengkan kepala, tampak tidak habis pikir dengan pola pikir sahabatnya yang terlalu rumit.
"Delapan tahun itu waktu yang lama untuk sebuah rahasia. Sekarang dengerin gue baik-baik. Kalau lo memang suka sama dia, jujur. Bilang kalau lo itu Arga yang sama dengan Arga yang dia cari. Jangan malah bikin identitas baru yang cuma bakal bikin lo sakit hati tiap kali dia melihat lo sebagai orang asing," kata Dimas panjang lebar.
Arga terdiam. Kata-kata Dimas masuk ke dalam benaknya seperti kerikil yang dilemparkan ke permukaan air yang tenang, menciptakan riak yang tak kunjung usai. Ia tahu Dimas benar secara logika. Namun, perasaan manusia jarang sekali mengikuti hukum logika yang sederhana.
"Nggak semudah itu, Dim," jawab Arga akhirnya.
"Apa yang susah? Tinggal buka mulut, gerakkan lidah, dan biarkan kebenaran itu keluar. Lo bukan lagi ikut lomba diam, Arga. Lo sedang mempertaruhkan kesempatan lo sebelum Satria benar-benar mengambil posisi itu secara permanen," desak Dimas lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius.
Arga menundukkan kepala, menatap buku tulisnya yang masih kosong. Di sudut matanya, ia melihat Tania sedang memperhatikannya dari bangku depan. Gadis itu cepat-cepat membuang muka saat Arga menyadarinya. Arga merasa dikelilingi oleh banyak perasaan yang tidak bisa ia balas, sementara perasaannya sendiri tertuju pada satu titik yang kini terasa sangat jauh.
"Gue nggak lagi nunggu dia ingat, Dim," ucap Arga dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Dimas mengerutkan kening, tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Ia menyipitkan mata, mencoba mencari celah di balik wajah datar Arga yang selalu sulit dibaca.
"Terus lo nunggu apa? Nunggu dia nikah sama orang lain?" sindir Dimas.
Arga menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Dimas dengan tatapan yang sangat lelah. Ada kesedihan yang begitu mendalam di balik iris matanya, sebuah luka lama yang sengaja ia pelihara agar tidak benar-benar kering.
"Aku cuma lagi menunggu hatiku sendiri, Dim," kata Arga dengan nada yang sangat tenang namun bertenaga.
Dimas tertegun. Ia tidak menyangka jawaban itu yang akan keluar. Ia terdiam selama beberapa saat, mencoba mencerna maksud dari kalimat sahabatnya.
"Maksud lo?" tanya Dimas lebih lembut.
Arga memalingkan wajah kembali ke arah Nala yang sedang tertawa kecil karena suatu hal yang dikatakan Rara. Tawa itu masih sama, masih memiliki irama yang sama dengan delapan tahun yang lalu, meski kini tawa itu bukan lagi ditujukan untuknya.
"Aku lagi menunggu hatiku sendiri buat benar-benar berhenti berharap. Aku lagi menunggu momen di mana aku nggak merasa sakit lagi saat melihat dia lupa. Sampai saat itu tiba, aku nggak akan bilang apa-apa," jelas Arga.
Dimas menghela napas panjang, lalu bersandar pada sandaran kursi. Ia menyadari bahwa keras kepalanya Arga bukan karena kebodohan, melainkan karena sebuah bentuk pertahanan diri yang sangat ekstrem. Arga sedang mencoba menghukum dirinya sendiri dengan kesunyian.
"Lo itu tipe orang yang bakal mati kehausan di depan mata air hanya karena lo merasa air itu bukan hak lo lagi," gumam Dimas pelan.
Arga tidak membantah. Ia membiarkan keheningan kembali menyelimuti mereka di tengah hiruk-pikuk suara teman sekelas mereka yang lain. Baginya, menunggu hatinya sendiri untuk menyerah adalah satu-satunya jalan keluar yang paling realistis, meskipun ia tahu bahwa proses itu mungkin akan memakan waktu delapan tahun lagi, atau bahkan selamanya.
Di ujung kelas, Nala sempat menoleh sekilas ke arah Arga. Ada kerutan tipis di dahinya, sebuah tanda bahwa ia masih memikirkan kejanggalan dari jawaban Arga tadi. Namun, sebelum ia sempat memikirkan lebih jauh, Satria masuk ke dalam kelas dengan membawa dua botol minuman dingin dan langsung menghampiri meja Nala.
Arga melihat pemandangan itu. Ia merasakan dadanya berdenyut, namun ia tetap diam. Ia hanya terus menunggu, membiarkan hatinya bertarung sendirian di dalam sana, sampai suatu saat nanti hatinya lelah dan memilih untuk berhenti mencintai dengan cara yang sesunyi ini.