NovelToon NovelToon
Sisi Misterius Salsa

Sisi Misterius Salsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33.Perpustakan sepi.

Langkah kaki Salsa terdengar bergema pelan di lantai kayu yang sudah tua dan berderit halus setiap kali terinjak. Udara di dalam sana terasa berat, beraroma debu bercampur bau kertas yang sudah menguning dimakan waktu. Meski rasa takut mencengkeram jantungnya hebat, Salsa berusaha sekuat tenaga untuk tidak menoleh ke arah sudut ruangan gelap di mana sosok wanita tua itu berdiri diam, memancarkan aura kemarahan yang sedingin es. Di sampingnya, Ria melayang berjalan dengan wajah berbinar, seolah sama sekali tidak merasakan ketegangan yang menggantung di udara. Gadis itu hanya menatap lurus ke arah bagian paling dalam dari ruangan itu, tempat rak-rak buku tua berjejer rapat dan jarang disentuh tangan manusia.

"Terus jalan... jangan berhenti... hampir sampai," bisik Ria bersemangat, suaranya bergetar karena rasa bahagia.

Salsa menelan ludah, tangannya menggenggam ujung seragamnya dengan erat. Ia memejamkan mata sebentar, menguatkan hatinya, lalu berjalan terus melewati rak-rak tinggi yang menjulang seperti dinding pemisah. Ia sengaja mengabaikan tatapan tajam yang terus menusuk punggungnya, tatapan milik penghuni asli perpustakaan itu yang sejak tadi mengawasi setiap gerak-gerik mereka dalam diam. Sosok wanita tua berpakaian kebaya kuno itu berdiri tegak di samping meja utama, rambutnya yang panjang dan kusut menjuntai menutupi sebagian wajahnya yang keriput dan penuh amarah. Ia tidak bergerak, tidak bersuara, namun kehadirannya begitu mendominasi ruangan itu hingga membuat napas Salsa terasa sesak.

Sesampainya di ujung lorong paling belakang, Ria menunjuk ke arah sebuah rak kayu yang warnanya sudah memudar dan penuh lapisan debu tebal. "Di sana! Di pojok paling bawah, terselip di antara buku-buku tebal bersampul cokelat itu! Itu bukuku!"

Salsa berjongkok perlahan, mengusap debu yang menutupi deretan buku itu. Jari-jarinya menyusuri punggung buku satu per satu hingga akhirnya menyentuh benda yang agak kasar namun tebal, bersampul kulit berwarna merah tua persis seperti yang diceritakan Ria. Hati Salsa berdebar kencang. Tangannya perlahan terulur, hendak meraih buku harian itu untuk segera diselesaikan urusannya dan pergi dari tempat mencekam ini.

Namun, tepat saat ujung jari Salsa hampir menyentuh sampul buku itu, sepasang tangan yang keriput, pucat, dan penuh bercak usia tiba-tiba muncul dari kegelapan. Tangan itu menekan buku merah tua itu dengan keras, menahannya agar tidak bisa diambil. Salsa tersentak hebat, napasnya tertahan di kerongkongan. Ia mendongak perlahan, dan di sana, tepat di depannya, wajah wanita tua penunggu itu kini berada hanya beberapa senti saja darinya. Mata makhluk itu melotot lebar, tajam, dan penuh ancaman, sementara mulutnya yang keriput bergerak pelan mengeluarkan suara parau dan berat yang bergema di dalam kepala Salsa.

"Ambil saja... tapi cepat pergi dari sini... segera..." suara itu berbisik, bukan marah seperti dugaan Salsa, melainkan terdengar mendesak dan penuh peringatan. "Jangan lama-lama... atau kau juga akan menjadi sasaran DIA... sama seperti gadis kecil ini..."

Salsa tertegun, tubuhnya membeku seketika. 'Dia?' Siapa yang dimaksud? Pertanyaan itu melintas cepat di benaknya, namun rasa takut dan kebingungan membuatnya tidak berani bertanya lebih jauh. Tanpa membuang waktu lagi, dengan gerakan cepat Salsa menyambar buku itu dari bawah telapak tangan si wanita tua, lalu langsung berdiri tegak hendak berbalik pergi.

Sebelum Salsa melangkah keluar dari sudut gelap itu, suara wanita tua itu kembali terdengar, kali ini lebih pelan namun sangat jelas. "Pergilah... sebelum DIA datang mencarimu sendiri..."

Langkah kaki Salsa terasa berat seolah diikat oleh sesuatu yang tak kasat mata. Ia bergumam pelan pada dirinya sendiri, alisnya berkerut bingung. "Dia... dia siapa? Apa maksudnya?"

Belum sempat Salsa memikirkan arti kata-kata penuh teka-teki itu, tiba-tiba suara langkah kaki yang berat dan berirama terdengar dari arah pintu masuk, disusul suara teguran yang sopan namun tegas.

"Permisi... ada murid yang ada di sini ya? Apa yang sedang kamu lakukan sendirian di dalam sini?"

Salsa terlonjak kaget, buku harian yang dipegangnya hampir terlepas dari tangan. Ia berbalik cepat, dan di sana, berdiri seorang pemuda tampan yang mengenakan kemeja berkerah rapi dengan lengan digulung hingga siku, celana bahan yang sopan, dan rambut yang tersisir sangat rapi hingga tak sehelai pun berantakan. Wajahnya tampan dan bersahaja, namun matanya memancarkan wibawa dan ketenangan. Itu adalah Pak Ardi, guru sekaligus penjaga perpustakaan yang baru saja bertugas beberapa bulan terakhir ini. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat sopan, teliti, dan selalu berpakaian necis, membuat banyak siswi di sekolah itu mengaguminya diam-diam.

Di sebelah Salsa, Ria yang tadi tampak sedih dan ketakutan, seketika berubah sikap. Arwah gadis itu tersenyum genit, matanya berbinar cerah menatap sosok Pak Ardi dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ria bahkan berputar-putar kecil di udara seperti anak kecil yang senang, lalu mendekat melayang tepat di hadapan wajah pemuda itu, bersiul-siul kecil dengan wajah tersenyum malu-malu.

"Wah... gantengnya... ya ampun, aku jadi malu nih..." celetuk Ria sambil menutupi wajahnya yang tembus pandang dengan kedua tangan, lalu mengintip kembali dengan senyum menggoda. "Halo, Pak Guru... lihat aku dong... lihat ke sini..."

Tentu saja Pak Ardi sama sekali tidak bisa melihat atau mendengarnya. Ia hanya menatap Salsa dengan pandangan bertanya, sedikit bingung melihat muridnya itu hanya diam terpaku sambil menatap kosong ke arahnya. Salsa pun hanya melirik sekilas ke samping, menatap tajam Ria agar gadis itu diam, lalu kembali menatap Pak Ardi dengan senyum canggung.

"Eh... tidak ada apa-apa, Pak... saya... saya hanya mau pergi kok," jawab Salsa gugup, menyembunyikan buku merah tua itu di balik punggungnya.

Pak Ardi melangkah mendekat, tangannya bersedekap di belakang punggung, menatap Salsa dengan pandangan teliti namun tetap ramah. "Bukannya jam istirahat masih lama berakhir? Dan biasanya murid-murid lebih suka ke kantin. Ada keperluan apa sampai masuk ke bagian paling belakang dan debu begini?"

Salsa membuka mulut hendak menjawab bahwa ia akan pergi saja, namun Ria tiba-tiba melayang cepat ke hadapannya, merentangkan kedua tangannya menghalangi jalan, lalu merengek-rengek seperti anak kecil.

"Jangan pergi dulu! Aduh, jangan pelit dong! Aku belum puas lihat pak Ardi... dia ganteng banget tahu? aku waktu masih hidup ingin sekali menjadi pacarnya... ayolah, tahan sebentar saja! Katanya orang baik? Katanya mau bantu? Sekarang minta tolong duduk sebentar saja kok!" rengek Ria, suaranya mendesak dan memelas tepat di depan wajah Salsa.

Salsa menghela napas panjang, dadanya naik turun menahan rasa kesal yang mulai naik lagi. Ia tahu kalau ia menolak, Ria pasti akan membuat keributan atau berteriak lagi, dan itu malah akan membuat Pak Ardi semakin curiga atau menganggapnya aneh. Akhirnya, dengan berat hati Salsa mengubah niatnya. Ia tersenyum sopan kembali pada Pak Ardi.

"Ah... sebentar lagi juga bel masuk, Pak. Sebenarnya saya ingin mencari buku sejarah lama... untuk tugas tambahan dari guru," jawab Salsa berbohong dengan lancar, berusaha terlihat meyakinkan.

Mata Pak Ardi berbinar senang mendengar itu. "Oh, begitu rupanya. Bagus sekali semangat belajarmu. Kalau buku sejarah, biasanya ada di Rak Nomor 4, dekat jendela di sisi kanan sana. Buku-buku klasik ada di sana. Mari saya tunjukkan arahnya."

"Tidak usah repot-repot, Pak. Saya bisa mencarinya sendiri. Terima kasih," tolak Salsa halus, lalu segera berjalan menuju arah yang ditunjuk Pak Ardi.

Salsa berjalan santai menuju Rak Nomor 4, lalu pura-pura mengamati deretan buku di sana, sesekali mengeluarkan satu buku tebal, membuka halamannya, dan berpura-pura membaca dengan serius. Padahal matanya tidak menangkap satu pun tulisan yang ada di depannya. Perhatiannya sepenuhnya terbagi dua: satu bagian mengawasi Pak Ardi yang sedang sibuk merapikan tumpukan majalah di meja depan, dan satu lagi mengawasi tingkah laku Ria yang sekarang terlihat sangat sibuk.

Ria melayang mengikuti setiap langkah yang dilakukan Pak Ardi. Ia berputar-putar mengelilingi guru muda itu, sesekali melayang di atas bahu kanan, lalu berpindah ke bahu kiri. Ria mendekatkan wajahnya ke wajah Pak Ardi, lalu menjauh lagi sambil tertawa-tawa kecil, seolah sedang bercanda dengan seseorang yang ada di sana. Gadis itu bahkan sesekali mencoba menyentuh rambut rapi Pak Ardi atau memegang tangannya yang sedang memegang majalah, namun tangannya selalu menembus begitu saja tanpa memberi rasa apa pun pada pemuda itu.

"Satu hal yang aku sesali, adalah aku belum mengungkapkan perasaan ku pada pak Ardi, " gumam Ria penuh kekaguman, matanya tak lepas dari sosok Pak Ardi. "Dia baik, sopan, dan wangi juga lho... padahal kan tidak pakai parfum, tapi wanginya enak sekali. Ah, sayang sekali aku sudah meninggal..."

Salsa hanya menggeleng pelan melihat kelakuan arwah itu. Ia diam saja, berharap waktu berjalan lebih cepat hingga bel masuk berbunyi. Di sudut matanya, Salsa masih bisa merasakan tatapan wanita tua penunggu perpustakaan itu, namun kali ini tatapannya terlihat lebih tenang, seolah menunggunya segera keluar dari bangunan tua itu. Kata-kata peringatan tadi masih terngiang di telinga Salsa: 'Cepat pergi... atau jadi sasaran DIA...'

Siapa 'Dia' itu? Pertanyaan itu kembali berputar di kepalanya, membuat rasa penasaran bercampur kekhawatiran mulai tumbuh. Namun untuk saat ini, yang terpenting adalah ia sudah mendapatkan buku harian itu, dan satu-satunya hal yang harus dilakukan Salsa sekarang adalah keluar dari sini secepatnya, sebelum hal yang lebih aneh dan berbahaya terjadi.

Tepat saat itu, bel masuk kelas berbunyi nyaring dari kejauhan, memecah keheningan perpustakaan. Salsa seketika merasa lega luar biasa. Ia segera menutup buku yang dipegangnya sembarangan, lalu berbalik badan.

1
💝F&N💝
cie ciecie🤣🤣🤣🤣🤣
💝F&N💝
benih benih cinta mulai tumbuh ni ya🤣🤣🤣🤣
💝F&N💝
ha ha ha ha ha cemburu cemburu
💝F&N💝
thor, jangan bikin kita deg degan. dan semakin penasaran. ayo lanjut lagi
💝F&N💝
mana up nya
Dede Dedeh
eh. lain d suruh keluar hela eta korban na ......lagi atuh thor meni kagog, deg deg deg......
💝F&N💝
ayo lanjutkan
💝F&N💝
kenapa di gantung ceritanya.
💝F&N💝
salsa salsa, kami ini juga gak peka sama sekali. sebenarnya rian itu cemburu sama si bobby. krn kamu bisa cerita cerita tertawa tertawa dengannya.
knp sih gak peka banget jadi orang.
💝F&N💝
salahmu sendiri, rian. knp kamu harus menyembunyikan pernikahanmu sangan salsa. itulah yg membuat bobby terlalu akrab dengan salsa.
dan sekarang kamu merasakan cemburu, sukurin.
imel
makanya bilang dong🤣🤣🤣🤣
💝F&N💝
lanjut.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
💝F&N💝
ini kapan up lagi
paijo londo
thor mampir kyaknya seru nih🤭🤭
💝F&N💝
up lagi
💝F&N💝
good👍👍👍👍👍 aku suka alurnya.
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍
Sahabat Oleng
aku mampir thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!