Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.
Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.
Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.
Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]
[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]
[Hadiah : alat penyulingan esensi Cairan dewa]
[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]
Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.
. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa, dengan cairan ini dia menjadi petani sultan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23--Semangka Harga Selangit ... Edan
BESOK paginya Wak darmo dan Aris benar-benar kerja rodi. Semangka yang dipunya di lahan Aris itu banyak, kurang lebih ada dua puluh butir yang sudah mencapai ukuran maksimal—Gak heran kemarin Aris cuma beli dua puluh butir karena harga yang sinting, dia mau tes ombak.
Berat untuk masing-masing semangka juga gak main, rata-rata 5 sampai 7 kilogram sudah bisa buat olahraga fitnes, tapi karena strukturnya yang padat seperti kristal, rasanya jauh lebih berat saat diangkat.
"Pelan-pelan, Wak! Jangan sampai kepentok peti," bisik Aris tegang.
“enggh!” Wak Darmo yang sudah agak tua bekerja semaksimal mungkin untuk membantu tetangganya, bayaran dari Aris untuk membantu juga gak kalah main 20% dari keuntungan.
Kalau petani kecil mah itu dikit, untuk Aris si petani sultan yang bayaran tiap penjualan barang gede pasti mah bayaran juga ikut gede.
Padahal Aris tahu kulit semangka ini lebih kuat dari semangka biasa, tapi melihat pendaran cahaya hijau yang keluar dari balik kulit transparannya, ia merasa seperti sedang mengangkut bom nuklir berbahan dasar gula.
Di bawah sinar matahari pagi, bagian dalam buah itu terlihat samar-samar berkilau seperti batu giok. Serat-serat transparannya membentuk pola alami yang indah sampai sulit dipercaya kalau ini cuma semangka.
Sari berdiri di depan pintu cold storage dengan daftar inventaris di tangan. Setiap kali Aris dan Wak Darmo membawa satu buah, Sari langsung menempelkan label QR Code eksklusif yang sudah ia cetak semalam.
Gadis itu terlihat serius sekali bekerja. Rambutnya diikat sederhana, sementara ujung pensil yang ia pakai sesekali menyentuh bibir bawahnya saat menghitung jumlah stok.
"Satu... dua... tiga... total dua puluh buah masuk ke gudang pendingin, Ris," lapor Sari. Napasnya terlihat beruap saat berbicara di depan pintu baja yang terbuka.
"Bagus. Biarkan di dalam dulu selama satu jam. Untuk buah semangka ini suhu 5 derajat adalah kunci biar tekstur kristalnya 'mengunci' rasa manisnya," sahut Aris sambil menyeka keringat dingin di pelipisnya.
Jam menunjukkan pukul 07.00 pagi. Aris sudah berganti pakaian.
Ia mengenakan kemeja hitam polos yang baru dibeli kemarin di kota, dipadukan dengan celana jeans gelap dan sepatu sederhana namun bersih. Rambutnya yang biasanya agak berantakan kini disisir rapi.
Sekarang, Aris terlihat seperti juragan muda desa yang sedang bersiap melakukan transaksi besar.
Jantung gadis itu bahkan sempat berdetak lebih cepat ketika melihat Aris menggulung sedikit lengan kemejanya. Hal sederhana itu entah kenapa terlihat keren di matany
Sari yang melihatnya sampai beberapa kali melirik diam-diam, dia pangling.
“Hm?” Aris menyadari binar mata dari tatapan Sari lalu menoleh. “Kenapa sar?”
“E-enggak,” Sari buru-buru membuang muka saat ketahuan. “Cuma… tumben rapi.”
Aris terkekeh kecil. Hari ini dia jualan bukan untuk tamu hotel biasa melainkan beberapa gubernur, bisa dibayangkan gimana kalau kebetulan dia bertemu salah satu gubernur itu dengan kaos oblong.
Ia bisa merusak imagine calon juragan sukses.
“Masa ketemu gubernur pakai kaos oblong bau pupuk.”
“Dih, pede banget langsung ngomong ketemu gubernur.”
“Lah emang targetku begitu.”
Sari cuma bisa menggeleng sambil menahan senyum kecil. Kadang dia bingung. Dari mana datangnya rasa percaya diri Aris yang sekarang? Padahal dulu pemuda ini sering minder.
Namun sekarang… Cara bicaranya seperti orang yang benar-benar yakin bakal sukses besar. Dan yang paling aneh, rasa percaya diri Aris tidak terdengar sombong. Justru seperti keyakinan alami seseorang yang tahu dirinya memang mampu.
Pukul 07.30.
Setengah jam kemudian. Sebuah pickup tua milik Wak Darmo akhirnya melaju meninggalkan Desa Sukacita.
Namun kali ini bagian belakang mobil sudah dimodifikasi seadanya menggunakan box pendingin portable dan lapisan aluminium tambahan agar suhu dingin tetap terjaga.
Di dalamnya box itu adalah semangka dengan kualitas terbaik dari lainnya.
Beberapa buah Semangka Kristal kualitas terbaik tersimpan seperti harta nasional.
Suara mesin pickup tua itu meraung pelan melewati jalan desa yang masih basah sisa embun pagi. Warga yang melihat mobil mereka lewat bahkan sempat melirik heran karena bagian belakang pickup tampak seperti kendaraan pengantar barang mahal.
Aris duduk di depan sambil sesekali melihat indikator suhu digital kecil yang ia beli mahal semalam.
“4,8 derajat… aman.”
Wak Darmo melirik sekilas sambil menyetir. “Ris… Wak masih gak nyangka kita cuma nganter buah tapi rasanya kayak lagi kirim berlian.”
“Ya emang kurang lebih begitu.”
“Harganya emang mau dijual berapa sih?”
Aris tersenyum tipis. Harga ya? Itu tergantung gimana chef junaeda menilai semangka ini.
“Belum tahu.”
“Hah?”
“Saya lihat reaksi mereka dulu.”
Wak Darmo langsung melotot. “Lho?! Jadi belum ada harga?!”
Aris menyandarkan tubuhnya santai. “Barang kayak gini gak bisa dipukul harga pasar, Wak.”
“Kalau pembelinya orang penting dan barangnya langka… …maka yang dijual bukan buahnya.”
Wak Darmo menelan ludah. Ini orang ngomong apaan dah.
“…terus?”
“branding saya, yang terpenting beberapa orang mulai tahu, bahwa inilah hasil dari lahan milik kakek, dari desa sukacita …. Dengan itu lebih dari cukup karena isinya para pejabat, pasti kalau tertarik besok-besok bisa menghubungi saya lagi, begitu, wak. Tapi kalau dilihat, paling maksimal ini seharga 200-300 ribu untuk satu buah.”
"Dua ratus ribu?" Wak Darmo bergumam, tangannya yang memegang kemudi sedikit gemetar. "Gila... satu semangka seharga satu sak semen lebih. Itu mah sudah mahal banget buat ukuran buah, Ris!"
Aris hanya tersenyum simpul menanggapi reaksi polos tetangganya itu. Dalam hati, Aris tertawa kecil. *Dua ratus ribu itu harga 'aman' yang aku sebut supaya Wak Darmo nggak serangan jantung di jalan, Wak.*
Sebenarnya, sistem sudah memberi estimasi harga yang jauh lebih gila. Tapi Aris tahu, dalam bisnis, harga awal adalah umpan, sedangkan kualitas adalah pancingnya. Begitu mereka "kena", Aris tinggal menarik talinya.
Layar sistem sempat memunculkan estimasi absurd tadi pagi.
[Ding!]
[Estimasi Nilai Pasar Eksklusif: Rp1.500.000 - Rp2.500.000 / buah]
Aris bahkan hampir keselek membaca angka itu. Menjual satu buah semangka setara harga motor bekas jelas terdengar tidak masuk akal. Tapi lagi-lagi, sistem tidak pernah bohong soal kualitas.
Pickup tua itu terus melaju memasuki jalan raya kota. Bangunan-bangunan mulai berubah dari rumah sederhana menjadi deretan ruko modern dan hotel tinggi.
Sari yang duduk di tengah beberapa kali terlihat gugup. Ini pertama kalinya ia ikut perjalanan bisnis sebesar ini. Sesekali ia merapikan rambutnya sendiri karena takut terlihat kampungan saat sampai di hotel nanti.
“Ris… kalau nanti ketemu pejabat beneran aku ngomong apa?” bisik Sari pelan.
“Ngomong biasa aja.”
“Kalau aku salah ngomong gimana?”
“Tenang aja, Sar. Orang kaya juga makan nasi kok.”
Sari langsung cemberut kecil. “Jawaban apaan itu.”