Arhan si tukang panggul harus menelan pahitnya hidup, rumahnya terbakar, ia mengalami luka bakar, anaknya pincang karena tertimpa kayu dan istrinya menceraikannya.
Naasnya ia mati di lindas 3 mobil sekaligus. Tapi siapa sangka jika hidupnya berubah saat ia mendapat sistem.
Sistem mengubah hidupnya dan membuat mantan istrinya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Mata Arhan terpaku pada layar biru hologram yang melayang di hadapannya. Di sana, terlihat jelas sebuah titik merah berkedip-kedip yang menandakan lokasi misi barunya.
Lokasinya tidak terlalu jauh, tepatnya berada di pinggir jalan raya utama yang cukup ramai.
'Misi Menyelamatkan Putri Konglomerat. Waktu tersisa Sangat mendesak,' batin Arhan membaca informasi itu.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Arhan langsung melompat naik ke atas motor tuanya.
Bruuuuuuum!
Bruuuuuuuuuuumm!
Suara mesin menderu keras saat ia memutar gasnya sekuat tenaga.
Arhan melaju membelah jalanan kota yang sedang padat. Namun, karena rasa cemas dan takut jika terlambat sedikit saja nyawa sang putri tidak tertolong, Arhan pun mengendarai motornya dengan lincah.
Ia menyalip dari kiri dan kanan, memotong jalan dengan ahli di sela-sela kemacetan mobil-mobil mewah dan umum yang berjejer panjang.
Angin berdesir keras menerpa wajahnya, tapi pikirannya hanya satu, Cepat sampai!
Perjalanan yang seharusnya memakan waktu lima belas menit, berhasil ia tempuh hanya dalam waktu dua belas menit saja berkat kecepatan dan kelincahannya.
Sesampainya di lokasi yang ditandai oleh sistem, Arhan mengerem mendadak. Ia melihat-lihat sekeliling dengan mata tajam. Benar saja, di bahu jalan terparkir rapi tiga unit mobil mewah yang berhenti karena sepertinya ada kendala atau menunggu seseorang.
Satu mobil berwarna putih mengkilap, satu lagi berwarna hitam elegan, dan yang terakhir berwarna silver.
"Hm... mobil yang mana satu nih yang jadi target misi?" gumam Arhan bingung sambil mematikan mesin motornya.
Waktu sangat mendesak, ia tidak bisa menunggu atau memastikan lewat sistem terlalu lama. Arhan langsung memarkirkan motornya sembarangan di pinggir trotoar, lalu berlari kecil mendekati ketiga mobil tersebut.
Ia harus memastikan di mana orang yang sedang pingsan atau dalam bahaya itu berada.
Mobil Pertama (Warna Putih)
Arhan mengetuk-ngetuk kaca jendela sisi pengemudi dengan pelan namun terdengar.
Trrt! Trrt!
Jendela mobil itu perlahan turun. Terlihat seorang wanita paruh baya dengan dandanan yang sangat heboh dan memakai kacamata hitam besar menatap Arhan dari atas ke bawah dengan tatapan curiga dan sinis.
"Ada apa kamu?! Kamu mau apa? Jangan-jangan kamu mau mencuri barang di dalam mobil nih ya?! Hati-hati lho, ada satpam!"bentak wanita itu ketus.
Arhan menghela napas pelan, berusaha tetap sopan meski diperlakukan tidak adil.
"Ah, maaf sekali Bu, Kak... saya sedang mencari seseorang. Sepertinya saya salah mobil," jawab Arhan ramah.
"Bohong! Mana ada orang mencari orang begini! Pasti kamu mau mencuri atau mau ngemis kan?!" celetuk wanita itu tidak mau kalah, wajahnya masam mencurigai Arhan sebagai pencuri atau gelandangan.
Arhan hanya menggeleng pelan, tidak mau membuang waktu berdebat dengan orang yang tidak mau mengerti. "Terserah Kakak mau berpikir apa. Maaf mengganggu."
Ia segera pergi meninggalkan mobil itu dan beralih ke mobil berikutnya.
Mobil Kedua (Warna Hitam)
"Permisi! Kak, buk, bang, adek!" sapa Arhan tetap menjaga sopan santun, mengetuk kaca jendela mobil yang berwarna hitam legam itu.
Perlahan-lahan kaca jendela mobil itu turun.
Saat wajah orang di dalam terlihat, jantung Arhan seakan berhenti berdetak sejenak. Tangannya yang sedang mengetuk kaca terhenti di udara. Matanya membelalak tak percaya.
Di balik kemudi, duduklah wanita yang sangat ia kenal. Wajah itu cantik, namun tatapan matanya sedingin es dan penuh keangkuhan. Itu adalah Gina, mantan istrinya yang dulu meninggalkannya karena menganggap Arhan miskin dan tidak berguna!
Gina juga terlihat kaget melihat siapa yang berdiri di luar, tapi keterkejutannya itu langsung berubah menjadi tatapan jijik dan marah.
"Kamu?! Ngapain kamu ngetuk-ngetuk pintu mobil calon suami aku, hah?! Kamu mau ngapain?! Mau mengemis karena kamu susah cari makan ya?! Atau jangan-jangan kamu mau mencuri?!" seru Gina dengan nada tinggi dan merendahkan.
Bentakan keras itu keluar dari mulut Gina dengan penuh emosi. Ia menatap Arhan dengan pandangan sangat rendah, seolah melihat sampah masyarakat.
"Dasar laki-laki tidak berguna! Sudah miskin, tidak punya kerjaan jelas, sekarang mau jadi pencuri juga?! Pergi sana! Jangan mengotori mobil suami aku!" hardik Gina tanpa ampun, membuat beberapa orang yang lewat mulai menoleh ke arah mereka.
Arhan memijat pelipisnya yang mulai terasa tegang. Di saat waktu sangat mendesak untuk menyelamatkan nyawa, ia malah dihadang oleh masa lalunya yang sangat menyebalkan dan penuh drama.