Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Malam itu tidak benar benar membawa istirahat bagi siapapun, terutama bagi Feryal yang masih terjaga didalam kamarnya. Tubuhnya setengah rebahan diatas kasur dengan satu tangan menutup mata. Sementara ponselnya tergeletak begitu saja di sampingnya tanpa disentuh.
Sedangkan Bilal duduk diruang tengah, tidak bergerak sejak percakapan singkat yang justru terasa seperti jurang bagi dirinya sendiri. Pikirannya terus berputar, antara rasa bersalah dan campur aduk menjadi satu dalam sembilu yang membuatnya acapkali meragu akan sesuatu yang ia sendiri tak tahu akan arah yang ia tuju dengan perasaannya yang kini semakin tak menentu itu.
Tanpa sadar ia mengusap-usap wajahnya kasar, mencoba mengusir bayangan yang terus datang.
Malam bertabur bintang dilangit sana, menyelimuti pelataran gereja dengan sunyi yang terasa lebih dalam dari biasanya. Feryal melangkah masuk tanpa suara, mengenakan kaos hitam longgar dan jaket tipis yang menggantung santai dibahunya.
Rambut pendeknya sedikit berantakan, beberapa tindikan ditelinganya memantulkan cahaya redup dari lampu didalam ruangan. Ia memantulkan cahaya redup dari lampu didalam ruangan.
Ia duduk dibangku paling ujung, tubuhnya condong sedikit ke depan. Kedua tangannya saling bertaut seolah menahan sesuatu yang tak ingin ia lepaskan begitu saja.
Tidak ada do'a panjang yang ia ucapkan apalagi kata kata yang tersusun rapi. Hanya napas dam suara yang terdengar pelan dan lirih.
"Kalau memang ada,..aku harus kemana?" suaranya hampir tenggelam dalam keheningan, seolah dirinya sendiri ragu untuk mendengar nya.
Diluar, sebuah mobil berhenti tidak jauh dari gerbang, Kaizan turun, awalnya hanya berniat lewat seperti biasa, namun langkahnya terhenti begitu saja, pandangannya tanpa sengaja menangkap sosok didalam.
"Fey, seriusan itu si Feryal Zahira kan itu?," Feryal duduk sendirian disana, duduk dalam diam dengan tangan yang bertaut. Kaizan tidak masuk ia hanya berdiri diluar dengan tatapan yang sedikit berubah, memperhatikan tanpa ingin mengganggu.
"Dia nyari,..dengan caranya sendiri" gumam ya. Lebih kepada dirinya sendiri. Beberapa saat kemudian. Pintu gereja terbuka. Feryal melangkah santai keluar, tapi langkahnya langsung berhenti ketika ia melihat sosok yang berdiri tidak jauh darinya.
Dengan wajah yang datar, kedua netranya menyipit ke arahnya. "Elo?" tanyanya singkat. kay terlihat santai memperhatikan dengan senyum yang terbit.
"Tadi lewat," jawabnya ringan tapi Feryal mengangkat alis tidak percaya sepenuhnya. "Jam segini?"
Kaizan hanya mengangkat bahu, "bisa dibilang gitulah." ditemani angin malam yang berhembus pelan. Kaizan kemudian menoleh sedikit ke arah bangunan itu yang berada dibelakang Feryal, hening dalam sekejap diantara keduanya sebelum menatap Feryal lagi.
"Lo sering kesini ya?" tanyanya. Nada suaranya tidak menghakimi, hanya sekedar ingin tau. Feryal terdiam sebentar sebelum menjawabnya, "kadang sih" Kaizan mengangguk kecil.
"Ngapain?" kali ini menatapnya lebih lurus, tanpa menghindar.
"Lagi pengen aja, nyari tempat yang tenang" sahut Feryal.
"Dapet?" tanya Kaizan lagi. Feryal menarik nafas pelan seraya menghembuskannya perlahan. "Lumayan."
Keheningan kembali kembali hadir, tapi tidak lagi setegang sebelumnya. Ada sesuatu yang berubah, meski tipis dan hampir tidak tersisa.
Keheningan kembali hadir tidak lagi tegang seperti sebelumnya. Feryal langsung melangkah lagi lebih dulu melewati Kaizan tanpa menoleh. "Balik?"
"Hmm?"
"Gue anter?"
"Enggak usah, thanks gue bawa motor tuh disana"
"Oh oke, bareng aja kalo gitu." keduanya berjalan beda arah tapi entah mengapa seperti melangkah seirama.
………
Kampus
Motor yang mengantarkan Syahira berhenti di dekat gerbang kampus, "yang fokus Sya belajarnya" ucap Abi Fahrizal. "yaudah Abi anter sampai sini ya, mau langsung kerja, uang yang kemarin Abi kasih masih ada kan?"
"Masihlah Bi, kan emang dijatah tiap bulan sama Abi gimana sih, tapi kalo abi mau tambah juga enggak apa apa sih, Syara terima dengan suka cita" ucap Syahira dan membuat Fahrizal terkekeh.
"Mau nya" sambil menarik hidungnya Syahira saking gemasnya pada anak bungsunya itu.
"Mau kasih enggak Bi?"
"Enggak wle, udah sana gih, Abi banyak kerjaan"
Syahira berjalan masuk melangkah menuju kelasnya, berjalan lebih melambat dari biasanya. Sambil membawa kitab suci Al-Qur'an yang dipeluknya di dada, dan buku buku lainnya.
Sambil mulut komat kamit menghafal hadits hadits dan juga sekaligus terjemahannya, belum lagi surat surat yang ditugaskan lainnya.
An naba dan an Naziyat selesai, tugas lainnya menunggu malah lebih panjang dari sebelumnya. sambil kedua netranya beberapa kali keatas sekedar untuk mengingat apa yang sudah ia hafalkan sejak semalam.
Mukenanya sudah tidak lagi tersampir kini tergantikan dengan hijab yang terpasang rapi meski wajahnya masih menyimpan sisa kegelisahan yang belum sempat ia rapikan di hati dan pikirannya.
Kedua netranya menatap kosong ke depan sebelum akhirnya tersadar saat langkahnya hampir bertabrakan dengan seseorang. Ia hendak satu langkah ke kanan sosok itu malah melakukan ditempat yang sama, berpindah ke kiri pun juga sama selalu berbenturan entah itu disengaja atau tidak pastinya membuat keduanya malah berakhir salah tingkah dan salah satu mundur satu langkah dan mempersilahkannya melangkah lebih dulu.
"Bapak saja duluan"
"Tidak kamu duluan saja"
Endingnya "Yaudah saya duluan" keduanya saling menatap beberapa detik namun tak lama, pria itu berusaha memalingkan wajahnya dengan debaran jantung keduanya berdetak begitu kencangnya.
"Astaghfirullah kenapa jadi gini, jangan ya Alloh itu Abang ipar gue" batin Syahira bergumam, dan ia pun berusaha menunduk untuk menjaga pandangannya dari Abang iparnya.
Bilal melangkah cepat ke ruangannya, sambil dalam hati berkata yang sama seperti sebelumnya mengingatkan pada dirinya sendiri seperti halnya Syahira yang sama sama membatin.
Tanpa mereka sadari hati mereka seolah saling terhubung akan suatu perasaan yang seharusnya tidak mereka rasakan.
Syahira melanjutkan langkahnya lagi, dengan menatap kosong, dan lagi lagi ia yang tidak fokus harus mengalami kejadian yang sama, tadi dengan Abang iparnya sendiri sekaligus dosennya yang mengajar dikelasnya, dan kalo ini ia malah harus bertubrukan bertemu dengan pria aneh yang selalu nyeletuk tajam menembus dadanya.
Napasnya tertahan sepersekian detik lamanya. Ia langsung berhenti mendadak saat langkahnya hampir saja bertabrakan dengan KAIZAN ALTAZ,.
"Maaf" ucapnya singkat, tanpa benar benar melihat siapa didepannya. Kaizan berdiri santai dengan tangan yang masuk kesaku celananya, tatapannya tidak seperti biasa. Membuat Syahira tidak nyaman karenanya. "Kalau jalan jangan sambil mikir berat nona" ujarnya ringan namun menusuk, seolah menyinggung sesuatu yang masih kasat mata.
Syahira mengerutkan keningnya " maksudnya apa ya?" Kaizan hanya tersenyum tipis menggeleng pelan. "Enggak kok, cuma ingetin aja, ya siapa tau kan" sahutnya menggantung, dan pria itu pergi begitu saja meninggalkan seribu tanya dibenak Syahira.
"Hey tunggu, apa maksudmu bilang gitu?!" namun pria itu tidak menjawab, dia langsung tancap gas dengan motor gedenya, dan tangan hormat seolah mengkodekan ia pamit dengan senyum terbit dibibirnya.
"Siapa sih tuh orang, aneh banget"