NovelToon NovelToon
The Curious Queen GL Indo

The Curious Queen GL Indo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / GXG
Popularitas:966
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Suasana di kamar Ruby mendadak aneh, Kimi senyum-senyum sendiri, Ruby bengong, dan lampu terang benderang jadi satu-satunya saksi betapa absurdnya ruangan Ini.

"Kim, lo pasti udah ngantuk. Ngomongnya mulai ngaco," ucap Ruby akhirnya. "Balik ke kamar lo sana."

Kimi mendengus keras. "Kamu gak mau pacaran sama aku, By? Apa aku kurang cantik? Abang aja bilang aku terlalu cantik buat jadi adeknya dia."

Ruby menatapnya datar. "Lo itu gak bisa baca situasi ya? Mau dijauhin sama yang lain? Udah siap?"

Kimi diam sejenak, lalu dengan ekspresi penuh percaya diri, sedikit bodoh dan berani, ia menjawab, "Tenang, By. Aku bisa kok jadi pacar kamu tapi tetap temenan sama mereka."

"Ngumpet-ngumpet?"

Kimi mengangguk yakin.

"Ogah," jawab Ruby cepat. "Kalau lo gak bisa ngadepin yang di sini, berarti lo gak bakal sanggup ngadepin dunia di luar sana."

Alis kimi langsung naik. "Oh, jadi maksud kamu, di sini tuh latihan dulu buat aku?"

"Anggep aja gitu."

"Yaudah, pacaran dulu tapi."

Ruby meringis. Heran dia. Dulu Kimi ngotot minta jadi teman, sekarang ngotot jadi pacar. Setelah ini apa? Minta kawin? Maksudnya, ngotot jadi istri?

"Gak bisa, Kim. Buat gw pacaran tuh gak segampang 'lo suka, terus dipacarin'. Gw punya banyak pertimbangan."

Kimi langsung manyun, Ia lupa, kalau urusan dengan Ruby memang sulit bukan main. Berteman saja butuh usaha setengah mati, apalagi pacaran.

"Uby gak suka aku ya?"

Ruby terdiam. Suka? Kalau tidak suka, ia pasti sudah menutup pintu dari awal. Buat apa bicara panjang lebar. Tapi kalau iya... ya, justru itu masalahnya.

"Ini bukan perkara suka, Kim," ucap Ruby akhirnya sambil mengusap wajah. "Pokoknya jangan ngomong soal ini lagi. Kita temenan aja, itu udah cukup. Sekarang lo balik, gw mau tidur."

Kimi menatap Ruby sejenak, lalu berdiri pelan. Dengan langkah gontay, ia kembali ke kamarnya, rebahan menatap langit-langit kosong.

"Udah ditolak, diusir juga. Uby jahat banget," gumamnya sedih,

Ia mengusap mata-yang padahal kering, berlagak seperti baru habis menangis dua jam penuh.

"Harusnya Uby yang kejar-kejar aku, bukan aku yang kejar dia. Aku kan cuma mau tau rasanya dicintai sama dia "

Ia terdiam lama, lalu memukul kepala boneka teddy- nya pelan,

"Temenan doang? Nggak bisa. Aku gak bakal tenang kalau pelatihan ini kelar begini aja."

Kimi memeluk bonekanya erat, seolah yang ia peluk itu Ruby. "Biar sesak napas sekalian," batinnya sebelum akhirnya memejamkan mata.

**

Keesokan paginya~

Ruang makan terasa lebih sepi dari biasanya. Entah peserta lain tiba-tiba jadi kalem, atau memang masih menyimpan sisa emosi semalam. Mereka yang biasanya mengabaikan Ruby dan Anela, kali ini tak sungkan melayangkan tatapan tajam.

Marey yang makan sambil melamun tiba-tiba terganggu dengan tingkah makhluk di sebelahnya. "Kim, makan tuh roti, jangan disiksa. Disobek-sobek gitu, kasian dia," omelnya.

"Aku mimpi buruk tadi malam," ujar Kimi sendu.

"Eh, mimpi apa?" tanya Agus cepat. "Kalau mimpi serem, gw bisa baca artinya."

Febi menepuk dahi. "Mulai deh. Radar mistisnya nyala terus."

"Dia tuh calon dukun gagal, makanya mau banting setir jadi pegawai." celetuk Septi.

"Gw bisa bayangin dia pas kerja nyambi jualan boneka santet," tambah Okta.

Semua langsung tertawa, kecuali Agus yang tetap fokus. "Ah, bodo amat sama lo pada, cewek ampas. Kim, mimpi lo apaan?"

Kimi mendengus. "Aku mimpi suka sama orang. Pas aku ajak pacaran, dia nolak. Terus aku diusir."

Suasana langsung hening. Beberapa peserta saling pandang, sementara Ruby yang duduk di meja pojok refleks berhenti mengunyah.

"Serius, Kim?" tanya Juni. "Gila sih, siapa pun yang nolak lo tuh udah buta."

"Iya. Kimi aja ditolak, apalagi Janu. Dilepeh pasti," sahut Apri santai.

Janu langsung melotot. "Apaan lo bawa-bawa gw, setan,"

Semua tertawa lagi, kecuali Juli yang melirik Ruby tanpa suara. Feeling-nya mulai tak enak.

"Btw, tuh orang beneran ada kan? Jangan-jangan cuma gebetan halu lo doang?" tanya Septi sambil mengunyah.

Kimi menggeleng lesu. "Aku gak mood ngomongin dia."

"Lah, kudu dong. Biar kita bisa ikutan ngata-ngatain dia," ujar Janu.

"Setuju. Tuh orang pasti bego banget," timpal Juni.

Kimi langsung mendelik. "Dia gak bego. Dia pinter banget malah."

"Dih, dibelain," gumam Marey. "Lo itu udah disakitin, Kim. Jangan baper lagi plis."

Kimi manyun makin dalam. "Aku gak mau ngomongin dia."

Mei langsung mengusap punggung Kimi lembut. "Udah sih, jangan diganggu. Gak liat Kimi murung gini?"

"Pada gak punya perasaan banget," Febi ikut membela.

"Lah, woy. Ini kan cuma mimpi," kata Juli geli. "Kenapa dari tadi serius banget ngebahasnya?"

Suasana ruang makan akhirnya mencair lagi, meski Ruby masih terpaku di tempat. Sendoknya sudah lama berhenti bergerak.

Anela yang duduk di depannya memperhatikan perubahan itu. Ia yakin ada sesuatu yang terjadi saat ia tidak ada di sekitar Ruby. Entah kenapa ia yakin ucapan Kimi tadi tidak sepenuhnya mimpi.

**

Sore itu setelah pelatihan, semua peserta berkumpul di lapangan untuk olahraga rutin. Kimi ikut lari keliling lapangan sebelum akhirnya bergabung dengan tim basket. Tumben, tapi karena Kimi tipe angin-anginan, yang lain membiarkan saja. Tapi Marey terpaksa ikut main supaya timnya pas.

Kimi tertawa dan heboh seperti biasa, seolah pagi tadi tidak pernah terjadi apa pun. Padahal bagi yang peka, mereka bakal sadar kalau tawa Kimi hari ini agak dipaksa.

Ruby yang dari tadi memperhatikan dari jauh akhirnya menyerah. Daripada hatinya makin sesak, ia memilih pindah ke gym. Seperti biasa, Anela otomatis mengikutinya.

"Ru, hari ini kamu diem banget. Ada apa sih?" tanya Anela yang menahan penasaran sejak pagi.

Ruby baru mau duduk di alat gym hanya melirik sekilas. "Emang biasanya aku rame?"

"Ya enggak juga, tapi kamu kayak lagi mikirin sesuatu. Biasanya curhat ke aku."

Ruby terkekeh kecil. "Sotoy banget."

"Serius, Ru. Belakangan ini kita udah gak bucin lagi," Anela tersenyum kalem, "Yah, sejak kamu deket sama Kimi,"

"Masih bucin kok."

"Iya, tapi kadar bucinnya mirip kopi kebanyakan air."

Keduanya tertawa pelan. Setelah itu, Anela hanya menatap Ruby yang fokus dengan alat latihannya, tapi ekspresi mata Ruby jelas tidak benar-benar fokus.

~

Di lapangan, situasi makin chaos. Juli mulai kehilangan konsentrasi karena Kimi dua kali jatuh tersenggol pemain lain yang kelewat semangat. Semua gara-gara taruhan absurd dari Marey tadi.

"Yang kalah jadi babu tim yang menang selama tiga hari!" katanya penuh semangat.

Efeknya? Semua langsung berubah jadi atlet olimpiade dadakan,

"Woy, gw sama Kimi out ya! Nih anak bisa patah tulang lama-lama," seru Juli setelah Kimi jatuh untuk ketiga kalinya.

"Masuk akal sih," gumam Janu. "Tapi..." ia menoleh ke tim lain yang menatapnya dengan mata 'jangan berani-berani nyuruh gw out'.

Akhirnya mereka sepakat: Kimi dan Juli boleh berhenti main, tapi tetap ikut menanggung hasil akhir. Keduanya beda tim, dan Janu harus mengikhlaskan Juli yang lumayan jago di timnya.

Juli mengajak Kimi duduk agak menjauh dari Desi dan Febi. Dia mau membahas soal 'mimpi', tapi hasilnya malah bikin Juli speechless.

"Itu bukan mimpi," bisik Kimi ringan. "Uby beneran nolak aku."

Juli melongo. Mau komentar apa juga bingung. Melarang? Ya percuma. Dia sendiri juga. baru pindah haluan. Lagipula pikirannya sedang ke mana-mana, terutama sejak Bu Salma dan Clarissa lewat di pinggir lapangan tadi. Gara-gara itu, kepala Juli hampir ketimpuk bola karena gagal fokus.

"Oke, lupain. Temenin gw nge-gym," katanya cepat.

Mereka pamit dari lapangan. Yang lain sadar siapa yang ada di ruang gym, tapi karena Kimi pergi bersama Juli, semua menganggap aman-aman saja.

Begitu pintu ruang gym terbuka, dua orang di dalam serempak menoleh. Ruby sedikit terkejut melihat Kimi ikut, tapi ya kalau dipikir lagi, tidak aneh juga. Akhir- akhir ini Kimi dan Juli memang makin akrab.

"Lo latihan otot mulu, Ru," goda Juli sambil duduk di alat sebelah Ruby. " Lama-lama bisa buka jasa tukang pukul nih,"

Ruby menggeleng sambil menghela napas. "Gw gak segitunya. Cuma pengen badan tetap sehat."

Ia sempat melirik ke arah Kimi yang berdiri santai di antara mereka, lututnya merah dan sedikit tergores.

"Yang sehat jangan cuma fisik, By. Pikirin juga yang di dalam," ujar Kimi tiba-tiba nimbrung.

Ruby mengernyit. "Yang di dalam apaan?"

Juli terkekeh. "Maksudnya yang di dalem baju lah. Si Ruby gitu aja gak nyampe."

"Ih, bukan itu, Jul," Kimi langsung mendelik. Ia mendekat ke Ruby, lalu berbisik dengan ekspresi serius. "Kesehatan rohani."

Setelah itu, ia menjauh sambil tersenyum sok manis.

"Yang itu sehat juga kok."

Kimi menghela napas dramatis. "Aku enggak, By. Ajarin dong, biar sehat semuanya."

Ruby mengangkat alis. "Itu tergantung lo-nya, Kim. Kalau dikit-dikit baper, hati bisa rusak."

"Maksudnya aku baperan?" nada Kimi langsung naik setengah oktaf.

Ruby tertawa kecil. " Nah, baru juga diomongin, udah sensi. Baperan kan?"

"Ya gak gitu juga, By. kamu tuh sukanya nyindir."

"Halah, bawel banget. Mending latihan," Ruby berdiri, menarik Kimi ke salah satu alat.

"Apaan nih?" tanya Kimi polos saat Ruby menyuruhnya duduk di leg extension machine.

"Biar kaki lo kuat. Jadi gak gampang jatuh."

Oh, jadi dia liat aku jatuh tadi? batin Kimi malu sendiri.

Kimi akhirnya mencoba, tapi baru lima kali dorong, dia sudah ngos-ngosan. "Ini berat banget, By. kamu sengaja nyiksa aku ya?"

"Enggak lah, emang segitu bebannya. Lebay banget."

"Tuh kan, dikatain lebay." Kimi sudah pasang muka mau nangis.

Ruby garuk-garuk kepala. "Astaga, udah deh, Gak usah latihan, sebelum lo beneran mewek."

"Peluk dulu biar gak nangis."

"Gw keringetan."

"Yaudah, nanti abis mandi."

"Yaudah, nanti abis mandi,"

Ruby menggeleng pasrah, "Bocil maksa." Tapi entah kenapa, dia tetap mengusap keringat Kimi dengan handuk di lehernya.

Juli dari tadi sudah berhenti latihan dan menatap adegan itu dengan tatapan menyelidik.

"Kalian akrab banget ya," komentar Anela akhirnya, suaranya tetap tenang.

Ruby menoleh cepat. "Aku cuma ngajarin dia." "Iya, cuma ngajarin," sahut Kimi sambil memeluk pinggang Ruby dari samping.

"Kim, dibilangin gw keringetan, " protes Ruby, tapi tangannya tidak bergerak untuk melepas.

"Aku juga. Bagus dong, keringetnya nyatu."

Juli mendecak. "Ini kita ganggu gak sih? Berasa nonton orang lagi bucin,"

Anela terkekeh hambar. "Mereka gak bucin, Jul. Cuma akrab aja."

Juli mendengus. "Akrab apanya. Kalau cewek normal mah wajar. Kalau mereka? Aneh banget."

"Gak usah ngaco," kata Ruby ketus.

Juli hanya mengangkat bahu lalu menarik tangan Kimi. "Yaudah deh, biar gak dibilang ngaco, gw culik nih bocah,"

Kimi bengong tapi pasrah diseret keluar. Ruby hanya menatap kepergian mereka tanpa kata.

Ekspresinya datar, tapi di balik itu, hatinya jelas berantakan.

.

1
filusi
ceritanya bagus bet semoga cepat update
Benrycia_: Makasih
total 1 replies
Anonim
Up terus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!