NovelToon NovelToon
Paradoks Dua Hati

Paradoks Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:461
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Labirin Intimidasi

​Aroma solar yang terbakar dari mesin generator dan debu semen yang kering menjadi penyambut pagi yang menyesakkan di lokasi konstruksi Grand Azure. Matahari Jakarta belum sepenuhnya naik, namun udara sudah terasa berat, seolah-olah awan polusi sengaja turun untuk menghimpit siapa pun yang berani mengadu nasib di bawahnya.

​Di dalam unit kontainer kantornya, Arjuna Dirgantara duduk dengan punggung setegak mistar. Di hadapannya, sebuah cangkir espresso ganda yang sudah dingin dibiarkan tak tersentuh. Matanya tidak tertuju pada draf kontrak logistik yang terpampang di layar monitor, melainkan pada jendela kecil yang mengarah langsung ke area lobi lantai dasar.

​Ia melihat mereka lagi.

​Melalui kaca jendela yang sedikit berdebu, Juna menyaksikan Naya sedang berdiri di dekat tumpukan baja penguat bersama Bastian. Naya mengenakan helm proyek putih yang sedikit miring, rambut ekor kudanya mencuat keluar, dan ia sedang tertawa—sebuah tawa renyah yang terlihat begitu ringan, seolah-olah beban triliunan rupiah dari proyek ini tidak pernah ada. Bastian, dengan sikap protektif yang natural, terlihat membungkuk untuk membisikkan sesuatu yang membuat bahu Naya berguncang karena tawa.

​Juna merasakan sebuah tarikan kasar di ulu hatinya. Itu bukan sekadar rasa tidak suka; itu adalah sebuah rasa panas yang merambat dari perutnya, membakar tenggorokannya, dan membuat jemarinya yang memegang pena mencengkeram begitu kuat hingga plastik pena itu berderit.

​'Tertawa. Di tengah jam kerja konstruksi yang kritis, dia masih punya waktu untuk memamerkan keceriaan yang tidak pernah ia berikan padaku,' batin Juna, matanya menyipit penuh kilatan gelap. 'Dia pikir lokasi ini adalah taman bermain universitas? Dia pikir dia bisa membawa nostalgia masa lalunya ke dalam kerajaanku?'

​Juna mematikan monitornya dengan gerakan kasar. Ia menyambar helm proyek hitamnya dan berjalan keluar. Setiap langkah kakinya di atas tangga besi kontainer berbunyi seperti hantaman godam yang menandakan badai akan segera datang.

​Naya sedang menjelaskan detail titik las pada Bastian ketika bayangan panjang yang sangat ia kenali tiba-tiba jatuh menutupi cetak biru di tangannya. Suasana di sekitar mereka mendadak berubah, seolah-olah oksigen baru saja disedot habis dari udara.

​"Pak Arjuna," sapa Bastian, tetap tenang namun dengan nada waspada yang jelas.

​Juna tidak menoleh pada Bastian. Matanya mengunci Naya dengan intensitas yang melumpuhkan. "Nona Kanaya Larasati. Saya tidak ingat pernah memberikan jam istirahat tambahan untuk sesi bimbingan belajar informal di tengah site."

​Naya menegakkan punggungnya, menatap Juna dengan dagu yang terangkat. "Kami sedang membahas sinkronisasi beban pilar ketiga, Pak. Kak Bastian menyadari ada potensi deviasi pada sambungan baja—"

​"Pak Bastian adalah vendor struktur," potong Juna, suaranya sedingin es yang baru saja keluar dari ruang vakum. "Tugasnya adalah mengikuti spesifikasi yang Anda buat. Jika ada deviasi, itu artinya desain Anda yang bermasalah sejak awal. Bukankah begitu, Kanaya?"

​Naya tertegun. 'Dia menyerang kompetensiku? Hanya karena aku sedang bicara dengan Kak Bastian?'

​"Desain saya tidak bermasalah, Pak. Ini adalah diskusi lapangan yang lumrah terjadi—"

​"Cukup," desis Juna. Ia melangkah maju satu tahap, memangkas jarak hingga Naya bisa merasakan hawa dingin yang menguar dari tubuh pria itu. "Riko! Panggil seluruh manajer teknis. Saya ingin audit mendadak untuk seluruh sambungan baja pilar satu hingga tujuh. Sekarang juga."

​Riko, yang baru saja tiba, terbelalak. "Audit mendadak, Pak? Tapi itu akan memakan waktu sepanjang hari dan menghentikan seluruh proses pengecoran."

​"Anda meragukan perintah saya?" tanya Juna, suaranya sangat rendah namun mengandung ancaman yang mematikan.

​"Ti-tidak, Pak. Segera dilaksanakan," Riko bergegas pergi dengan wajah pucat.

​Juna kembali menatap Naya dan Bastian. "Dan karena desain ini adalah mahakarya idealis Anda, Kanaya, saya ingin Anda sendiri yang melakukan verifikasi torsi pada setiap baut di ketinggian lantai tujuh. Manual. Tanpa bantuan tim asisten."

​"Lantai tujuh?" Naya terbelalak. "Pak, steger di sana belum sepenuhnya stabil karena angin kencang pagi ini. Dan itu ada ribuan baut!"

​"Jika Anda punya waktu untuk tertawa di warung tenda, Anda pasti punya energi ekstra untuk memastikan pilar Anda tidak runtuh," ucap Juna tanpa belas kasihan. Ia melirik Bastian dengan tatapan meremehkan. "Pak Bastian, silakan kembali ke area fabrikasi Anda. Jangan biarkan kehadiran Anda di sini menjadi liabilitas bagi fokus desainer saya."

​Bastian mengepalkan tangannya di samping tubuh, namun ia tahu berdebat dengan Juna di site adalah bunuh diri karier. Ia menatap Naya dengan penuh kekhawatiran sebelum akhirnya mengangguk kecil dan berjalan pergi.

​Naya berdiri mematung, dadanya naik turun karena amarah yang membara. "Anda melakukan ini karena cemburu, bukan?" bisik Naya, suaranya bergetar hebat.

​Juna terdiam selama satu detik. Pupil matanya membesar, namun wajahnya tetap menjadi dinding marmer yang tak tertembus. "Cemburu? Itu adalah emosi yang terlalu rendah untuk saya miliki, Kanaya. Saya melakukan ini karena saya tidak menoleransi kecacatan dalam kontrol. Dan saat ini, Anda adalah variabel yang paling tidak terkontrol di proyek ini."

​"Anda sosiopat, Arjuna," ucap Naya, air mata amarah mulai menggenang di pelupuk matanya.

​"Mungkin. Tapi saya sosiopat yang membayar gaji Anda. Sekarang, naik ke lantai tujuh. Sebelum saya memutuskan untuk merombak seluruh tim desain Anda," perintah Juna, berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi.

​Pukul dua siang, matahari Jakarta berada tepat di atas kepala, membakar apa pun yang disentuhnya. Di lantai tujuh yang masih berupa kerangka besi terbuka, angin berhembus kencang, membawa debu pasir yang menyengat mata.

​Naya berjongkok di atas balok baja yang sempit, tangannya yang mengenakan sarung tangan kulit memegang kunci torsi berat. Tubuhnya gemetar karena kelelahan fisik dan dehidrasi. Ia sudah berada di sana selama lima jam tanpa jeda, memeriksa baut demi baut sesuai perintah gila Juna.

​'Dia ingin menghancurkanku. Dia ingin menunjukkan bahwa dia bisa menginjakku kapan saja dia mau,' batin Naya, menyeka keringat yang mengalir masuk ke matanya. 'Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan menyelesaikan ini, dan aku akan melemparkan laporan ini ke wajahnya dengan senyuman.'

​Dari bawah, Juna berdiri di area observasi. Ia menggunakan teropong digital untuk memantau pergerakan Naya di ketinggian. Ia melihat bagaimana tubuh kecil itu berjuang melawan angin. Ia melihat bagaimana Naya sesekali memegang pagar pengaman dengan tangan yang gemetar.

​Ada bagian dari dirinya yang ingin berteriak menyuruh Naya turun. Ada bagian dari dirinya yang merasa mual melihat Naya dalam bahaya. Namun, rasa sakit di dadanya setiap kali ia teringat tawa Naya bersama Bastian menekan rasa iba itu jauh ke dalam kegelapan.

​'Biarkan dia merasakan kerasnya duniaku,' batin Juna, meskipun tangannya yang memegang pagar pengaman di bawah sana mencengkeram begitu kuat hingga besi itu terasa panas. 'Biarkan dia tahu bahwa di dunia ini, hanya aku yang berhak menjadi pusat gravitasi dan perhatiannya. Bukan senior universitasnya yang sok pahlawan itu.'

​Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari arah utara. Langit yang tadi terik mendadak berubah menjadi abu-abu gelap. Badai sore Jakarta datang tanpa peringatan.

​"Semua pekerja turun! Badai akan datang!" teriak mandor melalui pengeras suara.

​Naya menatap langit yang menggelap. Ia baru menyelesaikan delapan puluh persen pemeriksaan. Angin mulai bertiup lebih kencang, menggoyangkan steger tempatnya berdiri.

​"Naya! Turun!" teriak Bastian dari lantai dasar, suaranya samar tertelan bising angin.

​Naya mencoba berdiri, namun kakinya yang kram membuatnya kehilangan keseimbangan sesaat. Ia mencengkeram balok baja dengan panik. Di saat yang sama, hujan deras langsung tumpah dari langit, mengubah lantai beton yang berdebu menjadi permukaan yang sangat licin.

​Di bawah, Juna membuang teropongnya. Wajahnya seketika pucat pasi. Seluruh rasa cemburu dan amarahnya menguap, digantikan oleh ketakutan yang paling murni yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.

​"Naya!" raung Juna, tidak lagi memedulikan wibawanya. Ia berlari menuju tangga darurat, mengabaikan teriakan Riko yang mencoba menahannya.

​Juna menaiki anak tangga besi itu dengan kecepatan gila. Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia bisa merasakannya di pangkal lidahnya. Pikirannya hanya dipenuhi oleh satu bayangan: tubuh mungil Naya yang jatuh dari ketinggian lantai tujuh.

​'Tuhan, jangan sekarang. Jangan dia. Ambillah apa pun dariku, tapi jangan dia,' doa Juna yang paling jujur pecah di dalam batinnya.

​Saat ia tiba di lantai tujuh, hujan sudah sangat lebat hingga jarak pandang hanya beberapa meter. Juna melihat Naya sedang merangkak di atas balok baja, mencoba mencapai area tangga yang lebih aman. Wajah gadis itu penuh dengan ketakutan dan air mata yang bercampur dengan air hujan.

​"Kanaya!" Juna menerjang menembus hujan, kakinya tergelincir beberapa kali di atas beton basah.

​Naya menoleh, matanya melebar melihat Juna yang basah kuyup berlari ke arahnya. "Pak Arjuna! Jangan ke sini! Lantainya licin!"

​Juna tidak peduli. Ia mencapai balok tempat Naya berada, meraih lengan Naya dengan kekuatan yang hampir menyakitkan, dan menariknya ke dalam pelukannya. Ia mendekap Naya begitu erat, seolah-olah ia sedang mencoba menyatukan tubuh gadis itu dengan tubuhnya sendiri agar tidak ada angin yang bisa membawanya pergi.

​Mereka berdua terjatuh di atas lantai beton yang basah, saling berpelukan di tengah badai yang mengamuk. Juna menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Naya, napasnya tersengal-sengal, sementara tangannya gemetar hebat saat mengusap punggung Naya yang basah.

​"Kau bodoh... kau benar-benar gadis bodoh yang keras kepala," bisik Juna, suaranya hancur dan parau di balik suara guntur.

​Naya menangis sesenggukan di dada Juna. Rasa takut, lelah, dan marah meledak menjadi satu. "Anda yang menyuruh saya naik! Anda yang ingin membunuh saya!"

​Juna melepaskan pelukannya sedikit, memegang wajah Naya dengan kedua tangannya yang dingin. Matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan kepedihan dan rasa bersalah yang luar biasa dalam.

​"Maafkan aku... demi Tuhan, maafkan aku, Kanaya," ucap Juna, suaranya hampir tidak terdengar di antara deru hujan. "Aku kehilangan kendali. Aku... aku tidak sanggup melihatmu tersenyum padanya. Aku tidak sanggup."

​Naya tertegun. Di tengah badai yang menderu, pengakuan Juna terasa seperti petir yang menyambar tepat di hatinya. Kebenaran yang selama ini mereka sangkal akhirnya tumpah bersama air hujan.

​Juna menempelkan dahinya ke dahi Naya. Air hujan mengalir dari rambut Juna ke wajah Naya. "Jangan pernah lagi... jangan pernah lagi membuatku merasa setakut ini."

​Di detik itu, di atas lantai tujuh yang basah dan dingin, labirin intimidasi yang Juna bangun runtuh seketika. Yang tersisa hanyalah dua orang manusia yang rapuh, yang menyadari bahwa di balik kebencian dan gengsi mereka, ada sebuah paradoks perasaan yang jauh lebih kuat dan lebih menakutkan daripada badai mana pun.

​Satu jam kemudian, badai mereda. Site konstruksi berubah menjadi lautan lumpur dan genangan air.

​Juna membawa Naya kembali ke kontainer kantornya. Ia menyuruh Riko mengambilkan handuk tebal dan teh hangat, lalu ia memerintahkan semua orang keluar.

​Naya duduk di kursi sofa kecil, terbungkus handuk, tangannya memegang gelas teh yang hangat. Juna berdiri di depannya, ia sudah berganti pakaian kering namun wajahnya tetap terlihat pucat.

​"Besok, Anda tidak perlu naik ke atas lagi," ucap Juna, suaranya kembali datar, mencoba membangun kembali sisa-sisa dindingnya. "Audit sambungan baja akan dilakukan oleh tim asisten. Tugas Anda adalah tetap di kantor lapangan."

​Naya menatap Juna dengan tatapan yang dalam. "Anda cemburu pada Kak Bastian. Akhirnya Anda mengakuinya."

​Juna membelakangi Naya, menatap jendela yang menampilkan sisa-sisa hujan. "Bastian... dia memiliki sesuatu yang tidak akan pernah saya miliki, Kanaya. Dia tahu cara membuat orang tertawa tanpa perlu memberikan instruksi teknis. Dia tahu cara menjadi... hangat."

​Juna menoleh sedikit, matanya terlihat sangat hampa. "Dan saya membenci kenyataan bahwa kehangatannya itulah yang Anda butuhkan, sementara yang bisa saya berikan hanyalah tekanan dan kedinginan."

​'Dia merasa tidak cukup baik? Arjuna Dirgantara yang sombong itu merasa kalah dari Kak Bastian?' batin Naya, hatinya terasa berdenyut pedih.

​"Pak Arjuna..."

​"Pulanglah, Kanaya," potong Juna, suaranya kembali menjadi bariton yang otoriter. "Riko akan mengantar Anda. Dan jangan pernah berani menceritakan kejadian di lantai tujuh tadi pada siapa pun. Anggap itu sebagai... gangguan operasional akibat cuaca."

​Naya berdiri, ia menaruh gelas tehnya di meja. Ia berjalan menuju pintu, namun ia berhenti sejenak.

​"Itu bukan gangguan operasional, Pak," ucap Naya tanpa menoleh. "Itu adalah bukti bahwa mesin yang Anda banggakan itu masih memiliki detak jantung. Dan itu jauh lebih berharga daripada seluruh marmer di Grand Azure."

​Naya keluar, meninggalkan Juna sendirian di tengah kesunyian kontainernya.

​Juna menyentuh bekas pelukan Naya di bajunya yang sudah kering. Ia menyadari satu hal yang paling menakutkan: ia tidak hanya ingin memiliki Naya sebagai koleksi. Ia ingin memiliki senyuman Naya, kehangatan Naya, dan hati Naya—sesuatu yang tidak bisa ia beli dengan seluruh aset Dirgantara Group.

​[KILAS BALIK ]

​Kamera bergerak pelan menyusuri sebuah ruang kerja yang megah namun sangat dingin. Hanya terdengar suara ketukan pena di atas meja mahoni.

​Lima belas tahun yang lalu.

​Arjuna remaja, baru berusia tiga belas tahun, berdiri di depan meja ayahnya. Ia baru saja menyelesaikan kompetisi matematika internasional dan mendapatkan medali perak.

​"Perak, Arjuna?" suara sang Ayah terdengar sangat meremehkan. "Di keluarga ini, juara kedua adalah pecundang pertama yang diketahui publik. Kau membiarkan emosimu terganggu karena melihat anak dari saingan bisnisku mendapatkan emas?"

​"Aku hanya... aku merasa tertekan, Yah," bisik Juna kecil.

​Sang Ayah berdiri, berjalan mendekati Juna, dan mencengkeram bahunya dengan sangat kuat. "Tekanan adalah anugerah, Arjuna. Itu yang mengubah karbon menjadi berlian. Tapi emosi? Emosi adalah sampah yang akan membuatmu hancur. Jika kau ingin menang, kau harus mematikan bagian dalam dirimu yang bisa merasa takut atau cemburu. Jadilah mesin yang presisi, atau kau akan berakhir sebagai pecundang seperti ibumu."

​Juna kecil menunduk, menatap medali peraknya yang kini terlihat sangat tidak berarti. Di detik itu, ia berjanji pada ayahnya—dan pada dirinya sendiri—bahwa ia tidak akan pernah membiarkan emosi mengganggu kalkulasinya lagi.

​Kamera melakukan close-up pada mata Juna remaja yang mulai mendingin, tatapan yang sama yang kini sedang ia gunakan untuk menatap laporan audit baja, menyadari bahwa janji yang ia buat lima belas tahun lalu baru saja hancur berkeping-keping karena seorang gadis bernama Kanaya Larasati.

1
Arif Ansori
bagus banget loh ceritanya, kok bisa sepi sih. semangat ya thor 💪😍
Misterios_Man: lah gatau... saya juga bingung kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!