No plagiat 🚫
Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa
Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.
Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.
Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?
"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak di Atas Salju Abadi
Air sungai yang sedingin es berhasil menyamarkan hawa panas dari luka-luka Song Yuan, namun ia tahu bahwa Unit Elang Pusat tidak akan melepaskannya begitu saja. Dengan sisa tenaga yang ada, Yuan merangkak naik ke daratan, menyeret tubuhnya yang basah kuyup menuju kegelapan hutan di pinggiran wilayah utara.
"Jangan berhenti sekarang, Cacing Kecil. Jika kau pingsan di sini, serigala-serigala itu akan mengunyah jantungmu sebelum fajar."
Suara desisan yang akrab itu muncul dari balik kabut. Mo Chen berdiri di sana, tampak tidak terganggu sedikit pun oleh kekacauan yang baru saja dibuat muridnya. Ia menatap Yuan yang bersimbah darah dengan tatapan yang sulit diartikan—antara bangga dan muak.
"Gao Shuo... sudah mati," bisik Yuan, napasnya tersengal.
"Satu nyawa untuk seribu nyawa di Desa Songjia? Itu hitungan yang buruk," jawab Mo Chen sambil melemparkan sebotol cairan merah ke arah Yuan. "Minum itu. Itu akan membakar darahmu agar tidak membeku, tapi rasa sakitnya akan membuatmu berharap kau mati di sungai tadi."
Yuan meneguk cairan itu tanpa ragu. Seketika, rasa panas yang luar biasa menjalar dari perut ke ujung jari-jarinya. Ia mengerang, mencengkeram tanah hingga kukunya berdarah, namun perlahan kekuatan ototnya kembali pulih.
"Ibukota sekarang sudah seperti sarang lebah yang diaduk," lanjut Mo Chen, matanya kuningnya menatap ke arah langit utara yang mulai memutih. "Kaisar telah mengeluarkan titah emas. Siapa pun yang membawa kepalamu akan diberikan gelar Jenderal dan tanah seluas provinsi. Kau bukan lagi manusia di mata mereka, kau adalah gunung emas yang berjalan."
"Aku tidak peduli pada kaisar," Yuan bangkit berdiri, kakinya masih sedikit gemetar namun sorot matanya tetap tajam. "Langkahku selanjutnya adalah mencari orang yang memerintah Gao Shuo tujuh tahun lalu."
Mo Chen tertawa pendek, suara tawanya memantul di antara batang pohon yang membeku. "Jika kau ingin mencapai tingkat itu, busur kayumu tidak akan cukup. Kau butuh kekuatan yang melampaui batas manusia. Kau harus pergi ke Gunung Kunlun Terlarang."
Mendengar nama itu, Yuan tertegun. Kunlun adalah tempat yang hanya ada dalam dongeng-dongeng tua—puncak yang menyentuh langit, tempat di mana energi alam begitu padat hingga bisa menghancurkan tubuh orang biasa.
"Di puncak tertinggi, tersimpan Busur Kerangka Naga," ucap Mo Chen dengan nada serius yang jarang ia tunjukkan. "Jika kau bisa menjinakkannya, satu anak panahmu bisa meruntuhkan tembok Ibukota. Tapi ingat, banyak pendekar yang lebih kuat darimu telah menjadi mayat beku di sana."
Yuan mengepalkan tangannya. Ia melihat ke arah busurnya yang sudah retak akibat pertarungan di tembok kota. Ia butuh kekuatan lebih. Ia butuh menjadi monster yang sesungguhnya.
"Aku akan pergi ke sana," ucap Yuan tegas.
"Bagus. Tapi aku tidak akan menemanimu lebih jauh," Mo Chen berbalik, jubah sisik hitamnya mulai menyatu dengan kegelapan kabut. "Perjalanan ke Kunlun adalah ujian terakhirmu. Jika kau kembali dengan busur naga itu, aku akan mengakuimu sebagai penguasa Hutan Hitam yang baru. Jika tidak... biarkan salju mengubur dendammu."
Tanpa kata perpisahan lebih lanjut, Mo Chen menghilang, meninggalkan Yuan sendirian di bawah rintik salju yang mulai turun.
Yuan mulai melangkah menuju utara, mendaki tanjakan yang semakin curam. Semakin tinggi ia mendaki, udara semakin tipis dan dinginnya semakin menusuk tulang. Ia tidak lagi menggunakan jubah pelayan, melainkan kembali mengenakan pakaian rami hitamnya yang kini dilapisi kulit binatang hasil buruannya.
Di tengah pendakian, ia dihadang oleh badai salju yang dahsyat. Jarak pandangnya hanya sebatas tangan, namun indra "Bidikan Tanpa Mata"-nya tetap waspada. Tiba-tiba, ia mendengar suara geraman rendah dari balik dinding es.
Seekor Macan Tutul Salju Bermata Tiga,
monster penjaga gunung yang melegenda, melompat keluar dari balik bongkahan es. Ukurannya dua kali lipat dari macan biasa, dan matanya yang ketiga memancarkan sinar biru yang bisa membekukan mangsanya.
Yuan tidak panik. Ia menarik busurnya dengan gerakan yang sudah mendarah daging. Meski tangannya membeku, pikirannya jernih. Ia membiarkan monster itu mendekat, menunggu momen saat macan itu membuka mulutnya untuk menerkam.
Sret!
Satu anak panah meluncur, menembus tepat ke dalam tenggorokan monster itu hingga ke otaknya. Monster itu jatuh terjungkal, darah merahnya mengotori salju yang putih bersih.
Yuan berjalan melewati bangkai itu tanpa emosi. Penderitaan di masa kecilnya bersama Song Yan dan kesadisan Mo Chen telah membentuknya menjadi sosok yang tak kenal takut. Baginya, badai dan monster hanyalah kerikil kecil di jalan balas dendamnya.
"Ibukota... tunggu aku kembali dengan amarah langit di tanganku," bisik Yuan di tengah deru angin badai.
Langkah kakinya meninggalkan jejak-jejak dalam di salju, menuju puncak yang tak terjamah manusia, menuju kekuatan yang akan mengguncang dunia.
Yuan tidak menoleh lagi ke arah bangkai macan tutul itu. Baginya, darah yang membeku di salju hanyalah tinta yang mencatat perjalanannya. Ia terus mendaki, sementara oksigen semakin menipis dan suhu udara mulai membekukan jubahnya menjadi lapisan es yang keras.
Setiap langkahnya kini diiringi oleh bayangan ribuan prajurit Ibukota yang sedang mengasah pedang untuk memburu kepalanya. Namun, Yuan justru tersenyum tipis di balik cadar hitamnya.
"Kejarlah aku sampai ke puncak ini," bisiknya pada badai yang menderu. "Maka kalian akan tahu rasanya mati kedinginan sebelum sempat melihat ujung panahku."
Pandangannya kini terpaku pada sebuah cahaya biru remang-remang yang muncul dari puncak tertinggi Kunlun—pintu masuk menuju makam kuno tempat Busur Kerangka Naga bersemayam. Aura di sana begitu menekan, hingga lencana kayu milik ayahnya di balik baju terasa bergetar, seolah memperingatkan bahwa apa yang akan ia hadapi bukan lagi musuh berdaging dan berdarah.
Song Yuan melangkah masuk ke dalam kabut abadi itu. Ia tidak lagi mengejar keadilan; ia sedang menjemput kehancuran yang mutlak.
Malam itu, dunia kehilangan jejak Song Yuan. Namun di dalam kegelapan Gunung Kunlun, seorang monster baru sedang belajar cara meruntuhkan langit dengan sebatang tulang naga.
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏