NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

BAB 29: "Kuis Fajar dan Doa yang Mengetuk Pintu Langit"

​Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur Kediri. Embun masih setia menggantung di dedaunan pesantren, dan suara pujian-pujian setelah azan Subuh mulai bersahut-sahutan dari berbagai surau. Di dalam rumah mungil itu, suasana sudah mulai hidup dengan aktivitas spiritual yang rutin dilakukan pasangan pengantin baru ini.

​Shania sedang melipat mukenanya dengan rapi saat ia merasakan sepasang lengan kekar melingkari pinggangnya dari belakang. Aroma parfum sandalwood yang lembut bercampur dengan sisa kesegaran wudu tercium dari sosok pria yang kini menaruh dagunya di bahu Shania.

​"Mas, kaget tahu," bisik Shania, meski ia justru menyandarkan punggungnya ke dada bidang Zain.

​"Baru kaget begini saja sudah protes. Padahal semalam... ah, sudahlah."

Zain terkekeh, mengecup singkat pipi Shania yang tertutup cadar tipis karena mereka bersiap untuk keluar menuju Ndalem.

​Zain melepaskan pelukannya, namun ia tidak membiarkan Shania beranjak jauh. Ia menarik kursi kayu di dekat meja kecil tempat mereka biasa membaca Al-Qur'an dan memberi isyarat agar Shania duduk di hadapannya.

​"Shania, sebelum kita ke Ndalem untuk sarapan, ada satu hal yang tertunda."

​Shania menyipitkan matanya penuh selidik.

"Apa lagi, Mas? Jangan bilang ada kuis sejarah yang panjang lagi? Aku lapar, Mas."

​Zain menggeleng pelan, wajahnya dibuat seserius mungkin meski binar jenaka di matanya tak bisa disembunyikan.

"Bukan sejarah. Ini lebih praktis. Sebagai istri seorang ustadz, dan sebagai calon ibu dari mujahid-mujahid kecil kita nanti, kamu harus lulus kuis 'Doa Keseharian'. Ini kuis dadakan. Tidak ada remedial."

​Shania menghela napas, namun ia memperbaiki posisi duduknya dengan tegak, seperti murid yang siap menghadapi ujian akhir.

"Oke, siapa takut. Tanya apa saja, Ustadz Zain yang terhormat."

"​Sesi Pertama: Doa di Balik Cermin"

​Zain mengetuk-ngetukkan jarinya di meja.

"Pertama. Tadi pagi, saat kamu berdiri lama di depan cermin merapikan cadarmu, doa apa yang kamu baca? Dan jangan bilang kamu cuma sibuk mengagumi kecantikanmu sendiri."

​Shania tersenyum di balik kain penutup wajahnya.

"Gampang. Allahumma kama hassanta khalqi fahassin khuluqi. Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperbagus penciptaanku, maka perbaguslah pula akhlakku."

​Zain mengangguk puas.

"Nilai seratus untuk hafalannya. Tapi, apakah kamu tahu filosofinya, Sayang? Doa itu bukan sekadar minta jadi cantik, tapi sebuah pengingat bahwa kecantikan fisik adalah amanah yang harus dibarengi dengan keindahan batin. Agar ketika saya melihat wajahmu, saya tidak hanya melihat ciptaan yang indah, tapi juga merasakan kedamaian dari akhlakmu."

​Shania tertegun sejenak. Zain selalu punya cara untuk mengubah hal sederhana menjadi sesuatu yang mendalam.

"Iya, Mas. Aku ingat."

"​Sesi Kedua: Doa Masuk 'Medan Perang'"

​"Pertanyaan kedua."

Zain melanjutkan, ia sedikit memajukan tubuhnya, memperkecil jarak di antara mereka.

"Doa apa yang harus dibaca saat kita masuk ke pasar atau tempat yang ramai? Tempat yang kata Rasulullah adalah tempat yang paling disukai setan karena penuh tipu daya dan kelalaian?"

​Shania mengerutkan kening sejenak.

"Dzikir pasar ya? Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyi wa yumitu, wa huwa hayyun laa yamutu, biyadihil khairu, wa huwa 'ala kulli syai'in qadir."

​"Masya Allah."

Zain mengusap kepala Shania dengan penuh kasih.

"Doa itu berat timbangannya. Barangsiapa membacanya di pasar, Allah tuliskan baginya sejuta kebaikan dan hapus sejuta keburukan. Itu penting, Shania. Karena saat kita belanja martabak nanti malam, saya ingin langkah kita tetap dalam perlindungan-Nya."

"​Sesi Ketiga: Doa Rahasia di Balik Selimut"

​Zain tiba-tiba terdiam, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang Shania tahu adalah pertanda "bahaya".

​"Pertanyaan ketiga. Ini yang paling penting untuk 'kelangsungan hidup' rumah tangga kita."

Zain merendahkan suaranya hingga menjadi bisikan yang sangat maskulin.

"Doa apa yang kita baca sebelum... yah, sebelum kita memulai 'kuis Umar bin Khattab' semalam? Doa sebelum berhubungan suami istri."

​Wajah Shania seketika terasa panas, untungnya cadar moka itu menyembunyikan rona merah yang menjalar hingga ke telinga.

"Mas! Kok nanyanya itu sih!"

​"Lho, ini ilmu, Shania. Penting sekali. Jangan sampai anak kita nanti ada 'campur tangan' setan karena orang tuanya lupa berdoa. Ayo, bacakan."

​Shania menunduk, suaranya nyaris tak terdengar.

"Bismillah, Allahumma jannibnash-shaitana wa jannibish-shaitana ma razaqtana."

​"Artinya?" tagih Zain, tak mau melepas Shania begitu saja.

​"Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau rezekikan kepada kami," jawab Shania cepat-cepat.

​Zain menggenggam tangan Shania, ibu jarinya mengusap punggung tangan istrinya dengan lembut.

"Tepat. Rezeki yang dimaksud di sana bukan cuma harta, tapi keturunan. Saya ingin, setiap detik kebersamaan kita, bahkan dalam saat yang paling intim sekalipun, adalah ibadah yang terjaga. Saya ingin anak-anak kita nanti tumbuh dari benih yang diawali dengan asma Allah."

​Shania terharu. Di balik sifat jahilnya, Zain adalah pria yang sangat detail dalam menjaga spiritualitas keluarga mereka.

"Iya, Mas. Aku, akan selalu ingat. Terima kasih sudah diingatkan."

"​Hadiah untuk Sang Murid"

​Zain berdiri dari kursinya, lalu ia membimbing Shania untuk ikut berdiri.

"Kuis selesai. Murid saya lulus dengan hasil memuaskan. Dan karena kamu sudah pintar, ada hadiahnya."

​"Hadiah? Martabak lagi?"

Shania bertanya penuh harap.

​"Bukan. Hadiahnya adalah... saya akan mengantarkanmu ke Ndalem dengan cara yang spesial."

​"Maksudnya?"

​Tanpa aba-aba, Zain menyusupkan lengannya ke bawah lutut dan punggung Shania, lalu mengangkat tubuh istrinya itu dalam gendongan bridal style. Shania memekik pelan dan refleks mengalungkan lengannya ke leher Zain.

​"Mas Zain! Turunkan! Nanti dilihat santri yang lewat!"

​"Biarkan saja. Mereka harus tahu kalau Ustadz-nya sedang mempraktikkan hadits tentang memuliakan istri."

Zain melangkah mantap keluar dari kamar menuju ruang tamu kecil mereka.

"Lagipula, kakimu katanya masih sedikit pegal, kan? Biar 'kendaraan dinas' ini yang bekerja."

​Shania menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Zain, menghirup aroma tubuh suaminya yang menenangkan.

"Mas, benar-benar ustadz paling narsis dan menyebalkan sedunia."

​"Tapi sayang, kan?"

​"Iya, sayang banget," bisik Shania jujur.

"​Doa Terakhir di Meja Makan"

​Sesampainya di Ndalem, Zain menurunkan Shania tepat di depan pintu ruang makan. Mereka masuk dan disambut oleh aroma soto Kediri yang segar. Abah Abdullah dan Ummi Zainab sudah menunggu dengan senyum khas orang tua yang bijak.

​"Wajah kalian cerah sekali pagi ini. Habis kuis lagi?" tanya Abah Abdullah sambil menuangkan teh.

​Zain duduk di samping Shania, ia mengambilkan nasi dan kuah soto untuk istrinya sebelum untuk dirinya sendiri.

"Iya, Abah. Shania, tadi baru saja lulus ujian doa-doa harian."

​Ummi Zainab tersenyum lembut.

"Alhamdulillah. Doa itu senjatanya orang beriman, Nduk. Apalagi doa istri untuk suaminya, dan doa ibu untuk anak-anaknya. Itu tidak ada penghalangnya menuju Arsy."

​Zain menoleh ke arah Shania, lalu ia berbisik sangat pelan, hanya untuk telinga istrinya.

"Satu lagi doa yang belum kamu baca tadi."

​"Doa apa?"

​"Doa agar suami kamu ini tidak makin narsis," goda Zain.

​Shania mencubit paha Zain di bawah meja, membuat pria itu hampir tersedak kuah soto.

"Aduh!"

​"Kenapa lagi, Le? Nyamuk besar lagi?" tanya Abah Abdullah, teringat kejadian sarapan sebelumnya.

​Zain melirik Shania yang pura-pura sibuk mengunyah kerupuk.

"Bukan, Abah. Kali ini 'singanya' sudah mulai lapar, jadi gigitannya lebih terasa."

​Suasana meja makan itu pun dipenuhi dengan tawa hangat. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan pesantren, Shania menyadari bahwa romantis dalam Islam bukan hanya soal puisi atau bunga, tapi soal bagaimana setiap tarikan napas dan langkah kaki diiringi dengan doa. Dan ia bersyukur, memiliki imam yang tidak hanya mengajarinya cara hidup, tapi juga cara mengetuk pintu langit bersama-sama.

​Bersambung ....

1
Dian Fitriana
up lg thor
Tri Rusmawati
sabarr zain...sabaarrr🤣🤣🤣
kartini aritonang
sukaaa ceritanya, bikin adem, banyak ilmunya . semangat thor..💪..lanjuutt
Saniaa96: makasih udah suka. semoga ada manfaatnya. 🙏🙏🙏☺️☺️☺️
total 1 replies
Indah Agustini 383
terimakasih udah nulis cerita yg sangat baguss dan banyak ilmu yg bisa didapat 😍
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!