Wanita modern yang bertransmigrasi ke dalam sebuah novel kuno. Berjuang dari nol sampai akhirnya menjadi immortal, bagaimana kisahnya? Ikuti terus perjalanannya!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duapuluhsembilan
Ziang dan Jessy sampai di rumah setelah perjalanan satu bulan lamanya. Selama perjalanan Zhao terus menghafalkan tata krama dan aturan akademi lainnya, Ziang sibuk menjadi kusir dan Jessy hanya duduk, rebahan dan makan saja.
Usia kandungan Jessy sudah 8 bulan, kaki Jessy bengkak dan tubuhnya mulai sulit untuk beraktivitas. Sampai rumah mereka langsung membersihkan diri dan istirahat, benar-benar perjalanan yang sangat melelahkan sekali.
“Ziang… aku ingin makan nanas.” Jessy ngidam.
“Aku akan mencarinya.” Ziang bangun dengan cepat, meskipun mengantuk dia ingin menjadi suami yang bisa diandalkan.
Ziang pergi ke kebun untuk mencari nanas yang matang, setelah itu mengupas dan memotongnya kecil-kecil. Mungkin ini pertama kalinya Jessy ngidam makanan, karena biasanya dia bisa menahan sampai besok pagi tapi malam ini berbeda.
Ziang membawa nanas potong ke kamar, Jessy makan dengan sangat lahap sekali. Ziang melihat itu dengan hati senang, istrinya terlihat imut dengan perut besar dan kaki bengkak. Ziang memijit lembut kaki Jessy, dia merasa bahagia entah kenapa.
“Enak sekali sungguh, sepertinya bayi kita benar-benar ingin makan nanas.” Jessy terlihat bahagia sekali.
“Kalau begitu habiskan .” Ziang tersenyum.
Selesai makan nanas Jessy merasa perutnya melilit, dia berpikir mungkin itu karena dia belum buang air besar jadi dia ke kamar mandi untuk buang air. Tapi ternyata tidak, sakit itu terasa terjeda beberapa menit dan datang lagi mungkin ini kontraksi pasca persalianan.
Jessy berusaha tetap tenang karena hari masih gelap gulita, daripada panik lebih baik minta bayinya di jenguk agar pembukaan jadi lebih cepat meskipun rasa sakitnya akan semakin menajdi.
Jessy dengan malu-malu meminta pada Zian, Ziang hanya tersenyum dan mengangguk. Jessy berteriak kesakitan tapi Ziang mengira itu teriakan enak seperti biasanya, sampai setelah pergulatan mereka selesai Jessy menangis tersedu sambil memeluk perutnya.
“Sayang? ada apa denganmu?.” Ziang khawatir.
“Sakit.. perutku.” Rintih Jessy.
“Apa? aku akan memanggil tabib, bertahanlah sebentar.” Ziang langsung berlari membangunkan orang-orang untuk memanggil tabib.
Suara berisik membuat Zhao terbangun, bocah itu berjalan dengan wajah mengantuk menuju kamar Ibunya. Melihat Ibu nya merintih kesakitan membuat Zhao terkejut.
“IBUU!!!.” Pekik Zhao.
“Ibu, apa yang terjadi? dimana Ayah?.” Zhao panik menggenggam tangan Jessy yang dingin.
“Ukh… Zhao tenanglah, sepertinya adikmu akan lahir.” Lirih Jessy.
“L-lahir? bukankah seharusnya masih satu bulan lagi?.” Kaget Zhao.
“Entahlah, cepat panggil Ayahmu kemari.” Jessy kesakitan.
Zhao berlari dengan kaki kecilnya mencari Ziang. Ziang juga sedang berlari cepat setelah memerintah orang memanggil tabib, keduanya saling menabrak di lorong tapi hanya Zhao yang terpental sampai terjauh.
Dughhh
Auchh
“Zhao?! Apa yang kau lakukan disini.” Kaget Ziang, membantu Zhao berdiri.
“Ibu kesakitan, Ayah diminta datang.” Ucap Zhao.
Ziang langsung berlari cepat ke kamarnya, Jessy sudah semakin pucat dan merintih kesakitan. Keringat dingin sudah membanjiri tubuhnya, Ziang merasa sangat khawatir tapi tidak bisa melakukan apapun.
“Ukhh… elus punggungku.” Ucap Jessy rasanya ingin pingsan.
Ziang langsung mengelus punggung dan terus menemani Jessy, Zhao naik ke tempat tidur dan menggelus perut Jessy dengan khawatir. Zhao baru tahu jika orang melahirkan itu harus kesakitan seperti ini.
“Adik jangan buat Ibu kesakitan, keluar lah dengan cepat biar Kakak yang menangkapmu.” Ucap Zhao bicara pada perut Jessy.
Jessy jadi ingin tertawa tapi dia tidak memiliki tenaga untuk itu, dia benar-benar merasa kesakitan sampai lemas tapi tidak bisa pingsan. Saat Jessy sudah mulai menggeram dan mencakar-cakar Ziang, akhirnya tabib datang.
Tabib segera memeriksa dan ternyata Jessy sudah siap melahirkan, Zhao di perintahkan keluar sedangkan Ziang bersikukuh ingin menemani Jessy.
Hekkkhhhhhhhhh
Fyuuuhhhhhh
“Benar seperti itu nyonya, lakukan secara berulang dan atur nafas anda.” Ucap tabib mengarahkan.
Heeekkkkkhhhhhh
“Keluarlah kumohon.” Batin Jessy.
OOEEEKKKKKKKKK
OEEEKKKKKKKKK
Suara tangis bayi yang sangat menggelegar akhirnya terdengar, Jessy langsung merasa seluruh tubuhnya lemas tapi sakit nya hilang seketika. Matanya mengantuk dan merasa ingin terlelap saat ini juga.
“Nona, selamat bayi laki-laki yang sehat akan meramaikan rumah anda.” Ucap tabib memperlihatkan bayi yang terbungkus kain.
“Siapa itu? kenapa wajahnya seperti kodok.” Ceplos Jessy.
Sontak tabib mati-matian menahan tawa sedangkan Ziang merasa syok, padahal di matanya bayi itu lucu kenapa Jessy mengatakan mirip kodok? apa Jessy membeci anak darinya?.
“Bayi yang baru lahir memang seperti ini, setelah dimandikan, di beri asi dan di jemur setiap pagi maka akan terlihat mirip dengan orangtuanya.” Ucap Tabib menjelaskan.
“Ahh iya.” Jessy iya-iya saja karena rasanya mau tidur.
“Tuan silahkan gendong putra anda, saya akan menyelesaikan persalinan.” Tabib memperbolehkan Ziang keluar membawa bayi nya.
Ziang menggendong dengan kaku, jantungnya berdebar saat mendekap bayi kecil yang rapuh. Masih banyak selaput putih yang menyelimuti bayinya tapi entah kenapa tetap terlihat imut dimatanya.
Ziang mengecup kening Jessy dan mengucapkan terimakasih, setelah itu keluar bersama bayinya. Di depan pintu Zhao sudah menunggu dengan cemas, dia ingin masuk tapi pelayan menghalanginya.
“Ayah!! bagaimana dengan Ibu?.” Tanya Zhao.
“Ibu masih butuh perawatan, lihat ini adikmu.” Ucap Ziang berjongkok.
“Hah? kenapa seperti ini?.” Kaget Zhao.
“‘Memangnya kenapa?.” Heran Ziang.
“Tidak mirip Ayah atau Ibu, kulitnya putih seperti paman cacing.” Ucap Zhao terlalu jujur.
“A-apa?.” Jantung Ziang seakan berhenti berdetak dan nyawanya hilang.
eukkkk
Bayi itu melenguh dan membuka matanya, mata kuning yang sama persis dengan milik Ziang. Melihat itu Ziang langsung merasa lega, anak ini benar-benar darah dagingnya.
“Lihat warna matanya sama dengan Ayah.” Ucap Ziang.
“Mirip denganku juga.” Ucap Zhao.
“Itu benar.” Ziang mengangguk.
“Ini apa? kenapa kotor seperti ini.” Zhao menyentuh selaput putih berkerak di rambut adiknya.
“Belum di mandikan.” Ucap Ziang.
“Kasihan sekali, ayo kita mandikan sekarang.” Ucap Zhao.
“Tidak, biarkan tabib saja yang melakukannya.” Tolak Ziang.
“Apa? memangnya kenapa?.” Heran Zhao.
Saat Ziang hendak menjawab pintu terbuka dan tabib membawa bayi itu ke dalam. Ziang dan Zhao sudah boleh masuk untuk melihat Jessy yang sedang setengah duduk memakan buah-buahan.
“Sayang.” Ziang langsung mendekat pada Jessy.
“Maaf, tadi aku menarik rambutmu terlalu keras.” Jessy merasa bersalah.
“Tidak masalah, bagaimana keadaanmu?.” Tanya Ziang.
“Rasa sakitnya hilang seketika setelah bayinya lahir, sekarang aku sangat lapar.” Jujur Jessy.
“Aku akan meminta pelayan menyiapkan makan, apa yang ingin kau makan?.” Tanya Ziang.
“Aku ingin sup daging, buah potong, nasi hangat, ayam goreng dan sosis bakar.” Jessy benar-benar kelaparan.
“Tunggu sebentar.” Ziang keluar memanggil pelayan untuk menyiapkan pesanan Jessy.
Setelah pesanan tersampaikan, Ziang kembali ke sebelah Jessy. Sedangkan Zhao sejak tadi melihat tabib memandikan adiknya, Zhao melihat dan merasa itu lucu.
“Itu apa?.” Tunjuk Zhao ke arah tali pusar.
“Tali pusar, nanti akan terlepas setelah kering dan terbentuk sempurna.” Jawab tabib dengan ramah.
“Kenapa tidak di tarik saja.” Ceplos Zhao.
“Nanti bayinya kesakitan dan itu berbahaya, nah lihat adik bayi sudah bersih dan terlihat lucu kan?.” Tabib memperlihatkan wajah bayi yang kini terlihat lucu.
“Wahhh sekarang terlihat mirip Ayah, tapi kenapa hidungnya kecil.” Zhao bicara terus.
“Semakin bertambahnya usia maka wajah akan semakin mirip orangtua, bayi memang terlihat aneh karena masih kecil.” Tabib menjawab dengan sabar.
“Zhao kemarilah, jangan menganggu tabib.” Panggil Jessy.
Season 2 aku tunggu❤
mosok ceritane Podo Karo Yuwen biyen? reinkarnasi maneh .