Riana terpaksa menjadi Sekertaris Zayn Abimanyu yang gila kerja dan sangat ketat karena Sekertaris sebelumnya memilih Resign karena tak kuat menanggung beban kerjanya. Namun bukan hanya itu masalahnya, Riana menemukan sesuatu yang lebih gila dari Bosnya itu.
Lima kepribadian dalam satu tubuh. Zayn, Ares, Dewa, Rayan dan Bram, setiap nama punya karakter masing-masing.
Dewa si penggoda ulung - Miss I Love You.
Ares - Kakak cantik, tubuh Kakak wangi sekali.
Rayan - si culun yang pemalu.
Bram - Ketua Geng motor rahasia.
Sedang Zayn, si bos dingin yang entah sejak kapan mulai tertarik dengan Riana, wanita yang menjadi pelindungnya, pemegang rahasianya yang seluruh dunia tidak boleh tahu, termasuk keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Healing
Zayn termenung, melempar tatapan kosongnya ke jalanan, pikirannya berputar tak tentu arah.
Mobil yang dikemudikan Riana berdecit pelan, berhenti sejenak karena lampu lalu lintas berubah merah, “Ini obat Bapak, saya lupa memberikannya semalam,” Riana menyodorkan botol obat berbahan plastik kearah belakang tempat Zayn duduk.
Dia meraihnya tanpa kata, kemudian menyimpannya dalam saku Jasnya, “bapak ingin pergi ke suatu tempat?” tanya Riana sembari kembali menjalankan mobilnya.
“Kemana lagi saya bisa pergi selain kantor, Riana,” sahutnya tanpa minat.
“Hari ini tidak ada pertemuan, pekerjaan kantor juga tidak ada yang mendesak, kita bisa menundanya besok.”
“Kamu ngajakin bos kamu bolos?” Zayn mengangkat sebelah alisnya sambil melipat tangan di dada, perkataan Riana sukses mengalihkan pikiran Zayn.
“Hehe, sekali-kali Pak. Lagian hidup itu bukan hanya tentang kerja dan uang, sekali-kali otak itu harus healing kan, gak bisa di paksa kerja terus, nanti bisa gila,” kekeh Riana.
Zayn berdecak, “saya gak punya waktu untuk itu, kembali ke kantor. Ini masih jam kerja, ingat waktu adalah uang,” balasnya telak.
Riana tersenyum kecut, dengan bibir berkedut malas, ingin membalas tapi Zayn itu Bosnya.
Zayn melirik tipis-tipis kearah Sekertarisnya itu, usai permintaannya di tolak Riana kembali diam, fokus ke kemudinya.
“Emangnya tempat seperti apa yang bisa bikin otak kita healing? Jangan bilang Mall, Kafe atau bioskop,” Zayn memulai kembali percakapan.
Riana menoleh sekilas, “bukanlah Pak, harus tempat yang segar tanpa polusi udara ataupun polusi suara,” serunya.
“Di Jakarta mana ada tempat seperti itu, Riana,” balasnya.
“Di Jakarta emang gak ada Pak. Tapi di Bogor banyak,” seringainya.
“Kejauhan itu.”
“Nggak ko, cuma dua jam perjalanan Pak.”
“Emang kamu sanggup nyetir sejauh itu?”
“Kan ada Bapak, hehe. Kita bisa nyetir gantian.”
Zayn berdecak pelan, namun dia tak berkomentar lagi, “Ya sudah terserah kamu.”
Riana tersenyum senang kemudian tancap gas menuju kota hujan itu.
Sampailah mereka di tempat tujuan, deretan pohon pinus menyambut kedatangan mereka, serta suara kicauan burung seolah bernyanyi tak seperti suara kenalpot bising yang menyakiti gendang telinga.
“Hp bapak mana?”
“Ngapain kamu nanyain hp saya?”
“Siniin aja lah Pak, gak usah bawel,” keluh Riana, tampak enggan namun Zayn tetap menyerahkannya.
Riana memencet tombol daya mati kemudian menyerahkannya kembali pada sang pemilik, “ko di matiin?”
“Biar gak ada yang ganggu, nih punya saya juga saya matiin. Pokonya ini waktu kita buat healing, kita hempaskan pekerjaan sejenak.”
“Terus disini kita mau ngapain?”
“Duduk sambil ngopi lah Pak, mandangin alam itu gak bikin bosen, justru bikin betah. Saya juga ada sewa tikar tadi, soalnya kalau sewa tenda kita kan gak bakal nginep sayang juga, nanti gak kepake,” Riana membentangkan tikar itu di atas rumput di area samping yang pepohonannya agak rapat sengaja agar lebih teduh juga pemandangannya lebih indah.
Zayn ikut duduk, “Buka Jasnya Pak, gak cocok di tempat seperti ini,” komentar Riana, dia juga melepas Jasnya sendiri dan membiarkan kemeja putihnya sebagai pembungkus utama badannya.
Riana menghirup udara sebanyak mungkin melewati hidungnya kemudian ia buang lewat mulutnya, “gimana udaranya segar kan Pak, otak kita jadi fresh seketika.”
“Hem, lumayan,” sahut Zayn sambil menyesap cangkir berisi cairan hitam pekat, “Ini pertama kalinya saya jadi orang pemalas, karena kamu,” tambahnya.
“Gak papa jadi sedikit malas Pak, toh hidup itu cuma sekali, kadang-kadang kita juga butuh waktu untuk menyenangkan diri sendiri bukan hanya untuk menyenangkan orang lain,” sahut Riana sambil meniup uap dari cangkir kopinya sendiri.
“Wah, walaupun cuma kopi Instan rasanya gak kalah enak kan Pak, dari kopi-kopi di Kafe yang harganya puluhan sampai ratusan ribu,” komentar Riana, ada kilatan cahaya di matanya dan itu tak sengaja tertangkap pandangan Zayn.
“Ehem, ya lumayan,” Sahutnya, tangannya refleks membuka satu kancing kemejanya yang paling atas, tatapan matanya langsung ia alihkan ke tempat lain.
“Hidup Bapak selama ini terlalu kaku menurut saya. Cuma tentang kerja, kerja dan kerja, padahal dunia ini tuh luas Pak, Bapak gak mau lihat-lihat gitu.”
“Saya gak punya waktu,” sahutnya tak berminat, “Time is money, Riana. Waktu adalah uang.”
“Saya mengerti Pak, uang memang bisa membeli segalanya, kebahagiaan juga harus dibeli dengan uang, jadi kan bapak udah banyak uang jadi bisa lah sekali-kali Bapak ngasih saya bonus buat liburan, hehe.”
“Ck, saya kira kamu mau kasih saya masukan. Eh tahunya malah minta bonus.”
“Sekalian atuh Pak,” kekehnya.
“Ehem, ngomong-ngomong Pak soal pertunangan Bapak sama Nona Aruna, Bapak sudah memutuskan tempatnya, mau saya bantu carikan? Atau saya bantu tentang saran konsepnya?”
Zayn menoleh dengan tatapan datar, “Saya sedang tak ingin membahas masalah itu Riana.”
“Maaf kalau gitu Pak,” Riana kembali terdiam.
“Oh ya Riana, saya gak sengaja denger kamu ngomong sama Mamah semalam, katanya kamu udah punya pacar dan akan segera tunangan, itu bener?”
“Hah? Oh itu mah cuma alesan aja Pak, saya mana ada pacar. Kalau ada, mana mungkin saya hidup anteng di rumah Bapak, tapi saya emang lagi nyari jodoh sih, lagian saya gak mau jadi jomblo seumur hidup,” jelasnya.
Zayn mengangguk pelan, ada perasaan lega yang timbul di hatinya saat mendengar penjelasan dari Riana.
riana kan pawang zayn..
🤣🤣😄😄💪💪❤😍😍
❤❤❤😍😍😍
itu bukan ketergantungan..
tapi ..
cemburu berat...
🤣😄😄😍😍❤💪💪💪❤❤
😍😍❤❤💪💪💪
zayn cemburuuuu..
😄😄😍❤💪💪
akankah Riana ninggkain zayn saqt ada mamanya..
😍😍❤❤💪💪💪
jadi senyum2 bacanya..
😄😄😄😄😄😍😍❤💪💪💪
zayn mulai ada rasa..
mereka berdua deh..
😄😄😍😍❤💪💪💪
😍😍❤💪💪
bener2..
kasihan zayn..
dirawat tapi diundat2...
😍😍😍❤❤💪💪
klai gk takut..
minggat aj azayn..
😄😄❤❤💪💪
❤😍😍💪💪💪
❤❤😍💪💪💪
spesies baru lagi ini..
😄😄😄😄❤❤😍💪1
❤❤❤❤❤❤😍😍😍😍😍💪💪💪
🤣🤣😄😄❤❤😍💪💪
❤❤😍😍💪
🤣🤣😄❤❤😍💪
bukan aruna ya kak..
😄❤😍💪
😄😄😄